Jalur Gaza Dengan Sejuta Pesonanya


Penjara boleh memenjarakan badan tapi bukan pemikiran. Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk orang-orang yang mampu berprestasi dalam keterjajahan. Kita tahu banyak ulama maupun pejuang mampu menuangkan ide mereka dalam tulisan-tulisan emasnya yang mampu membangkitkan kekuatan meskipun mereka tinggal dalam penjara.

Begitu juga para saudara kita, muslim di Palestina. Terutama mereka yang tinggal di jalur Gaza. Palestina yang dijajah sejak tahun 1948 telah mampu melahirkan Syeikh Ahmad Yasin (pendiri Hamas) yang berhasil membangkitkan ruh Al Qur’an ke dada setiap muslim di Palestina
.
Menurut Syeikh Saud Abu Mahfuz (Ketua Komite Aliansi International untuk Al Aqsa), kini, karena ruh yang dibangkitkan Syeikh Ahmad Yasin tersebut, Jalur Gaza merupakan kota islam yang terbanyak melahirkan ribuan para penghafal Al Qur’an. Menurutnya tidak kurang 60.000 hafidz Al Qur’an di jalur Gaza. Selain itu kota yang dikepung Israel dengan dukungan Barat ini merupakan kota terkecil dengan jumlah masjid terbanyak di Timur Tengah. Dan dengan prosentase tingkat populasi yang berpendidikan
tinggi di Arab.  Menariknya lagi hampir 100% wanita muslimahnya telah berjilbab. Semua itu karena nilai-nilai Al Qur’an jelasnya. 

Lahirnya para hafidz Al Qur’an yang banyak itu ternyata menimbulkan ketakutan tersendiri bagi Zionis Yahudi. Jika dalam usia yang semuda itu mereka telah menghafal Al Qur’an, apa yang akan terjadi dalam 20 tahun mendatang?, demikian pemikiran mereka. Sehingga bukanlah suatu kebetulan jika sejak 27 Desember 2008, agresi militer Israel memfokuskan pembantaian anak-anak Palestina di jalur Gaza.

Tetapi selain ruh yang dibangkitkan Syeikh Ahmad Yasin, kondisi mereka yang diblokade Israel dari segala arah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan intensnya interaksi mereka dengan Al Qur’an. Tidak ada playstation ataupun game bagi mereka. Kondisi ini menjadi pemicu bagi mereka untuk menjadi penghafal Al Qur’an di usia yang masih belia. Karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Al Qur’an menjadi syahid.
Kondisi terisolir akibat blokade ini selain mampu mencetak generasi-generasi Rabbani yang cemerlang, mereka juga mampu mencetak pemuda-pemuda yang inovatif.

Pihak Kementrian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional di Jalur Gaza mengumumkan arsiteknya berhasil mengubah energi matahari menjadi energi listrik untuk menerangi instansi-instansi di tengah krisis yang mencekik Jalur Gaza dengan potensi lokal.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Ihab Gasin mengatakan, ditengah krisis bahan bakar akibat blokade Barat dan Israel, anak-anak Palestina justru dimudahkan Allah bisa berinovasi.

Kelebihan lain, pada tahun 2010 tiga mahasiswa tehnik Palestina dari Palestine Polytechnic University, Hebron, Tepi Barat sukses membuat mobil pertama bertenaga matahari. Kendaraan ini mampu menempuh kecepatan 19 mil perjam atau 30 km perjam.

Keberhasilan ini memberi pesan kepada penjajah dan konspirator yang memblokade Gaza bahwa rakyat Palestina tidak akan rukuk dan tunduk pada provokasi politik mereka. Semakin blokade diperketat maka akan semakin bertambah inovasi kami, kegigihan kami untuk melawan dan teguh pendirian, ujar Gasin.
(Ummu Yahya)

Jalur Gaza
Qita Ghazzah (قطاع غزة)
Bahasa : Arab, Ibrani dan Inggris




0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com