Hidayah



Di ujung kulon Jawa Tengah, di satu daerah kecil di bagian selatan  yang berbatasan dengan Jawa Barat,   lahirlah Murni, seorang bayi mungil cantik yang membuat orang akan merasa senang   melihatnya. Murni dilahirkan oleh  pasangan muda dari sekelompok kecil keluarga non   muslim yang tinggal di tengah-tengah  perkampungan yang mayoritas penduduknya muslim.

Murni tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu , rajin dan penurut. Setiap pagi setelah selesai membantu ibu menyapu dan menyuci piring, Murni kecil bersiap-siap pergi ke sekolah bersama teman-temannya dengan berjalan kaki, mereka sangat gembira sepanjang     perjalanan banyak sekali cerita dan celotehan yang terlontar dari mulut-mulut mungil mereka. Sepulang sekolah, setelah selesai makan siang, Murni berkata :” Bu pergi main dulu ya.’ Tanpa menunggu jawaban ibunya, Murni sudah ber gabung dengan teman-temannya yang sudah menunggu di depan rumah. Tak terasa sore pun menjelang, “ Ayo kita pulang yuk, siap-siap ngaji, “ seru Siti membubarkan mereka yang sedang asyik bermain lompat tali. “ Mur, jangan lupa ya ntar berangkat ke masjid, kutunggu ya, “teriak Fatma sambil melesat menuju rumahnya yang berada di sebelah masjid. “Ya, “ jawab Murni sambil menganggukkan kepalanya.

Sesampainya di rumah, Murni cepat-cepat mandi, setelah berganti baju, dengan setengah berlari disambarnya selendang batik ibunya untuk menutupi rambut ikalnya yang sepundak itu, dia berlari senang menuju masjid. Di masjid kecil di desa dimana Murni tinggal, gadis-gadis kecil berjilbab mungil dan anak laki-laki berkopiah berkumpul di sana untuk  mengaji setiap sore dari habis magrib sampai Isya. Dan Murni pun tidak mau ketinggalan karena senang  melihat semua temannya berkumpul, setelah membasuh wajah, tangan dan kaki sekedarnya yang coba dia tiru dari teman-temannya, Murni pun ikut berbaris  untuk sholat Magrib dengan mengikuti gerakan teman-teman yang di depan dan sampingnya. Selesai sholat magrib, mereka pun duduk melingkar, dan Kak Aisyah duduk    diantara mereka, mengajari doa-doa, cara  berwudlu, tata cara sholat dan juga surat-surat pendek dari kitab suci Al Qur’an. Setelah    selesai sholat Isya berjamaah, mereka pun bubar. “ Sudah pulang Mur, ayuk kita makan, habis itu kerjakan PR mu lalu pergilah tidur,” sambut ibunya begitu  melihat Murni masuk rumah. Orang tua Murni memang tidak pernah melarang Murni ikut-ikutan ngaji teman-temannya di masjid, meskipun bertentangan dengan agamanya, bagi mereka tidak menjadi masalah karena Murni masih kecil, yang penting dia senang bertemu teman-temannya.

Minggu pagi yang cerah, hari yang sangat dinanti-nantikan oleh Murni, karena dia bisa bangun lebih lambat dan di hari ini dia akan bertemu dengan teman-temannya yang lain. Setelah berbaju rapi dengan rambut ikal diikat dua berpita biru warna kesukaannya, bersepatu fantopel lengkap dengan kaus kakinya, Murni pun digandeng ibunya menuju gereja yang terletak berlawanan arah dengan masjid tempat dia biasa mengaji. Tak lupa  kitab Injil berwarna biru di tangan kirinya yang mungil itu. Sebenarnya bukan gereja seperti yang       kebanyakan kita lihat, tapi itu adalah satu rumah dari keluarga non muslim yang tinggal di situ, sedang gereja aslinya terletak di kota, dan mereka biasa mengunjunginya setahun sekali saat hari natal tiba. Sesampai di sana, murni pun duduk bersama teman-temanya, teman-teman yang berbeda saat dia duduk di masjid setiap harinya, bersama mereka berdoa, ber- nyanyi yang dipimpin seorang pastur dari kota, yang akan dilanjutkan dengan   ceramahnya. Setelah semua itu selesai, Murni dan teman-temannya tampak sangat bergembira  karena mereka akan mendapat hadiah dan makan. “Hore aku dapat kartu bergambar jesus, “ seru Murni kegirangan. “ Aku dapat kartu jesus  disalib, bagus sekali, “ sahut Maman tidak kalah gembiranya. Setelah selesai acara makan pagi pun, mereka pulang. Itulah kehidupan Murni kecil, dua hal bertentangan yang tidak pernah dia sadari bahwa bahwa itu adalah kesalahan, tak juga oleh orang tuanya.

Minggu pagi usai sudah, kehidupan murni pun kembali seperti biasa, mengaji bersama-sama dengan teman-temannya. Gerimis kecil mulai turun desa, tapi hal itu tidak membuat anak-anak mungil itu menyerah, dengan  setengah berlarian mereka berlari menuju  masjid. “Mur, gak usah berangkat ke masjid karena hujan akan turun deras, “kata ibunya menasihati, tapi Murni kecil seolah tidak mendengarnya. Setelah pamit dengan ibunya yang sedang di dapur menggoreng pisang, Murni kecil pun sudah berlari kecil menerobos gerimis sambil menenteng sandalnya. Belum sampai di masjid, hujan sudah turun dengan derasnya diikuti suara halilintar yang ber    sahutan. Mereka pun mempercepat larinya. Selesai sholat Magrib, kak Aisyah tidak       mengajar seperti biasanya, dia hanya mengajak mereka berdoa bersama sampai sholat Isya tiba. Satu persatu teman-temannya dijemput orang tuanya masing-masing, Murni pun    sempat kebingungan bagaimana dia harus pulang, kenapa tadi tidak mendengarkan    nasihat ibunya. Kalau teman-temannya      dijemput oleh bapak mereka itu wajar karena mereka sering ke masjid untuk sholat, lha dia, bagaimana? Kan bapakku gak pernah ke sini, batin Murni kebingungan. Akhirnya Murni pun pelan-pelan menuju ke teras masjid melihat suasana di luar, sungguh kaget Murni melihat bapaknya sedang menunggunya di teras    masjid, ini yang pertama kali dilakukan      bapaknya. Kemudian digendongnya si Murni pulang ke rumah, berpayung  biru, melewati beberapa pohon yang tumbang karena diterpa angin kencang.

Hujan masih berlanjut dengan gerimis sampai keesokan harinya, Murni sedih melihat selendang yang biasa dibawa ke masjid tidak kering meskipun dijemur seharian. Murni pun memberanikan diri meminta kepada ibunya agar dibelikan jilbab biru , tapi permintaan itu tidak pernah dikabulkan. Bahkan satu hari ibunya berkata, “ Udahlah Mur, gak usah lagi mengaji, bukankah setiap hari Minggu kamu udah ke gereja, di sana kamu dapat hadiah. Lha ini ke masjid bukannya dikasih hadiah tapi malah disuruh bawa uang Rp.350,00 atau bawa minyak 1 liter setiap bulannya.” Ya memang mereka menyetor karena waktu itu belum ada listrik, jadi itu semua digunakan untuk  mengisi lampu petromax atau lampu sentir yang mereka pakai saat mengaji,  itupun Murni jarang ikut menyetor. Tapi Murni tidak pernah menyerah untuk mempunyai jilbab kecil, dia ikut-ikutan seperti tetangganya seorang janda tua       mengumpulkan klaras (daun pisang yang sudah kering) untuk dijual ke pasar, dipetiknya klaras dan dikumpulkan dibelakang rumah, tapi klaras-klaras itu tak pernah terjual karena sering basah dengan air hujan atau sebagai sarang semut. Ibunya tersenyum saat melihat Murni mengumpulkan klaras dan berkata dia akan menjualnya untuk membeli jilbab kecil yang  diiimpikannya.   

      Waktu berjalan, Murni sudah berusia 12 tahun yang artinya sebentar lagi dia akan menghadapi ujian akhir, ibunya sering       melarangnya pergi mengaji karena dia harus banyak belajar ungtuk menghadapi ujian, dan tanpa pernah disadarinya  dia dan juga orang tuanya sudah tidak pernah ke gereja lagi.      Ge-reja itu pun sudah sepi, hanya beberapa orang saja yang masih aktif dan mereka memilih pergi ke gereja di kota kalau mau   sembahyang. Kitab  Injil biru itupun dibiarkan tergeletak berdebu di mejanya. Untuk mengisi waktunya  di sela-sela sibuknya belajar, Murni mendengarkan radio dan sholat di rumahnya dengan memakai kain batik panjang milik ibunya. Begitulah kesibukannya sampai akhirnya Murni lulus ujian meskipun dengan nilai yang pas-pasan. Murni, akhirnya melanjutkan sekolah di kota.

Meskipun sedih meninggalkan teman-teman dan orang tuanya di desa, tapi Murni mendapatkan penggantinya. Disana dia bertemu dengan teman-teman yang rajin   mengajaknya sholat dan mengaji. Sehingga kenangan saat kecilnya pun terasa bangkit kembali. Seminggu sekali Murni pulang ke rumah untuk mengambil jatah uang makan selama tinggal di kostnya. Satu hari di malam Minggu, seperti biasa Murni pulang ke rumah, dia tidak tahu kali ini hatinya sangat gembira tanpa tahu alasannya. Murni pun masuk ke kamar, ada yang aneh, di mejanya tak tampak lagi  kitab Injil biru itu, tapi -Subhanallah- jilbab biru, mukena bordir berwarna putih, buku iqro, buku tuntunan sholat, dan kitab suci Al Qur’an telah tertata rapi di atas meja kecil itu. Dengan setengah berlari, dipeluknya kedua orang   tuanya, dan mulai saat itu dengan penuh kelembutan diajari kedua orang tuanya hal-hal yang pernah dia dapatkan saat mengaji di    masjid bersama teman-temannya. Dan saat itu pula, kehidupan mereka berubah, tak ada lagi gereja, tak ada lagi natal di hari besar mereka. Ramadhan tahun itu adalah bulan menjalankan puasa pertama kali bagi kedua orang tua Murni, dan hari raya Idul Fitri yang mereka rayakan terasa indah melebihi indahnya natal yang pernah mereka besarkan. Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah memberi hadiah yang besar kepada kami, kekalkanlah hidayah bagi kami. 

( kisah nyata dari sang penulis-Hamba Allah)


0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com