Bolehkah Seorang Wanita Meminta Cerai?


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

1. Bolehkah Seorang Wanita Meminta Cerai?

Pertanyaan
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Saya ingin bertanya : bolehkah  seorang istri minta cerai ? Jazakumullah khoir.
(hamba Allah)

Jawaban
Waalaikumu Salam Warahmatullah Wabarakatuh
Alhamdulillah Wassholatu Wassalamu ala Rasulillah, wa ba'du.
Pernikahan adalah sebuah bentuk ibadah kepada Allah. Ia adalah sebuah ikatan agung nan berat yang mengikat antara seorang laki-laki dan perempuan dibawah naungan Kitabullah dan Sunah Rasul. Dengan ikatan tersebut pula seseorang menjadi pakaian pasangannya, seperti yang disifati oleh Allah dalam firmanNya yang artinya :
"Istri-istrimu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka" (QS. Al Baqarah: 187). 

Pernikahan juga bertujuan untuk mendapatkan ketenangan, rasa kasih sayang yang diharapkan akan tumbuh selalu dan langgeng dalam mengayuh biduk Rumah Tangga. Tentunya, dalam perjalanan panjang ini, terkadang ada riak datang menghampiri mereka. Di sinilah ada ujian kepada masing-masing pa-    sangan untuk senantiasa bersama-sama menghadapinya.

Dalam Islam, seorang suami wajib berbuat baik kepada istrinya dan tidak berbuat hal yang membahayakannya. Se-orang suami tidak dibolehkan menceraikan istrinya dengan tujuan untuk membahayakan istri, atau dengan tujuan untuk memisahkannya dengan anak-anaknya misalnya. Sebaliknya seorang istri pun demikian, dituntut untuk berbuat ihsan kepada suaminya, ia tidak dibolehkan meminta cerai dengan tanpa alasan yang syar'iy.  Hal ini sesuai de-ngan hadits Rasul yang artinya: "Barang siapa seorang wanita yang meminta cerai dari suaminya tanpa ada alasan, maka bau sorga haram baginya". (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Difahami dari hadits di atas, seorang wanita tidak boleh meminta cerai tanpa adanya alasan yang kuat dan sesuai syariat. Dari hadits di atas pula difahami, bahwa ia dibolehkan minta cerai jika ada alasan-alasan tertentu yang membolehkannya meminta cerai. Misalnya seorang suami pemukul, yang se-ring memukul hingga membahayakan istri, maka dalam kasus ini dibolehkan minta cerai. Atau jika seorang suami seorang yang fasiq, peminum minuman keras, dan selalu meminta istrinya untuk melayaninya dengan menyediakan minuman keras di gelas, misalnya, maka dalam kasus ini pun dibolehkan untuk meminta cerai kepada suaminya.
Tetapi jika istri dapat sabar dan selalu berdoa kepada Allah, dan dapat merubah sikap suami melalui nasehat secara halus, atau dengan cara lain, hal ini lebih disukai khususnya jika mereka sudah mempunyai anak. Ini demi menjaga keutuhan rumah tangga dan masa depan anak-anak.

Semoga Allah selalu memberikan kepada kita taufiqNya dalam mengarungi rumah tangga kita. Wallahu A'lam

(gambar dari: www.charef.net)

2. Cara Mengqodho Sholat Pada Waktu Haid

Pertanyaan
Assalamualaikum wr wb,
Ustadzah, saya ingin bertanya, bagaimanakah cara mengqodho sholat pada waktu kita haid ? Jazakallah khoir.
(Mama Arinda)

Jawaban
Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh.
Alhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rasulillah, wa  ba'du.
Ibadah wajib dalam fiqih Islam dari segi waktunya dibagi menjadi dua jenis yaitu Ibadah Adaa'  الأداء )   ) dan Ibadah Qodho' القضاء )  ). Ibadah Adaa' yaitu ibadah yang dilakukan pada waktu yang telah ditentukan, misalnya puasa rama-dhan dilakukan pada bulan Ramadhan, sholat shubuh yg dilakukan pada waktu terbitnya fajar hingga terbitnya matahari, maka dinamakan Adaa', karena ia melakukannya pada waktu yang telah ditentukan.  Sedangkan jika ia melakukan puasa Ramadhan setelah bulan Ramadhan selesai, misalnya se-orang wanita yang sedang haidh pada bulan Ramadhan, lalu ia berpuasa dan menggantinya pada bulan syawal, maka ibadah ini disifati Qodho', karena waktu yang ditetapkan telah selesai. Begitu pula jika seseorang melakukan sholat maghrib pada waktu isya' misalnya. Ibadah Sholat yang tertinggal, dan tidak dilaksanakan oleh seseorang karena sengaja maka sholat yang ditinggalkan ini wajib untuk diqodho atau diganti, sholat tertinggal ini akan menjadi hutang selama ia belum mengerjakan sholat pada waktu lain. Sama halnya bagi orang yang lupa sholat misalnya, karena kesibukan kerja, atau memang karena lupa sama sekali, maka atas dirinya hutang sholat yang harus di qodho dan dilakukan dengan segera pada waktu kapan saja. Bedanya antara yang me-ninggalkan sholat dengan sengaja dan yang meninggalkannya karena tertidur atau karena lupa, yang pertama berdosa karena meninggalkannya dengan se-ngaja, sedangkan yang kedua tidak berdosa. Keduanya wajib untuk diqodho. Bagi orang yang meninggalkan bebe-rapa sholat karena sebab atau tanpa sebab, maka diwajibkan untuk meng-qodhonya dan seyogyanya jika dilakukan secara tertib.

Misalnya seseorang yang meninggalkan sholat shubuh, dhuhur, ashar.  Maka ketika mengqodho, disunahkan ia mengqodhona secara tertib pula, yaitu ia mengqodho shubuh dahulu, kemudian baru qodho dhuhur, dst.

Mengqodho ini juga seyogyanya dilakukan dengan segera. Mengqodho ini dibolehkan pada waktu kapan saja, mi-salnya seorang yang meninggalkan sholat maghrib, maka jika ingat pada waktu isya', ia mengerjakan maghrib secara qodho terlebih dahulu, untuk kemudian ia mengerjakan sholat isya. Qodho maghrib tersebut tidak perlu menunggu maghrib pada hari setelahnya.

Bagaimana dengan wanita yang haidh ?
Dalam hadits riwayat Bukhori Muslim, Aisyah berkata : Kami diperintah untuk mengqodho puasa, dan tidak diperintah untuk mengqodho sholat. Hadits ini menunjuk tentang sebuah hukum bagi wanita haidh, yaitu bahwa hari-hari yang ia tinggalkan puasa ketika ia haid di bulan ramadhan, hari-hari tersebut wajib diganti dengan berpuasa di hari-hari lain setelah Ramadhan. Tetapi ia tidak diperintah untuk mengganti sholat yang ia tinggalkan selama ia haidh. Terdapat hikmah dalam hal ini jika kita telaah lebih jauh, apa yang terjadi jika seorang wanita jika haidh, yang umumnya 7 hari, dan bisa jadi seorang wanita haidh selama batas maksimal yaitu 15 hari, sedangkan sholat dalam sehari semalam wajibnya yaitu 5 kali sholat, jika wajib diqodho maka ia harus menggantinya dalam jumlah yang banyak, yaitu 5 dikali dengan hari-hari yang ia tinggalkan. Tentunya hal ini akan memberatkan baginya. Sebaliknya kewajiban mengqodho hanya sebatas qodho puasa yang Ia tinggalkan selama ia haidh, karena hal ini masih dalam batasan terjangkau dan ringan untuk dilakukan. Subhanallah, salah satu keindahan syariat Islam.

Tidak wajib mengqodho sholat bagi wanita haidh seperti penjelasan di atas, hal ini terdapat pengecualian  yaitu jika ia mendapatkan sebagian dari waktunya sebanyak satu raka’at sempurna, baik pada awal  sholat atau akhir waktunya.
Contoh pada awal waktu : misalnya seorang wanita datang haidh setelah matahari terbenam tetapi ia sempat mendapatkan sebanyak satu ra’kaat dari waktunya. Maka wajib baginya, setelah suci, mengqadha’ shalat maghrib tersebut karena ia telah mendapatkan sebagian dari waktunya yang cukup untuk satu rakaat sebelum kedatangan haid.

Adapun contoh pada akhir waktu, seorang wanita suci dari haid sebelum matahari terbit dan masih sempat mendapatkan satu rakaat dari waktunya. Maka wajib baginya, setelah bersuci, mengqadha’ shalat Shubuh tersebut karena ia masih sempat mendapatkan sebagian dari waktunya yang cukup untuk satu rakaat.

Namun, jika wanita yang haid mendapatkan sebagian dari waktu shalat yang tidak cukup untuk satu rakaat sempurna; seperti : Kedatangan haid pada contoh pertama sesaat setelah matahari terbenam, atau suci dari haid pada contoh kedua sesaat sebelum matahari terbit, maka shalat tersebut tidak wajib baginya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori yang Artinya : "Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat”.

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini. Ibnu Utsaimin berpendapat, bahwa tidak wajib baginya kecuali shalat yang didapatkan sebagian waktu saja, yaitu shalat Ashar dan Isya’. Wallahu a'lam
 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com