MUSLIM ROHINGYA



Etnis Rohingya sebenarnya adalah penduduk asli negara bagian Arakan

Akhir-akhir ini banyak berita dari berbagai media yang menyoroti tentang adanya pembantaian terhadap muslim Rohingya yang dilakukan oleh kaum Budha di Burma. Di satu pihak mereka mengatakan bahwa muslim Rohingya bukanlah penduduk asli Burma dan banyak melakukan perbuatan kasar dan bahkan opini-opini seperti ini juga mampu membentuk pandangan yang salah terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh saudara kita, muslim di Rohingya. Untuk itu, kali ini kami ingin mengajak pembaca semua untuk melihat sejarah tentang siapakah muslim Rohingya itu sebenarnya, sehingga kita bisa melihat masalah ini secara bijaksana.
Burma adalah sebuah negara di Asia Tenggara, yang berbatasan langsung dengan Bangladesh, India, Thailand, Laos, dan China. Negara seluas 680 ribu km² ini telah diperintah oleh pemerintahan militer sejak kudeta tahun 1988. Negara ini adalah negara berkembang dan memiliki populasi lebih dari 50 juta jiwa. Ibu kota negara ini sebelumnya terletak di Rangoon sebelum dipindahkan oleh pemerintahan junta militer ke Naypyidaw pada tanggal 7 November 2005.
Secara administratif, Myanmar dibagi menjadi tujuh negara bagian (pyine) dan tujuh divisi (yin). Sedangkan secara garis besar kelompok etnis di Myanmar dapat dikelompokkan dalam 8 (delapan) kelompok etnis: 1.Etnis Bamar/Burma, 2. Etnis Karen, 3. Etnis Shan, 4. Etnis Arakan, juga disebut Rakhine, 5. Etnis Mon, 6. Etnis Kachin, 7. Etnis Chin, 8. Etnis Rohingya, etnis Muslim yang tinggal di utara Rakhine.
Myanmar, sebagaimana negara-negara tetangganya, memiliki persoalan yang sama mengenai keragaman etnisitas dan religiusitas di wilayahnya. Sebagaimana Thailand dan Filipina, kaum minoritas menjadi bagian yang terpinggirkan oleh kebijakan negara yang lebih berpihak kepada kelompok etnis dan keagamaan mayoritas. Tidak terkecuali nasib umat Islam di tengah mayoritas umat Buddha di Burma. Kedatangan umat Islam di Myanmar dicatat oleh orang-orang Eropa, Cina dan Persia sebagai sebuah peristiwa sejarah penting di wilayah itu. Mereka pada umumnya memandang bahwa umat Islam akan menjadi kekuatan yang semestinya tidak dicurigai, karena mereka datang bukan sebagai kekuatan militer, tetapi sebagai bagian dari komunitas sipil yang mengharapkan perlakuan adil dari semua pihak. Populasi umat Islam yang ada di Myanmar saat ini terdiri dari keturunan Arab, Persia, Turki, Moor. Dari kelompok muslim yang yang sering dicurigai dan mendapat perlakuan yang tidak adil adalah muslim Rohingya sebagaimana berita-berita yang sering kita lihat .

Muslim Rohingya                                             
Etnis Rohingya sebenarnya adalah penduduk asli negara bagian Arakan. Arakan sendiri merupakan sebuah negara bagian seluas 14.200 mil persegi yang terletak di barat Myanmar. Saat ini dihuni oleh sekitar 5 juta penduduk yang terdiri dari dua etnis utama, Rohingya yang Muslim dan Rakhine/Maghs yang beragama Buddha. Etnis Rohingya sudah tinggal di Arakan sejak abad ke-7 Masehi. Sedangkan mengenai Muslim Rohingya itu sendiri, mereka merupakan kelompok etnis-muslim asli Rohingya yang oleh junta militer Myanmar tidak diakui sebagai bagian dari komunitas etnis yang sah di wilayah itu, sehingga mereka terusir di beberapa negara sebagai kelompok pengugsi dan manusia-perahu. Mereka antara lain tersebar menjadi pendatang liar di Thailand, Malaysia, Srilangka, bahkan ada sebagian dari kelompok mereka yang ‘terdampar’ di Aceh (Indonesia) sebagai kelompok manusia-perahu . Junta militer menyatakan bahwa etnis Rohingya merupakan pendatang yang di tempatkan oleh penjajah Inggris dari Bangladesh. Memang secara fisik etnis Rohingya memiliki kesamaan fisik dengan orang Bangladesh. Merupakan keturunan dari campuran orang Bengali, Persia, Mongol, Turki, Melayu dan Arab, dan hal ini menyebabkan kebudayaan Rohingya sedikit berbeda dari kebanyakan orang Myanmar. Termasuk dari segi bahasa yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab, Parsi, Urdu, dan Bengali.
Sebelumnya penduduk Muslim Rohingya merupakan mayoritas penduduk di Arakan, dengan jumlah kurang lebih 90 %. Namun selama lebih dari 50 tahun kemerdekaan Burma (Myanmar) jumlah itu terus berusaha dikurangi, mulai dari pengusiran hingga pembunuhan, hingga saat ini hanya tersisa sedikit umat Islam Rohingya di selatan Arakan sedangkan di bagian utara Rohingya masih menjadi mayoritas. Pada saat perjanjian penyatuan Burma yang ditandatangani pada tanggal 12 September 1994, Etnis Rohingya sama sekali tidak dilibatkan dalam proses ini. Berbeda dengan etnis lain yang berhak mendirikan negara bagian sendiri, etnis Rohingya kehilangan haknya, bahkan wilayahnya (Arakan) diserahkan kepada etnis Rakhin yang beragama Buddha, walaupun populasinya kurang dari 10 persen penduduk Arakan. Sejak saat itulah hak-hak etnis Rohingya berusaha dihilangkan oleh para politisi Buddha Burma. Bahkan semenjak junta militer menguasai Burma keadaan semakin memburuk, bukan saja hak-hak politis yang dikekang, tetapi juga dalam bidang sosial-budaya, hal ini ditandai dengan ditutupnya tempat-tempat belajar bahasa Rohingya pada tahun 1965 oleh junta

Bentuk-bentuk Kekejaman Junta Militer Terhadap Muslimin Rohingya, antara lain:
1. Penolakan Pemberian Kewarganegaraan. Hal ini menyebabkan etnis Rohingya menjadi bangsa tanpa kewarganegaraan. Walaupun mereka merupakan penduduk asli Arakan. Hal ini menyebabkan Junta memiliki pembenaran untuk mengusir etnis Rohingya dari tanah leluhurnya, akibatnya lebih dari setengah populasi Rohingya diusir dari Arakan. Kebanyakan saat ini hidup di pengungsian di Bangladesh, Malaysia, Thailand dan Indonesia ( ingat kasus manusia perahu Rohingya sebanyak 50 orang yang terdampar di Aceh 6 atau 7 tahun lalu). Efek lainnya adalah perubahan demografis penduduk Arakan, dari tadinya 90 % Muslim menjadi hanya 30 %n atau hanya sekitar 1,5 juta dari 5 juta penduduk, sedangkan sisanya adalah orang Rakhine (Buddha) dari luar Arakan yang sengaja ditempatkan di Arakan.
2. Pembatasan Untuk Berpindah. Etnis Rohingya yang tersisa di Myanmar saat ini menghadapi problem yang sangat pelik, berupa larangan berpergian bagi mereka dari satu desa ke desa lain, untuk pergi keluar desa mereka harus mendapat izin dari otoritas lokal, yang tentu saja sangat sulit untuk dilakukan. Selain itu etnis Rohingya di Arakan utara telah dimasukkan ke dalam camp konsentrasi yang tidak memungkinkan mereka untuk berpergian dan menjadikan mereka sebagai pekerja paksa.
3. Pembatasan Dalam Kegiatan Ekonomi. Tidak berhenti sampai di situ saja, pihak junta juga menolak memberikan izin usaha bagi etnis Rohingya, sedangkan di sisi lain Junta menerapkan pajak yang sangat tinggi bagi etnis Rohingya yang mayoritasnya adalah petani dan nelayan. Akibatnya sebagian besar lahan pertanian, tambak dan properti milik etnis Rohingya saat ini telah di sita secara paksa, sebagai konsekuansi karena tidak bisa membayar pajak.
4. Pembatasan Dalam Bidang Pendidikan. Dalam bidang pendidikan hal yang sama juga diterapkan oleh junta. Anak-anak etnis Rohingya dilarang masuk ke universitas yang ada di Myanmar dan pada saat yang bersamaan juga dilarang melanjutkan pendidikan tinggi keluar Myanmar.
5. Pembunuhan, Penahanan dan Penyiksaan. Pihak junta telah melakukan kekejaman lainnya yaitu berupa pembunuhan etnis Rohingya, bahkan hal ini dilakukan secara acak dalam rangka pemusnahan etnis Rohingya. Selain itu penyiksaan dan penahanan secara ilegal dilakukan setiap hari di Arakan, ratusan etnis Rohingya hilang dan tidak diketahui nasibnya tiap tahunnya. Saat ini Arakan telah menjadi ladang pembantaian etnis Rohingya.
6. Kerja Paksa. Pihak junta juga telah memperkerjakan kelompok etnis Rohingya dengan tanpa mempertimbangkan hak-hak yang seharusnya mereka peroleh. Hak-hak mereka sebagai kaum pekerja telah dirampas dengan sikap otoriter.
7. Pengusiran Etnis Rohingya dari desa mereka.
8. Pelecehan terhadap kaum wanita dan pembatasan pernikahan, itu semua bukan hal yang asing lagi di Arakan, ketika tentara tiba-tiba masuk ke dalam rumah etnis Rohingya pada tengah malam dan memperkosa kaum wanita di depan suami dan anak-anak mereka. Pengaduan terhadap perlakuan ini hanya akan berujung pada penahanan oleh polisi terhadap pelapor bahkan dalam banyak kasus sang pelapor malah disiksa dan dibunuh. Di sisi lain pihak junta juga mempersulit gadis-gadis Rohingya untuk menikah.
9. Kerusuhan anti Rohingya. Pihak junta sengaja memicu kerusuhan di berbagai wilayah Arakan secara periodik dalam rangka melenyapkan etnis ini dari Myanmar, akibatnya ribuan etnis Rohingya tewas secara mengenaskan dan properti mereka juga hancur. Dengan cara ini pihak junta bisa melimpahkan tanggung jawabnya pada warga sipil Buddha yang telah dibayar oleh junta untuk membunuhi etnis Rohingya.
10. Penghancuran. Ratusan masjid dan madrasah telah dihancurkan oleh pihak junta, bahkan Al Qur’an dalam banyak kasus dibakar dan diinjak-injak oleh tentara sedangkan kitab-kitab tentang Islam disita dan dijadikan sebagai bahan pembungkus. Pihak junta juga melarang kaum muslim untuk melakukan berbagai ibadah
Dan sekarang dengan banyaknya pemberitaan tentang masalah ini, nasib buruk yang dialami Muslim Rohingya mulai mendapat perhatian dari Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan PBB melalui salah satu organisasinya yang mengurusi masalah pengungsi, yaitu UNHCR. PBB juga telah mengirimkan utusan khususnya untuk meninjau dan mengamati situasi dan kondisi disana. Bahkan beberapa utusan dari negara muslim dan negara tetangga sudah mulai memberi perhatian khusus dan bantuan moril maupun materiil kepada muslim di Rohingya. Semoga Alloh SWT membantu dan memberi jalan keluar yang baik untuk seluruh warga muslim Rohingya, serta mengampuni para syuhada yang gugur demi mempertahankan agama dan akidah tauhid mereka. Amiin (Ummu Fatimah Az-Zahra)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com