Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan & Idul Fitri



Oleh : Ustadzah Latifah Munawaroh, MA

Ramadhan berjalan dengan cepat, ia akan meninggalkan kita. Dua puluh hari pertama akan segera     berlalu, apakah kita telah melakukan hak-hak sepenuhnya? ataukah ibadah kita masih sama, masih terkesan   biasa dan  tidak ada yang istemewa ?. Bagi yang dapat  memenuhi hak 20 hari pertama Ramadhan dengan baik, maka  ucapkan syukur  Alhamdulillah,   semoga Allah terima, dan  kuatkan pada 10 hari terakhir   Ramadhan.
Bagi yang merasa masih pas-pas an, merasa biasa dan tidak merasakan lebih dan istimewa dalam 20 hari   pertama, masih ada kesempatan   untuk memperbaikinya di 10 hari  terakhir Ramadhan tahun ini.

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi kaum muslimin  dan  muslimat. Kesempatan untuk ber-ibadah, dan mendapatkan karunia berkah dan  pahala yang   berlipat-lipat. Sepuluh hari terakhir Ramadhan yang Allah telah bersumpah dengan malam-malamnya, firman Allah yang artinya :

“Demi Fajar. Dan Demi sepuluh Malam”. (QS. Al Fajr).

Sumpah Allah ini menunjukkan      keagungan, kemuliaan, dan          keberkahan malam-malam tersebut dibanding dengan malam-malam lainnya.
Di antara keistimewaan 10 hari ini adalah di dalamnya terdapat satu  malam yang lebih baik dari 1000   bulan atau yang dikenal dengan    malam    Al-Qadr.

Bagaimana Rasul menyambut 10 hari terakhir Ramadhan ini ?

Bunda Aisyah menuturkan tentang  hal ini dan berkata tentang Rasulullah :

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya “. (Muttafaq Alaih)

Dalam lafazh yang lain: “Pada     sepuluh terakhir bulan Ramadhan  Rasulullah shallallahu ‘alaihi          wasallam lebih giat berbadah melebihi hari-hari selainnya.”  (HR. Muslim)

Para ulama berkata tentang  mengencangkan sarung, kata  tersebut merupakan kata kiasan yang berarti : fokus untuk  menjalankan ibadah dan bersungguh-sungguh di dalamnya.
Sementara Ats-Tsaury mengartikan dengan menjauhi berhubungan dengan istri.

Sedangkan ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan pada 10 hari ini tidak terbatas pada shalat lail saja, akan tetapi mencakup semua jenis ibadah seperti membaca Al-Qur`an, berdzikir, berdoa, bersedekah, dan lainnya.

LAILATUL QODAR
Pada malam ini Al-Qur`an diturunkan, pada malam ini ditetapkan takdir   untuk setahun berikutnya, dan pada malam ini terdapat banyak  pengampunan.  Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya Kami menurun-kannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kamilah yang memberi   peringatan. Pada malam itu       dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami.  Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad-Dukhan: 3-5).

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dan siapa yang menegakkan (shalat pada    malam) pada lailatul Qadr dengan keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR.   Bukhori Muslim)

Rasulullah mencari malam tersebut dan menganjurkan untuk mencarinya di malam-malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. "Carilah malam lailatul qodar di   malam   bilangan ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan" .(Muttafaq alaih)
Disunnahkan pada malam-malam tersebut untuk melakukan qiyam dan berdoa serta membaca Al Qur'an.
Dari Aisyah, ia berkata : Ya           Rasulullah, jika aku mendapati    malam Lailatul qodar, apa yang aku baca ?. Rasul bersabda: "ucapkan : “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fu anni ".  Ya Allah, sesungguhnya Kau Maha Memberi ampun, maka ampuni aku. (HR. Tirmidzi ).

I'TIKAF
Yaitu : berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri pada Allah. Para ulama sepakat, bahwa I'tikaf disyariatkan dalam islam. Dan lebih disunnahkan lagi pada 10 hari     terakhir bulan Ramadhan.

Rasulullah pada tiap bulan Ramadhan beri'tikaf 10 hari darinya, dan pada tahun beliau wafat, beliau beri'tikaf 20 hari dari bulan  Ramadhan. (HR.  Bukhori). Juga para Sahabat dan Istri-istri beliau pun beri'tikaf bersamanya

I'tikaf terbagi menjadi :
1- I'tikaf Sunnah : I'tikaf yang di lakukan oleh seorang muslim      dengan niatan pendekatan diri pada Allah. I'tikaf ini tidak ada batasan      waktunya, terealisasi dengan berdiam diri di masjid de-ngan niatan I'tikaf, baik dalam masa waktu yang lama ataupun sebentar saja. Dan ia akan mendapat pahala   selama ia berdiam diri di masjid. Jika ia keluar dari masjid tanpa keperluan, maka ketika ingin  I'tikaf, ia harus    memperbarui niat lagi ketika masuk     masjid.

2.I'tikaf wajib : misalnya I'tikaf yang disebabkan karena nadzar. I'tikaf nadzar ini wajib dilakukan  sesuai nadzarnya, baik dari segi masa ataupun tempat, jika nadzarnya            merupakan I'tikaf di 3 masjid yang paling mulia (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha).

Syarat sah I'tikaf :
Muslim, mumayyiz, suci dari hadats besar.

Rukun I'tikaf :
Berdiam di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.

I'tikaf dapat dilakukan di masjid dimana dilakukan sholat lima waktu  secara berjamaah. Dan  lebih afdhol jika dilakukan di  masjid yang  dilakukan sholat jum'at di dalamnya, hingga jika datang waktu sholat jum'at ia  tidak tertinggal.
Bagi muslimah pun disunnahkan untuk beri'tikaf, dengan ijin wali ataupun suaminya. Hal ini selama tidak      menimbulkan bahaya bagi keluarga nya ataupun anaknya. Wajib baginya jika beri'tikaf, keluar dengan tanpa tabarruj, dan menjaga adab keluar rumah.

Disunnahkan dalam I'tikaf : mem   perbanyak ibadah sunnah, dan     menyibukkan diri dengan sholat,    tilawah qur'an, dzikir, dan doa, juga semua ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.     Termasuk dalam hal ini belajar atau membaca tafsir, hadits, ataupun fiqih dan buku-buku keislaman.  Makruh baginya untuk menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat  baik dari perkataan ataupun          perbuatan.

Idul Fitri

Mendengar kata Idul Fitri, hati terasa gembira. Bayangan baju baru, makanan serba enak, berwisata ke tempat hiburan nan menyejukkan seakan di pelupuk mata. Jadwal    selama liburan Idul Fitri ini jauh-jauh hari telah terpampang di kamar kita. Baya-ngan kegembiraan itu selalu menghantui hampir rata-rata tiap orang. Anak-anak pun tak kalah senangnya. Dalam 10 hari terakhir Ramadhan, dengungan lebaran dan kesibukan seputar lebaran melebihi daripada dengungan dan kesibukan ibadah yang seharusnya lebih dominan dalam kehidupan seorang muslim.

Pertanyaan yang perlu kita lontarkan kepada diri kita: “pantaskah kita rayakan Idul Fitri, sementara Ramadhan belum kita jalankan sebaik-baiknya ?!”. Idul Fitri memang       merupakan hari Kemenangan. Tapi apakah bagi semua orang ?!.
Ya. Idul Fitri hakikatnya kemenangan bagi mereka yang telah menjalankan Ramadhan dengan penuh ketakwaan.
Hari kebahagiaan setelah satu bulan penuh menjalankan puasa dan sholat tarawih. Hari kemenangan, setelah satu bulan penuh belajar di sebuah universitas Ramadhan.
Konon ada pepatah arab : “Laisal ‘iidu liman labisal jadid. Innal ‘iida liman khoofal wa’iid”. Idul Fitri bukanlah bagi yang berbaju baru, tapi sesungguhnya Idul Fitri buat orang yang  takut terhadap ancaman.

Nah bagaimana seorang Muslim    menyambut Idul Fitri ini? adakah adab-adab yang dianjurkan oleh Islam buat kita berkenaan     dengan Idul Fitri ini ?. Berikut sekilas adab dan etika yang seyogyanya    dijaga pada hari raya Idul Fitri.

Bersyukur kepada Allah atas taufiqNya, sehiingga dapat menjalankan ibadah selama Ramadhan.
Mengeluarkan zakat fitrah pada   waktunya. Zakat fitrah ini hukumnya  wajib bagi yang mempunyai       kecukupan pada malam dan hari raya ini. Zakat fitrah dikeluarkan bagi tiap-tiap muslim, perempuan atau laki-laki, besar atau kecil. Kewajiban ini dibebankan bagi kepala keluarga, ia wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi    semua yang berada  dibawah     tanggungan nafkahnya.
Bertakbir, dimulai waktu ditetapkan Idul Fitri, hingga selesai sholat Idul Fitri.
Mandi dan menggunakan baju bagus, untuk menyambut sholat Idul Fitri. Untuk kaum wanita hindarkan      tabarruj.
Makan beberapa butir kurma atau apa saja sebelum keluar untuk sholat Idul Fitri.
Bagi laki-laki mengeraskan bacaan takbir ketika keluar rumah untuk mengerjakan sholat Idul Fitri.
Disunnahkan juga bagi para wanita, meskipun haidh atau nifas, juga anak-anak untuk hadir dan menyaksikan sholat Idul Fitri di lapangan.
Mendengarkan khutbah Idul Fitri.
Pergi untuk sholat Idul Fitri melalui satu jalan, dan pulang darinya melalui jalan lain yang tidak sama    dengan jalan ketika pergi. Para ulama mengatakan ; dikatakan salah satu hikmahnya yaitu : bahwa jalan-jalan tersebut akan menjadi saksi bagi penggunanya nanti pada hari qiyamat, atau bahwa hal ini untuk memperlihatkan syiar ajaran Islam, atau bahwa untuk memenuhi   kebutuhan orang-orang fakir.
Mengucapkan selamat. Dari Jubair bin Nufair, ia berkata: para Shahabat mengucapkan “Taqabballah minna wa minka” ketika bertemu dengan yang lain pada hari Raya.
Saling berkunjung bersilaturrahim.
Menggunakan waktu Idul Fitri untuk hal-hal yang dibolehkan, menjauhi kemaksiatan dalam mengisi Idul Fitri

Adapun setelah Ramadhan dan Idul Fitri usai, hendaklah seorang muslim menjaga amalan-amalan yang dilakukannya selama bulan Ramadhan.
Perlu diusahakan juga untuk berpuasa sunnah 6 hari Syawal, hingga memperoleh fadhilah seakan-akan puasa satu tahun. Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu ia ikuti  dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka seakan-akan ia  berpuasa satu tahun”. (HR. Muslim).

Semoga Allah bantu kita untuk  memegang syariatNya serta sunnah nabiNya.

0 comments:

Poskan Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com