Meniti Samara



“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada  Allah yang dengan namaNya kamu saling meminta satu sama lain. Dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.
( QS. An Nisa: 1)

Sungguh bijaksana dan penuh hikmah ketika Allah mensyariatkan pernikahan, yang disifati dalam Al Qur’an dengan “Miitsaaqan Galiidzan”, atau tali ikatan yang berat. Pernikahan yang didalamnya tidak hanya bertujuan untuk pemenuhan atau penyaluran seksual secara halal, tetapi ia mengemban tujuan yang lebih agung dari itu. Sebagai manusia yang Allah ciptakan dengan salah satu peran sebagai Khalifah telah Allah sematkan dipundaknya, peran ini menuntutnya untuk dapat memakmurkan bumi dengan syariat Allah. Salah satu dari sekian syariat yang Allah turunkan adalah syariat pernikahan yaitu bersatunya dua orang antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang halal yang diharapkan kelak dapat mem-bangun dan menghasilkan generasi  rabbani.

Dari pernikahan, diharapkan pula terciptanya keluarga samara, keluarga yang berbibit ketenangan dan sakinah, berbuah cinta kasih dan mawaddah, juga berakar kasih sayang dan rahmah antara keduanya. Tentunya hal ini tidak sesederhana dalam bayangan seorang pemuda ketika berangan-angan ingin menikah, dengan banyak mimpi manis di pelupuk matanya. Tetapi ia merupakan perjalanan nan panjang sepasang insan setelah menghimpun mahligai rumah tangga yang halal, menapak tangga-tangga keharmonisan untuk menuju kestabilan rumah tangga yang didamba setiap pasangan suami istri.

Bagaimanakah Rumah Tangga Ideal itu ?. Bagaimanakah karakteristiknya ?. Bagaimana pula sakinah mawaddah wa rahmah dapat hinggap dalam keluarga dan rumah tangga kita ?.
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang bagus bagi kalian..”, begitu jawab Al Qur’an dalam Surat Al Ahzab : 21.
Sekilas terdengar global, tapi mengan-dung makna yang dalam dan luas. Dalam diri  Rasulullah terdapat suri tauladan dalam semua hal; dalam segi ibadah, akhlaq, kepemimpinan, berdagang dan bermu’amalat, termasuk juga suri tauladan dalam segi kerumahtanggaan. Bagaimana Rasul berumahtangga, bagaimana beliau berinteraksi dengan para istrinya, dan sebaliknya, bagaimana para istrinya Ummahatul Mukminin berinteraksi dengan Rasulullah demi membangun keluarga yang penuh sakinah mawaddah  wa rahmah.

Ikut ambil porsi dan peran dalam pekerjaan rumah.
Suatu hari Aisyah ditanya oleh seorang sahabat Rasul yang bernama Al Aswad: “Apa yang biasa  dilakukan  oleh  Rasulullah di rumahnya?”. Dengan penuh kebahagiaan, dijawab oleh Aisyah: “Rasulullah biasa melayani/membantu istrinya dalam pekerjaan rumah, jika datang waktu sholat, maka beliau keluar untuk melaksanakannya“.(HR.Bukhori).
Rasulullah yang kita semua tahu bagaimana kesibukannya di luar rumah, selain sebagai kepala negara, juga sebagai pemimpin perang, belum kesibukannya dalam perkara pengadilan dan memutuskan hukuman untuk orang-orang yang berselisih, dan lain-lain. Kesibukannya tidak menghalangi Rasulullah untuk sekedar menyapa sang istri, menerima keluh kesahnya dan kelelahannya terkait  urusan rumah yang tidak pernah selesai. Tidak hanya itu, tetapi beliau turun langsung ikut membantunya dengan tanpa diminta. Tidak segan, tidak malu, ataupun tidak merasa bahwa sifat wibawa seorang suami di hadapan istri akan turun. Justru sebaliknya, kehadiran samara pelan-pelan tumbuh dalam hubungan mereka, ikatan rumah tangga pun semakin erat dengan hal-hal yang sebenarnya ringan ini.

Saling memahami perasaan pasangan.
Inipun juga merupakan salah satu pondasi keluarga samara. Timbal balik dalam berempati antara pasangan sangat diperlukan dalam berinteraksi satu sama lain. Ketika istri marah, terlihat ketidaksukaan, maka suami akan segera tahu dan meresponnya. Pun sebaliknya. “Sesungguhnya aku tahu jika kamu sedang ridho terhadapku atau ketika kamu sedang marah kepadaku”, begitu suatu kali Rasulullah menegur Aisyah. “Jika kau ridho terhadapku, kau akan berkata: “Tidak, demi Tuhan Muhammad”, tetapi jika kau marah, kau bekata, “Tidak, demi Tuhan Ibrahim”. Demikian tertulis di Shahih Muslim.

Ataupun mungkin terlihat sang istri bersedih ataupun menangis dalam kesedihan, suami segera merengkuhnya dan menyapu air mata istri dengan lembut. Begitu Rasulullah mulia mengajarkan dan tertulis dalam Sunan An Nasai, ketika suatu hari Shafiyyah binti Huyyai menemani dalam  perjalanan Rasulullah tetapi kendaraan unta yang ditumpanginya sangat pelan sekali hingga ia terlambat sampai di tujuan, Rasul me-nyambut Shafiyyah yang langsung mengeluh seraya sesenggukan menangis: "Kau berikan kepadaku unta yang lamban sekali..", secara otomatis tangan beliau yang mulia menyapu air mata Shafiyyah hingga ia berhenti menangis.

Sebuah pelajaran yang berharga dari  Rasulullah untuk ummatnya. Jika para pasutri mengkajinya dan menjadikan tauladan, benih samara niscaya akan tumbuh subur. Terlebih para suami untuk menghormati dan menyayangi istri karena istri adalah partner suami. Sebagaimana suami, istripun memiliki peran dan tanggung jawab yang tidak ringan.

Sudah sepantasnya jika dalam haji wada', haji  terakhir yang dilakukan Rasulullah, beliau berkhutbah panjang berwasiat kepada para suami untuk bertaqwa kepada Allah dalam bergaul de-ngan istri. Pun dalam sabdanya yang terkenal, beliau berkata:
"Sebaik-baik kalian yaitu yang paling  baik kepada keluarganya, istrinya, dan aku yang terbaik pada keluargaku."
 dalam  bergaul  dan  berinteraksi, senantiasa merasa pengawasan Allah dalam bergaul dengan istrinya.

Saling Menopang dan Berkontribusi.
Sebaliknya, suami juga mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi oleh istri. Timbal balik dalam berkasih sayang, saling memperhatikan satu sama lain adalah sebuah keharusan dalam rumah tangga. Tidak selalu istri minta hak-haknya, sementara kewajibannya belum terlaksana. Kita dapat melihat bagaimana interaksi ummahatul mukminin dengan Rasulullah, sebagaimana Rasulullah yang berempati terhadap istrinya. Terabadikan dalam sejarah pula Khadijah selalu menghibur beliau dalam kesedihannya, dalam beban yang  beliau emban. Ketika Rasulullah datang ke rumah dalam kondisi ketakutan sewaktu menerima wahyu untuk pertama kalinya. Khadijah dengan penuh kasih sayang menghibur suami dengan perkataannya yang diabadikan oleh sejarah.

Tak kalah pula Ummu Salamah, yang selalu memberikan masukan ide ketika Rasulullah dihadapkan sebuah masalah besar, dimana para sahabat tidak mau mendengarkan ucapan beliau untuk bertahallul dan menyembelih kambing karena tidak jadi melakukan umrah pada tahun 6 H, yang akhirnya menghasilkan sebuah perjanjian Hudaibiyyah antara beliau dengan para kafir Quraisy.

Ummu Salamah, seorang istri yang cerdas, mampu memberikan usul yang jitu supaya Rasulullah tidak hanya sekedar memerintah, “Cukur rambut anda, dan sembelihlah kambing didepan mereka”   begitu Ummu Salamah berkomentar dsecara cerdas kepada suaminya, Rasulullah yang sedang dalam kondisi sedikit galau menghadapi ulah para sahabatnya. Tanpa menunggu lagi, Rasulullah melakukan ide brillian Ummu Salamah.  Ajaib, para sahabat langsung merespon perilaku Rasul bahkan mereka terlihat saling berebut alat cukur untuk bertahallul.

Warna-warnikan Percakapan.
Dibutuhkan pula dalam rumah tangga, pola percakapan yang berwarna-warni, tidak selalu senada dan monoton hingga membuat bosan pasangan. Istri yang selalu mengeluh tentang perilaku anak-anaknya yang tiada henti, tiap hari yang ia bahas hanya itu saja misalnya, tentu hal ini akan membuat bosan apalagi di waktu yang tidak tepat. Percakapan atau diskusi kecil yang bisa memperluas wawasan cakrawala baik bagi istri atau suami sangat diperlukan dalam upaya membangun interaksi yang harmonis.

Diriwayatkan bahwa Aisyah heran melihat Hijr Isma’il yang bangunannya tidak bersatu dengan ka’bah, dan menanyakannya kepada Rasulullah. Keheranan tersebut menjadi sirna dengan jawaban Rasulullah, “Wahai Aisyah, jika saja kaummu tidak dekat masanya dari masa jahiliyah, sudah tentu saya akan memerintahkan agar ka'bah dirobohkan, lalu dibangun ulang, dengan memasukkan batas-batas yang dulunya dikeluarkan, dan agar (pintunya) diturunkan hingga menyentuh tanah, dan agar dibuatkan dua pintu, yakni pintu di sisi timur, dan pintu di sisi barat, sehingga bangunan ka'bah tersebut persis di atas pondasi Nabi  Ibrahim”.(HR.Bukhori).

Refreshing / Cari Suasana Baru
Kehidupan rumah tangga dengan  segala pernak-perniknya, apalagi setelah berjalan puluhan tahun pernikahan, terkadang rasa bosan menghinggap pasutri. Rasa bosan dengan rutinitas pekerjaan rumah, atau merasa jemu dengan akfitas harian, mencari suasana baru dengan pergi berduaan tanpa kehadiran anak-anak bisa dijadikan alternatif bagi pasutri untuk mengekalkan tali ikatan, memperbarui kecintaan antara mereka. Dimana hal ini akan dapat mengingat kembali masa-masa awal pernikahan yang indah, mengingat kembali ijab kabul yang diucapkan suami di hadapan istri dan walinya. Dan tentunya akan membawa molekul dan partikel dalam diri suami istri untuk terus mengayuh biduk rumah tangga dengan penuh kesetiaan dan penuh semangat baru kembali.

Dalam tiap bepergiaan Rasulullah pasti mengajak salah satu istrinya, dengan cara mengundi di antara para istrinya. siapa yang keluar namanya, maka dia akan keluar bepergiaan bersama Rasulullah. Hadits riwayat Bukhori Muslim ini menyiratkan sebuah makna berharga dalam kehidupan suami istri, yaitu tentang pentingnya memperbarui hubungan dengan mencari suasana baru atau de-ngan bepergiaan.

Saling Menerima dan Memaafkan.
“Seorang mukmin tidak membenci se-orang mukminah, jika ia tidak suka darinya satu perilaku, maka ia suka terhadap perilaku yang lain”. (HR.Muslim).

Pesan Rasulullah yang ditujukan khususnya buat para suami istri, tentu sudah seharusnya mendapatkan perhatian dari para suami istri. Sering kali, timbul sebuah kelakuan yang tidak disukai oleh suami atau istri. Di sini dibutuhkan kesabaran dari dua belah pihak, selain pemahaman antara karakter satu sama lain.  Perlu diingat juga, bahwa kita menikah dengan manusia yang tentunya memiliki karakter yang berbeda. Kesalahan sedikit yang dilakukan oleh pasangan kita, tidak boleh membuat kita melupakan kebaikan-kebaikannya selama ini. Dalam satu kesalahan yang dilakukan oleh suami/istri, boleh jadi ia mempunyai seribu kebaikan yang tidak bisa dihitung. “Dan pergauli mereka (para istri) dengan cara ma’ruf, jika kalian membencinya, barangkali sesuatu yang kau benci itu Allah jadikan kebaikan yang banyak padanya”. (QS.An Nisa: 19)

Dan akhirnya, perlu disadari kembali bahwa perjalanan ini tidak hanya sekedar di dunia saja. Lika-liku perjalanan panjang pernikahan merupakan salah satu upaya dalam deretan ujian di dunia. Jika semua lika-liku yang ada diniatkan karena Allah, diniatkan sebuah ibadah demi memakmurkan dunia sesuai ketentuan Allah, niscaya ia akan terasa ringan dan berpahala. Tidak hanya di dunia saja ikatan itu, tetapi akan menjadi ikat-an lebih langgeng di akhirat nanti. Dan bahwasanya dengan ketundukan kepada aturan Allah dan Rasulullah lah, ketenangan dan keharmonisan di dalam sebuah rumah tangga akan hadir. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah, baik dari kaum laki-laki atau kaum perempuan sedangkan dia ber-iman, maka Kami (Allah) akan berikan kepadanya kehidupan yang sejahtera… “. (QS. An Nahl : 97).

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com