Meniti Lembaran Baru



Kisah dan Renungan


Awal Januari 2010
Hari ini adalah hari yang sangat berbahagia bagiku, keputusan untuk menapaki kehidupan denganmu telah terbayang , karena tiga belas tahun bukanlah waktu yang pendek. Sebuah waktu yang sangat panjang, tapi bukan untuk orang yang punya harapan dan cita-cita untuk digapainya. Ya hampir 13 tahun aku meninggalkanmu, bidadari kecilku. Masih teringat hari itu, kau menangis memegang tangan ini memelukku erat sekali, kau tidak berkata-kata, tapi dari tatapanmu aku tahu bahwa kau mengatakan, “ Mak, jangan tinggalkan aku.” Aku menahan perihnya hati dan panasnya mata ini, kupeluk badan mungilmu erat sekali  akupun tak ingin  melepasmu, tapi aku harus pergi nak, demi sebuah cita-cita. Cita-cita yang mungkin bagi orang lain tak ada artinya, tapi bukan untuk orang-orang seperti kita. Ya, mak ingin kelak engkau bisa menegakkan kepalamu di hadapan orang–orang,  karena engkau juga memiliki apa yang mereka miliki, yaitu rejeki yang cukup. Karena kebanyakan orang hanya mampu memandang kebaikan dan kehormatan seseorang melalui harta yang dimilikinya. Jangan seperti mak mu ini, yang telah dihinakan karena kemiskinannya, dilecehkan karena kebodohannya, dan dikalahkan karena derajatnya. Ya, hari ini aku memutuskan untuk kembali, bukan karena aku telah kaya raya, tapi karena engkau telah menyelesaikan pendidikanmu, dan mak telah menemukan sandaran hidup yang kokoh, yang tidak akan pernah meninggalkan kita .


15 Januari 2010
Semakin dekat menjelang kepulanganku, tak sadar memoriku seperti diputar kembali, bagaimana perjuanganku saat membesarkanmu seorang diri dengan keterbatasan yang aku miliki, bidadari kecilku.  Aku teringat bagaimana saat pertama kali Hadi memperkenalkan aku sebagai orang yang dicintai kepada keluarganya yang kaya, aku tak pernah lupa saat ibunya mengatakan , “ Apa , kau mau menikah dengan dia, emang tidak  ada gadis lain yang lebih cantik dari dia, le. Banyak itu anak-anak juragan tembakau yang cantik, kaya sebanding dengan kita yang mau nikah sama kamu. Apa kamu guna-guna anakku ha, dasar orang miskin, jangan mimpi jadi menantuku.” Aku kaget dan menahan tangis ini, tapi aku tak sanggup lagi, aku lari sambil menangis menuju ke jalan raya dan begitu ada angkot aku pun naik lalu  pulang ke rumah. Esoknya kamu datang dan dengan nekat kamu bilang ke orang tuaku bahwa kau akan tetap menikahiku, saat itu orang tuaku pun tidak setuju . Tetapi melihat kesungguhanmu, akhirnya mereka pun merelakanku untuk menikah denganmu. Cinta, ya cinta ternyata tidak menjanjikan segala-galanya , karena pernikahan dengan berlandaskan cinta semata tanpa meniatkannya untuk ibadah belum mampu menghadapi badai yang menggoncang kehidupan rumah tangga. Kondisi ekonomi kita yang pas-pasan, belum mandirinya kamu, membuat kamu kembali kepada orang tuamu dengan segala kekurangan kita, sehingga orang tuamu punya kesempatan yang banyak untuk kembali menekanmu. Aku ingat hari itu,setelah satu tahun pernikahan kita, sore itu kau menggenggam tanganku dan mengatakan, “ Maafkan aku, aku tidak sanggup meneruskan semua ini, aku pikir keputusan yang kita ambil adalah satu kesalahan.” Aku tidak faham dengan apa yang kau katakan, kutatap engkau, tapi kulihat di matamu sudah tidak ada lagi harapan. Aku mencoba mempertahankan , tapi ternyata itu pun tak ada guna. Kau lebih sering di rumah orang tuamu, sampai akhirnya kita mengambil keputusan, berpisah, keputusan yang menyakitkan bagi orang yang mencintai. Sebulan sudah kita berpisah, aku masih merasa sedih. Dan  akhir-akhir ini aku merasa tidak sehat, perut mual, mau muntah, aku berpikir mungkin aku terlalu sedih memikirkan Hadi, sampai suatu sore, ibu yang melihatku duduk di kursi terlihat malas sambil makan mangga muda bertanya, “Kamu kenapa Yun, kok bawaannya lemes, makan yang masam-masam terus, jangan-jangan Yun…….!!!” Aku menatap ibu seolah menunggu kata-katanya. “Kamu sudah haid bulan ini Yun?”, Tanya ibu lebih lanjut, seketika aku cemas, ternyata tanpa kusadari, karena terlalu larut dengan kesedihan, aku lupa bahwa bulan ini haidku tidak datang. Ya, di situ awal kehidupan seorang bayi hadir dalam kehidupanku. Aku mencoba mengajakmu kembali untuk membangun rumah tangga kita, demi anak kita, tapi usahaku pun sia-sia bahkan ibumu menghardik dan menghinaku lebih keras lagi, “ Sudahlah , siapa yang tahu itu anak Hadi, mungkin aja kan anak orang lain.” Meskipun marah kutahan perasaanku, karena aku masih berharap Hadi kembali kepadaku demi masa depan anak dalam kandunganku, semua itu menyakitkan tapi yang paling menyakitkan saat kudengar berita bahwa kamu akan menikah bulan depan, saat di mana kandunganku berusia dua bulan.

bidadari mak ini akan memberikan pelangi yang  terindah
   
29 Januari 2010
Aku sedang duduk di kamar sesaat setelah aku membereskan piring terakhir setelah acara jamuan di rumah majikanku. Badan ini lelah, akupun teringat bagaimana aku mencoba berusaha dengan berbagai macam cara untuk mendapatkan uang demi menyambung hari-hari kita, mak dan kau bidadari kecilku. Hari melelahkan dan penghasilan yang hanya cukup untuk memberi beras dan seikat sayur dan sepotong tempe, hingga aku bertemu seseorang yang mengajakku mencoba mengadu nasib di perantauan. Negeri rantau jauh di negeri para nabi, negeri yang berlimpah dengan minyak. Hati ini bingung, menimbang dan memikirkan, bagaimana nasibmu bidadariku kalau aku jauh darimu, tapi mengingat kebutuhan kita yang bertambah, biaya makan, pakaian, sekolah yang tak sanggup kupenuhi lagi, dengan nekat akupun memutuskan pergi ke negeri dinar, Kuwait, negeri kecil kaya minyak yang berbatasan dengan Iraq. Negeri perantauan yang menjanjikan. Setelah tiga bulan gajiku dipotong untuk membayar biaya keberangkatanku, akupun menerima gajiku. Masa-masa yang boleh dibilang sulit kupercaya , perubahan gaya hidup, aku yang sebelumnya hanya mampu menghasilkan uang 150 ribu sebulan sekarang mampu menghasilkan sepuluh kali lipatnya. Bagaikan mimpi, rasa dendam atas kemiskinanku pun akan kulampiaskan. Sebagian gaji kukirim dan sebagiannya kubelikan barang-barang yang kuinginkan untuk kesenanganku, pakaian, sepatu, dan barang-barang lain yang bisa membantuku untuk memaksa orang mengatakan bahwa aku adalah orang kaya, dengan melihat penampilanku. Aku tak segan menghamburkan uang untuk alat kosmetikku. Tapi semakin aku turuti nafsuku, semakin gelisah hati ini. Semakin gelisah semakin bertambah keinginanku untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa aku layak diperhitungkan, kadang tidak segan-segan aku berhutang kepada temanku hanya untuk membeli baju baru yang tidak begitu kubutuhkan. Tiga tahun kulewati hari-hariku dengan kegilaanku, hutangku menumpuk, dan aku makin gelisah dan tak terkendali. Pada tahun keempat akupun pulang menengok keluargaku dan bidadari kecilku. Aku tunjukkan kepada orang-orang yang telah menghinaku bahwa aku adalah orang kaya sekarang, aku sombongkan diriku di depan mereka, semakin mereka melihatku dengan rasa iri, semakin hati ini merasa senang.

3 Februari 2010
Setelah dua bulan di rumah, aku pun kembali ke negeri kedua, negeri perantuan yang jauh di lintas negara, kutinggalkan kau kembali wahai bidadariku, sekarang kau bukan anak kecil lagi. Kau terlihat sedih tetapi tidak menangis lagi bahkan, kau sudah pandai menulis pesananmu, hadiah-hadiah yang kau impikan di masa kecilmu. Pada saat kembali aku diminta majikanku, aku tinggal di rumah orang tuanya yang sudah tua, karena majikanku akan pergi dalam waktu yang agak lama. Di sinilah awal titik perubahanku, perubahan dari keterombang-ambingan menuju tujuan hidup yang lebih jelas, tujuan hidup yang dibingkai dengan cita-cita.

12 Februari 2010
Hari kedua di rumah majikan tuaku, aku berbincang santai dengan seorang pembantu dari negeri lain, negeri dimana sapi-sapi disembah dan diagungkan sebagai tuhan mereka. Kami ngobrol dengan bahasa arab berantakan yang kami punya, aku bertanya,”Kamu sudah berapa tahun di sini?” Sambil tersenyum dia pun menjawab, “Sudah hampir 20 tahun.” Aku heran, aku mengernyitkan dahiku dan memandang dia dengan tidak percaya, “Sebegitu lamanya, untuk apa, karena kulihat kamu biasa saja, gak punya perhiasaan seperti orang-orang itu?, selorohku sambil tertawa. Dengan tertawa, dia pun menjawab, “ Demi sebuah cita-cita, aku punya tiga orang anak di sana yang harus aku hidupi seorang diri, karena suamiku meninggal sejak kelahiran anakku yang terakhir. Sementara aku bukanlah orang kaya maupun berpendidikan, rasanya mustahil kalau aku bisa bertahan di negeriku dengan segala keterbatasanku. Pergilah aku dengan membawa cita-cita dan harapan, aku ingin memberi kehidupan yang layak kepada mereka, pendidikan yang tinggi kepada mereka. Untuk itulah aku di sini, aku kirim uangku untuk biaya hidup dan pendidikan bagi mereka, dan sekarang hasil itu mulai nampak di depan mata, anakku yang paling besar sekarang menjadi guru, yang kedua menjadi sarjana tehnik dan yang terakhir sekarang menempuh pendidikan kedokterannya. Yun kita boleh sengsara, tapi jangan sampai anak-anak kita juga merasakannya. Bertahanlah dan atur hidup kita demi masa depan anak kita yang lebih cerah. Percakapan kami berakhir dengan panggilan madam tua kami yang minta disediakan obatnya. Sejak saat itu aku selalu berpikir, benar apa yang telah dikatakan, aku harus bercita-cita, aku bertekad menyekolahkan anakku sampai perguruan tinggi. Biarlah hari ini aku menjadi orang yang di bawah, tapi akan kujadikan engkau menjadi seorang yang diakui . Sejak saat itu aku mengubah gaya hidupku yang boros, aku simpan sisa uangku untuk biaya pendidikan bidadariku. Seiring dengan usaha yang aku lakukan, aku lebih mendekatkan diri kepada Allah, terutama setelah  aku sering mengobrol  dengan ibu Ina melalui telepon,  kami bertemu dan beliau memberi nomor telepon kepadaku saat aku berobat di  di klinik tempat beliau bekerja. Sampai akhirnya cita-cita ini tercapai, setelah 13 tahun, saat kau kabarkan kepada mak mu ini, bahwa kau ingin sekali ditemani saat menempuh ujian akhirmu nak. Kau bilang bahwa kau ingin mendapatkan semangat yang lebih saat belajar dengan mak di sampingmu. Dan kau berjanji kepadaku, bidadari mak ini akan memberikan pelangi terindah yang pernah mak impikan, yaitu mempunyai anak seorang sarjana.

30 Januari 2012
Kini aku telah pulang ke rumahku, kecil dan sederhana tapi aku merasakan kedamaian di dalamnya. Bidadariku telah benar-benar menjadi bidadari yang mampu membantuku menegakkan kepalaku di hadapan orang-orang yang telah menghinaku. Bidadariku telah bekerja di institusi ternama sebagai seorang dosen di sana. Tapi aku sudah tidak ingin lagi menyombongkan diri ini, karena kini aku tahu sombong adalah hak Allah bukan hak kita, karena kita hanyalah seorang hamba. Sekarang hari-hariku kuhabiskan untuk mengajari anak-anak kecil mengaji sambil menunggu bidadariku menyelesaikan tugas-tugasnya, amiin. (terinspirasi dari obrolan ringan dengan seorang pekerja domestik di tempat kerja, Um Yahya)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com