Lebaran di Negeri Kanguru



Masuknya Islam ke Australia dimulai dari interaksi pertama kali nelayan yang berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan (Indonesia) yang berkelana dengan perahu layar untuk mengumpulkan tripang (semacam siput laut) dari teluk Carpentaria selama abad ke-17.  Tidak banyak jumlah Muslim yang tinggal di Australia saat itu, sampai pada sekitar tahun 1860 serombongan penggembala unta berasal dari Afghanistan datang ke Australia. Mereka didatangkan untuk mengurus unta-unta yang digunakan untukmengangkut kebutuhan seperti bahan makanan, air dan lainnya  selama pembuatan jalur rel kereta lintas Utara Australia ke Selatan melalui Alice Spring (Australia Tengah) , hal ini mengingat Australia terdiri dari daratan yang bergurun pasir yang sangat luas.

Secara umum hubungan Muslim dan Non Muslim di Australia cukup baik, terutama sebelum terjadi peristiwa 11 September. Tetapi setelah peristiwa 11 September, bom Bali, kemudian disusul bom London banyak Muslim yang mendapat perlakuan kurang menyenangkan  baik oleh masyarakat umum maupun oleh pemerintah dan media massa.

Seperti yang saya alami (Dien Amin-penulis) beberapa minggu setelah 9/11, sewaktu saya mengemudi   mobil akan mengantarkan anak anak pergi sekolah, saya mendapat     perlakuan yang sangat tidak menyenangkan, seperti mereka meneriaki : " Go back to your   country muslim!" sambil meludahi mobil saya. Namun demikian hubungan personal antara Muslim dan Non Muslim masih cukup baik, meskipun terkadang sebutan teroris baik dalam nada bercanda maupun serius sering dilontarkan Non Muslim kepada  Muslim.


Aktifitas Ibadah Menurut beberapa sumber, tidak kurang dari 193    masjid dan mushalla yang tersebar di seluruh Australia, 90% masjid adalah bekas gereja, karena        memang tidak mudah mendapatkan izin dari pemerintah untuk mendirikan rumah ibadah apalagi masjid.

Secara individual biasanya Muslim mempunyai masalah dalam melakukan aktifitas ibadah sholat pada saat hari kerja, yang paling banyak   mengalami masalah adalah pada saat pelaksanaan shalat Jum’at.
Kegiatan keagamaan di Australia cukup semarak, hal ini bisa dilihat dari banyaknya majelis taklim atau kelompok-kelompok pengajian yang ada, bahkan beberapa gerakan Islam cukup aktif terlihat melakukan     berbagai aktifitas.

Aktifitas Ramadhan
Ramadhan, sebagai syahrul Qur'an (bulan Al-Qur'an), setiap Masjid,  majelis taklim, dan organisasi Islam menawarkan berbagai kegiatan   untuk mengisi aktifitas selama   Ramadhan. Seperti Tahsin (memperbaiki) bacaan Qur'an,     tadarrus bersama, kajian-kajian   Islam, berbuka puasa (iftar) bersama di ikuti shalat tarawih bersama.   Untuk anak-anak berbagai umur dan remaja ada yang menyelenggarakan pesantren kilat setiap Sabtu dan Minggu selama bulan Ramadhan.

Puncak aktifitas adalah sepuluh hari terakhir, terutama malam-malam ganjil yang mempunyai keistimewaan tersendiri dari pada malam-malam lainnya. Malam itu dimana Allah SWT menyebutkan lebih baik dari seribu bulan, Subhanallah...

Malam Lailatul qadar di daerah kami tinggal, Lakemba, Sydney. Dimana terdapat Masjid terbesar di Australia, Dengan komunitas Muslim yang beragam, mayoritas etnis Arab mempunyai kesan tersendiri yang tidak akan pernah kami lupakan, insya Allah. Hampir setiap Muslim yang berharap akan mendapatkan kemuliaan malam laylatul qadar   berduyun- duyun menuju masjid  untuk beri'tikaf, termasuk anak-anak, orang tua, dan para remaja, sehingga para jamaah memenuhi halaman masjid, bahkan meluber sampai ke jalan raya yang sudah di tutup (di blokade) oleh polisi kurang lebih seratus meter lebih dari masjid untuk mengamankan para jamaah yang beri'tikaf sampai waktu Shubuh tiba.Pengurus masjid dan jamaah   bergotong-royong berlomba menyediakan makanan untuk sahur,  Subhanallah… nikmatnya beriman dan berislam serta Ukhuwah   Islamiyyah sangat terasa.

Satu cerita yang menarik, jika malam laylatul qadar itu jatuh pada hari-hari biasa anak masuk sekolah/ kerja, maka bisa di pastikan sekolah-sekolah yang mayoritas pelajarnya muslim, akan kosong kelas pada hari sekolah berikutnya, termasuk anak-anak kami, biasanya tidak masuk sekolah karena ngantuk, dan saya tak keberatan mereka tidak masuk sekolah hari itu, karena bagi saya dan bagi muslim lainya malam itu adalah malam yang sangat spesial, biarlah mereka menikmati indahnya Islam, menikmati nikmatnya  ber-ibadah, dan sekaligus mendidik mereka untuk mencintai Allah SWT lebih dari pada yang lainya.
Masjid di sidney

Idul Fitri
Salah satu problematika umat saat ini akibat tidak adanya kepemimpinan ummat Islam di    seluruh dunia adalah ketidak  seragaman penentuan awal dan akhir Ramadhan, yang otomatis akan berakibat pula pada perbedaan hari Idul Fitri dan Idul Adha, ini terjadi juga setiap tahun di Benua Australia, setiap Masjid atau komunitas berbeda cara penentuan hari tersebut tergantung kepada cara Imam/ mufti mereka mengambil  metode rukyatul hilal global atau lokal, atau kadang ada yang berpedoman pada hisab negara asal mereka.

Kalau kita renungkan aneh memang, seharusnya umat Islam yang menyembah Tuhan yang Satu, Allah SWT, Kitabnya Satu  Al Qu'ran, Qiblat yang Satu Ka'bah, Nabi Nya Satu Muhammad SAW, Kenapa tidak mempunyai Pemimpin yang Satu pula yaitu Khalifatul Ummah, sebagaimana yang Rasulullah SAW contohkan dalam masa nabawiyyah dan para khalifatur rasyidin.

Di Sydney terdapat beberapa tempat penyelenggaraan shalat Idul Fitri, Ada yang menyewa gelanggang olah raga yang cukup besar di Homebush, NSW, ada juga yang di sebuah    taman atau park, biasanya komunitas  Indonesia yang bergabung dengan Mesjid Al Hijrah , Tempe, NSW,  menyelenggarakan di komuniti Hall yang di sewa, atau di tanah lapang (Park) dengan dihadiri ribuan jemaah khususnya dari Indonesia. Biasanya shalat di mulai sekitar jam 8.00 pagi, bahasa yang di pakai saat khutbah pakai bahasa Indonesia, kadang juga diberi rangkuman terjemahan dalam bahasa Inggris.

Suasana lebaran penuh dengan kegembiraaan, khidmat juga sekaligus mempererat silaturahmi dan silah ukhuwah di antara sesama muslim. Setelah Shalat ied seperti halnya di Indonesia kami  bersilaturahmi, saling memberi ucapan selamat Idul fitri, Eid Mubarak .... bersalaman-salaman, saling memaafkan juga mengunjungi teman. Dan ada kalanya ada beberapa rumah teman yang telah siap dengan open housenya, pada hari itu dengan hidangan khas ala Indonesia, kalau sudah seperti ini rasanya seperti lebaran di negeri sendiri. Ada pula beberapa komunitas yang menyelenggarakan silaturahmi atau di Indonesia lebih di kenal dengan halal bi halal di sebuah Park pada hari H nya  atau pada beberapa minggu ke depan, dengan membawa hidangan yang akan di share bersama.

Di Masjid besar Imam Ali Bin abi taleb atau lebih di kenal dengan Lakemba Mosque  biasanya shalat di selenggarakan di masjid ini, karena cukup besar kapasitasnya meski akan meluber sampai ke jalan raya, dengan mayoritas jamaahnya berasal dari jazirah Arab dan Timur Tengah lainya, dengan bahasa pengantar bahasa Arab dan Inggris. (Dien Amin, Sydney)





0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com