Ibunda Aisyah



Serial Ummuhatul Mukminin
 3. Ibunda  Aisyah r.ha                       

 Istri tercinta dari seorang Rasul tercinta, anak dari seorang lelaki tercinta, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah tentang kekasihnya saat ditanya oleh Amru bin Aash,“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menja- wab, “Aisyah!” Amru bertanya lagi, “Dan dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab,“Ayahnya!” (Hadits  muttafaqun ‘alaihi)

Aisyah binti Abdullah (lebih dikenal  dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq) bin Quhafah bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim bin Marrah bin Ka’ab bin Luay, dan berasal dari suku Quraisy at-Tai-miyah al-Makkiyah. Lahir pada  tahun keempat Kenabian, dinikahi oleh  Rasulullah pada usia  6 tahun berdasarkan  wahyu  dan  mimpi dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengisahkan mimpi beliau kepada ‘Aisyah :”Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu mala-ikat yang berkata : ini adalah istrimu. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu, lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi dari ‘Aisyah radilayallahu ‘anha). Satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi dalam keadaan masih gadis dan beliau berkumpul bersama Rasulullah pada usia 9 tahun.


Ibunda Aisyah, seorang wanita muda belia yang sangat cerdas, dalam waktu 9 tahun selama beliau tinggal bersama Rasulullah telah mampu membuat di-rinya menghafal ribuan hadist dari Rasulullah dan menjadikannya laksana lautan luas dengan kedalaman ilmu dan takwa. Dalam hal ini, Abu Salamah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih menge-tahui Sunnah Rasulullah, lebih benar pendapatnya jika dia berpendapat, lebih mengetahui bagaimana Al Qur’an turun, serta lebih mengenal kewajibannya selain Aisyah.” Tentang masalah ilmu-ilmu yang dimiliki Aisyah ini, di dalam Al-Mustadrak, al-Hakim me-ngatakan bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dan Aisyah. Abu Musa al-Asya’ari berkata, “Setiap kali kami menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada Aisyah.” Para sahabat sering meminta pendapat jika menemukan masalah yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri.  Aisyah pun sering mengoreksi ayat, hadits, dan hukum yang keliru diberlakukan untuk kemudian dijelaskan kembali maksud yang sebenarnya

Ibunda Aisyah, seorang wanita dengan berbagai keutamaan. Sebagaimana sabda Rasulull,  “Sesungguh-nya keutamaan Aisyah diantara para wanita lain adalah seperti keunggulan tsarid dibanding makanan lain. ”(H.R.Muttafaqun ’alaihi). Dengarlah tutur kata Ummu Salamah, meskipun  ditengah kecemburuannya beliau tetap mengakui keutamaannya, ketika Aisyah wafat,  Ummu Salamah  berkata ”Demi Allah, Dia adalah manusia yang paling Beliau cintai setelah ayahnya (Abu Bakar).”     

Bahkan orang-orang berbondong-bondong memberikan hadiah pada hari pernikahan Rasulullah maupun di hari giliran Rasulullah dengan Ibunda Aisyah karena mengharap keridhoan Rasulullah. (H.R. Muttafaqun ‘alaihi). Jibril Alaihissalam pun memberikan salam kepadanya melalui lisan  Rasulullah (H.R. Muttafaqun ‘Alaihi). Allah sendiri telah membersihkan  kehormatannya dari  fitnah yang pernah melandanya yang dikenal dengan Haditsul Ifki dengan menurunkan  Surat An-Nur ayat 11-23. Dan Allah tidak menurunkan wah-yu saat Rasulullah bersama istri-istrinya kecuali saat bersama Aisyah, ini sabda beliau saat dituntut keadilan oleh istri-istrinya tentang ibunda Aisyah, sehingga akhirnya beliau bersabda “Demi Allah, wahyu tidak turun kepadaku selama aku berada di dekat kalian, kecuali ketika aku dalam satu selimut bersama Aisyah.” (HR. Muslim).

Bahkan saat menjelang wafatnya Rasulullah, kita masih bisa melihat kedudukan Ibunda Aisyah di hati Rasulullah “Sungguh merupakan nikmat Allah bagiku, Rasulullah wafat di rumahku pada hariku dan dalam  dekapanku. Allah telah menyatukan ludahku dan ludah beliau menjelang wafat.” (HR. Muttafaq Alaih) dan beliau dikuburkan di  kamar Ibunda    Aisyah tempat dimana Rasulullah diwafatkan

Itulah Ibunda Aisyah, wanita  penuh kemuliaan, kezuhudan, ketawa-dhuan, selalu beribadah dan penuh  kedermawanan. Beliau wafat pada usia 66 tahun dan dikuburkan di Baqi’. (Ummu Yahya)



0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com