Perbedaan itu Indah



Keputusan untuk membina sebuah keluarga adalah sebuah keputusan besar, dimana nantinya diperlukan perjuangan besar pula untuk menekan keegoisan dari dua pribadi. Dua orang yang berasal dari dua sisi berbeda latar belakang kultur dan lingkungan, terlahir, dibesarkan dan dididik dalam dua bahtera rumah yang tidaklah sama tentu akan menemukan banyak ketidaksesuaian yang harus disikapi dengan bijaksana. Tidak ada dan tidak bisa menjadikannya sama, yang ada hanyalah penyesuaian untuk melangkah pada titik tengah-tengah yang nantinya disebut sebagai tujuan atau arah dalam mengarungi biduk rumah tangga untuk menggapai keluarga sakinah mawaddah warahmah, rukun dan dirahmati olehNya.
(gambar dari: www.123rf.com)

Perbedaan-perbedaan seperti, suami atau istri pelupa, yang apabila menyimpan sesuatu pasti pihak pasangan yang akan sibuk mencarinya, meletakkan baju, handuk atau sepatu sembarangan setelah selesai dipakai, istri yang suka makan ikan tapi suami malah alergi memakannya, istri yang senang belanja tapi suami malah justru sangatlah hemat, atau dalam mendidik anak hanya satu pihak saja yang suka menerapkan kedisiplinan misalnya. Perbedaan-perbedaan tersebut harus disikapi dengan lapang dada, bukan menang atau kalah dalam penyelesaiannya, tapi mencari jalan tengah pada setiap perbedaan tersebut disinilah letak keindahannya, hadapi perbedaan atau konflik dengan sikap keshalehan, kembalikan konsep cinta dalam nuansa ibadah serta ketaatan dan keimanan pada Allah semata, bersabarlah kala tersinggung atau merasa sedih saat berselisih, jalin komunikasi yang tidak saling menyakiti, wujudkan semuanya dalam cinta dan kasih sayang, perjalanan pada penyelesaian tiap-tiap masalah itu menjadikan kita bertambah matang dan dewasa dari waktu ke waktu. Jangan ada lagi kata kamu atau aku, uangmu atau uangku, tapi kata kita lebih menunjukkan kepada keinginan untuk menjadi satu. Perbedaan jangan dijadikan sumber sengketa, bukan pula penghalang untuk selalu berusaha mengukuhkan dan mengharap anugrahNya mendapatkan cinta untuk mencintai pasangannya.

Seperti menempa tanah liat dengan berbagai proses untuk menjadikannya guci-guci indah yang berdaya jual mahal, maka dalam rumah tangga jiwa raga kita sedang ditempa dalam beragam perbedaan lalu kita menyelami dan menikmatinya, bukan berlari menghindarinya. Dan di hadapan Allahlah nilai-nilai kita akan bertambah.. Allah yang Maha membolak-balikkan hati, kembalikan semua urusan hanya kepadaNya, dalam sujud panjang dua insan yang berbeda, yang selalu berusaha menjadi mulia di hadapanNya dengan menekan amarah dan keegoisan pada pasangan hidupnya. Dan yakinlah, pernikahan yang diniatkan untuk menyempurnakan separuh dien kita InsyaAllah akan sampai pada tujuan akhir dengan selamat, bahagia karena bertabur anugrah Nya.(Ummu Rafi)      


0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com