Labbaik Allahumma Labbaik



Oleh : Ustadzah Latifah Munawaroh, MA

Panggilan haji telah bergema di seluruh penjuru dunia. Allah telah memilih orang-orang  untuk menjalankan ibadah yang   sangat agung ini. Ibadah yang merupakan rukun Islam kelima, ibadah yang kewajibannya hanya satu kali seumur hidup. Betapa kasih sayang Allah dan RasulNya ketika mewajibkan ibadah ini hanya sekali seumur hidup, itu pula bagi dia yang mampu untuk menjalankannya. Mampu dalam artian yang cukup luas. Mampu secara materi baik materi untuk  dirinya sendiri ataupun materi untuk keluarga yang ditinggalkan, mampu secara fisik dan kekuatan, mampu dalam hal keamanan, mampu untuk mendapatkan kendaraan menuju ke sana, ditambah keberadaan seorang mahram bagi perempuan muslimah.

Sejenak kita bertafakkur sebuah hadits dibawah ini, tergambarkan   betapa rahmat Allah dan RasulNya kepada kita sebagai kaum muslimin.
Suatu ketika Rasulullah berkhutbah : “Wahai manusia, diwajibkan atas kalian untuk berhaji ke baitullah.   Seorang laki-laki bertanya: Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?. Rasulullah diam, dan laki-laki ter-sebut  bertanya lagi dengan perta-nyaan yang sama selama tiga kali. Lalu Rasulullah meneruskan khutbah-nya : jika aku bilang “iya” maka hal ini akan terjadi (akan menjadi wajib setiap tahunnya), dan kalian tentu tidak akan mampu….”. (HR. Muslim)

Saudaraku, selamat bagi anda yang telah Allah pilih sebagai orang-orang pilihan untuk pergi memenuhi     panggilan Allah. Selamat bagi anda, karena anda dengan taufiqNya akan menjalankan kewajiban haji ini. Bersyukurlah, karena Allah telah memilih mu. Di sana, masih banyak saudara-saudara kita yang tidak tahu bahwa haji adalah suatu  kewajiban, walaupun syarat-syarat telah terpenuhi. Di sana pula masih banyak saudara-saudara kita yang selalu menunda-nundanya meskipun ia tahu kewajib-annya, ia tunda-tunda dengan banyak alasan semu, hingga ia dikejutkan  oleh  ajal  sementara ia belum meme-nuhi kewajiban haji padahal ia dalam kategori orang yang mampu.

Saudaraku, calon jamaah haji. Ibadah haji ini tidaklah seperti ibadah lainnya. Alangkah baiknya, jika anda  belajar lebih banyak  tentang manasik haji dan umrah. Kenapa? karena ilmu yang akan menjadi rambu-rambu  selama anda dalam perjalanan ibadah ini. Dengan ilmu yang benar, niat yang ikhlas karena Allah,semoga perjalanan haji anda merupakan perjalanan haji yang mabrur, yang tiada balasan baginya kecuali surga, sebagaimana  sabda Nabi  Muhammad : “Haji yang mabrur, tiada pahala bagi- nya kecuali surga.”(Muttafaqun Alaih).

Amalan Dalam Manasik Haji

Kita tidak akan membahas secara detail, tetapi hanya berupa point-point terkait dengan agenda manasik haji. Bahasan detail tentang hal ini dapat dirujuk di buku-buku panduan ibadah haji.

Hari Tarwiyah
1. Tanggal 8 Dzulhijjah, biasa disebut dengan hari Tarwiyah. Bagi yang melakukan haji Tamattu’, hari ini merupakan hari permulaan ihram untuk haji. Hal-hal yang perlu  dilakukan : mandi besar dan bersih-bersih diri, lalu berniat ihram dari tempat tinggal masing-masing, lalu meng-ucapkan :

لبيك اللهم حجا فإن حبسني حابس فمحلي حيث حبستني
Labbaik Allahumma Hajjan Fain Habasani Habis Famahalli Haitsu Habasani

Ya Allah, aku penuhi panggilan    untuk berhaji. Jika aku terhalang, maka tempat halalku (selesai ihram) adalah tempat tertahanku.

Bagi yang berhaji secara Ifrad dan Qarin, mereka masih dalam kondisi ihramnya yang pertama. Yaitu ihramnya ketika sampai di miqat.

2. Memperbanyak Ucapan Talbiyah.

3. Pergi Ke Mina pada waktu sebelum dhuhur, kerjakan sholat dhuhur, ashar, maghrib, isya’ dan shubuh di sana, dengan mengqoshor sholat empat rakaat menjadi dua rakaat, tetapi tidak dijama’, yakni sholat-sholat tersebut dilakukan pada    waktunya masing-masing.

Hari Arafah
1. Pada Tgl 9 Dzulhijjah, yang disebut juga dengan hari Arafah. Pergilah menuju padang Arafah, kerjakan sholat dhuhur dan ashar secara jama’ dan qoshor di waktu dhuhur. Yakni : sholat dhuhur dan ashar dilakukan pada waktu dhuhur, dengan bilangan rakaat dua saja untuk sholat dhuhur dan dua saja untuk sholat ashar. Berdiamlah di Arafah, sibukkan dengan berdoa hingga waktu menjelang maghrib.

2. Sore hari menjelang maghrib, pergilah menuju Muzdalifah, kerjakan sholat maghrib dan isya’  cara jama’ dan qoshor untuk sholat isya’. Tinggal di Muzdalifah hingga esok harinya, ketika matahari terbit. Gunakan malam di Muzdalifah dengan kekhusyuan dalam doa.

Hari Raya Idul Adha
Pada Tgl 10 Dzulhijjah, yang disebut dengan hari Nahr yaitu Hari Haji Akbar, atau hari Raya Idul Adha, dari Muzdalifah, pergilah menuju Mina, lakukan : melempar jumrah aqabah dengan 7 kerikil, menyembelih kurban, memendekkan rambut (tahallul awal), lalu pergilah menuju Makkah untuk melakukan tawaf  ifadhoh,    sebelum tawaf ini disunnahkan untuk mandi dan membersihkan diri dahulu.  Setelah tawaf kerjakan sa’i bagi yang hajinya secara  tamattu’.  Adapun bagi yang ifrad atau yang qarin,  maka kewajiban sa’i hanya berlaku bagi  mereka yang belum bersa’i setelah   tawaf qudum (tawaf pada saat kedatangan).

Hari-Hari Tasyriq
Yaitu hari-hari pada tgl 11, 12, 13 Dzulhijjah. Amalan pada hari ini yaitu :
1. Melempar 3 jumrah, dimulai      dengan jumrah Shughra, Wustho, lalu Kubra. Setiap jumrah dengan 7 kerikil. Setelah melempar jumrah Sughra dan Wustha, disunnahkan untuk berdoa.
Bagi yang ingin pulang lebih dahulu maka, dibolehkan untuk tidak melempar pada tgl 13, tetapi setelah melempar tgl 12 ia langsung ke Makkah untuk melaksanakan tawaf wada’ lalu bersiap pulang.

2. Mabit di Mina pada malam-malam hari tasyriq.

3. Setelah selesai semua pergi ke Makkah untuk menjalankan tawaf wada’. Dan dengan tawaf wada’ ini pertanda semua manasik haji  telah selesai.

Itulah sekilas amalan-amalan haji yang seyogyanya diperhatikan oleh para jama’ah haji, semoga menjadi perjalanan haji yang mabrur dan di-ridhoi Allah. Sekali lagi, penjelasan di atas hanya bersifat global, selengkapnya rujuk buku terkait dalam masalah Haji dan Umrah.

Nah, bagaimana dengan anda yang tidak berhaji ?
Entah karena  sudah berhaji, atau karena belum terpenuhi syarat-syaratnya. Kabar gembira bagi kita semua, dari Sayyidul Basyar. Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasul-ullah Saw. bersabda, ”Tiada hari dimana amal shalih lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini yaitu sepuluh hari pertama Dzhulhijjah.“ Sahabat bertanya, ”Ya    Rasulullah, tidak juga jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah?“ Rasulullah menjawab, ”Tidak juga dengan jihad, kecuali se-orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya serta tidak kembali (gugur sebagai syahid).” (HR  Bukhari.).

Allah berfirman dalam surat Al Fajr: 2, yang artinya: “Dan Demi sepuluh malam”. Ibnu Abbas, Imam Suyuthi, dan Mujahid serta Asy Syaukani menafsirkannya bahwa yang dimaksud pada ayat tersebut yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah.    Rasulullah juga bersabda : “Hari-hari paling afdhol di dunia yaitu 10 hari”, yakni 10 hari pertama Dzulhijjah (HR. Bazzar dan disahihkan oleh Albani).

Bagi yang berhaji, tentunya me-rupakan kenikmatan tersendiri karena mendapatkan 10 hari pertama Dzul-hijjah ini sedangkan mereka berada di Masy’aril haram. Tetapi bagi yang tidak berhaji, kesempatan emas ini hendaklah tidak terlewatkan, yaitu meningkatkan amalan sholih pada 10 hari pertama dari  bulan   Dzulhijjah.

Mengapa 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang utama dan istimewa ?. Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Al fath Al Bari : “Kemungkinan  sebab istimewa
Nya 10  hari  pertama  Dzulhijjah ini, karena di dalamnya terkumpul berbagai macam ibadah : sholat, puasa, haji dan  bershodaqah.

Dan keempat ibadah tersebut tidak pernah berkumpul kecuali pada hari-hari tersebut”.

Bagi yang tidak berhaji, maka berlomba-lomba dalam beramal sholeh pada hari ini merupakan sifat se-orang mukmin yang selalu menggu- nakan masa-masa tertentu penuh fadhilah dengan ibadah sebagai bekal perjalanan kepada Allah. Sangat ba-nyak yang bisa dilakukan pada hari-hari ini, diantaranya : menjaga sholat pada waktunya, hal ini merupakan kewajiban muslim pada umumnya dan di setiap hari, khususnya di hari-hari dimana merupakan hari mulia dan hari pelipatgandaan   pahala.

Memperbanyak dzikir kepada Allah, khususnya dengan mengucapkan takbir, tahlil, dan tahmid, merupakan ibadah yang terasa  ringan tidak me-nguras tenaga, pun tidak  menguras biaya. Rasulullah bersabda: “Tiada amalan sholih yang lebih agung dan lebih dicintai oleh Allah lebih dari amalan di 10 hari pertama Dzulhijjah, maka perbanyaklah didalamnya bacaan takbir, tahlil dan tahmid (HR. Ahmad). Diriwayatkan pula bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah, pada hari-hari tersebut mereka keluar pergi ke pasar untuk bertakbir, sehingga  penduduk pasar ingat dan bertakbir karena takbir Ibnu Umar dan Abu Hurairah.

Berpuasa sunnah pada hari-hari ini, juga salah satu alternatif ibadah yang Allah sukai, “Tiada seorang hamba yang berpuasa satu hari karena Allah, maka dengan puasa itu Allah jauhkan ia dari neraka  sejauh perjalanaan 70 tahun”. (HR Muslim)
Jika tidak bisa, maka hendaklah ia berusaha untuk dapat berpuasa pada hari Arafah, yang Rasulullah khususkan dengan pahala bahwa “Puasa arafah, menghapuskan dosa-dosa (kecil) satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang” . (HR.Muslim).

Ibadah yang lain yang bisa dilakukan yaitu menghadiri dan ikut melakukan sholat Idul Adha bersama kaum muslimin, mendengarkan khutbah dan merayakan hari raya Idul Adha de-ngan penuh kegembiraan dan menjaga adab-adab Islami dalam berhari raya juga merupakan hal yang disunnahkan. Berinfaq ataupun bersedekah juga tak kalah mulianya di hari-hari ini.

“Wahai orang-orang yang beriman, berinfaqlah kamu di jalan Allah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at.. “ (Al Baqarah: 254)

Memperbanyak tilawah Al Qur’an pun merupakan salah satu ibadah yang agung, dimana tilawah  Al Qur’an ini akan menjadi syafa’at dan penolong bagi kita di hari akhir nanti.

Berkurban dan menjaga ibadah ini tiap tahunnya  bagi  keluarga mampu merupakan  sunnah muakkadah  dimana selama Rasulullah tinggal di Madinah selama 10 tahun, beliau  tidak pernah meninggalkannya.  Dan  makruh meninggalkan kurban bagi  yang mempu menjalankannya


Bahkan lebih jauh lagi, Ibnu Qoyyim berkata: “Berkurban lebih afdhol dari shodaqah dengan uang seharga hewan kurban atau lebih mahal dari- nya”. Karena maksud terpenting dalam berkurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Bukan semata-mata nilai binatangnya. Disamping itu, menyembelih kurban lebih menampakkan syi’ar Islam dan lebih sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang kepala keluarga yang berkurban dan diniatkan untuk dirinya dan keluarganya, maka hal ini sah dan pahalanya akan mencakup baginya juga seluruh anggota keluarganya walaupun jumlahnya sangat banyak. Dalam konteks berkurban dengan sapi oleh tujuh kepala keluarga, dan setiap kepala keluarga tersebut meniatkan untuk dirinya dan untuk    keluarganya,maka insya Allah pahala kurban ini juga akan mencakup tujuh keluarga.

Mungkin ada yang bertanya: bukan-kah kambing hanya boleh  untuk satu orang, dan sapi tujuh orang ?. Per- nyataan tersebut memang betul, tetapi maksudnya yaitu biaya pe-ngadaannya. Biaya pengadaan kam- bing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang. Namun  seandainya ada orang yang hendak membantu orang lain   untuk  kurban karena ia kekurangan biaya untuk membeli hewan, maka diperbolehkan dan tidak mempengaruhi status  kurbannya. Dan status bantuan di sini adalah hadiah.

Perlu diperhatikan bagi orang yang ingin berkurban, hendaklah ia tidak mencabut atau memotong kuku atau rambutnya hingga hewan kurbannya telah disembelih, sebagaimana hadits dari Ummu Salamah,  Rasulullah bersabda : "Jika 10 hari (10 hari pertama dari Dzulhijjah) telah datang, dan se-orang di antara kalian ingin berkurban, maka  hendak lah menahan diri dari kuku atau rambutnya, yaitu (tidak memotong) kuku atau rambutnya".
Dalam riwayat lain dari Ummu Salamah juga, Rasulullah  bersabda : "Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah (tgl 1), dan seorang dari kalian ingin berkurban hendaklah mencegah diri dari (memotong) kuku/rambutnya". Kedua hadits di atas riwayat Muslim.  Ketentuan ini berlaku bagi orang yang ingin berkurban saja, adapun keluarganya tidak termasuk dalam adab ini,      kecuali jika  masing-masing berkurban untuk dirinya sendiri.

Ibadah kurban ini juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang selalu Allah turunkan kepada kita, tiada ada  hentinya, baik siang ataupun malam, besar ataupun kecil, nikmat yang memang sungguh tiada pernah dapat kita menghitungnya. Disamping berkurban juga merupakan upaya menghidupkan  syi’ar Islam yang  bermula dari syari’at Abul Anbiya’, Nabi Ibrahim Alaihis-salam.


0 comments:

Poskan Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com