Tarbiyah ala Luqman Al Hakim



Oleh : Ustadzah Latifah Munawaroh, MA

Allah ciptakan manusia dengan dipikulkan padanya banyak amanah. Salah satunya yaitu amanah anak. Anak yang merupakan titipan dan amanah dari Allah, menuntut kita untuk dapat menjalankan amanah dengan baik, dengan  penuh kasih sayang, dengan mengikuti manhaj Islami yang dijunjung tinggi oleh generasi Salaf Ash Sholih.

Berkaitan dengan amanah anak, kita tak bisa lepas dari masalah pendidikan, yang populer dalam istilah arab “Tarbiyatul Abna”. Pendidikan anak yang melibatkan banyak pihak; keluarga,  lingkungan, dan sekolah. Tetapi   tentunya, pendidikan anak ini lebih banyak dititikberatkan pada keluarga, khususnya bapak-ibu sebagai orang tua. Wajar sekali, karena dari pendidikan anak dalam keluarga ini akan menjadi  dasar  pendidikan  seorang anak ke  depannya. Ketika ia tumbuh besar, bergaul dengan sekolah dan lingkungannya, pijakan pertama yang ia akan jadikan bekal yaitu pendidikan yang ia telah peroleh dari orang tuanya. Jadi  membentuk  pendidikan dasar sang anak dalam keluarga ini merupakan hal yang sangat penting. Ibarat sebuah gedung, sebelum  terbangun, pasti diperlukan sebuah pondasi, semakin pondasi kuat dan semakin ke pangkal dan dalam, maka gedung yang akan dibangun di atasnya juga akan menjadi gedung yang kuat dan gagah, gedung yang tidak cepat rapuh. Begitu pula, jika sang anak mendapatkan pendidikan dalam lingkungan rumah dengan kuat, sebelum ia berinteraksi ke luar, maka InsyaAllah ia akan menjadi pribadi yang kuat, tahan dan kokoh dalam  menghadapi  pengaruh negatif dari luar.

Al Qur’an dan Al Hadits, yang  merupakan panduan seorang Muslim, telah membahas banyak hal berkaitan dengan Tarbiyatul Abna’. Tetapi di sini, kita akan titik beratkan pada satu cerita yang Allah abadikan untuk diambil ibrah dan pelajaran bagi para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Adalah Luqman, yang namanya terabadikan sebagai nama dari salah satu surat  Al Qur’an. Ia merupakan sosok ayah yang bijaksana, pandai dan sholih, yang telah berhasil dalam menjadikan pondasi bagi anaknya, hingga wajar dan tepat sekali bila ia mendapat julukan dengan Luqman Al Hakim “Luqman, si Arif dan Bijaksana”.

Siapakah Luqman Al Hakim ?
Imam Alusi berkata:   Mayoritas  berpendapat bahwa Luqman adalah       seseorang sholih yang hidup pada masa Nabi Dawud dan Allah telah memberikan kelebihan kepadanya, yaitu Allah telah memberikan kepadanya “sebuah       Hikmah”, Allah berfirman yang artinya :
“Dan sungguh telah Kami berikan  hikmah kepada Luqman …” (QS. Luqman : 12)

Imam Nawawi mendefinisikan hikmah yaitu Suatu Ilmu yang berbarengan dengan kebijaksanaan, mencakup
makrifah kepada Allah, pengetahuan yang dalam demi merealisasikan       kebenaran dan mengamalkannya, serta menjauhi kebatilan
(gambar dari:main.islammessage.com)

Nasehat Luqman
Merupakan hak anak-anak, yaitu       mendapatkan mauidzhoh ataupun   nasehat yang baik dari orang tuanya, dengan nasehat tersebut seorang anak akan berjalan  dengan petunjuk cahaya, sehingga tumbuh kembang anak menjadi anak yang berkepribadian baik,     beraqidah  lurus, berakhlaqul karimah, sebagai  pondasi  baginya  untuk membangun dan memakmurkan dunia dengan syariat  Allah.

Dalam QS. Luqman : 12 - 19 ,Allah    mengabadikan nasehat-nasehat yang ditujukan kepada anaknya, untuk      menjadi pelajaran dan ibrah bagi orang tua dalam mendidik anaknya. Nasehatnya yang ada dalam Al Qur’an patut   dijadikan madrasah bagi para orang tua, para pendidik juga bagi semua kaum yang beriman untuk menjadi generasi yang penuh dengan keimanan, generasi penerus kejayaan Islam.

Pertama : Nasehat berupa perintah untuk menjaga Tauhid, dan menjauhi syirik.

Hal ini sesuai dengan firmanNya dalam ayat 13 :
 “… Wahai Anakku, jauhilah olehmu    kesyirikan, sesungguhnya syirik itu kedholiman yang agung”.
Perhatikan dalam kalimat tersebut, Luqman menggunakan sebuah cara  menasehati dengan kata panggilan yang lembut 

“ ya Bunayya.. wahai Anakku..”, 
kata yang dipakai pertama kali untuk manarik perhatian, dan supaya si anak mendengarkan apa yang akan            diungkapkan oleh si ayah, untuk  kemudian supaya ia camkan dan  laksanakan.

Perhatikan juga bahwa Luqman ketika melarang, ia   memberikan   alasan   larangan tersebut. Nasehat yang       pertama ini, ia memberikan dengan   larangan juga alasan. Larangan untuk berbuat syirik, dengan alasan bahwa syirik itu adalah sebuah kedholiman yang agung. Inilah hakekat dakwah Nabi   Muhammad kepada kaumnya.

Kedua: bahwa Allah Maha Mengetahui hingga hal yang terkecil sekalipun.

Ini merupakan nasehat Luqman yang kedua. Nasehat yang berhubungandengan aqidah dan kepercayaan dalam perkara akhirat dan hal-hal yang berhubungan dengannya termasuk di dalamnya balasan yang sangat adil penghisaban yang teliti terhadap amalan manusia.

Bahwasanya Allah mempunyai Ilmu yang Syamil, lengkap, melingkupi segalanya, tidak pernah luput darinya sebiji atom pun, meskipun atom tersebut tersembunyi di dalam perut bumi, atau di dalam batu yang hitam nan gelap. Bagaimana   dengan amalan manusia ?! akankah luput bagiNya ?!!
Inilah nasehat Luqman yang kedua : “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya)…”

Dalam ayat ini pula,Luqman memper- barui kata panggilan kepada anaknya,    dengan berkata “ya Bunayya. Hai anakku”, bertujuan    merefresh pikiran sehingga sang anak memperhatikan nasehat yang kedua.

Ketiga : Perintah untuk mendirikan sholat, dan amar ma’ruf nahi munkar

Setelah  aqidah terpatri dalam hati     sanubari sang anak melalui dua nasehat yang sebelumnya; tauhid dan perkara akhirat, Luqman meneruskan nasehat yang lain berupa praktek amal sholih dengan sholat sebagai permulaannya.
“Hai Anakku, dirikan sholat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah” (Luqman : 17)

Nasehat ini dimulai dengan sholat, mengingat urgensinya bagi seorang  muslim. Sholat yang merupakan         penyerahan diri dan hati kepada Allah, dipenuhi dengan kepasrahan, ketundukan, juga penuh dengan tasbih dan doa pada waktu-waktu yang telah ditentukan oleh syariat, sholat sebagai tiang agama. Nasehat ini tidak hanya  mengajak untuk melakukan sholat saja, tetapi mendirikannya dengan pemenuhan rukunnya, juga kekhusyuannya dan  didirikan pada waktunya sehingga  membuahkan  hasil seperti yang ada dalam surat Al  Ankabut  : 45:
“Sesungguhnya sholat itu mencegah  seseorang dari kekejian dan   kemungkaran”.

Setelah nasehat untuk mendirikan sholat, tidak lupa Luqman mengingatkan anaknya untuk selalu mengajak       manusia kepada kebaikan “ma’ruf” dan mencegah mereka dari kemungkaran, sehingga membawa manfaat bagi orang lain pula, untuk kemudian diikuti nasehat ini dengan perintah untuk bersabar dalam mengerjakan amar ma’ruf nahi mungkar, juga dalam semua urusan yang ia alami.

Hubungan antara perintah amar ma’ruf nahi mungkar dengan perintah sabar, supaya ia tegar dan teguh pendirian dalam beramar ma’ruf nahi mungkar, walaupun duri-duri dan hambatan di dalamnya selalu datang bertubi-tubi.  Kesabaran akan membuatnya tak pantang mundur membela kebenaran dan menghalau kebatilan. Luqman pun  mengajarkan kepada anaknya, bahwa sabar itu merupakan hal yang difardhukan oleh Allah, dan termasuk akhlaqul karimah, sabar di sini disebut dengan “min azmil umuur”, sehingga para Nabi yang sabar hingga pada   puncaknya, mereka disebut dengan Nabi Ulul Azmi dalam surat Al Ahqaf : 35 “…Maka   bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar..”.

Keempat : Perintah untuk tawadhu’ dan bersikap lemah lembut

Nasehat berupa etika  bergaul  dan berinteraksi dengan manusia, Allah berfirman menceritakan nasehat        Luqman kepada anaknya, “… Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia [karena sombong] dan   janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang      sombong lagi membanggakan diri”. (Luqman : 18) 

Ayat di atas seolah-olah berkata “hadapi  dan  bergaullah dengan manusia dengan wajah dan diri yang tawadhu’, janganlah kau berpaling muka dari mereka karena kesombongan, serta   hendaklah kau berjalan dengan tawadhu’ pula.

Kelima : Menjaga adab berjalan dan berbicara

Nasehat ini ada dalam ayat : 19,  “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan  dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara   keledai”.

Sederhana disini berarti tengah-tangah antara terlalu cepat, dan terlalu pelan, tidak berjalan dengan penuh          kesombongan. Dalam ayat diatas juga adanya larangan untuk untuk  memperkeras suara tanpa adanya    kebutuhan, hendaklah seseorang  melunakkan suara ketika berbicara  dengan orang lain, karena suara yang ditinggikan tanpa adanya kebutuhan ibarat suara keledai, dimana Allah menyifatinya dengan seburuk-buruk  suara
Itulah nasehat Luqman kepada anaknya yang diabadikan dalam Al Qur’an, sebagai bekal buat semua orang tua, dalam membangun pondasi bagi anak-anaknya, yang diharapkan akan menjadi pribadi yang Rabbani dalam menjunjung tinggi syariat Islam di tengah-tengah era globalisasi seperti sekarang ini.

“Ya Tuhan kami, anugrahkan kepada kami, isteri/suami kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com