Bersyukurlah Kepada KU, dan Kepada Orang Tuamu


Bahasan Utama:


Bersyukurlah Kepada KU, dan Kepada Orang Tuamu
Oleh : Ustadzah Latifah Munawaroh, MA

Petikan dari ayat 24 dari surat Al Isra’ di atas mengingatkan kita tentang pentingnya bersyukur kepada orang tua, setelah bersyukur kepada Allah. Di mana hal ini, termasuk salah satu bentuk Birrul Walidain terhadap mereka.

Birrul Walidain merupakan kewajiban seorang muslim. Kewajiban dalam kaitan menjalankan kewajiban kita terhadap orang tua. Mereka yang tak kenal lelah telah melahirkan kita, mendidik dan mengasuh kita. Mereka yang selalu memikirkan kita, walaupun kita sudah menjadi orang tua bagi anak-anak kita, namun bagi mereka kita tetaplah anak-anak buat mereka, orang tua kita. Jikalau kita mencoba menghitung usaha dan upaya mereka demi kebaikan kita, niscaya kita tidak bisa menghitungnya, karena ini juga merupakan nikmat Allah. Tak ayal lagi, Allah memerintahkan kita untuk bersyukur kepada mereka, orang tua kita, setelah bersyukur kepada Allah.


Kata Birrul walidain merupakan istilah yang diambil dari bahasa Arab, tetapi sudah melebur menjadi istilah Indonesia. Apa arti Birrul Walidain? Bagaimana hakikatnya ?

Birrul Walidain merupakan gabungan dari dua kata, yaitu kata Al Birru (البر) dan kata Al Walidani (الوالدان). Kata Al Birru ( البر ), secara bahasa artinya yaitu berbuat baik. Sedangkan kata Al Walidaani (الوالدان ), berarti kedua orang tua ; bapak dan ibu. Kata Al Birru dan Al Walidaani jika digabung, akan menjadi bentuk Idhofah, yaitu Birrul Walidain (بر الوالدين ), yang berarti berbuat baik dan ihsan kepada keduanya, bersyukur, menghormati, ta’at kepada keduanya selama dalam hal yang ma’ruf juga termasuk bentuk dari Birrul Walidain.

Salah satu keagungan agama Islam, perhatiannya dalam masalah birrul walidain, baik dalam ayat-ayat Al Qur’an ataupun hadits Nabi. Betapa besar Islam memberi perhatian kepada masalah ini, bahkan karena perhatian ini, Islam pun dinamakan dengan Diinul Birri (دين البر), agama yang mengajak kepada berbuat baik secara umum, kepada kedua orang tua, secara khusus.

Perhatikan ayat-ayat berikut ini, dengan susunan redaksi “wabil walidaini ihsaanaa”. Yang artinya: “..Dan berbuatbaiklah kepada orang tuamu”, ini berbarengan setelah perintah untuk menyembah Allah dan larangan menyekutukan Allah. Ini  menunjukkan betapa penting sekali masalah ini.
Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak….” (QS. Albaqarah : 83)

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak….” (QS. An Nisa : 36)

”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…” (QS. Al Isra’ : 23)

Tiga ayat di atas, terdapat perintah secara jelas tentang berbuat baik kepada orang tua, atau birrul walidain istilahnya. Dimana perintah ini berbarengan dengan perintah untuk bertauhid, menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan suatu apapun. Seperti halnya di dalam Al Qur’an, perintah zakat yang selalu berbarengan setelah perintah sholat, perintah birrul walidain ini berbarengan setelah perintah tauhid kepada Allah.
Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak…

Ibumu, Ibumu, Ibumu, lalu ayahmu

Berinteraksi dengan orang tua dengan cara yang terbaik merupakan ibadah dan merupakan salah satu sebab keridhoan Allah disamping tentunya akan berbuah pahala di akhirat nanti. Dengan ini pula kita berusaha untuk membalas apa yang telah mereka korbankan demi kita, khususnya di saat-saat orang tua kita menginjak usia senja.  Di mana pada usia senja ini mereka membutuhkan kita.  Tersebut dalam sebuah hadits riwayat Bukhori Muslim, seorang laki-laki datang kepada Rasul seraya bertanya: “ya Rasul, siapakah orang yang paling berhak untuk aku berinteraksi dengannya dengan cara yang paling baik?”. Rasul menjawab: “Ibumu”. Ia bertanya lagi: “lalu siapa ?”. Rasul menjawab lagi: “Ibumu”. Ia pun bertanya lagi: “kemudian siapa ya Rasul ?”. Rasul kembali mengulangi: “Ibumu”. Ia bertanya lagi: “ lalu ?”. Rasul pun menjawab: “ayahmu”.

Dalam sunan Ibnu Majah pun tertulis sebuah hadits “sesungguhnya Allah mewasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian (tiga kali), lalu kepada yang terdekat, dan yang terdekat”. Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang terdekat dengan kita, merupakan kewajiban kita untuk berbuat Al Birru “berbuat baik” kepada mereka, khususnya Ayah dan Ibu kita.

Birrul Walidain Sebelum Berjihad

Islam sangat memperhatikan perintah birrul walidain, berbuat baik kepada orang tua, mengasuh mereka sebagai mana mereka mengasuh kita di waktu kecil. Bahkan menjadikan birrul walidain ini setingkat dengan berjihad di jalan Allah. Tiada seorang keluar berjihad di jalan Allah untuk membela agama Allah, sementara kedua orang tua membutuhkannya.

Termaktub dalam Bukhori dan Muslim, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah berbaiat kepadanya untuk berjihad dan berperang. “Adakah salah satu dari orang tuamu masih hidup ?” Tanya Rasul. “bahkan keduanya masih hidup semua, wahai Rasulullah”, jawab pemuda itu. “kembalilah kepada mereka dan berbuat baiklah dalam bergaul dengan keduanya”, perintah Nabi kepada sang pemuda.

Bahkan dalam riwayat lain disebutkan perintah minta ijin kepada orang tua sebelum berangkat berjihad : Seorang laki-laki dari Yaman, hijrah kepada Nabi untuk dibolehkan ikut berjihad. Rasul bertanya : “apakah di Yaman kamu mempunyai salah satu dari orang tuamu?”. Ia menjawab : bapak ibuku ada di Yaman. Rasul kembali berkata : “apakah keduanya mengijinkanmu?”.  Ia menjawab : “Tidak”.  Rasul kembali berpesan : “kembalilah kepada keduanya, jika keduanya member ijin maka pergilah berjihad, jika keduanya tidak member ijin maka jangan pergi”. (HR. Abu Dawud).  Coba perhatikan dua hadits di atas, jihad di jalan Allah yang merupakan amalan yang agung ini, tidak dapat dilakukan tanpa mendapat ijin orang tua.

Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil

Ketaatan Kepada Keduanya Selama Dalam Hal Yang Ma’ruf

Termasuk birrul walidain yaitu mendengar dan menjalankan perintah keduanya, dalam istilah lain, taat kepada keduanya. Ketaatan ini tentunya tidak ta’at muthlaq. Karena ketaatan muthlaq tanpa batas, hanya ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Ketaatan kepada selain kepada Allah dan RasulNya, maka sifatnya keta’atan yang terikat, yaitu ketaatan selama dalam hal yang ma’ruf. Adapun ketaatan dalam hal yang tidak dibolehkan, maka hal ini terlarang.  Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasul bersabda: “Tiada ketaatan kepada makhluq dalam hal maksiyat kepada Sang Kholiq”, itulah salah satu prinsip yang ditekankan oleh Rasulullah terkait masalah taat kepada makhluq.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. (Q.S Luqman:15)

Tercatat bahwa ayat 15 dari surat Luqman ini turun atas Sa’ad Bin Abi Waqqash. Suatu ketika Ummu Sa’ad bin Abi Waqqash bersumpah untuk tidak berbicara dengan Sa’ad hingga ia (Sa’ad) keluar dari Islam dan kembali kepada kekafiran, ia berkata kepada Sa’ad: “Kau bilang bahwa Allah memerintahmu untuk berbuat baik pada orang tuamu. Aku ini ibumu, dan aku memerintahmu untuk ini (untuk kembali kepada Kafir)”. Hal ini berlangsung 3 hari hingga si ibu jatuh pingsan karena lelah dan kecapean, tiada kekuatan (karena tidak makan), hingga saudara Sa’ad memberinya minum, lalu si ibu bangkit lagi dan mendoakan kejelekan buat Sa’ad, hingga turunlah ayat : 15 ini. (HR. Muslim)

Dalam riwayat Abu Dawud, Sa’ad berkata: aku adalah seorang anak yang berbakti kepada orang tua, hingga aku masuk Islam, ibuku berkata: Hai Sa’ad, apa yang terjadi denganmu. Tinggalkan agamamu, atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati, dan kau akan dicela oleh orang-orang hingga mereka mengatakan: Hai si pembunuh ibunya. Aku  berkata kepada ibuku: Jangan kau lakukan itu wahai ibuku, aku tidak akan tinggalkan agamaku untuk perintah ini. Hingga ia tetap dalam kondisi tidak makan minum sampai tiga hari, hingga ia sampai pada puncak lelah badannya, dan aku berkata: “wahai Ibu, demi Allah, jika kau punya 100 nyawa dan satu per satu nyawa itu keluar dari badanmu, aku sekali-kali tidak akan meninggalkan agamaku”.

Birrul Walidain Setelah Orang Tua Wafat

Perintah untuk birrul walidain ini tidak terputus hanya pada batasan orang tua masih dalam kondisi hidup di dunia saja, tetapi lebih jauh dari itu. Islam tetap memerintahkan kepada para pemeluknya untuk birrul walidain meskipun mereka; salah satunya, ataupun keduanya sudah wafat, menghadap kepadaNya.

Mendoakan untuk keduanya yang telah wafat,  memohon istighfar dan ampunan untuk keduanya, atau bersedekah untuk dikirim pahalanya kepada mereka, bahkan menghormati teman dan kerabat orang tua yang telah meninggal juga merupakan beberapa bagian dari birrul walidain setelah mereka wafat. Boleh juga mewakafkan harta untuk diniatkan pahalanya buat mereka yang telah meninggal, insyaAllah inipun akan sampai pahalanya kepada mereka.

“Ya Rasulullah, apa yang tersisa dari birrul walidain yang bisa aku kerjakan untuk orang tuaku yang telah meninggal?”. Tanya seorang laki-laki kepada Rasul. “ya. Mendoakan untuk keduanya, memohonkan ampun untuknya, menjalankan wasiatnya, bersilaturrahim kepada saudara karib kerabatnya, dan menghormati teman mereka”. (HR. Ahmad)
“Ya Allah, ampunilah aku, ampuni kedua orang tuaku, sayangi mereka sebagaimana mereka mengasuhku sewaktu kecil”.

Birrul Walidain, Walaupun Orang Tua Kita Orang Kafir

Orang Tua; bapak ibu adalah tetap orang tua, walaupun mereka tidak seorang yang muslim. Mereka masih mempunyai hak, untuk kita berbirrul walidain. Allah dan RasulNya memerintahkan kita untuk berbuat baik pada mereka berdua, walau mereka bukan muslim sekalipun. “…dan pergauli keduanya di dunia dengan baik”.  Cuplikan dari ayat 15, surat Luqman ini bersifat umum untuk berbuat baik dan bergaul dengan orang tua dengan baik, baik mereka orang yang muslim ataupun mereka orang kafir.

Asma’ binti Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah, apakah ia wajib bersilaturrahim dengan ibunya, padahal ibunya seorang yang musyrik. Rasul menjawab, : “ya, bersilaturrahimlah kepadanya”. (Muttafaq Alaih).

Uququl Walidain Adalah Dosa Besar

Jikalau Islam menempatkan posisi tinggi dalam birrul walidain, bahkan perintah ini berbarengan setelah perintah Tauhid, selain perintah bersyukur kepada orang tua juga datang setelah perintah bersyukur kepada Allah, lebih jauh lagi birrul walidain ini merupakan pintu keridhoan Allah kepada orang yang berusaha membuat ridho orang tuanya, “Ridho Tuhan, dalam ridho orang tua. murka Tuhan, ada dalam murka orang tua”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Sebaliknya, uququl walidain, atau durhaka kepada orang tua ini merupakan dosa besar. Durhaka atau tidak berbuat baik kepada orang tua ini termasuk sebuah kemaksiatan di sisi Allah. Berkata kasar kepada mereka, berbuat tidak sopan, tidak taat kepada mereka selama dalam hal yang ma’ruf, bahkan berkata “huss..”  kepada mereka merupan beberapa bentuk uququl walidain, yang meruapan dosa besar. Hal ini diterangkan oleh banyak hadits, di antaranya :
“Dosa besar: syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh jiwa tanpa haq…” (HR.Ahmad).

“Tiga golongan tidak masuk surga, tidak dipandang oleh Allah pada hari qiyamat : orang yang durhaka kepada orangtuanya,….” (HR. Ahmad)

“Maukah kalian aku beri tahu tentang dosa yang paling besar?”. Para sahabat berkata: tentu ya Rasulullah. Rasul berkata: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua..” (HR. Bukhori)
Cukup kiranya tiga hadits di atas menjadi peringatan bagi kita semua, untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam bergaul kepada orang tua kita.

Berbaktilah Kepada Orang Tuamu, Niscaya Anak-anakmu Berbakti Kepadamu

Hal ini sesuai prinsip bahwa balasan kita adalah sepadan dengan perbuatan kita. Jika kita taati orang tua kita, berbuat baik kepada mereka, dengan niatan ibadah kepada Allah, dengan harapan bahwa Allah akan meridhoi kita dengannya, maka niscaya jika kita telah menjadi orang tua, insyaAllah anak-anak kita akan berbakti pula kepada kita. Sebaliknya, jika kita biarkan orang tua kita, tidak berbakti kepadanya, niscaya tunggu saat nya nanti jika kita menjadi orang tua, niscaya anak-anak kita pun tidak akan mau birrul walidain kepada kita. Bukankah balasan kebaikan adalah berupa kebaikan yang sama ?!.

Ya Rabb, bantu kami untuk senantiasa dapat merasakan ibadah birrul walidain hingga RidhoMu dapat kami Raih. Aamiin.

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com