Qiyamullail di Malam Hari Raya dan Puasa Syawal


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

Pertanyaan

1.Assalamualaikum Warahmatullah
Ustadzah, saya pernah mendengar sebuah hadits tentang disunnahkan qiyamullail pada malam hari raya, baik Idul fitri dan Idul adha. Benarkah hal ini ? apakah disunnah seperti halnya bulan Ramadhan, yaitu kita qiyamullail di masjid ?.
Trimakasih,  Fathia

Jawaban

Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh.

Alhamdulillah was sholatu was salamu ala Rasulillah, wa ba’du.
Berkaitan dengan masalah ini,    mayoritas ulama’ berpendapat : disunnahkan untuk menghidupkan malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha).tetapi dengan tanpa ada keyakinan, fadilah khusus pada    malam ini, yang ada bahwa meng hidupkan  malam ini seperti halnya malam  lainnya. Imam Nawawi berkata di kitabnya “Al Majmu’” : ulama Syafi’iyyah sepakat tentang meng-hidupkan malam hari Raya. Dalam kitab “Mawahibul Jalil” disebutkan : disunnahkan menghidupkan malam hari raya dengan ibadah; sholat dan ibadah lainnya. Tetapi hal ini tidak disunnahkan di Masjid,  sebagaimana pada bulan Ramadhan. Tiap orang melakukannya sendiri di rumah, tidak mengapa jika dilakukan bersama keluarga atau anak-anaknya.
Perlu diperhatikan, bahwa Jumhur ulama menggunakan dalil :”barang siapa sholat malam dua raka’at pada dua malam hari Raya dengan mengharap pahala dari Allah, maka hatinya tidak akan mati pada hari hati-hati mati”. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Tetapi hadits ini di dhoifkan oleh banyak ulama’ hadits, seperti : Ibnu hajar, Ibnu Syahin, An Nawawi, dan Albani.
(gambar dari: islamstory.com)

Pertanyaan

2.Assalamualaikum Warahmatullah
Saya ingin bertanya seputar puasa Syawal. Apakah hukumnya ? bagaimana cara mengerjakannya,     haruskan dikerjakan berturut-turut, atau boleh terpisah ? kapan batas waktu mengerjakannya ?. jika saya mempunyai hutang Ramadhan, bolehkah saya berpuasa syawal dahulu untuk kemudian baru saya bayar hutang Ramadhan.
Wassalam.  Afra

Jawaban

Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh.

Puasa enam hari Syawal merupakan salah satu puasa sunnah, yang mempunyai banyak fadhilah dan manfaat. Di antaranya yaitu, hadits  “Barang siapa yang berpuasa  Ramadhan  lalu Ia ikuti dengan puasa 6 hari Syawal maka seakan-akan ia puasa satu tahun.

Selain itu, puasa 6 hari Syawal ini bermanfaat   sebagai pelengkap puasa Ramadhan  kita  yang mungkin belum terlaksanakan  dengan sempurna. Puasa 6 hari Syawal ini ibarat sholat rawatib bagi sholat wajib. Maka sudah  seharusnya seorang muslim  memperhatikan hal ini.

Mengenai tata cara pelaksanaan-nya, puasa sunnah 6 hari Syawal ini tidak diwajibkan secara berturut-turut, boleh dilaksanakan secara 6 hari berturut-turut atau terpisah, yang penting dilakukan selama bulan Syawal. Jadi batasan puasa ini dilakukan pada bulan Syawal saja.  Dibolehkan juga  dilakukan sehari setelah lebaran idul fitri, atau   beberapa hari setelah lebaran, atau kapan saja selama bulan syawal. Dalam hal ini      terdapat keluasan.

Adapun bagi wanita yang  mempunyai hutang Ramadhan, dan ia ingin melaksanakan puasa ini,  bolehkah ia mendahulukan puasa sunnah syawal dengan  anggapan bahwa puasa ini waktunya hanya selama Syawal saja, sedangkan bayar qodho ‘hutang’ Ramadhan waktunya luas hingga Ramadhan tahun berikutnya. Ataukah ia harus mengqodho dulu ?
Dalam hal ini terdapat dua  pendapat :
Bahwa fadhilah puasa 6 hari   Syawal ini tidak bisa didapatkan kecuali bagi orang yang telah meyelesaikan puasa Ramadhan, dan telah membayar qodho       Ramadhan. Hal ini sesuai hadits Rasulullah di atas “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan lalu ia ikuti dengan puasa 6 hari Syawal, dst…”. Orang yang masih    mempunyai hutang Ramadhan belum dapat dikatakan ia telah berpuasa Ramadhan. Ibnu Utsaimin dan Bin Baz  menguatkan pendapat ini.

Fadhilah puasa 6 hari syawal ini didapatkan juga bagi yang berpuasa Ramadhan tetapi belum membayar hutang, yang ia    tinggalkan karena adanya udzur selama Ramadhan. Karena  meskipun seseorang tidak      berpuasa beberapa hari selama ramadhan, ia disebut pula telah berpuasa ramadhan. Jika ia    berpuasa 6 hari syawal sebelum qodho, maka ia akan mendapatkan fadhilahnya. Hal ini pula, karena ti-dak ada hadits yang mengatakan bahwa orang yang seperti ini ti-dak akan mendapatkan fadhilah puasa 6 hari Syawal.

Terlepas dari perbedaan yang ada, bahwa menyegerakan untuk mengqodho puasa wajib lebih   diutamakan daripada menyibukkan diri dengan hal yang sunnah. Mengqodho puasa Ramadhan lebih diutamakan daripada menyibukkan diri untuk berpuasa sunnah, seperti 6 hari syawal. Dan ini lebih dekat kepada kehati-hatian. Semoga   Allah bantu kita untuk mengqodho Ramadhan dan berpuasa 6 hari Syawal ini.
Wallahu a’lam

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com