Ayah, Maafkanlah Aku




“Hiks…hiks..hiks”, Ami kecil terisak di pojok rumahnya. Wajahnya yang kecil tampak bingung dan menyiratkan ke-        bencian. Sore itu seperti biasa Ami dan kedua kakak laki-lakinya yang    sedang ramai bermain dibentak oleh ayahnya, dan mereka cepat-cepat berlari sebelum tangan ayahnya mendarat di tubuh mereka seperti hari-hari sebelumnya.

Ayah Ami yang seorang penjudi memang tipe orang yang pemarah, senda gurau anak-anaknya sering  membuat dia berang.  Ami kecil yang berumur 4 tahun tidak mengerti apa  alasan ayahnya marah setiap hari. Dia hanya tahu bahwa bermain itu sangatlah  menyenangkan, dan kemarahan ayahnya  tidak membuat dia jera.  Sehingga Ami kecil lebih sering mendapat pukulan ayahnya dibanding kedua kakaknya. Setiap kali dipukul ayahnya, Ami hanya bisa mengadu kepada ibunya, tetapi ibunya tidak bisa berbuat apa-apa karena sang ibu yang pendiam tidak ingin membuat ayahnya bertambah marah. Hanya nenek lah yang sering membela mereka.

Suatu hari Ami yang biasa tidur bersama neneknya, dipaksa tidur bersama ayah dan ibunya karena dia sedang demam. Tengah malam Ami merasakan sesuatu yang aneh di sebelahnya. Ami pun   terbangun,saat menoleh dia melihat ayahnya sedang berbaring di sebelahnya. Seketika timbul rasa takut dan benci di hati Ami, pelan-pelan Ami turun dari tempat tidur dan pindah di bawah kursi dengan harapan ayahnya   tidak menemukannya lagi. Kebencian yang kian menumpuk di hati Ami pun membuat Ami kecil merasakan sesuatu yang tidak nyaman saat  tangannya  secara tidak sengaja tersentuh ayahnya. Ami akan cepat-cepat mengusap tangannya    dengan penuh rasa marah.
Ami kecil yang tumbuh dengan bentakan dan tamparan, tumbuh menjadi gadis yang pendiam, keras kepala, pemarah, suka memberontak, dan juga pendendam. Setiap bentakan dari ayahnya sekarang dianggap dia sebagai  hutang yang harus dibayar, sehingga sering dia dengan sengaja mencari gara-gara dengan ayahnya.

Suatu hari Ami dan ayahnya bertengkar karena meminta sepatu baru untuk menggantikan sepatunya yang sudah rusak. Ayahnya marah, “Dasar anak gak tahu diri, kerjanya hanya minta aja”   teriak ayahnya. Ami pun semakin tertantang untuk membuat ayahnya lebih marah, dibalasnya teriakan ayahnya, “Pokoknya aku gak mau tahu, aku minta sepatu baru sekarang juga. Sudah cukup kami menderita, setiap hari kami dipukul, dibentak, jangan-jangan aku bukan anak kalian. Coba bilang siapa orang tuaku. Benarkah nenekku adalah ibuku yang sebenarnya, seperti yang dibilang orang-orang”,  teriak Ami setengah menjerit sambil menahan  tangisnya.

Kata-kata Ami membuat ayahnya kaget, tapi sekaligus membuat ayahnya bertambah marah dan menuduh ibunya telah berzina dan aku adalah anak hasil dari perzinaan itu. Ibu hanya menangis, dan karena tidak kuat menahan tuduhan, ibu pun membentak Ami, “Diam kau, apa yang kamu katakan itu” Bentakan kedua orang tuanya membuat Ami marah dan dengan penuh rasa  putus asa dia membentur-benturkan kepalanya ke tembok yang disandarinya, tapi Ami tidak akan pernah mengeluarkan airmata.

Tekanan-tekanan di dalam rumahnya, membuat jiwa Ami labil. Dia menyadari ada yang salah dalam dirinya, kadang dia merasa sendiri dan merana. Tetapi kadang dia juga menjadi pribadi lain yang penuh rasa dendam, sehingga dalam pergaulan pun dia adalah tipe teman yang sulit ditebak.

Kini Ami beranjak dewasa, dia merasa dirinya sudah gila dan seringkali dia dalam ketakutannya sendiri. Suatu hari dia sedang duduk sendiri di kamarnya, secara tak sengaja dia melihat gunting di sebelahnya, tanpa sadar Ami meraih dan mencoba    menggores tangannya. Tiba-tiba Ami sadar, dibuangnya gunting itu dan dia berlari dengan wajah ketakutan sambil menangis.

Hanya saat bersama teman-teman dekatnya, Ami sedikit bisa melupakan dirinya. Tapi Ami tidak pernah men-  ceritakan keadaan dirinya kepada mereka. Keadaan ini semakin hari semakin parah, rasa putus asa itu kadang kala muncul begitu saja. Seperti yang dialami hari itu.

Hari itu adalah hari terakhir ujian di sekolahnya. Pada saat dia mengerjakan soal-soal itu tiba-tiba muncul bayangan masa lalunya, seketika itu pula konsentrasinya buyar, dia merasa    seluruh   ruangan itu hanya terdengar teriakan dan bentakan. Akibatnya saat hasilnya dibagikan dia hanya mendapat nilai 0.5 saja.
Guru yang mengajarnya pun heran, karena meskipun diam, Ami dikenal  sebagai anak yang lumayan encer otaknya. Ami pun dipanggil menghadap guru dan seorang pembimbing konseling yang ada di sekolah itu. “ Ami, ada apa dengan kamu. Ibu tahu kamu anak yang pandai, kalau memang ada yang mengganggumu, kamu boleh bercerita pada kami, insya Allah kami akan membantumu”.

Ami pun hanya terdiam, tak lama kemudian dia menangis terisak-isak, satu persatu cerita masa lalu terdengar di sela tangisannya. “Ami, kalau Ami ingin terbebas dari perasaan itu, Ami harus menolong diri kamu sendiri, kami hanya bisa mengasih saran dan  dukungan saja.  Ami mau?.” Ami hanya mengangguk pasrah. “Ami, dendam itu sangat menyiksa, belajar memaafkan adalah obatnya. Ami bisa mencoba, di saat perasaan benci itu muncul, coba Ami hadirkan kebaikan-kebaikan ayahmu, bukankah dia yang telah menghidupi kalian, menyekolahkan, dan tentunya masih banyak lagi.

 Ami cuma menggeleng pelan, dan   berkata lirih “Aku pernah mencobanya dan gagal”. Pertemuan itu berakhir dan Ami minta waktu untuk datang lagi, “Dengan senang hati, kami akan      mendampingimu dan jangan pernah menyerah untuk mencobanya”.

Minggu berikutnya Ami datang lagi, “Gagal lagi… dan aku tahu pasti gagal” Itu saja yang keluar dari mulut Ami. Guru konselingnya pun hanya diam, setelah menghela nafas panjang, dia pun     berkata “ Ami, setiap orang punya salah dan masa lalu. Masa lalu bukan untuk diratapi tapi untuk dipelajari agar kesalahan itu tidak terulang. Cobalah lihat, sekarang ayahmu sudah mulai tua dan seperti kamu bilang dia sudah sedikit berubah, itu artinya ada harapan dia berubah dari sifat buruknya. Apakah hak kita untuk tidak memaafkan, sementara Allah sendiri Maha Pemaaf meskipun kepada hambaNya yang telah menyakitinya. Dan ingat Ami, orang tua dan akan tetap menjadi orang tua kita sampai kapan pun walau bagaimanapun sifatnya, dia adalah orang yang darahnya ada bersama aliran darah kita, apakah kau mau hidup dalam           ketersiksaan selamanya”. Ami tidak menjawab, dia langsung minta diri. “Oh ya, kalau kamu mau, besok bisa ikut ibu di kajian, siapa tahu kita dapat pencerahan di sana”, sambil pergi, Ami menjawab”Insya Allah.”

“Para ulama Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik kepada orang tua hukumnya adalah wajib” kata ustad Arif sore itu. Dalilnya jelas, diantaranya dalam surat AL Isra ayat 23. Dan juga dalam kaitan ini Rasulullah Shalallahu ’ Alaihi Wassallam bersabda bahwa  keridhoan Allah ada pada keridhoan orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan keduanya.” papar   ustadz Arif dengan panjang lebar. Ami merasakan sesuatu yang menyesak dalam dadanya, ada rasa sesal dan marah memenuhi hatinya, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya.

Peserta majelis yang dirahmati oleh  Allah, banyak fadilah yang bisa kita  dapatkan dengan amalan ini diantaranya dosa-dosa kita akan diampuni dan hal ini pun bisa memasukkan kita ke dalam surga, maka sebelum terlambat mari kita berusaha untuk melayani orang tua kita, jangan sampai kita mendapat murka keduanya,karena Allah juga akan murka kepada kita” pesan ustadz Arif sebelum menutup kajian sore itu. Tak terasa, airmata menetes di pipi Ami, kembali uraian-uraian yang disampaikan ustadz Arif itu terngiang di telinganya, hanya  yang terdengar dari mulutnya “Ayah kumaafkan kau atas apa yang telah terjadi selama ini, maafkanlah aku yang telah menyakitimu”, Ami mulai merasakan rasa lapang di dalam  hatinya.

Ami kini seorang ibu, dipangku dan   dielus kepala putri kecilnya sambil berkata “ Ibu berjanji tidak akan menorehkan duri yang akan melukai hatimu, cukup itu sebagai masa lalu ibu”. Ami tersenyum sambil mendekap bidadarinya.

(Ummu Hanna)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com