Tahun Baru, 1434 Hijriyyah



Bahasan Utama

Tahun Baru, 1434 Hijriyyah
Oleh : Ustadzah Latifah Munawaroh, MA


Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun berlalu dan terus berjalan. Malam dan siang senantiasa terus berganti sejalan dengan perjalanan kita di dunia ini. Matahari terbit dan terbenam merupakan pemandangan harian bagi kita. Waktu berkejaran, seakan-akan berteriak: Wahai anak Adam, ini aku, gunakanlah aku sebaik-baiknya. Aku tidak akan kembali lagi hingga hari Qiyamat. Ya, waktu itu tak kenal berhenti dan tak kenal lelah untuk istirahat. Pun, kita sebagai manusia juga tidak mampu untuk menghentikannya walau hanya sedetik saja.  Allah berfiman dalam Al Qur'an :

 يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ 

Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (QS Annur:44).

 وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا 

Dan Dia (pula) yang menjadikan siang dan malam silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran dan orang yang ingin bersyukur (QS Al Furqan:62).

Pergantian siang dan malam, menandakan pergantian waktu dan masa, di dalamnya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, bagi orang yang selalu ingat dan bersyukur. Ingat kepada Allah atas nikmatNya, ingat kepada Allah atas kekurangan-kekurangannya, serta senantiasa bersyukur terhadap semua yang Allah karuniakan kepadanya.

Tahun  1433 H sebentar lagi akan pergi meninggalkan kita dengan semua amalan yang telah kita kerjakan, pertanda tahun baru 1434 H akan datang menyapa kita dengan membawa kesempatan bagi manusia. Berkata Al Hasan Al Bashri : "Tiada suatu fajar yang menyingsing, kecuali ia akan memanggil dan berteriak "aku makhluk baru, dan aku menjadi saksi atas semua amalmu, maka berbekallah dariku, karena aku tidak akan kembali hingga hari Qiyamat". 

Seorang muslim yang cerdas akan menggunakan waktunya untuk ketaatan sebagai bekal.  Jika tutup tahun yang menandakan tahun baru akan datang, ia akan menghisab diri. Ia akan menghitung segala apa yang telah dilakukannya selama satu tahun lalu. Ibarat seorang manajer atau bisnisman, yang mempunyai perusahaan, sudah pasti dalam agenda akhir tahun, ada program accounting/penghitungan untung rugi yang diperoleh perusahaan tersebut. Jika perusahaan untung, ia akan meneruskan dengan semangat, berpikir kembali dengan mendatangkan para konsultan yang terkait untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar di tahun yang akan datang. Sebaliknya, jika ternyata  kerugian yang ia dapatkan, ia akan mencari-cari sebab kerugiannya, mempelajarinya, mencoba mencari pengganti dan metode untuk tidak rugi lagi di tahun yang akan datang, jika perlu, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengganti kerugiannya.  Begitulah seyogyanya seorang Muslim dalam menghadapi perpisahan dengan tahun lalu dan menyambut tahun baru.

Salah satu hal untuk kita tafakkurkan di akhir tahun ini, yaitu masalah muhasabah diri, yang secara bahasa berarti menghitung. Sedangkan yang dimaksud Muhasabah diri di sini ialah mengevaluasi dan introspeksi diri terhadap apa yang telah dikerjakannya pada waktu yang lalu.

Walaupun muhasabah diri sebenarnya dapat  dilakukan tiap harinya, tiap malam sebelum berbaring ke tempat tidur, menghisab apa saja yang telah kita lakukan pada hari itu, adakah ketaatan yang bisa menambah buku raport kita, atau bahkan yang kita lakukan adalah malah membuat tanda merah di buku raport itu, dapat juga ketika sebelum berbaring, sambil bermuhasabah memaafkan semua kesalahan orang lain terhadap kita, hingga hati kita menjadi bersih, jernih, jauh dari hasad, irihati, dengki dan semua penyakit hati. Hal ini adalah sesuatu yang mulia yang pernah dilakukan seorang sahabat hingga Rasulullah menjaminnya bahwa ia akan menjadi penduduk surga.

 Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.

Muhasabah jenis ini, mungkin bagi kebanyakan orang terasa agak sulit dalam prakteknya dikarenakan tiada moment yang bisa menyemangati. Tetapi ketika tahun baru menjelang, di sinilah waktu yang cocok untuk menghisab diri, mencerna diri kita masing-masing. Satu tahun telah berlalu, satu tahun pula jatah usia kita telah berkurang dengan membawa kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan dan tidak akan kembali hingga kita menemuinya nanti pada hari qiyamat.

Muhasabah diri ini adalah merupakan hal yang penting dilakukan oleh setiap muslim. Al Qur'an memberikan isyarat tentang hal ini dalam surat Al Hasyr : 18 yaitu :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ibnu Katsir menafsirkan “hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya” dengan makna : “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, lihatlah apa yang kalian sudah tabung untuk diri kalian dari amalan sholih sebagai bekal hari berhadapan dengan Tuhan kalian. Dan ketahuilah bahwa Dia MahaTahu dengan semua amalan kalian, tiada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah”.

Rasul bersabda tentang muhasabah : "Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR.Imam Turmudzi, ia berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan")   Umar Bin Khothob juga memberikan wejangan kepada kita : "Hisablah diri kalian (di dunia) sebelum kalian di hisab nanti (di hari akhir), dan timbanglah diri kalian sebelum kalian di timbang. Dan berhiaslah untuk hari berhadapan kepada Allah, lalu ia membaca firman Allah yang artinya : “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (Al Haqqah : 18).
Muhasabah diri sangat penting bagi kehidupan seorang muslim. Ia bagaikan rem atau rambu-rambu bagi kita dalam berjalan di muka bumi ini. Dengan muhasabah diri, seseorang akan tahu tentang aib dirinya sendiri, jika ia tahu akan aibnya maka ia belajar untuk memperbaikinya, sebaliknya jika ia meninggalkannya, ia tidak akan bisa mengetahui aibnya sendiri, sehingga aib ini sulit dihilangkan. Dengan Muhasabah pula, kita akan merasakan pengawasan Allah, disamping ia akan menjadikan kita lebih tenang nanti karena di dunia kita telah bermuhasabah diri.  Seseorang akan menjadi semakin hina dan semakin faqir di hadapan Allah dengan bermuhasabah pula. Semakin ia menjalankannya semakin ia akan tahu aibnya sendiri yang jarang ia lihat. Semakin aib itu ia ketahui, semakin rasa hina dan rasa fakir akan bertambah di hadapan Sang Maha Pencipta, Maha Sempurna.

Muhasabah diri juga dapat membantu seseorang untuk menyesali kesalahan dan bertaubat atasnya serta bersemangat untuk melakukan hal-hal yang ia tinggalkan dalam upaya perbaikan diri di hadapan Allah.  Sebaliknya, jika ia meninggalkan aktifitas ini, maka ia akan menemukan marabahaya nanti. Bahaya akan penyakit hati. Ibnul Qoyyim berkata : “dan hal yang berbahaya baginya yaitu : melalaikan, dan meninggalkan muhasabah diri, memudahkan semua perkara, karena sesungguhnya hal tsb akan membawa kepada kebinasaan. Dan inilah kondisi orang yang takabbur, ia menutup dua matanya dari siksaNya dan berjalan seadanya dan pasrah kepada AmpunanNya, ia lalai bermuhasabah diri… “.  Seseorang merasa enteng berbuat kemaksiatan, jika meninggalkan aktifitas Muhasabah. Itu pula yang ditegaskan oleh Ibnul Qoyyim, salah satu alim ulama, ahli terapi hati.

Macam-Macam Muhasabah Diri :

Ibnul Qoyyim menjabarkan tentang macam-macam muhasabah diri secara umum. Beliau membagi muhasabah diri menjadi dua yaitu sebelum beramal dan setelah beramal.

1.      Muhasabah sebelum beramal :

yaitu hendaklah seseorang melihat sebuah amalan, apakah amalan tersebut ada kebaikan di dunia dan di akhirat, sehingga ia mengamalkannya. Atau amalan tersebut akan membawa kejelekan di dunia ataupun di akhirat, maka ia akan tinggalkan. Kemudian ia melihat juga, apakah amalan ia karena Allah, atau karena manusia. Jika karena Allah, ia teruskan. Jika karena manusia maka ia tinggalkan.

2.Muhasabah setelah beramal :

  A. Muhasabah atas ketaatan yang tertinggal. Melihat apakah sholat yang ia lakukan telah sesuai rukun dan syaratnya, apakah puasanya sudah sesuai yang diperintah. Jika belum, maka ia berusaha untuk memperbaikinya pada amalan berikutnya.
  B. Muhasabah atas amalan yang sebenarnya meninggalkannya lebih baik dari melakukannya, karena ia telah menaati hawa nafsunya.  Dalam hal ini ada kaedah yang berasal dari hadits “tinggalkan hal-hal yang meragukanmu kepada hal-hal yang tidak meragukanmu”.
  C. Bermuhasabah atas perkara mubah dan kebiasaan: kenapa ia mengerjakannya ? apakah karena Allah sehingga ia beruntung, atau karena manusia dan dunia hingga ia akan merugi”.
Nah, bagaimana caranya jika ingin mulai muhasabah diri terhadap satu tahun yang telah lalu. Apa yang perlu kita muhasabahi ?.

Setidaknya ada beberapa aspek dalam kehidupan kita yang perlu dimuhasabahi, baik aspek internal antara seorang hamba dengan Allah, ataupun aspek eksternal antara seorang hamba dengan lingkungan dan masyarakatnya, serta aspek upaya dalam perncarian nafkah.

Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt.


Aspek Internal

Aspek ini sering di sebut dengan hablum minallah yang meliputi dimensi khusus dalam beribadah. Sudahkah ibadah yang ia lakukan sesuai dengan syariat Islam ?. sudahkah ia jalankan sholat, puasa, zakat, ataupun haji bagi yang telah mampu ?. jika jawabannya ya, sudahkah semua dilakukan dengan hati yang khusyu' penuh dengan rasa khouf (takut) dan rasa raja' (penuh harap).

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus". (QS. Al Bayyinah : 5)

  Aspek Eksternal

Aspek ini sering dikenal dengan istilah hablum minannas, yaitu meliputi hubungan mu'amalah/pergaulan dengan masyarakat, dalam  tingkatan yang kecil seperti dalam tingkatan keluarga, atau dalam tingkatan yang lebih besar lagi yaitu tatanan dalam bertetangga dan bermasyarakat. Bagaimana akhlaqnya dengan istri/suaminya ? dengan anak-anaknya ? sudahkah ia jalankan kewajibannya terhadap mereka ?. bagaimana pula akhlaqnya dengan tetangga dan masyarakatnya ?.  Adakah kemanfaatan yang ia lakukan untuk masyarakatnya ?.
Aspek ini perlu diberi perhatian yang lebih dalam bermuhasabah. Ibadah dan hablun minallah yang ia bina tak akan membawa pahala jika ternyata dalam prakteknya ia tidak dapat menjaga lisannya, tidak dapat menjaga akhlaqnya.  Barangkali kita masih sangat ingat dengan perumpamaan Rasul yang mengibaratkannya dengan seorang yang bangkrut.
Suatu ketika Rasul bersabda : ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu ?". Sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan". Tetapi dijawab oleh Rasul dengan sabdanya :
"Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa), menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka". (HR. Muslim)

Aspek Pencarian Nafkah                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

Sebuah hadits Rasul yang kiranya cukup menjadi bahan renungan setiap muslim untuk dijadikan bahan muhasabah diri yang akan membantunya nanti dalam hisab hari Qiyamat.
"Tidak akan bergerak telapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’(HR. Turmudzi)
Dan akhirnya, kita semua berdoa semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang lebih baik dan lebih bermanfaat di tahun yang akan datang. Semoga Allah mudahkan kepada kita untuk bermuhasabah.
Ya Allah,  berikan kami kebahagiaan dengan tahun baru 1434 H ini, jumpakan kami dengannya dengan penuh keimanan dan kecintaan kepadaMu. Berikan keamanan pada tiap negeri dijunjung kalimatMu. Kami memohon kepadaMu kasih sayang dan ampunanMu. Aamiin.

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com