Hukum dan Adab Safar


Safar……… Siapa sih dari kita yang tinggal di Kuwait ini yang tidak pernah mendengar kata-kata itu? Bukankah itu impian bagi semua di tengah kejenuhan dengan rutinitas kerja kita. Tapi pernahkah kita berpikir apakah safar itu dan bagaimanakah Rasulullah yang kita selalu katakan sebagai suri teladan kita bersafar?

Bagi kita, begitu mendengar kata safar maka yang terbersit di pikiran kita adalah pergi jauh. Memang benar, dan kenapa bepergian dinamakan safar, Safar disini diambil dari sa fa ra yg artinya: terlihat, terbuka. karena ia memperlihatkan hakekat akhlaq para musafirin. Dengang safar, kita akan bisa melihat perilaku dan sikap orang yang safar bersama kita. Mungkin dalam kesehariannya ia terlihat baik, ramah, sabar, dan sejuta akhlaq baik, tetapi ketika kita melakukan perjalanan jarak jauh denganya, kita akan tahu hakekatnya.

Safar banyak macamnya, diantaranya yaitu:

1. Safar dalam rangka ketaatan, misalnya: safar untuk mengerjakan haji, umrah, ataupun silaturrahim., safar untuk mencari ilmu.

2. Safar yg diharamkan ; misalnya safar untuk dapat melakukan maksiyat, atau untuk ikut merayakan perayaan hari Raya orang-orang kafir. Atau safar ketika dalam kondisi kewajiban saling berbarengan, seperti ketika ia sudah terpenuhi syarat berhaji dan di waktu haji, sementara ia tidak berhaji malah menggunakan hartanya untuk safar yang sifatnya bersenang-senang. Seperti juga, ketika kewajiban membayar hutang sudah jatuh tempo, sementara ia tidak mempunyai harta lain kecuali hartanya yang akan dipakainya untuk jalan-jalan. Seperti juga, seorang yang safar bersenang-senang, tetapi keluarganya ditinggalkan tanpa bekal.

3. Safar yg disunnahkan ; safar de ngan niatan bertafakkur, safar dalam rangka mencari ilmu, dalam rangka berdakwah.

 4. Safar mubah: misalnya safar untuk tamasya. Safar mubah ini akan mendapatkan pahala karena niat.Misalnya: safar ke sebuah Negara dengan niatan tafakkur alam, tafakkur tentang kebudayaan suatu bangsa, yang mana tafakkur ini akan menjadikannya lebih dekat kepada sang Kholiq. Maka dalam hal ini, safar ini berpahala dan menjadi ibadah sunnah baginya.

Berkenaan dengan safar, Imam Syafii bersyair :”Mengasinglah dari negeri-negeri mu untuk mencari kemuliaan”
Sebagai perantau yang telah meninggalkan tanah air dan bekerja di sini tentulah kita bisa merasakan hal itu, dan mendapatkan faedah dari bersafar, yang di antaranya menghilangkan kesedihan, mencari ma'isyah, mendapatkan ilmu dan adab, juga mendapatkan teman.

Rasulullah SAW bersabda "Safar itu sepotong dari adzab. Safar mencegah kalian untuk tidur, makan, dan minum. Jika salah seorang dari kalian, telah selesai hajatnya, maka hendaklah ia menyegerakan pulang ke keluarganya" (Muttafaq Alaih).

Berkenaan dengan hadist ini, Imam Nawawi menafsirkannya: safar me nyebabkan  orang yang melakukannya menjadi tidak enak makan dan tidur, mengurangi kelezatan keduanya. Karena dalam safar, terdapat kesulitan dan kepayahan : jauhnya perjalanan, udara yg tidak stabil, perpisahan dengan keluarga.
Karena kesulitan dan kepayahan yang akan dialami oleh musafir, maka Syariat Islam memberikan rukhsah berupa keringanan dalam menjalankan ibadah. Hal ini merupakan salah satu keistimewaan syariat islam. Firman Allah yang artinya:
"…. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan Allah tidak menghendaki kesulitan…" (al baqarah: 185).

Diantara rukhsah yang Allah berikan buat musafir yaitu :

1. Mengqoshor sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah: 101

وَإِذَا ضَرَبۡتُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَلَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَقۡصُرُواْ مِنَ ٱلصَّلَوٰةِ إِنۡ خِفۡتُمۡ أَن يَفۡتِنَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ‌ۚ إِنَّ ٱلۡكَـٰفِرِينَ كَانُواْ لَكُمۡ عَدُوًّ۬ا مُّبِينً۬ا
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqoshor sembahyang[mu], jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Dari Abu Ya'la bin Umayyah berkata: aku berkata kepada Umar; " maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang[mu], jika kamu takut diserang orang-orang kafir"

dan sekarang manusia telah merasa aman. Maka Umar berkata: Aku juga merasa heran terhadap yang kau herankan, lalu aku bertanya kepada Rasulullah tentang nya. Dan beliau menjawab: "Sesungguhnya hal itu shodaqah, Allah me-nyedekahkannya buat kalian, maka terimalah ShodaqahNya". (HR. Muslim)

Qoshor sholat, hanya berlaku pada sholat yang jumlah rakaatnya 4 rakaat saja (Dhuhur, Ashar, Isya'), diqoshor menjadi dua rakaat. Sedangkan sholat maghrib dan shubuh, maka qoshor tidak berlaku didalamnya.

2. Menjama' antara dua sholat. Bagi musafir dibolehkan menjama' sholat dhuhur dan ashar pada salah satu waktu dari keduanya, entah itu di waktu sholat yang pertama atau kedua. Begitu juga dengana  sholat maghrib dan isya', boleh dijama' pada waktu maghrib (jama' taqdim), atau pada waktu isya' (jama' ta'khir). Dari Mu'adz Ra, ia berkata: kami keluar bersama Rasulullah pada perang Tabuk, dan beliau sholat dhuhur dan ashar secara dijama', maghrib dan isya' dengan dijama'. ( HR. Muslim)
3. Dibolehkan bagi musafir untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. "…. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan [lalu ia berbuka], maka [wajiblah baginya berpuasa] sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari- hari yang lain…." ( Al Baqarah: 184 )

Tetapi manakah yang lebih afdhol bagi musafir ? puasa atau buka ketika ia dalam kondisi musafir ?. Umar bin Abdul Aziz berkata: "mana yang lebih mudah baginya, maka hal itu yang afdhol baginya".
Dikatakan kepada Rasulullah: wahai Rasulullah, aku kuat berpuasa ketika safar, apakah aku berdosa ?. Ia bersabda: "Hal itu merupakan rukhsah bagimu. Barang siapa yang mengambilnya maka hal itu baik baginya. Barang siapa yang berpuasa, maka tidak mengapa. (HR. Nasai ).

4. Bonus extra 3 hari dan malam untuk mungusap khuff dan kaos kaki. Sedangkan bagi mukim, ia dibolehkan mengusap selama 1 hari dan malam.

5. Bagi musafir, tidak diwajibkan sholat jum'at. Karena salah satu syarat wajib sholat jum'at: mukim.

Hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah ketika beliau safar, ia tidak pernah melakukan sholat jum'at bersama para sahabatnya. Tetapi Jika seorang musafir sholat jum’at bersama imam, maka ia dibolehkan untuk menjama’ taqdim sholat ashar setelah selesai sholat jum’at menurut pendapat jumhur ulama.

6. Dibolehkan bagi musafir sholat sunnah (qiyamulail, witir, dhuha, dst) di atas kendaraan. Hal ini seperti riwayat Ibnu Umar bahwa Rasulullah ketika safar mengerjakan sholat witir diatas kendaraannya. (Bukhori Muslim)

7. Rukhshoh untuk meninggalkan sholat sunnah rawatib baik qobliyah atau bakdiyah kecuali sholat sunnah fajr dan sholat witir. Bagi seorang musafir, hal ini tidak dimakruhkan.

Rukhshoh buat musafir ini berlaku bagi seorang musafir dengan tiga syarat :
1. Safar yang dilakukan yaitu safar jarak qoshor. Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian berpendapat 84 km, ada yang berpendapat 85 km, dan ada juga yang lain berpendapat 89 km.

2. Safar yang dilakukan bukan merupakan safar maksiyat. Jadi bagi yang melakukan safar maksiyat, maka tidak dibolehkan menikmati bonus rukhshoh-rukhsoh diatas.

3. Seorang musafir boleh mengambil bonus diatas jika ia telah mulai perjalanan dan ia telah melewati daerah pemukimannya.


ETIKA ber SAFAR

Islam merupakan ‘Diin yang komprehensif, memiliki aturan-aturan yang menyangkut kehidupan manusia. Pun dalam urusan safar, atau bepergian, Islam juga memberikan etika ataupun adab-adab yang seyogyanya dipegang oleh seorang Muslim. Etika yang bertujuan kebaikan dan membawa manfaat bagi individu muslim. Di antara etika ini yaitu :

Etika sebelum Safar.

A. Niat yang sholihah ‘niat baik’ ketika hendak mengadakan be pergian.

Seseorang yang pergi ke Turkey mi salnya, selain untuk jalan-jalan melihat keindahannya, maka sisipkan niat untuk bertafakkur alam atau belajar tentang sejarah Islam. Niscaya niat tersebut akan menjadikan safar ini yang semula mubah menjadi sebuah ibadah yang berpahala.

 “sesungguhnya semua amalan tergantung niatnya..”, begitu wejangan Rasul kepada kita. (Muttafaq Alaih)

 B. Diupayakan juga safar pada pagi hari. Rasulullah berdoa untuk orang-orang yang giat pada pagi hari dengan berkata: “ya Allah berikan keberkahan pada ummatku di pagi hari nya”. (HR.Nasai dan Tirmidzi). Beliau juga ketika mengirimkan sariyyah (pasukan perang), beliau kirimkan pada pagi hari.(HR. Abu Dawud
C. Mengerjakan sholat sunnah dua rakaat sebelum safar.

D. Berpamitan kepada keluarga dan handai taulan.

Ketika berpamitan kepada keluarganya, ia berdoa:

“Astaudi’ukumullahalladzii laa tadhii’u wada’iuhu”,

Aku titipkan kalian kepada Allah yang titipanNya tidak akan pernah sia-sia.

Sedangkan keluarganya ataupun handai taulan menjawabnya dengan doa:

“Astaudi’ullaha diinaka wa amanataka wa khawaatim amalaka”,

Aku menitipkan kepada Allah agamamu, keimananmu dan penghujung amalmu.

Etika saat Safar

A. Ketika keluar rumah, berdoa dengan doa keluar rumah, jika mengendarai kendaran diteruskan doa naik kendaraan dan doa safar.

B. Memilih salah seorang menjadi pemimpin dalam safar, pemimpin ini tugasnya yaitu sebagai penanggungjawab terhadap berlangsungnya safar. (“Jika tiga orang keluar untuk safar, maka hendaklah mereka memilih salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin”).

C. Memperbanyak doa dan dzikir selama dalam perjalanan, karena doa seorang musafir adalah doa yang mustajab.

D. Jika ia berada di dataran yang rendah ia bertasbih, dan jika berada ditaran tinggi ia bertakbir.

E. Bertafakkur dan mengambil ibrah dari setiap yang dilihatnya selama safar.

F. Bersegera memenuhi kebutuhannya, sehingga ia bersegera untuk kembali kepada keluarganya.

Etika saat pulang

A. Membeli hadiah buat keluarganya sebatas kemampuan

B. Berdoa naik kendaraan, dan ditambah dengan doa :

Aayibuuna taa’ibuun aabiduuna liRobbinaa haamiduu 

“Kami kembali, kami bertaubat, kami beribadah kepada Tuhan kami, dan kami memuji syukur”.  (Hadits Mauquf, dari Abdullah Bin Mas'ud)

C. Memberitahu kepada keluarganya sebelum sampai, hingga tidak membuat mereka terkejut, dan mereka juga bersiap-siap untuk menyambutnya.

D. Ketika sampai, menjadikan masjid sebagai tempat permulaan sebelum ia ke rumahnya. Dan mengerjakan sholat dua rakaat di masjid, sebagaimana yang Rasul lakukan.

E. Menyambut kedatangan orang-orang yang datang untuk bertemu dan bersalaman kepadanya .
Mari kita niatkan safar kita kali ini untuk kebaikan dengan berittiba kepada Rasullullah SAW sehingga bukan kesenangan saja tapi pahala juga akan kita dapatkan, insya Allah. (Ummu Asiya)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com