Pemisahan Tempat Tidur Anak & Pendidikan Agama


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

1.Pemisahan tempat tidur anak-anak

Pertanyaan

Assalamu'alaikum Warahmatullahi    wabarakatuh.
Ustadzah, saya seorang ibu yang   mempunyai 3 orang anak, yang paling besar perempuan usia 10 tahun, kedua laki-laki usia 8 tahun, yang kecil 4 tahun, permasalahan saya kedua anak sudah mulai besar dan sudah waktunya dipisah tempat tidurnya. Yang ingin saya tanyakan apakah kami harus memisahkan kamarnya, atau cukup  dengan memakai ranjang bertingkat dan mereka ada di satu kamar mengingat tempat kami yang terbatas.
Ummu Shofiyyah
(gambar dari: www.tipjunkie.com)

Jawaban

Waalaikum Salam Warahmatullah Wabarakatuh
Ahamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rasulillah, wa ba’du.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah . bersabda:
“Suruhlah anak-anakmu shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak mau    shalat) ketika mereka berumur  sepuluh tahun; dan pisahkanlanh  empat tidur mereka “(HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Albani)

Hadits ini, didalamnya terdapat perintah kepada para orang tua untuk memisahkan anak-anak, baik laki-laki dan perempuan, untuk memisahkan tempat tidur, hal ini merupakan upaya ‘sadd Adz Dzari’ah”, upaya menutup pintu bahaya yang kemungkinan terjadi jika mereka dibiarkan tidur bersama dalam satu kasur, ataupun dalam satu selimut.

Pada umur tertentu anak-anak telah mempunyai  kesanggupan untuk menyadari perbedaan kelamin. Hal ini umumnya dicapai oleh anak-anak yang telah berumur 10 tahun. Umur inilah yang disebut sinnut tamyiz.

Perintah Rasulullah saw. untuk melakukan pemisahan tempat tidur ini secara praktis membangkitkan kesadaran pada anak-anak tentang status perbedaan kelamin. Cara semacam ini disamping memelihara nilai akhlaq sekaligus  mendidik anak mengetahui batas  pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Hal ini juga merupakan salah satu cara pendidikan anak, yang merupakan metode berpedoman dari hadits Rasul.
Berkaitan dengan hal ini, para ulama mengatakan bahwa pemisahan tempat tidur ini merupakan hal yang wajib bagi orang tua sesuai dengan kemampuan. Tentunya yang afdhol dan ideal, kamar terpisah juga, kita sediakan kamar khusus bagi mereka, tiap anak yang umurnya 10 tahun atau lebih mempu-nyai kamar sendiri-sendiri,   selain untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, maka anak tersebutpun mempunyai kebebasan dalam privasinya, ia akan bebas ganti baju atau melakukan aktifitas lain yang sekiranya ia tidak ingin dilihat oleh orang lain, walaupun saudaranya sendiri.  Tetapi jika tidak memungkinkan, maka tidak mengapa  jika aman dari fitnah, mereka tidur dalam satu kamar, tetapi dengan dipisah kasur ataupun tempat tidurnya.

Dan bagi para orang tua, hendaklah berusaha untuk menjalankan perintah ini. Allah berfirman dalam surat At Taghabun : 16, yang artinya :
 “Maka bertakwalah kepada Allah  semampu kalian”. Dalam shohih Muslim, Rasul bersabda: “Jika aku memerintahkan kepada kalian suatu perintah, maka hendaklah kalian kerjakan semampu kalian”.

Semoga Allah berikan kepada kita     kekuatan untuk mendidik anak-anak  secara Islami, yang nantinya merupakan ladang pahala bagi kita sebagai orang tuanya.


2.Bagaimana Mendidik Anak Tentang Agama

Pertanyaan

Assalamualaikum Warahmatullah
Ustadzah, ketika memikirkan tentang pendidikan anak, saya jadi sering cemas, terutama masalah agama karena saya sendiri merasa kurang ilmu sehingga takut kalau apa yang saya sampaikan itu salah, padahal anak-anak biasanya akan lebih mengingat apa yang dia terima pertama kali. Bagaimana mengatasinya.
Ummu  di Riggae

Jawaban

Wa’alaikumussalam Warahmatullah  Wabarakatuh.
Alhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rasulillah, wa ba’du.
Pendidikan anak dalam Islam  merupakan tugas bersama antara suami dan istri. Maka wajib bagi mereka berdua saling bahu membahu dan bekerjasama dalam hal ini, selain mereka juga  diharuskan  menggunakan cara yang cocok pada tiap anak sesuai dengan usianya.

Suami istri ini ketika mengasuh dan   mendidik anak-anak, hendaknya menghadirkan sebuah hadits shohih dari Rasul yang artinya : “Tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya, seorang   laki-laki pemimpin keluarganya dan bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta    majikannya dan bertanggungjawab   terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya”. (HR.Bukhori Muslim)

Jelas sekali dalam hadits di atas, bahwa antara suami istri mempunyai tugas dan kewajiban dalam mendidik anak,  mendidik mereka tentang hukum-hukum  Allah, menanamkan aqidah dan tauhid yang benar, akhlaq-akhlaq Islami serta mengajari kewajiban dan mengingatkan tentang hal-hal yang dilarang, dan     sebagainya.

Jika hadits di atas senantiasa hadir dalam diri para suami istri, maka insya Allah mereka akan selalu     berusaha semaksimal mungkin untuk mendidik anak-anaknya dalam lingkungan Islam. Dan tentunya, Allah akan memberikan pahala dalam hal ini pula.

Jika mereka telah berusaha maksimal untuk hal ini, kemudian ternyata apa yang diucapkan atau apa yang ditanamkannya merupakan kesalahan, katakanlah mungkin ketidaktepatan dalam mendidik dalam masalah agama, maka insyaAllah akan diampuni oleh Allah, bahkan pahala tetap atas mereka karena usaha mereka dalam mendidik anak-anak dengan usaha yang maksimal.

Hal ini tidak berarti bahwa selaku orang tua, tidak wajib belajar untuk mendalami agama. Tidak. Tetapi bagi para orang tua, selalu ada kewajiban untuk belajar, mencari bekal untuk dirinya sendiri juga bekal untuk mendidik anak-anaknya  kelak, hingga ia bisa mendidik dengan benar. Dalam hal ini, mereka bisa ikut dan hadir dalam kajian-kajian, atau mendengarkan ceramah-ceramah yang diadakan di masjid, atau dengan cara membaca buku.
Dan Alhamdulillah, di sini, di Kuwait, ada beberapa majelis Ilmu yang diadakan dan terbuka bagi siapa saja. Hal ini   merupakan kesempatan bagi kita selama di Kuwait ini.

Semoga Allah senantiasa membantu kita semua untuk mendidik amanah ini, anak-anak yang Allah titipkan ke pada kita dengan pendidikan yang diridhoi oleh Allah. Aamin.

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com