Berhaji untuk Ibu yang telah meninggal


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

1- Berhaji untuk Ibu yang telah meninggal

Pertanyaan
Assalamualaikum warahmatullah
Ustadzah, ibu saya telah wafat, sementara beliau belum berhaji, bolehkan saya berhaji dan meniatkan haji saya untuk beliau? Terima  kasih.     (Bunda Ahmad)

Jawaban
Waalaikumussalam warahmatullah.
Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rasulillah wa ba'du.
Dalam fikih Islam, terdapat istilah al hajju anil ghoiri yang lebih terkenal di kalangan masyarakat Indonesia    dengan istilah haji badal. yaitu berhaji dengan diniatkan untuk orang lain yang sudah wafat, atau untuk orang yang sudah tua renta yang kondisinya memang tidak memungkinkan untuk melakukan ibadah haji.

Seorang wanita dari Khats`am bertanya, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hambaNya untuk pergi haji, namun ayahku seorang tua yang lemah yang tidak mampu tegak di atas kendaraannya, bolehkah aku pergi haji untuknya? Rasulullah SAW menjawab ”Ya".Dalam hadits lain lagi, Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata, ”Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya?” Rasulullah SAW menjawab, ”Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya hutang, apakah kamu akan membayarkannya? Bayarkanlah hutang kepada  Allah karena hutang kepadaNya lebih berhak untuk dibayarkan.”(HR.Al-Bukhari).



Dalam hal ini disyaratkan bagi yang ingin berhaji tetapi diniatkan untuk orang lain, ia disyaratkan telah melakukan ibadah haji lebih dulu. Jika    saudari, telah melakukan ibadah haji untuk diri sendiri, maka dibolehkan untuk berhaji untuk ibu yang  sudah wafat. Tetapi jika saudari belum berhaji untuk diri sendiri, maka tidak   boleh berhaji untuk orang lain. perlu diperhatikan pula dalam kasus ini, ketika seorang perempuan menghaji-kan untuk orang lain, bapak misalnya, ataupun suami, atau yang lainnya, di-perhatikan tentang syarat haji yang lain,yaitu kemampuan dalam arti yang luas, termasuk mencakup keber-adaan seorang mahram bagi seorang  perempuan yang ingin berhaji. Dalam kasus ini ada  alternatif lain, kita bisa membayar seseorang (laki-laki) untuk melakukan ibadah haji dengan diniatkan untuk orang yang kita inginkan.

Menghajikan orang lain, tidak disya-ratkan ada hubungan nasab, misalnya anak menghajikan untuk ibunya, atau sebaliknya, tetapi boleh dilakukan oleh orang lain, juga tidak disyaratkan persamaan jenis kelamin, misalnya wanita menghajikan untuk wanita.  Tidak demikian. Dibolehkan baik bagi wanita berhaji dengan niat untuk   bapaknya atau sebaliknya karena yang manjadi syarat  hanyalah orang  hendak berhaji untuk orang lain harus telah berhaji untuk diri sendiri terlebih dahulu. Bagi yang berhaji dengan niat untuk orang lain, hanya dalam niat ketika ihram pertama kali disebutkan namanya, misalnya: labbaikallahumma hajjan'an fulan (nama orang yang dimaksud), sedangkan untuk manasik-manasik setelah itu tidak perlu menyebutkan nama orang dimaksud. Wallahu a'lam.

2. Hukum Membayar Dam 

Pertanyaan
Assalamualaikum warahmatullah.
Saya ingin bertanya tentang  kewajiban membayar dam. Apakah di-wajibkan bagi saya untuk membayar dam jika saya ingin mengerjakan Haji tamattu'. Dan bagaimana ketentuannya ?. Pertanyaan yang lain : bolehkah saya mengulang-ulang umrah dalam satu kali perjalanan. Jazakumullah Khoir.
(Bunda Fawwaz)

Jawaban
Waalaikumussalam Warahmatullah.
Bismillah, Alhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rasulillah. wa ba'du.
Puji syukur kepada Allah yang telah memilih anda untuk dapat menjalan-kan ibadah haji. Ibadah haji yang merupakan salah satu dari Rukun Islam, dan merupakan pilar kelima memiliki kekhususan dan hukum-hukum tertentu yang seyogyanya diketahui bagi setiap calon jama'ah haji. Diantaranya yaitu masalah tata cara pelaksanaan haji itu sendiri.

Ada tiga tata cara pelaksanaan haji, atau disebut juga dengan macam-macam manasik Haji. Hal ini ter-masuk salah satu gambaran kasih sayang Allah kepada hambaNya, se-hingga mereka dapat memilih yang lebih mudah bagi mereka. Jika se-orang calon jama'ah haji telah sampai miqat pada bulan-bulan haji yaitu bulan Syawal, Dzulqaidah, 9 hari pertama Dzulhijjah, maka dia boleh memilih tiga jenis manasik, yaitu :

1.Berhaji dengan cara Tamattu', yaitu: ia berihram dengan niat umrah, lalu ketika sampai Makkah ia menyelesaikan ibadah umrahnya, setelah selesai ia bertahullul dan menjadi halal lagi, hingga sampaipada tgl 8 Dzulhijjah ia berihram untuk haji saja di tempat tinggalnya, lalu mengerjakan semua amalan haji

2. Berhaji dengan cara Qiran, yaitu : ia berihram dari miqat dengan niat umrah dan haji, ketika sampai Makkah ia melakukan tawaf Qudum, jika ingin melakukan sa'i maka tidak mengapa, atau sa'i ini dilakukan di akhir yaitu setelah tawaf ifadhah (tawaf wajib haji). ia tidak meneruskan amalan umrah yang lain : memendekkan rambut, dan ia juga tidak menjadi halal, tetapi kondisinya masih dalam status ber-ihram, hingga ia menyelesaikan amal-an-amalan pada tanggal 10 Dzulhijjah.

3. Berhaji dengan cara Ifrad, yaitu : ia berihram dari miqat hanya dengan niat haji saja, ketika sampai Makkah ia melakukan tawaf qudum, jika ingin melakukan sa'i maka tidak mengapa, atau sa'i bisa diakhirkan setelah tawaf  ifadhah. ia masih dalam status ihram, hingga ia telah selesai melakukan amalan-amalan haji pada tanggal 10 Dzulhjjah.


Haji dengan cara Ifrad ini hampir sama dengan cara  Qiran, hanya bedanya: haji dengan cara Qiran ia dapat melakukan dua manasik dalam satu waktu, yaitu manasik haji dan umrah. Sedangkan haji Ifrad hanya dilakukan didalamnya satu manasik saja yaitu manasik haji saja.

Dalam haji Tamattu' dan Qiran, bagi selain penduduk Makkah maka wajib membayar dam atau Al hadyu, yaitu menyembelih kurban sebagai rasa syukur kepada Allah karena ia dapat menjalankan dua ibadah sekaligus dalam satu waktu yaitu : umrah dan haji. Kewajiban dam ini bersifat wajib dan tertib (harus diperhatikan yang pertama dulu, jika tidak mampu maka dibolehkan memilih yang ber-ikutnya) yaitu : Menyembelih kambing, jika tidak mampu maka dibolehkan untuk berpuasa tiga hari di Makkah, dan tujuh hari ketika ia sampai kepada keluarganya. firman Allah dalam surat Al Baqarah: 196 yang artinya : "... Jika kalian telah merasa aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (dalam bulan haji) wajiblah ia menyembelih kurban yang mudah didapat. jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila kamu telah pulang kembali... "

Adapun waktu membayar dam dalam bentuk menyembelih kurban, maka waktunya yaitu sama dengan waktu berkurban pada umumnya, yaitu setelah sholat idul adha hingga menjelang maghrib hari tasyriq ketiga, yaitu pada tanggal 13 Dzulhijjah. Sedang jika tidak mampu membayar dam dalam bentuk kurban, maka baginya berpuasa 3 hari di Makkah, dan seyog-yanya mengerjakan 3 hari ini di Makkah hingga Hari Arafah. Tetapi sah-sah saja jika puasa 3 hari ini dilakukan pada hari Tasyriq.

Berkaitan dengan pertanyaan yang kedua, tentang mengulangi umrah dalam satu kali perjalanan, misalnya si Fulan telah selesai berumrah untuk dirinya sendiri, lalu ia pergi ke miqat untuk berihram umrah untuk ibunya yang telah wafat, bagaimana hukumnya?.

Dalam hal ini tidak ada dalil yang jelas yang melarang hal ini. Karena itu, dalam masalah ini terjadi perbedaan antara yang membolehkan dan tidak. Mereka yang membolehkan berdalil dengan hadits dari Aisyah, ketika Rasulullah membolehkan Aisyah untuk berumrah dengan ihram dari Tan'im setelah Aisyah selesai mengerjakan ibadah hajinya (Muttafaq Alaih). Sedangkan bagi yang tidak membolehkan, berdalil bahwa  Rasulullah tidak pernah melakukannya, dan para sahabat tidak pernah melakukannya, sedangkan hadits Aisyah hanya pengecualian dan hanya dikhususkan bagi Aisyah untuk menghibur hatinya.

Terlepas dari perbedaan, bagi orang yang melakukannya, dan mengulang  umrah dalam satu kali safar, setelah ia selesai umrah, ia pergi ke miqat mana saja untuk umrah, Tan'im merupakan   miqat  yang   terdekat  dari Makkah, hal ini tetap sah baginya dan dibolehkan. Tetapi memperba-nyak umrah pada tiap kali umrah satu safar, atau menyibukkan diri dengan tawaf sunnah setelah selesai umrah tentu ini yang lebih afdhol.
Semoga Allah mudahkan untuk menjalankan ibadah haji dan semoga menjadi haji yang mabrur.
Wallahu a'lam.


0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com