Puasa Musim Panas di Tiga Negara


Membayangkan puasa tahun ini rasanya berat sekali, karena tahun ini Ramadhan akan jatuh sekitar tanggal 20 juli yang artinya, Kuwait berada di puncak panasnya. Tak terbayangkan, di musim panas, kehausan seperti tak tertolongkan, apalagi sengatan matahari dan hawa panasnya yang serasa membakar tubuh kita, ditambah lagi kita harus berpuasa dari sekitar pukul 3.30 dini hari sampai 6.45 petang hari di bulan Ramadhan nanti. Tetapi keadaan ini mungkin bisa dikatakan masih beruntung dibandingkan saudara-saudara kita yang tinggal di negara-negara lain yang mempunyai waktu siang lebih panjang dari Kuwait di musim panas.

Sebut saja Rusia. Seperti pengalaman yang diceritakan Hendra, pada tahun lalu dimana Ramadhan jatuh pada tanggal 1 Agustus, itu artinya Moskow, ibukota Rusia mulai puasa jam 03.15 dini hari dan berakhir pukul 21.37 malam hari. Berarti kaum muslimin di Rusia berpuasa selama 18.5 jam. Hal ini semakin tak terbayangkan kalau kita melihat aktivitas beribadah dibagi-bagi lagi, kata dia.
(Kul Sharif Mosque in Kazan - Russia)

Bayangkan waktu buka puasa pukul 21.30 malam lalu sholat maghrib dan dilanjutkan makan malam, semua itu selesai pukul 22.30. Setelah istirahat sebentar, kemudian waktu isya datang pukul 23.28 nyaris tengah malam. Nah bila dilanjutkan sholat tarawih di masjid dengan tadarus dan doa maka mereka pulang ke rumah pukul 01.30 dini hari. Lalu tidur 2 jam, dan bangun kembali untuk bersahur. Meskipun suhu di Moskow tak sepanas di Kuwait, sekitar 33 derajat Celcius di siang hari, tetap terasa sangat panas karena tidak setiap kantor dan perumahan punya fasilitas AC.

Begitu juga yang diceritakan Ando tentang puasa tahun lalu di Jepang. Di Jepang, pada musim panas seperti suasana di dalam sauna raksasa dengan suhu tinggi dan lembab. Keringat dengan sangat cepat bercucuran berlomba untuk keluar dari tubuh.

Hal ini diperberat dengan waktu puasa lebih panjang di banding musim dingin. Contohnya saja pada tanggal 8 Agustus 2011, puasa dimulai jam 3 dini hari dan berakhir pukul 7 malam. Belum lagi tahun ini, mereka yang di Jepang akan berpuasa dari jam 2.30 dini hari sampai 7.30 malam. Bukan hanya soal panjangnya, tapi juga masalah sahur dan buka puasa tentunya tidak semudah bagi kita yang tinggal di negara yang mayoritas muslim.

Berpuasa di Jepang di musim panas benar-benar ujian raga, mental dan spiritual bagi seorang muslim, ujar Ando. Di sini aku merasa betul bahwa menjadi muslim adalah pilihan pribadi, tambahnya.

Memang benar, kadang-kadang kondisi yang sulit justru bisa membuat semangat kita untuk beribadah menjadi bertambah. Seperti halnya yang saya alami sendiri (penulis-red), tahun lalu meskipun belum puncaknya musim panas tapi beratnya puasa sudah terasa, terutama di awal-awal puasa, mulai puasa pukul 3.30 dini hari dan berakhir 6.30 malam, belum lagi di tengah kelelahan puasa kita harus bersiap-siap untuk pergi dinas dari jam 7-12 malam.

Tapi hal itu tidak membuat sema-ngat kami untuk berpuasa dan melakukan shalat tarawih mengendor. Kami bahkan merasakan bahwa hal ini justru tantangan tersendiri bagaimana memaksimalkan ibadah de-ngan kondisi yang ada.

Lain halnya saat pertengahan Ramadhan yang kami lakukan di Indonesia, kekuatan itu seolah-olah hilang, semangat ibadah melemah begitu saja, padahal kalau dibandingkan dengan di Kuwait tentu saja situasi dan suasana di Indonesia lebih mudah. Selain waktu puasa pendek, makanan yang kita inginkan mudah didapatkan tanpa perlu bersusah payah masak sendiri dan juga kami dalam keadaan cuti.
Keadaan yang memudahkan kami untuk beribadah justru melemahkan mental dan spiritual kita. Begitu juga dengan anak-anak.

Saat mereka berpuasa di Kuwait, tanpa ada keluhan mereka menyelesaikan puasanya sehari penuh, tetapi waktu di Indonesia karena banyaknya makanan yang terlihat oleh mereka dan seringkali melihat orang-orang yang dengan cueknya makan di depan umum, meskipun mereka seorang muslim yang seharusnya menghormati bulan Ramadhan, membuat anak-anak juga se-ring merajuk.

Semoga puasa tahun ini dimudahkan oleh Allah, karena puasa di musim panas merupakan keistimewaan tersendiri bagi kita seperti yang di-isyaratkan oleh sejumlah wanita shalihat “Sesungguhnya sebuah barang yang harganya murah, semua orang dapat membelinya”, dalam hal ini mereka ingin menunjukan kesungguhan beramal yang hanya mampu dilakukan segelintir orang karena beratnya puasa di musim panas. (Ummu Yahya)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com