Menapaki Perjalanan Iman Keluarga Ibrahim



Kalau kita berbicara tentang ibadah haji, tentu tidak bisa lepas dari kisah perjalanan keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam beserta keluarganya yaitu Siti Hajar dan pu-tranya Ismail. Satu perjalanan yang panjang dan penuh perjuangan. Bukan perjalanan biasa, tetapi lebih ke-pada perjalanan iman mereka. Perjalanan iman Kholilullah, sang kekasih Allah, tentunya mengandung banyak pesan dan  pelajaran yang berharga bagi kita semua.
Minimal ada empat pelajaran yang   dapat kita ambil dari kisah nabi Allah   Ibrahim a.s. dan keluarganya:

Pesan Pertama: Berbaik sangka kepada Allah SWT.

Di dalam kitab; Anbiyaa Allah ( Nabi – Nabi Allah) dikarang oleh Ahmad Bahjat beliau menjelaskan.
Pada suatu hari, Ibrahim a.s. terba-ngun dari tidurnya. Tiba-tiba dia memerintahkan kepada istrinya, Siti Hajar, untuk mempersiapkan perja-lanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan yang panjang. Pada saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.    Ibrahim a.s melangkahkan kaki menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara.Beliau terus berjalan hingga men-capai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan, tidak ada minum an, tempat itu menunjukkan tidak ada kehidupan di dalamnya.  Di tempat itu beliau turun dari punggung hewan tunggangannya kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.


Tentu saja Siti Hajar terperangah diperlakukan demikian, dia mem- buntuti suaminya dari belakang  sambil bertanya “Ibrahim hendak pergi ke  manakah engkau?” Apakah engkau akan  meninggalkan kami di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?  Ibrahim a.s tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan, Siti Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim a.s. tetap membisu. Akhirnya Siti Hajar faham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia bertanya, “apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami? Ibrahim menjawab, “benar. Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu  berkata,” kami tidak akan tersia-siakan selagi Allah bersama kami. Dialah yang telah memerintahkan engkau pergi. Kemudian Ibrahim terus berjalan meninggalkan mereka.

Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim  dan Siti Hajar, mampu berbaik sangka kepada Allah SWT mereka meyakini bahwa selagi mereka bersama Allah, maka tidak akan ada yang menyengsarakannya, tidak akan ada yang dapat mencelakainya, tidak akan ada yang dapat  melukainya.

Pelajaran kedua: Bersungguh-sungguh dalam bekerja.

Setelah Ibrahim a.s meninggalkan istri dan anaknya untuk kembali meneruskan perjuangannya berdakwah kepada Allah. Siti Hajar menyusui Ismail sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas matahari saat itu menyengat sehingga terasa begitu mengeringkan tenggorokan. Setelah dua hari, air yang dibawanya habis, air susunya pun kering. Siti Hajar dan  Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis, kegelisahan dan  kekhawatiran membayangi Siti Hajar. Ismail mulai menangis karena kehausan. Kemudian sang ibu meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari-lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa, kemudian dia naik ke atas bukit itu. Ditaruhnya kedua telapak tangannya di kening untuk melindungi pandangan matanya dari sinar matahari, kemudian dia menengok ke sana  kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari-lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang, tetapi tidak ada seorang pun. Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis, tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat  anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan naik ke atasnya. Kemudian dia ke bukit Marwa dan naik ke atasnya, Siti Hajar bolak-balik antara dua bukit Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali. Ada rahasia yang jarang dikupas dari  kejadian ini, yaitu kesungguhan Siti Hajar dalam mencari air dikeluarkan segala tenaganya bolak-balik dari Shafa dan Marwa, walaupun bolak-balik dari Shafa dan Marwa belum mendapatkan air dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pe-lajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki dengan mengeluarkan segala kemampuan yang kita miliki karena kita  diperintahkan bukan cuma melihat  hasil tapi juga usaha dan tenaga yang kita keluarkan, Rasulullah SAW sangat mencintai orang-orang yang bekerja keras.

Pelajaran yang ketiga: Berkorban untuk mendapat keridhoan Allah Subhanahu wa Taala.

Ketika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim a.s. tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim sudah tua. Itulah sebabnya beliau  sangat mencintainya. Namun Allah hendak menguji kecintaan Nabi Ibrahim alaihissalam  dengan ujian yang besar disebabkan cintanya itu.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَاللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾


Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia  menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash Shaaffat: 102 )

Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim a.s pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya? Salah besar jika  ada yang mengira bahwa tidak ada pergulatan pada diri Ibrahim a.s. Tidak mungkin ujian sebesar ini terbebas dari pergulatan batin. Ibrahim berpikir,” mengapa? Ibrahim membuang jauh-jauh pikiran itu. Bukan Ibrahim namanya kalau beliau     mempertanyakan kepada Allah “mengapa” atau “karena apa“ karena orang yang mencintai tidak akan bertanya mengapa?  Ibrahim hanya berpikir tentang putranya, apa yang   harus beliau  katakan kepada anak itu, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih? Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata yang jujur dan lemah lembut kepada putranya, daripada menyembelihnya secara paksa.

Lihatlah kepasrahan dan pengor-banan Ismail dan ayahnya Ibrahim mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kasih sayang Allah. Walaupun yang dikorbankan adalah diri Ismail.

Pelajaran keempat adalah Mendidik Keluarga.

Nabi Ismail tidak akan menjadi anak yang penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya dan Siti Hajar tidak akan menjadi seorang yang      penyabar jika  tidak dididik oleh  nabi Ibrahim a.s. Dan nabi Ibrahim a.s  tidak akan dapat sabar jika tidak  dididik oleh Allah SWT melalui      wahyu Nya.

Seorang anak dalam perkembangannya membutuhkan proses yang panjang, maka peran orang tua dalam membentuk perilaku yang berakhlak mulia sa-ngat dibutuhkan, perhatian sempurna kepada anak semenjak dari masa mengandung, melahirkan hingga sampai masa  dewasa. Kewajiban ini diberikan di pundak orang tua oleh agama dan hukum masyarakat. Karena seseorang yang tidak mau memperhatikan pendidikan anak dianggap orang yang mengkhianati amanah Allah. Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa Allah SWT, pada hari kiamat nanti akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang perlakuan mereka kepada anaknya. (Ummu Abdurrahman)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com