Membaca dan Menyentuh Mushaf Bagi Wanita Haidh


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

1-Membaca dan Menyentuh Mushaf  Bagi  Wanita Haidh

Pertanyaan
Assalamualaikum Warahmatullah

Kepada Team buletin, saya ingin melayangkan pertanyaan, sebagai berikut :
1.      Bolehkah wanita yang sedang haidh memegang Al Qur’an ? apa hukumnya ?
2.      Bolehkah bagi wanita haidh membaca  Al qur’an walaupun bertujuan belajar ?
3.      Apa Hukum wanita haidh membawa hp yang di dalamnya ada al qur’an ?

Wassalamualaikum Warahmatullah
Taurina Widyawati


Jawaban
Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Alhamdulillah, was shalatu was salamu ala Rasulillah, wa ba’du.
Masalah menyentuh Al qur’an dan membaca bagi wanita haidh, merupakan masalah yang terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama’, antara yang membolehkannya dan melarangnya, hal ini dikarenakan ketiadajelasan dalil yang berkait masalah ini.

Jika kita tengok pendapat Jumhur Ulama’, yaitu pendapat mayoritas ulama dari kalangan 4 empat madzhab, mereka berpendapat bahwa tidak boleh bagi wanita haidh untuk memegang mushaf, berdasarkan firman Allah yang artinya : “tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (QS. Al Waqiah : 79), juga berdasarkan hadits “tidak menyentuh al qur’an kecuali orang suci” (HR. Hakim dan Ahmad, dan disahihkan oleh Albani).
Sebagaimana mereka berpendapat tidak dibolehkan membaca al Qur’an bagi wanita haidh, berdasarkan hadits : “bahwa tidak ada yang menghalanginya untuk membaca Al qur’an kecuali jika junub”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Mereka berpendapat bahwa haidh adalah hadats besar seperti dalam kondisi junub.

Sebagian ulama berpendapat bahwa dibolehkan membaca Al Qur’an bagi wanita haidh jika dalam kondisi membutuhkan, seperti halnya seorang guru atau wanita yang sedang dalam kondisi belajar membaca Al Qur’an, bukan karena junub. Hal ini karena perbedaan antara sikon haidh dan junub, dimana kondisi haidh waktunya lebih lama dari pada kondisi junub, dimana orang junub dapat langsung bersuci berbeda dengan wanita haidh. Pendapat ini merupakan pendapat Ibnu Taimiyyah yang merupakan pendapat madzhab malik, dan merupakan riwayat imam Ahmad.

Pendapat ini merupakan pendapat tengah-tengah, dimana terdapat keluasan untuk membolehkan bagi wanita para penghafal Al Qur’an yang jika dilarang membaca dan muraja’ah Al Qur’an akan menyebabkannya menjadi lupa. Membaca Al Qur’an ini akan lebih afdhol dilakukan dengan cara membaca dengan menyentuh al Qur’an tetapi dengan memakai penghalang, kaos tangan misalnya. Atau dengan memakai perantara Al Qur’an yang terdapat tafsir di dalamnya.

Pembahasan di atas adalah seputar wanita haidh dan junub, bagaimana dengan sikon orang yang berhadats kecil, bolehkah ia membaca dan menyentuh Al Qur’an dengan tanpa berwudhu terlebih dahulu ? . Imam Nawawi berkata : “terjadi ijma’ ulama’ bahwa dibolehkan membaca Al Qur’an bagi yang berhadats, dan lebih afdhol jika ia berwudhu terlebih dahulu…”. Adapun dalam masalah  menyentuhnya bagi yang berhadats kecil, Jumhur berpendapat bahwa disyaratkan bersuci dari hadats kecil dan besar ketika menyentuhnya. 

Terkait masalah Al Quran yang berada dalam Mobile, mengingat teknologi yang semakin berkembang, dimana kita diharapkan untuk dapat mengambil manfaat dari teknologi ini dengan baik. Teknologi yang sedang menjadi demand oleh banyak kalangan, terutama smart phone yang dapat memudahkan akses berinternet. Juga tak kalah canggihnya, kita temukan ada banyak program Al Qur’an, dengan audio atau tanpa audio, bahkan juga tersedia Al Qur’an beserta terjemahannya atau bahkan tafsirnya sekalian dimana memudahkan bagi kita seorang muslim dalam membaca atau menelaah Al Qur’an darinya. Nah bagaimana hukumnya. perlukah kita bersuci ketika membawanya? Bolehkah kita masuk ke toilet dengan model mobile smart phone tersebut ?.

Mayoritas ulama besar kontemporer, seperti Syekh Bin Baz, Syekh Sholih Fawzan, dll mereka berpendapat bahwa Al Qur’an yang berada dalam mobile atau dalam komputer dan yang sejenisnya, ini tidak mengambil seperti halnya hukum mushaf yang tertulis di atas kertas, dimana dibolehkan membaca atau menyentuhnya walaupun tanpa thaharah/bersuci terlebih dahulu, juga tidak mengapa dibawa ke toilet.

Membaca Al Qur’an dari mobile ini terdapat keringanan bagi wanita haidh, juga bagi orang yang kesulitan untuk menjaga wudhunya, serta bagi mereka yang sedang berada di tempat yang mana susah untuk bersuci. Perlu diperhatikan juga, ketika ingin membawa alat tersebut ke kamar mandi, maka program Al Qur’an hendaklah ditutup dulu, sebagaimana perlu ditutup juga program adzan ketika masuk toilet, dikhawatirkan ketika kita masuk toilet, sedangkan bunyi adzan berkumandang dari alat tersebut. Wallahu a’lam.



2.Kertas Yang didalamnya terdapat kalimat Allah atau ayat-ayat Al qur’an

Pertanyaan
Assalamualaikum Warahmatullah

boleh tidak kertas bekas yang ada tulisan Bismillah nya atau ada kata Allah nya yg bertulisan arab dibuang ketempat sampah setelah dirobek2 ? apa yang sebaiknya kita lakukan dengan kertas atau Koran, atau buku-buku pelajaran yang terdapat di dalamnya kalimat Allah, atau potongan ayat-ayat Al qur’an ?. terimakasih.
Mama Rafi


Jawaban
Waalaikumus Salam Warahmatullah Wabarakatuh

Alhamdulillah was sholatu was salamu ala Rasulillah. Wa ba’du.
Sesungguhnya Islam mengajarkan kita untuk memperlakukan kertas entah itu buku, Koran, majalah dan yang sejenisnya yang terdapat didalamnya kata Allah, atau tertulis di dalam ayat-ayat Al Qur’an, baik tertulis dalam bahasa arab atau tertulis dalam tulisan, untuk memperlakukannya secara hormat dan penuh pengagungan. Ini merupakan bukti pengagungan Allah dalam hati-hati seorang Muslim. Dan dengan pengagungan nama Allah ataupun ayat-ayat Al qur’an ini, maka Allah akan mengagungkan nama kita di dunia dan di akhirat.

Imam Qurthubi dalam tafsirnya meriwayatkan, Berkata Said Bin Abi Sakinah, telah sampai kepadaku bahwa Ali Bin Abi Tholib melihat seseorang sedang menulis “Bismillahirrahmanirrahim”, lalu Ali berkata kepadanya : perbaguskan, karena siapa yang membaguskan, maka ia akan di ampuni”.

Abu Hilyah dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ juga Imam Qurthubi meriwayatkan, Berkata Muhammad bin As Sholt : aku mendengar Bisyr bin Al Harits yang terkenal pula dengan nama Bisyr Al Hafii, sedang ia ditanya : apa gerangan namamu di antara nama manusia seperti halnya nama Nabi ?. Ia (Bisyr) menjawab : ini adalah karunia Allah, dan akan aku ceritakan kepada kalian. Suatu ketika aku menemukan kertas di jalan, aku angkat kertas itu, ternyata di dalamnya tertulis : “Bismillahirrahmanirrahim”. Lalu aku usap, aku bersihkan, aku masukkan ke saku. Waktu itu akan mempunyai uang 2 Dirham, hanya 2 Dirham yang aku punya. Lalu aku pergi ke tukang minyak, aku beli minyak dan aku usap kertas itu dengan minyak. Malam harinya aku tidur, maka aku bermimpi seakan-akan ada orang berbicara kepada ku: “wahai Bisyr bin Al Harits, kau telah angkat nama Kami dari jalan, dan kau beri wewangian, Aku akan membuat namamu harum di dunia dan di akhirat. Lalu terjadilah apa yang terjadi.

Ini bukan hadits, tapi satu  dari sekian cerita tentang orang sholih, bagaimana mereka mengagungkan tulisan Allah sehingga Allah pun mengangkat namanya.  Subhanallah!.
Kita ajari juga anak-anak kita dalam masalah ini. Koran ataupun kertas, termasuk buku-buku pelajaran yang di dalamnya ada lafal Allah atau ayat qur’an, kita ajari mereka untuk menghormatinya. Kita mulai dengan kita terlebih dahulu.

Bagaimana kita bersikap jika kertas-kertas tersebut sudah tidak terpakai atau karena sebab lain, tanpa ada niat peremehan atau penghinaan terhadap kertas tersebut ?.
Meremehkan hal ini memang tidak boleh, sebaliknya wajib bagi kita untuk mengagungkannya. Para Ulama, seperti Syekh Bin Baz, Syekh Abdul Mun’im Ar Rifaiy, juga Syekh Ibnu Utsaimin mereka menjawab tentang hal ini : cara-cara yang dibolehkan yaitu dengan cara mengubur kertas tsb di tanah yang jauh dari diinjak-injak oleh manusia, atau dengan cara membakarnya hingga habis, atau dengan cara memotong-motongnya kecil-kecil hingga sampai tidak terlihat bekas hurufnya, salah satu caranya dapat dengan memakai mesin pemotong kertas yang dapat memotong kecil-kecil hingga tidak terlihat bekas hurufnya. Dan hendaklah kita semua memperhatikan hal ini. Wallahu A’lam

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com