AYAH, AKU INGIN BERSAMAMU DI SURGA



Annisa kaget membaca sederetan SMS dari kakaknya dari Indonesia, “Dik nenek meninggal dunia, setengah jam yang lalu. Doakan semoga beliau diampuni dosanya.” Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, hanya itu yang terdengar dari mulut Annisa, Annisa melihat jam di dinding rumahnya yang menunjukkan pukul 5 sore waktu Kuwait, artinya nenek meninggal sekitar pukul 8.30 malam waktu Indonesia. Belum sempat Annisa membalasnya, telepon Annisa berdering, “Mbak, nenek meninggal, “kata adiknya di seberang. Annisa menjawab, “Iya, mbak sudah tahu, tadi kakak mengirim SMS, sebentar lagi aku akan menelpon ibu di rumah.” Setelah adiknya menutup telepon, buru-buru Annisa menelpon ibunya di Indonesia, telepon berdering di seberang sana, tapi tak ada yang menjawabnya, setelah dicoba ketiga kalinya, ibu menjawab, “Iya, nenek telah meninggal jam 8.30 malam tadi, doanya buat nenek ya. Mungkin ibu tidak bisa lama-lama mengobrol, besok kamu telepon lagi setelah acara penguburan, rencana akan di kuburkan jam 10 pagi.” Ditutupnya telepon, Annisa termangu sedih mengingat nenek, nenek yang sangat mencintai mereka. Dia sangat sedih, bukan hanya karena kehilangan neneknya, tapi juga karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk neneknya. Sholat ghaib untuk beliau dan memintakan ampun untuk dosa-dosanya, rasanya hal itu tidak mungkin dilakukan karena nenek meninggal dalam keadaan bukan sebagai seorang muslim, Rasulullah SAW sendiri, dilarang untuk memintakan ampun Abi Thalib, paman beliau yang sudah begitu menyayangi dan melindungi beliau dari musuh. Annisa semakin merasa sesak dadanya, saat mengingat dashyatnya adzab di neraka. “Ya Allah, aku pasrahkan nenekku kepadaMu,” itu saja yang keluar dari mulut Annisa.

Tidak mungkin memintakan ampun buatnya karena nenek meninggal tidak dalam keadaan muslim.

Kesedihan Annisa masih tampak menggelayuti wajahnya, dia masih termangu sendirian di ruang tamu, dia merasa ada satu beban berat yang mengganjal di hatinya seiring berita kematian nenek, tetapi Annisa bingung dan tidak tahu apa yang terasa menghimpitnya. Lamunannya tersentak oleh alunan adzan maghrib yang mulai bersahutan, Annisa segera mengambil air wudhu, setelah selesai wudhu, dia mulai mengenakan mukenanya dan bersiap untuk sholat, seketika itu, tiba-tiba dia teringat ayahnya. Ya, inilah sebenarnya yang menjadi beban pikirannya, nenek meninggal dalam keadaan bukan sebagai seorang muslim dan Annisa merasa dia belum berbuat banyak untuk membimbingnya. Kini Annisa teringat ayahnya, ya ayahnya juga masih memilih jalan yang lain dalam usahanya menuju surga, bukan jalan Islam. Annisa dan saudara-saudaranya memang bukan lahir di keluarga muslim, dalam keluarga besar mereka agama bukanlah hal penting yang perlu diperhatikan. Beberapa pamannya penganut Kristen, keluarga budhe satu-satunya keluarga muslim di keluarga mereka, dan sisanya boleh dibilang tanpa agama, bagi mereka, berbuat baik kepada sesama itu sudah cukup untuk mendapatkan pahala. Keluarga Annisa termasuk dalam bagian yang terakhir ini, tetapi karena interaksinya yang lebih dengan keluarga budhenya,  juga pengaruh pelajaran di sekolah, menjadikan Annisa dan kedua saudaranya memilih sebagai muslim, dan alhamdulillah sekarang ibunya pun telah memilih jalan yang indah ini, meskipun belum sempurna dalam menjalankan kewajibannya. Annisa mulai khusyuk dalam sholatnya, pada saat dia sujud, Annisa menangis, terguncang, ketakutan serta kekhawatiran mencekam hatinya, “Ya Allah berilah hidayah kepada ayahku dan ampuni ibuku dan tetapkanlah hatinya dalam Islam.” Itu doa yang terpanjatkan di dalam hatinya.

Sejak saat itu, Annisa merasakan beban berat menggelayutinya, setiap dia beribadah, bayangan ayahnya berkelebat. Ini bukan berarti Annisa baru sekarang memikirkan keadaan ayahnya, beberapa usaha telah dia coba. Begitu dia mulai mengenal Islam lebih dalam, perasaan gelisah selalu ada, karena kondisi yang berjauhan dan hubungan yang tidak begitu akrab antara dia dengan ayahnya, dan sifat ayahnya yang pemarah, maka Annisa memilih untuk mengirim surat kepada ayahnya agar mencari jalan keselamatan melalui Islam. Dan saat kepulangan Annisa pada saat cuti pun hampir tidak ada kesempatan untuk berbicara itu semua, setiap kali pembicaraan mulai mengarah ke hal tersebut, ayah cenderung terlihat menghindar, tapi bukan berarti ayah menentang. Bahkan kalau diperhatikan, ayah suka mendengarkan ceramah-ceramah para dai kondang yang disiarkan di radio, bahkan ayah hafal beberapa nama mereka. Pada saat Annisa mengenakan pakaian muslim secara sempurna pun, ayah tidak pernah menentang atau menegur sekalipun. Annisa pernah meminta membicarakan hal itu kepada kakaknya, pun hasilnya nihil.
Setahun telah berlalu, kematian nenek mulai terlupakan, tapi kegelisahan Annisa tidaklah berkurang setiap memikirkan keadaan ayahnya. Apalagi akhir-akhir ini di majelis taklim yang dia ikuti membicarakan bab birrul walidain dan juga bab kematian. Semakin sedih hatinya, tanpa tahu apa yang harus dia perbuat lebih buat ayahnya. Annisa tahu bahwa bagaimanapun orang tuanya, biar dia kafir sekalipun, sebagai anak tetaplah dia harus berbuat baik untuk mereka. Tapi Annisa tidak ingin kebaikan itu hanya mampu dia berikan saat ayahnya masih ada di dunia, Annisa menginginkan lebih dari itu. Annisa ingin setiap untaian doa darinya mampu membahagiakan ayahnya di alam akhirat nanti, setiap ampunan doa yang dia pinta mampu meringankan beban ayahnya, dan setiap ayat yang dia lantunkan mampu menaikkan derajatnya di surga. Beban yang berat bagi Annisa, bayangan yang mengerikan, tak terbayangkan panasnya neraka akan membakar orang yang telah merawatnya, untuk selama-lamanya, tanpa ada akhirnya. Suaminya berusaha menghibur dan berdiskusi tentang semua itu, mereka berjanji akan mencoba berbicara lagi dengan ayah pada saat mereka pulang cuti nanti.

Hal yang tidak terduga telah datang, kabar dari rumah bagaikan petir yang meyambar hati Annisa, menyedihkan melebihi berita kematian nenek saat itu. Ayah sakit keras, begitu ibu mengabarkan saat Annisa menelpon ibunya pagi itu. Annisa cemas, diteleponnya Arif suaminya yang sedang bekerja. Keputusan pun diambil, mereka berdua akan pulang, bukan sekedar menengok ayah tetapi karena mereka tidak ingin semuanya terlambat, ayahnya kembali kepada Sang Penguasa tanpa adanya iman. Annisa berkemas, Arif mencari tiket melalui kenalannya. Alhamdulillah semua berjalan lancar, malam itu juga mereka pulang, pulang untuk menyelamatkan iman.
Siang itu, Arif dan Annisa telah sampai di rumah orang tuanya, segera mereka menuju rumah sakit di mana ayah dirawat, Annisa menangis, duduk di dekat ayahnya, diciumnya pipi dan tangan ayahnya, digengamnya erat tangan tua yang mulai melemah itu, ayah tersenyum lemah melihat kedatangan mereka berdua, ayah berkata dengan suaranya yang sangat lemah, “Ayah bahagia melihat kalian berdua, ayah bangga kepadamu Nis, dan ayah juga berterimakasih kepadamu nak Arif atas apa yang telah kau lakukan kepada keluarga kami.” Hanya airmata Annisa yang mampu menetes menjawab setiap perkataan ayahnya, dengan setengah berbisik Annisa menempelkan bibirnya ke telinga ayahnya, “Ayah, Annisa sangat bangga menjadi anakmu, jangan biarkan Annisa membiarkanmu seorang diri tanpa keluarga nanti di akhirat. Hanya satu yang Annisa minta, ayah ucapkan kalimat La illaha illallah. Annisa akan membimbing ayah.” Annisa diam sejenak, mengelap mukanya yang mulai basah dengan airmata, memandang ayahnya dengan kasih sayang. Ayah hanya tersenyum kecil dan perlahan…..ya Rabb, ayah menggelengkan kepala pelan. Ingin rasanya Annisa berlari dari sana, tapi genggaman tangan Arif menguatkan dirinya untuk berjuang, sekali lagi dielusnya kepala ayah dengan penuh kasih sayang dengan harapan ayah akan berubah pikiran, tapi dari bibir yang mengering itu terucap, “Carilah jalanmu menuju surga, ayah telah mencari jalannya sendiri.” Annisa tidak berputus asa, dengan dukungan suaminya, Annisa ingin menunjukkan pengabdian terbaik kepada ayahnya, sebagian dari cara dakwah mereka untuk mengajak ayahnya kepada Islam. Waktu cutinya yang hanya dua minggu, digunakan mereka hanya untuk merawat dan menemani ayah. Setiap ada kesempatan Annisa berusaha berbicara kembali tentang semua itu, tetapi keadaan tidak berubah, ayah hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. Keadaan ayah mulai membaik, dan waktu dua minggu telah selesai, kecewa memang, tapi di satu sisi Annisa sadar bahwa hidayah datangnya dari Allah, dan dengan sehatnya ayah kembali, berarti masih ada satu harapan, suatu hari ayah akan berubah.

Ya Allah jangan kau tutup hatinya dari kebenaran Islam

Waktu berlalu, Annisa masih dalam harapannya dan lantunan doa-doa tak lupa dipanjatkan, doa pengampunan buat ibunya dan doa hidayah buat ayahnya. Tahun ini mereka merencanakan untuk pergi umroh, sore itu Arif bertanya, “Adik mau minta apa sama Allah kalau kita mengunjungi rumahNya nanti. Mas ingin berdoa banyak untuk kita semua.” Annisa tersenyum, dan berpikir tentang apa yang akan dia pinta nanti, Annisa hanya menjawab, “Aku hanya ingin memintakan hidayah buat ayah.” Bulan Mei, mereka berdua pergi umroh, Annisa sudah tak sabar lagi, ingin rasanya dia bersimpuh di depan Ka’bah, menangis dan meminta dengan penuh harap. Malam itu setelah sampai di penginapan, tanpa menunggu waktu, setelah selesai memasukkan barangnya, bersegera mereka untuk berthawaf. Begitu menginjakkan kakinya di masjidil haram, tangis Annisa meledak, di setiap putaran thowaf tak hentinya dia berdoa buat sang ayah, begitu di depan Multazam, satu bagian kabah dimana kalau kita berdoa, insya Allah mustajab, Annisa berhenti dan mulai mendekat, dia tidak peduli kerumunan yang padat di situ. Dia menangis, berdoa dengan segenap hatinya, penuh pengharapan. Begitu juga di akhir putaran ketujuh, Annisa kembali mendekati multazam, kerumunan orang bertambah padat, Annisa tidak perduli, yang dia perduli hanyalah hidayah buat sang ayah, Annisa tidak mau beranjak meskipun Arif sudah berusaha membujuknya. Arif berjanji akan mengajaknya kembali ke kabah untuk berdoa, karena dia mulai melihat Annisa yang mulai kelelahan dan terhimpit padatnya orang. Akhirnya Arif dengan sedikit memaksa, menarik Annisa ke belakang, karena badan Annisa mulai melemah. Arif menuntun tubuh Annisa yang lemah di dekat tangga masjid, duduk dan disandarkannya kepala Annisa di tembok, disodorkannya segelas air zamzam ke bibir istrinya. Annisa hanya pasrah, dan tak lepas matanya memandang kabah, dan dari bibirnya senantiasa berdoa, tanpa terputus, “Ya Allah berilah hidayah kepada ayahku, aku datang ke rumahMu semata-mata demi hidayah untuknya. Jangan kau tutup hatinya dari kebenaran Islam. Jangan kau ambil dia dalam keadaan dia durhaka kepadaMu. Airtamata Annisa semakin membasahi mukanya mengiringi doa-doanya. (Buat Ayah, jangan pernah kau tinggalkan dunia tanpa aku bisa memintakan ampun untukmu, dan aku ingin bersamamu di dalam surga, doa dan harapan yang tidak pernah padam, Khadijah)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com