Kisah Sebuah Iqomah



Kisah Sebuah Iqomah
Oleh : Ummu Fikri

Selasa, 12 Ramadhan 1433 H/31 Juli 2012 M, pulang dari Masjidil Haram setelah menunaikan ibadah shalat asar, menemani bulik  dan om membeli sesuatu di baqalah dekat hotel Al Marsa, di jl Ibrahim Al Khalil, ketika itu bulik ingin beli beras mashri buat oleh-oleh pulang ke Indonesia, saya menunjuk ke atas minta diambilkan beras pada salah satu penjual, lalu diambillah beras dan diserahkan ke saya, saat akan bayar, tiba-tiba perasaan saya tidak enak, kenapa tas saya tiba-tiba ada di belakang? Secara reflek langsung saya tarik ke depan, ternyata resleting tas sudah terbuka dan dompet sudah tidak ada. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un,  astaghfirullahal'azhim. Hilang sudah iqamah, Real 100, Rupiah 250 ribu, padahal sebelum masuk baqalah, kami sempat belanja di Realen dan tas saya masih aman-aman saja. Di Realen, saya membelikan bulik sebuah tas untuktempat oleh-oleh dan dompet saya masih aman di dalam tas saya. Dari Realen, kami menyeberang jalan menuju baqalah. Tampak baqalah penuh sesak dengan pengunjung/pembeli, tak ada ruang kosong sama sekali. Kami harus berdesakan ketika masuk dan saat di dalam baqalah. Tadinya saya sempat ragu-ragu juga waktu mau masuk baqalah dan sempat terlintas di dalam hati, tidak usah masuk, biar bulik dan om berbelanja sendiri. Tapi entah kenapa, kaki tetap melangkah masuk. Inilah mungkin yang dinamakan taqdir. Saya masih terperangah tak percaya ketika mendapati tas saya terbuka dan dompet saya hilang, padahal sebelumnya saya sempat menasehati bulik dan  om agar berhati-hati membawa uang, tapi justru sayalah yang kecopetan. Beruntung bulik dan om membesarkan hati saya dan menghibur saya. Bulik bilang,  "Sudahlah, tidak usah disesali. " Bulik juga berjanji akan memberi ganti. Beruntung saya masih punya beberapa ratus real di kamar hotel. Setelah selesai belanja dan bulik membayar belanjaannya, kami bertiga segera pulang ke hotel. Benar saja, di hotel ,bulik dan  om segera memberi ganti uang saya yang hilang meski saya berusaha menolaknya.


Begitu iqamah hilang, saya langsung lapor suami, karena ketika mendampingi bulik dan om di Makkah, suami di Riyadh.  Dua orang putri kami ikut saya di Makkah dan  dua anak laki-laki bersama suami di Riyadh.  Suami bilang saya harus ke Jawazat Makkah secepat mungkin untuk mendapatkan surat pernyataan bahwa iqamah hilang dicopet. Surat itulah yang nanti akan dibawa ke Jawazat Riyadh untuk mengurus iqamah baru. Jika tidak ada surat itu, konon katanya kena gharamah/denda 1000 real. Keesokan harinya, Rabu,13 Ramadhan1433 H/1 Agustus  2012 M, setelah bulik dan om bertolak ke Jeddah jam 11 pagi, siang itu juga saya langsung checkout dari hotel dan segera mencari taksi. Begitu ada taksi, saya segera meluncur menuju Jawazat.  Sampai di Jawazat, kami turun. Kami segera masuk ke  ruang qismun nisa’, tas dan koper saya letakkan di pojok ruangan. Seorang petugas perempuan memberikan nomer urut. Lalu saya dan anak-anak duduk di tempat duduk yang  masih kosong, menunggu giliran dipanggil. Tak lama kemudian, terdengar nomer saya dipanggil. Saya bangkit dan berjalan ke loket.Saya segera mengadukan permasalahan saya. Bahwa saya kehilangan iqamah bersama dompetnya. Bahwa saya membutuhkan surat dari Jawazat. Setelah ditanya macam-macam, ternyata tidak mudah utk mendapatkan surat sakti itu. Harus ada kafil/suami, padahal suami di Riyadh dan baru akan berangkat ke Makkah sore hari ini untuk umrah sekaligus menjemput istrinya. Jum'at sore harus balik lagi ke  Riyadh karena Sabtu suami masuk kerja.Kamis dan Jum'at semua instansi libur. Lemas dan kecewa karena permohonan ditolak, meledaklah tangis saya.Ya Allah, hamba harus bagaimana? Kemana lagi tempat mengadu selain kepada-Mu? Anak-anak bingung melihat mamanya menangis. Ada apa? Kenapa? Selama ini belum pernah mereka melihat mamanya menangis. Waktu terus berjalan, adzan zhuhur berkumandang. Jawazat tutup untuk sementara. Orang-orang bergegas mengambil air wudhu dan segera menunaikan kewajibannya.Tak terkecuali saya. Bersama anak-anak, kami shalat berjama’ah. Selesai salam,s aya segera mengangkat kedua tangan. Berdo’a........, inilah saatnya memohon kepada-Nya, benar-benar memohon...hanya Dia yang Kuasa menolong...

Inilah saatnya memohon kepadaNya, benar-benar memohon..,

Ba'da zhuhur, para petugas kembali berdatangan, loket kembali dibuka. Orang-orang silih berganti mendatangi loket. Selesai shalat dan berdo’a, kami kembali ke tempat duduk. Saya masih terus menangis. Anak-anak juga masih bingung.  Mereka mungkin bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Madam-madam di dalam ruangan memandang penuh iba. Tiba-tiba petugas perempuan yang bertugas membagikan nomer urut berjalan mendatangi saya, bertanya kenapa saya menangis. Sambil mengusap airmata, saya menjawab," Saya kehilangan iqamah kemarin, sepulang dari Masjidil Haram, untuk itu,  saya butuh surat keterangan/pernyataan dari Jawazat, sedangkan suami  saya tidak mungkin datang hari ini dan tidak juga hari Sabtu. Kemudian dia bilang, " Sudah jangan menangis, saya akan berusaha membantu menjelaskan kepada petugas yang ada di dalam."  Lalu dia berjalan ke loket, menyampaikan pengaduan saya. Hati saya agak sedikit tenang.Tangis saya agak sedikit reda. Tiba-tiba...kring...suami menelpon, bertanya ini-itu, tapi entah kenapa, tangis yang sudah agak reda menjadi tambah kuat, sehingga tidak satupun pertanyaannya yang bisa saya jawab. Saya diam dalam tangisan, suami diam menanti jawaban. Akhirnya karena saya tetap diam dan tak juga menjawab pertanyaannya, suami minta dipertemukan dengan petugas. Hp saya berikan ke petugas. Terdengar percakapan, terus berubah menjadi perdebatan. Agak lumayan lama. Saya kembali ke tempat duduk, menunggu dengan harap-harap cemas...

 Tak terdengar lagi suara percakapan antara suami dan petugas. Pertanda negosiasi sudah selesai.Terdengar nama saya dipanggil. Saya berjalan menuju loket. Hp dikembalikan. Saya kemudian ditanya macam-macam, "Iqamah hilang di mana, kapan hilangnya, nomer  iqamah berapa, suami ada dimana, dll." Satu persatu pertanyaan saya jawab. Beruntung suami punya fotocopy iqamah di rumah dan segera kirim nomernya ke saya. Terakhir saya diminta menyerahkan foto. Karena tidak membawa foto, saya dipersilahkan ke studio photo yang ada di seberang jalan, persis di depan Jawazat. Bergegas saya pergi kesana, setelah berfoto sebentar, saya balik lagi ke Jawazat. Foto segera saya serahkan ke petugas. Petugas bilang  bahwa saya akan dibuatkan surat jalan sementara untuk 3 hari terhitung hari itu tadi, Rabu-Kamis-Jum'at.  Setelah itu, Sabtu, saya sudah harus meninggalkan Makkah. Surat itu sekaligus juga surat pernyataan bahwa iqamah saya hilang. Petugas segera menyerahkan kepada saya. Sayapun segera menerima surat itu dengan hati berbunga. Begitu surat saya terima, saya langsung sujud syukur dengan tangis yang menggema, tangis bahagia. Sujud saya begitu lama. Belum pernah saya sujud sepanjang itu. Inilah sujud terindah yang pernah saya rasakan selama hayat dikandung badan. Di dalam sujud itu, segala puja-puji saya lantunkan, hanya kepada-Nya, penguasa alam raya…              الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد  Setelah puas bersujud, saya segera bangkit, kembali ke tempat duduk, berkemas untuk siap-siap meninggalkan Jawazat. Tak lupa saya berpamitan kepada petugas perempuan yang menolong saya tadi. Kepadanya saya sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya karena telah membantu saya mendapatkan surat keterangan yang saya butuhkan. Berkali-kali saya ucapkan syukran jazakumullahu khairan kepadanya. Kami bersalaman, berpelukan. Konon menurut teman saya yang pernah kehilangan iqamahnya, untuk mendapatkan iqamah baru, dia kena denda 2500 real, itu dulu, 3 tahun yang lalu. Kemarin saya mencoba bertanya ke teman yang suaminya kerja di Jawazat Riyadh, jika iqamah hilang dan hendak mendapatkan iqamah baru, akan kena denda 1000 real ditambah 1 tahunnya 350 real. Saya dan anak-anak keluar dari Jawazat. Sambil menenteng tas di tangan kanan dan  menyeret koper di tangan kiri, anak-anak berjalan sendiri-sendiri, kami bersama-sama menuju jalan raya, mencari taksi. Rencana kami akan pergi ke Khalidiya, ke rumah teman sekaligus tetangga dekat yang dulu tinggal di Riyadh dan sekarang bermukim di Makkah.

Kami mengendarai taksi. Alhamdulillah kira-kira 20 menit kemudian, sampailah taksi di depan pintu gerbang apartemen Bu Didit. Sopir taksi bertanya, "Benar ini rumahnya? Saya jawab,"Iya."  Setelah membayar ongkos taksi, kami turun. Tak lupa, tas dan koper juga saya turunkan. Saya segera menelpon Bu Didit. Kami menunggu di depan pintu gerbang. Tak lama kemudian, tampak Bu Didit di seberang jalan. Lho, kok keluar dari seberang jalan?  Dan bukan dari pintu gerbang di depan kami? Usut punya usut, ternyata rumah Bu Didit sudah pindah di seberang jalan. Bu Didit segera mengajak kami ke rumahnya. Beliau menyambut kami dengan tangan terbuka. Rencana kami akan menginap 2 malam di rumahnya. Malam Kamis dan malam Jum'at. Jum'at pagi, suami akan dating menjemput dan sehabis jum'atan kami akan pulang ke Riyadh bersama-sama. Setelahberbincang-bincang sebentar, bu Didit mempersilahkan kami untuk beristirahat, mandi dan lain sebagainya sambil menunggu waktu berbuka.

Singkat cerita, setelah menginap 2 malam di sana, Jum'at pagi, suami dan anak-anak datang menjemput. Kira-kira jam 11 pagi  kami semua berpamitan. Tak lupa pula kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala kebaikan mereka. Pada saat kami berpamitan pulang, kami masih diberi oleh-oleh berupa kerupuk, emping, petis, terasi, dan lain-lain. (Lho kok malah tamunya yang mendapat oleh-oleh? hehe). Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan balasan yang lebih baik dan berlipatganda. Amien.

Esoknya, Sabtu,  saat adzan subuh, kami semua sampai di Riyadh dengan aman dan selamat, alhamdulillah. Dikarenakan kesibukan kerja, suami belum sempat mengurus iqamah saya yang hilang. Selama kurang lebih 2 bulan saya hanya memegang fotocopy iqamah.  Kemana-mana fotocopy iqamah itu  yang saya bawa. Sampai datanglah bulan haji. Saya ingin sekali pergi haji. Kalo tidak punya iqamah, bagaimana bisa masuk Makkah? Akhirnya seminggu sebelum berangkat haji, suami mengambil cuti kerja. Senin,15 Oktober 2012 M, dengan membawa surat dari Jawazat Makkah, suami pergi ke Jawazat Riyadh. Setelah menunggu kira-kira 2jam, hari itu juga, iqamah saya langsung jadi tanpa biaya sama sekali.  Alhamdulillahirabbil'alamiii.....Subhanallah… .اللهأكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد..

(Notes: baqalah: warung, iqomah: sebutan KTP di Saudi, Realen: toko-toko di Saudi yang menjual barang–barang dengan harga 2 real, kebanyakan di pinggir-pinggir jalan, jawazat: kantor imigrasi, qismun nisa: bagian khusus wanita, di negeri-negeri Arab, kantor-kantor memisahkan bagian laki-laki dan perempuan)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com