Masbuq Sholat Ied & Jum’at - Sholat Berjamaah bagi Lelaki


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

1- Masbuq Sholat Ied dan Sholat Jum’at

Pertanyaan:
Assalamualaikum Warahmatullah

Saya ingin bertanya terkait masalah masbuq. Saat shalat Ied, ada jamaah yg terlambat datang sehingga tertinggal. Bagaimanakah cara masbuq dalam shalat ied? Apakah sama dengan masbuqnya shalat jumat?

Aty FH Kosasih

Jawaban:      
Waalaikumus Salam Warahmatullah Wabarakatuh.
Alhamdulillah, Was Sholatu Was Salamu ala Rasulillah, Wa ba’du.
Sholat Iedain (sholat dua hari Raya : Iedul Fitri & Iedul Adha) merupakan bentuk ibadah yang dianjurkan, sebagai ekspresi rasa syukur kita kepada Allah di mana Allah beri kekuatan untuk beribadah sebelumnya. Sholat Iedul Fitri, sebelumnya kita lakukan satu bulan penuh puasa, disamping ibadah-ibadah lain. Sholat Iedul Adha, sebelumnya kita bertemu dengan 10 hari pertama dari bulan Dzul Hijjah, yang merupakan hari-hari termulia untuk beribadah.
Sudah seharusnya seorang muslim, memperhatikan sholat Ied ini, baik sholat Iedul Fitri atau sholat Iedul Adha, dimana jumhur Ulama’ berpendapat bahwa hukumnya adalah sunnah muakkadah, yang selalu dijaga oleh Rasul dan para Sahabatnya. Rasulpun menganjurkan kepada semua ummat Islam untuk menghadiri dan melaksanakannya. Tak luput juga, beliau memerintahkan untuk mengajak semuanya, perempuan dan laki-laki, anak kecil, remaja, dan orang tua, bahkan wanita yang sedang haidh pun diperintahkan untuk menghadirinya tetapi menjauhi tempat sholat ini, dalam artian ia tetap disunnahkan  untuk menyaksikan sholat ied dengan mengambil posisi bukan ditempat sholat. Kita sebagai orang tua, juga berkewajiban untuk mendidik anak-anak kita untuk senantiasa dapat ikut menghadiri sholat ini. Bagi yang mempunyai asisten ataupun pembantu, diharapkan juga untuk mengajaknya untuk menunaikan sholat Iedain ini, yang mana merupakan kesempatan berbahagia buat semua muslim, yang datangnya hanya dua kali dalam tiap tahunnya. Berikan kesempatan kepada mereka untuk ikut merasakan bahagia hari raya, yang bermula dari sholat hari raya.
Rasulullah memerintahkan kaum muslimin, juga para muslimat untuk keluar menyaksikan sholat Iedain/dua hari raya
Terkait  masalah masbuq, sebelum kita bahas tentang hukum masbuq, kita akan bahas arti dari masbuq. Apakah arti masbuq dalam sholat ?
Secara bahasa, kata Al Masbuq (المسبوق ) artinya yaitu terdahului oleh orang lain, atau tertinggal. Sedangkan secara istilah Fiqih artinya tidak jauh dari arti secara bahasa, dalam Ensiklopedia Fiqih terbitan Ministry Awqaf Kuwait, masbuq yaitu kondisi seseorang yang tertinggal gerakan imam, tertinggal beberapa rakaat atau semuanya. Atau dengan kata lain, seseorang yang mendapati imam setelah selesai mengerjakan satu rakaat atau lebih.
Pada dasarnya masbuq shalat ied sama dengan masbuq pada shalat lain. Misalnya, pada masbuq shalat maghrib. Bila kita dapati imam di rakaat terakhir sesaat sebelum salam, maka kita harus berdiri setelah imam salam, kita lanjutkan apa yang tertinggal, pada kasus ini karena kita belum mendapatkan apa-apa, maka kita harus shalat 3 rakaat setelah imam Salam. Setelah rakaat pertama kita berdiri, setelah rakaat kedua kita duduk untuk tahiyyat awal, setelah rakaat ketiga, kita duduk untuk tahiyat akhir. Mengapa? Karena memang pada dasarnya  kita belum  melakukan shalat maghrib; kita hanya mendapati berjamaahnya.
Sedangkan dalam shalat Ied, berhubung tata cara shalat ied pada rakaat pertama ada takbir 7 kali sebelum membaca Al Fatihah, dan di rakaat kedua ada takbir 5 kali sebelum membaca Al Fatihah, maka kondisi masbuqnya tergantung dimana kita mendapati imam. Jika kita mendapati imam saat tahiyat (sebelum salam), berarti kita lanjut berdiri mengerjakan shalat 2 rakaat dengan 7 kali takbir pada rakaat pertama dan 5 kali takbir pada rakaat kedua.
Bila kita dapati imam di posisi ruku’ pada rakaat kedua, dan kita dapat ikut bersama imam menjalankan ruku’ beserta tuma’ninah, maka bagi kita, hitungannya kita telah menjalankan rakaat pertama. Kita hanya tinggal meneruskan rakaat yg kedua. Rakaat kedua dengan 5x takbir setelah takbir untuk berdiri, dan sebelum membaca Al Fatihah.
Tetapi bila kita dapati imam di posisi ruku’ pada rakaat pertama, maka kita tidak ada kewajiban meneruskan rakaat setelah imam salam, karena kita tidak tertinggal apa-apa.
Bila kita mendapati imam setelah salam maka kita belum mendapatkan apa-apa. Jadi seandainya kita pergi kelapangan atau ke masjid untuk sholat Ied dan ternyata imam sudah selesai, maka kita shalat sendiri dengan takbir 7 kali di rakaat pertama dan takbir 5 kali di rakaat kedua.
Hukum bertakbir 7 kali dan 5 kali dalam shalat Ied adalah sunnah, afdhol dan berpahala lebih jika dilakukan, tetapi jika terlupa maka sholat Ied ini tetap sah hukumnya. Sementara madzhab Hanafi berpendapat, jumlah takbir dalam sholat Ied, adalah 3 kali pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram, dan 3 kali takbir pada rakaat kedua setelah takbir untuk berdiri sebelum membaca Al Fatihah.
Apa yang dibaca diantara dua takbir dalam sholat Ied ini ?. Tidak teriwayatkan adanya dzikir tertentu dari Rasulullah, tetapi riwayat dzikir antara takbir dalam sholat Ied ini datang dari para Ulama’ Salaf rahimahumullah. Imam Syafi’I dan Imam Ahmad berpendapat, disunnahkan berdzikir antara takbir sholat Ied, dengan membaca tahmid dan sholawat nabi, lalu berdoa sesuka kita. Inipun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud Ra.
Hal ini merupakan perkara yang lapang, siapa yang tidak berdzikir, maka tidak mengapa, yang berdzikirpun juga boleh. Dapat membaca tahmid, sholawat dan berdoa. Jika membaca Subhanallah wal hamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar, pun juga bagus juga. Wallahu a’lam.
Adapun terkait dengan masbuq pada sholat Jum’at, misalnya seseorang yang datang ke masjid untuk melaksanakan sholat Jum’at, sedangkan ia mendapati imam dalam kondisi ruku’ pada rakaat pertama, maka berarti ia telah mendapati sholat penuh bersama imam, dan tidak melanjutkan apa-apa setelah imam salam. Bila mendapati imam, ruku’ pada rakaat kedua, maka ia melanjutkan satu rakaat setelah imam salam. Tetapi bila mendapati imam setelah ruku’ pada rakaat kedua, atau mendapati imam sesaat sebelum salam, maka dalam hal ini ia tidak mendapati sholat jum’at, dan setelah imam salam maka ia harus menjalankan sholat dhuhur 4 rakaat. Ini menurut pendapat Syafii dan mayoritas ulama, hal ini berdasarkan hadits “Barang siapa yang mendapati satu rakaat jum’at maka hendaklah ia menambahkan satu rakaat lagi, dan telah sempurna sholatnya” (HR.Nasai dan Ibnu Majah).
Dipahami dari hadits di atas, bahwa orang yang tidak mendapati satu rakaat jum’at, atau mendapati kurang dari satu rakaat jum’at berarti ia tidak mendapati jum’at, ia harus melanjutkan 4 rakaat. Berniat sholat jum’at di awalnya, untuk kemudian menyempurnakannya dhuhur menjadi 4 rakaat. Wallahu a’lam.
Semoga Allah senantiasa membantu kita untuk dapat menjaga syariatNya. Aamiin.


2- Sholat Berjamaah

Pertanyaan:
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Mana yang lebih utama, suami menjadi imam sholat di rumah untuk keluarga atau sholat berjamaah di masjid ?
Ummu Amal

Jawaban
Waalaikumus salam warahmatullah wa barakaatuh
Alhamdulilah was sholatu was salamu ala Rasulillah. Wa ba’du.
Sholat berjamaah di masjid, bagi kaum laki-laki yang baligh, dan tiada udzur untuk pergi ke masjid, hukumnya terjadi perbedaan pendapat apakah ia wajib, ataukah ia sunnah muakkadah ataukah hukumnya fardhu kifayah. Terlepas dari itu semua, hendaklah setiap kaum laki-laki yang muslim dan mampu memperhatikan masalah sholat berjamaah di masjid, karena banyak fadhilah yang di dapat, bermula dari fadhilah dihitungnya langkah kakinya ke masjid sebagai sebuah kebaikan, pun ia mendapat fadhilah doa ketika pergi menuju masjid, juga fadhilah nilai sholat berjamaah sebanyak 27 kali lipat dari pada sholat sendirian, fadhilah bertemu dengan kaum muslimin lainnya. Di samping ini merupakan pengagungan syi’ar Islam ketika masjid penuh dengan jama’ah untuk melakukan sholat. Pengagungan syi’ar Islam merupakan bukti ketakwaan dalam hati seorang muslim.
Allah berfirman yang artinya: “ … dan barang siapa yang mengagungkan syiar (agama) Allah, maka itu adalah bukti ada ketakwaan dalam hatinya “ (QS Al Hajj : 32).
Tentang fadhilah-fadhilah yang disebutkan tadi secara umum, kami sertakan juga beberapa hadits Nabi yang semoga dapat menjadi penambah semangat para kaum laki-laki untuk menjaga masalah ini.
Dari Ibnu Umar Ra, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda : “Shalat berjama`ah lebih utama daripada shalat sendirian dua puluh tujuh derajat”. (Muttafaqun `Alaihi)
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya, seseorang yang hatinya bergantung di masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah berkumpul dan berpisah karena-Nya, seseorang yang diinginkan (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, maka ia mengatakan, ’Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersadaqah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang di nafkahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sepi (sendiri) lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan saat menjelaskan sabdanya, “Dan seseorang yang hatinya bergantung di masjid-masjid.” artinya, sangat mencintainya dan senantiasa melaksanakan shalat berjamaah di dalamnya. Maknanya bukan terus-menerus duduk di masjid.” (Syarh an Nawawi VII/121)
Suatu ketika Bani Salimah ingin pindah ke dekat masjid, sedangkan tempat tersebut kosong. Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, maka beliau bersabda: “Wahai Bani Salimah! Tetaplah di pemukiman kalian, karena langkah-langkah kalian akan dicatat.” Mereka mengatakan:Tidak ada yang menggembirakan kami bila kami berpindah.” (HR. Muslim)
Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang perkara yang akan menghapuskan kesalahan-kesalahan dan juga mengangkat beberapa derajat?” Para sahabat menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”Menyempurnakan wudhu’ pada saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid-masjid, dan menunggu shalat setelah melaksanakan shalat. Maka, itulah ar-tibath (berjuang di jalan Allah).” (HR. Muslim).
Hendaklah orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid bergembira dengan (mendapatkan) cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR.Ibnu Majah, syaikh al Albani menilainya shahih)
Siapa yang datang ke masjid pagi-pagi atau setelah matahari tergelincir (maksudnya lebih awal dari waktu shalat), Allah menyediakan baginya tempat di surga setiap kali dia datang. (Muttafaqun alaih)
Hendaklah orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid bergembira dengan (mendapatkan) cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” 

Setelah kita ketahui beberapa hadits Rasul tentang sholat berjamaah, bagi kita seorang istri juga seyogyanya menyemangati suami dalam masalah ini. Mengingatkannya jika ia lupa. Membangunkannya jika ia tidur sedangkan adzan nan syahdu memanggil “hayya alas sholah… hayya alal falaah”, mari tunaikan sholat, mari menuju keberuntungan. Tolong menolong antara suami istri dalam kebaikan khususnya dalam perkara ketaatan sangat dianjurkan. Ia pun akan membuahkan rasa cinta kasih di antara keduanya. Bukankah Rasulullah mengatakan: “ barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya seperti pahala yang melaksanakan” (HR. Muslim).
Dari hadits di atas, bagi kita seorang istri ketika menyemangati suami untuk berbuat ketaatan, khususnya dalam pengingatan sholat berjamaah di masjid, insyaAllah Allah juga akan memberikan pahala seperti halnya suami kita, jika ia pergi sholat berjama’ah ke masjid atas dorongan kita.
Wallahu a’lam.

0 comments:

Poskan Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com