Rindu - Mary Ann


Namaku Mary Ann, tapi sejak 10 tahun yang lalu aku lebih suka dipanggil Mariam. Bagi segolongan orang mungkin gak ada bedanya tapi bagi aku ini sangatlah berbeda.

Hari ini aku , suami dan kedua anakku merencanakan untuk mengunjungi sahabat lamaku yang tinggal di belahan bumi yang lain. Di negara yang sangat berbeda dengan negaraku. Negara di mana suara adzan saling bersahutan, rumah Allah terhampar sepanjang mata memandang, sementara aku tinggal di negara di mana tak sekalipun adzan terdengar, apalagi rumah Allah yang bisa kami jadikan tempat peribadatan. Negara di mana jumlah penduduknya 9.979.000, tetapi umat Muhammad tidak mencapai 1 persennya.

Maskapai Lufthansa sudah mulai memanggil para penumpang untuk masuk ke pesawat, tepat pukul 11 waktu Budapest kami meninggalkan bandara Budapest, ibukota Hungaria.
Masjid Pasha Qasim - Hongaria

Aku tersenyum melihat kedua anakku sangat gembira , mereka terlihat asyik dengan mainannya dan suamiku pun sibuk dengan Al Qur’annya. Aku melihat majalah yang disediakan dalam pesawat, dan kebetulan disitu ada gambar Grand Mosque Kuwait, betapa indah dan gagahnya. Seketika ingatanku kembali pada sahabat lamaku dan juga kenangan-kenangan lama. Kubayangkan wajah dia yang membuat aku semakin ingin menatapnya, wajah teduh seorang muslimah yang akan membuat kita meyayanginya. Wajah itulah yang menggerakkan hati ini untuk datang kembali ke negeri yang telah menjadi saksi tonggak sejarah dalam hidupku.

Kuwait, 2002.
Aku datang sebagai seorang mahasiswi dari salah satu Universitas Kristen di Hungaria. Aku mengambil jurusan yang mempelajari tentang dunia arab baik dari segi budaya maupun keislamannya, sehingga aku mempunyai kesempatan untuk menjadi salah satu siswa yang diberi kesempatan untuk belajar di Kuwait, salah satu negeri kecil di jazirah Arabia. Aku sangat bersyukur atas kesempatan ini, karena aku berharap hal ini bisa membantu aku menjawab apa yang aku ingin tahu tentang Islam.

Aku lahir dari keluarga Roman Katolik yang sangat kuat. Dari kecil aku sudah terbiasa aktif di gereja dengan segala kegiatan dan doktrin-doktrinnya.

Tapi seiring dengan waktu, akal pikiranku menganggap apa yang mereka ajarkan banyak hal yang bertentangan dengan akal pikiran, terutama konsep mereka yang menganggap Tuhan mempunyai tiga kepribadian. Hal ini semakin membuatku ingin mengetahui kebenarannya.

Suatu saat aku mempunyai kesempatan mengunjungi Holy Land, yang bagi kami orang Kristen merupakan tempat bersejarah kelahiran nabi kami. Di sana pertama kalinya aku mendengar orang adzan dan orang muslim Palestine beribadah dan berpakaian yang terlihat indah bagiku. Hal inilah yang mendorong aku untuk beralih ke fakultas arabi, karena aku ingin mempelajari lebih dalam tentang arab, islam dan budayanya. Kuliah yang kuikuti di fakultas tersebut semakin membukakan mata hatiku kebenaran islam tentang keberadaan Tuhan. Kandungan Al Qur’an dan hadist-hadist yang disampaikan oleh nabiNya telah mengatakan kebenaran yang hakiki.

Semakin hari semakin kuat keinginanku untuk mengunjungi negeri Arab di mana risalah islam dilahirkan. Dan kesempatan itupun datang, pada saat kuinjakkan kakiku di Kuwait untuk yang pertama kalinya, ingatanku tentang muslim palestin pun muncul. Keinginanku untuk tahu lebih banyak islam dan cara beribadah mereka tentu akan lebih mudah terjawab di sini.

Aku ditempatkan di asrama mahasiswa Kuwait University di Kaifan, dan kebetulan sekali hampir semua teman-teman di asrama adalah muslimah dari berbagai negara, termasuk salah satunya adalah sahabatku ini yang berasal dari Indonesia.
Apa yang aku harapkan benar-benar kudapatkan, tentang islam, aku banyak bertanya dan belajar dari kehidupan mereka sebagai seorang muslim.

Hingga satu hari di pertengahan tahun, dengan disaksikan oleh teman-temanku di asrama, aku mengucapkan kalimat persaksian “Asyhadualla ilaha illallah wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah”. Satu kalimat persaksian yang akan mengubah kehidupan dunia dan akhiratku. Airmata ini tak tertahankan, suara takbir terdengar di sela tangis kebahagiaan. Terimakasih Ya Allah atas hidayah yang Kau berikan.
Grand Mosque - Kuwait

Liburan musim panas, aku, Mariam seorang muslimah pulang ke tanah kelahiranku. Aku tak tahu apa reaksi dari keluargaku kalau tahu hal ini.

Wajah bahagia kedua orangtuaku seketika terlihat berubah begitu mendengar pengakuanku. Mereka terlihat marah dan sedih atas apa yang telah terjadi. Tapi aku harus tegar dan membuat mereka percaya bahwa apa yang kupilih adalah benar. Seiring waktu aku berusaha untuk berbicara dengan mereka, dan aku tunjukkan akhlakku sebagai seorang muslim yang tak seburuk apa yang mereka bayangkan selama ini, Alhamdulillah meskipun berat mereka membiarkan aku dengan agamaku. Tapi mereka bukanlah satu-satunya yang peduli dengan perubahanku. Aku telah bertuna-ngan waktu itu dengan seorang pemuda yang tak percaya akan agama, melihat perubahanku pun dia merasa heran. Aku berusaha dengan sabar menerangkan tentang islam, tapi aku tidak akan memaksanya. Aku hanya berharap hidayah juga datang kepadanya.

Satu hari kami berdua mengunjungi Istanbul, Turkey. Di sepanjang perjalanan, aku hanya tersenyum melihat dia banyak bertanya tentang islam kepada sopir taksi yang kami tumpangi, kebetulan ia seorang muslim. Aku tidak pernah berpikir bahwa dia akan berubah karena latar belakang dia yang tidak percaya dengan agama. Semua itu tertinggal di sana saat aku meninggalkan Hungaria untuk kembali ke Kuwait.

Hari-hariku sebagai muslimah kulalui dengan mudah di sini, aku bebas berjilbab, sementara di negaraku sendiri berjilbab bisa menimbulkan masalah tersendiri. Aku teringat suatu hari temanku berjilbab sedang berjalan, tiba-tiba ada seorang lelaki dengan ringannya menarik jilbabnya dan berteriak “Go back to Palestine”. Di sini juga kami bisa menjalankan sholat di masjid-masjid .

Tak terbayangkan seandainya kami mempunyai masjid seperti Kuwait, betapa bahagianya kami. Masjid kami satu-satunya telah mereka ubah menjadi gereja. Sementara pemerintah tidak mengijinkan untuk mendirikan masjid. Tapi kami, muslim yang tidak akan menyerah kepada keadaan. Kami sewa flat ataupun salon dan kami ubah suasananya seperti masjid, kami hamparkan karpet yang luas dan di sinilah kami kaum muslimin berkumpul sholat bersama, terutama pada bulan ramadhan.

Kami mengadakan acara buka bersama yang dilanjutkan dengan sholat tarawih.  Moment-moment seperti itu sangat berarti bagi kami, kaum minoritas di negeri kami, negeri yang 75 persen penduduknya beragama Kristen.

Semakin dekat waktu belajarku di Kuwait akan berakhir, itu artinya aku akan memulai babak baru kehidupanku sebagai muslimah yang akan menetap di Hungaria dengan segala situasinya. Dan artinya pula aku harus memutuskan rencana pernikahanku. Dari apa yang kupelajari, seorang muslimah diharamkan untuk menikah dengan pemuda nonmuslim. Ini merupakan hal berat yang aku harus putuskan, aku tidak tahu bagaimana mengatakan kepadanya dan aku juga tidak ingin melukai hatinya. Tapi aku tahu aku tidak boleh melanggarnya.

Akhirnya waktu itupun tiba, di bandara Budapest, pemuda itu menyambutku. Ditengah perjalanan, dia bertanya”kenapa kamu tidak pernah mengajariku cara beribadah yang benar, karena aku bertanya kepada kelompok ini mereka bilang begini, dan kelompok yang lain mereka bilang begitu, mana yang benar?” Aku heran dan balik bertanya “Untuk apa kamu bertanya seperti itu” Sambil tersenyum dia menjawab “ Aku telah menjadi seorang muslim”. Tak terasa airmataku meleleh bahagia mengingat semua itu.

Tak terasa pesawat sudah mendarat di bandara Kuwait yang terlihat lebih indah dari saat kedatanganku yang pertama kali. Kugandeng anak-anakku melewati pemeriksaan dari petugas imigrasi yang terlihat setengah hati melayani orang-orang yang sedang berderet di antrian yang mulai memanjang. Kerinduan itu makin membuncah di dada ini, ingin aku kembali melihat Kuwait dengan segala kenanganku yang tertinggal di sini. Makin tak tertahan mata, hati dan jiwa ini untuk menatapmu saudaraku tersayang

”Assalamualaikum, ya ukhti” suara yang aku merasa pernah mende-ngarnya terdengar menyapaku. Aku menoleh “ Ya Rabbi terima kasih atas kasih saying-Mu, Engkau telah pertemukan aku dengan saudaraku”. Kami berpelukan bahagia melepas rindu yang tertahan sejak 8 tahun yang lalu.
Kekalkanlah cinta kami karenaMu ya Allah. Anna Uhibbuk fillah ya Ukhti.

(Ummu Hanna: Terinspirasi dari Kisah Nyata seorang sahabat dari Hongaria)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com