MAHABATULLAH



MAHABATULLAH
Oleh : Ustadzah Latifah Munawaroh, MA

Cinta. Satu kata yang mengandung  penuh makna bagi kehidupan manusia. Cinta, yang  dengannya manusia akan merasa bahagia. Karena ia adalah desahan nafas, aliran embun yang selalu mengalir dalam diri tiap insan. Andaikan manusia tiada punya cinta, bagaimana kehidupan berlangsung ?. Bagaimana seorang ibu akan dapat melahirkan generasi rabbani jika ia tak mempunyai cinta untuk anak-anaknya ?. Bagaimana pula seorang pendidik memberikan yang terbaik untuk para murid jika ia tak punya rasa cinta ?. Bagaimana pula dengan para mujahidin, yang dengan segenap jiwa, raga dan hartanya ia kerahkan untuk agamanya jika ia tidak ada cinta terhadapnya ?. Tentu tidak akan terjadi. Dengan cintalah, semua berjalan dengan penuh keharmonisan. Cinta yang bersumber dari Yang MahaAgung, Allah Ar Rohman.

Bagaimanakah Islam memandang cinta ?. Apakah bentuk-bentuk cinta ?. Manakah bentuk cinta yang diridhoi Allah ?.
Islam adalah agama rahmatan lil a'lamin, yaitu Islam yang kehadirannya ditengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam.  Dalam Islam cinta diatur sedemikian rupa, yang semuanya bersumber ke satu muara yaitu, cinta kepada Allah, sang Pencipta.  Ada  beberapa bentuk cinta di dalam Islam sesuai dengan tingkatnya, antara lain:


1. Cinta Allah dan RasulNya
Ini termasuk salah satu kewajiban yang agung bagi seorang Muslim. Cinta kepada Allah dan RasulNya ini merupakan bukti keimanan seorang muslim, Allah mengancam tiap muslim yang tidak memcintaiNya dan RasulNya.

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (24)

Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan [dari] berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At Taubah : 24)

Bahkan keimanan seseorang belum dikatakan sempurna bila ia tidak mendahulukan cinta jenis ini daripada cinta selainnya. Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda: “Tidak (sempurna) beriman salah seorang dari kalian, hingga aku lebih dicintai olehnya dari pada anaknya, orang tuanya, dan manusia semuanya”. (HR. Bukhori Muslim)

“Tidak (sempurna) beriman salah seorang dari kalian, hingga aku (Rasulullah) lebih dicintai olehnya dari pada anaknya, orang tuanya, dan manusia semuanya”

Suatu ketika Rasulullah sedang menggandeng tangan Umar Bin Khaththab. Lalu Umar berkata kepada Rasulullah : “Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada semuanya, kecuali diriku sendiri”. Rasulullah menjawab: “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, hingga aku lebih kau cintai dari dirimu sendiri”. Umar lalu berkata: “Sekarang ya Rasulllah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”. Rasulullah menyahut : “Sekarang wahai Umar. (maksudnya, sekarang telah sempurna imanmu). (HR. Bukhori)

Berkata Ibnu Hajar, pensyarah hadits riwayat Bukhori, bahwa cinta manusia kepada dirinya sendiri merupakan hal lumrah nan wajar yang sudah Allah fitrahkan kepada manusia. Namun cintanya kepada selain dirinya sendiri, merupakan cinta yang merupakan perwujudan sebuah usaha ataupun pilihan. Rasulullah menginginkan dari Umar jenis cinta ini, cinta yang merupakan hasil dari sebuah ikhtiar ataupun usaha. Bukan cinta yang sudah difitrahkan. Jawaban Umar yang pertama ketika Umar berkata : “Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada semuanya, kecuali diriku sendiri” merupakan jawaban dari nuraninya, jawaban yang bersumber dari fitrah manusia. Setelah dia mengetahui dari hasil fikirannya, bahwa Rasulullah merupakan sebab selamatnya dari kebinasaan dunia dan akhirat, ia pun menjawab dengan jawaban berikutnya, “Sekarang ya Rasulullah, Engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”. Umar menjawabnya sesuai dengan hasil tafakkurnya, jawaban yang sebenarnya.

Cinta jenis ini merupakan urutan cinta pertama dalam Islam. Ia merupakan sebaik perbekalan dalam hidup ini. Ia pun merupakan energi hati, dan kesejukan ruh yang hakiki. Ia adalah cahaya bumi, siapa yang tidak berbekal darinya, ia akan berjalan di bumi dengan penuh kegelapan di hatinya, walaupun di dunia yang  sesungguhnya terang benderang . Dari cinta jenis ini mengalir semua cinta yang diridhoi Allah dan RasulNya.

2. Cinta Syariat Islam
Cinta ini bersumber dari cinta jenis pertama. Seorang yang cinta Allah dan RasulNya, pasti akan mencintai syariat Islam, syariat yang diperintahkan olehNya dan dibawa oleh Rasulullah.  Setiap kita yang benar-benar mencintaiNya, akan berusaha sepenuhnya untuk menjalankan syariat ini walaupun terasa berat,  ia akan berjuang dengan penuh kecintaan.  Untuk syariat yang bersifat wajib,  ia berusaha memaksimalkan. Misalnya, sholat lima waktu, berpuasa Ramadhan, melakukan haji ke baitullah di kala mampu, menjalankan hijab dengan menutup aurat bagi seorang muslimah. Sedangkan yang sifatnya sunnah, maka ia berusaha mengamalkannya sebagai  bukti cinta kepada Rasulullah. Misalnya dengan menjaga adab–adab Islam, mulai dari adab tidur, bangun, makan, hingga tidur lagi, semua ia jaga semampunya. Sebaliknya, yang sifatnya haram, ia berusaha keras untuk menjauhinya. Inilah hakikat taqwa.

Termasuk ekspresi cinta kepada syariat Islam, tidak membuat bahan tertawaan terhadap orang-orang yang berpegang teguh dengan syariat Islam. Dalam surat At Taubah : 65-66, yang artinya:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka [tentang apa yang mereka lakukan itu], tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" . Tidak usah kamu minta ma’af, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan daripada kamu [lantaran mereka taubat], niscaya Kami akan mengazab golongan [yang lain] disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa”

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah, seorang ulama besar dan faqih di Saudi Arabia pernah ditanyakan, “Apakah termasuk dalam dua ayat surat At Taubah di atas, bagi orang-orang yang mengejek dan mengolok-olok orang yang memelihara jenggot dan yang komitmen dengan agama ini?” Beliau rahimahullah menjawab, “Mereka yang mengejek orang yang komitmen dengan agama Allah dan yang menunaikan perintah-Nya, jika mereka mengejek ajaran agama yang mereka laksanakan, maka ini termasuk mengolok-olok mereka dan mengolok-olok syariat (ajaran) Islam. Dan mengolok-olok syariat ini termasuk kekafiran.

Seorang muslim akan mencintai syariat Islam dengan segenap hatinya. Perintah Islam ia jalankan dengan penuh cinta, walaupun terkadang rasa malas kerap kali mendarat di hati, tapi ia lawan dengan semampunya, karena cinta kepada syariat Islam yang telah ada di sanubarinya telah memanggil nuraninya. Ia jadikan sabda Rasulullah “Dan sholat itu dijadikan qurratu ain (cahaya mata) bagiku” sebagai syiar dalam menjalankan semua perintah Allah dan RasulNya.

3. Cinta Kepada Pasangan
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (21)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS.Ar Ruum : 21)

Cinta jenis inipun bersumber dari cinta jenis pertama. Salah satu sebab pernikahan yaitu karena ingin menjalankan syariat Allah melalui pernikahan, yang dengannya akan lahir generasi rabbani. Di dalamnya, suami mencintai istri, pun sebaliknya. Allah lah yang menumbuhkan rasa saling mencintai pada diri keduanya. Cinta, saling memberi, saling berkorban, saling mengingatkan, saling memaafkan, dan berbagai kata saling menyatu di dalam satu kata “pernikahan”. Dengan cinta, seorang istri akan berbakti penuh dan taat pada suami, memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Sebaliknya, dengan cinta seorang suami, akan memeras keringat berusaha mencari penghidupan yang layak bagi orang-orang yang dicintainya. Cinta ini bukan didasarkan atas nafsu manusiawi saja, tetapi cinta ini harus berdasarkan kepada cinta Allah dan Rasulnya, hingga rasa cinta itu tidak keluar dari relnya, yang dapat menghalalkan apa yang dilarang, dan mengharamkan apa yang dihalalkan.  Jadi rasa cinta kepada pasangan kita jangan sampai melebihi rasa cinta kepada pemilik cinta itu sendiri, yaitu Allah SWT.

Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat, Amru Bin ‘Ash, “Siapakah orang yang paling kau cintai ya Rasulullah?” tanya Amru. “Aisyah”, begitu jawab Rasul. (HR. Tirmidzi)
Wajar dan natural, seorang suami mencintai istrinya, ataupun sebaliknya. Bahkan memang harus begitu adanya, sehingga rasa cinta kemudian  dapat menjadikan  rumah tangga menjadi rumah tangga yang harmoni, dan penuh dengan samara.

 Dan perlu diperhatikan bahwa cinta ini merupakan cinta yang tidak mutlak, cinta yang berbatas dengan aturan-aturan Allah.

4. Cinta Kepada Saudara Sesama Muslim
Saling mencintai karena Allah di antara kaum mukminin merupakan salah satu ajaran Islam, yang juga merupakan sebab turunnya cinta Allah kepada mereka. Cinta jenis inipun masuk dalam kategori salah satu tanda kejujuran iman seseorang. Bukankah Rasulullah mulia bersabda, “Tiga tanda jika ketiganya ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan lezatnya iman. Salah satunya yaitu seseorang yang mencintai orang lain, ia tidak mencintainya kecuali ia cinta karena Allah, …” (HR. Bukhori Muslim).

Cinta jenis inilah yang dinamakan dengan Al Hubbu fillah, cinta karena Allah. Bukan karena ikatan keluarga, ikatan darah, suku ataupun marga, tapi ia keluar menembus batasan semua itu, aqidahlah yang menyatukan mereka di bawah naungannya. Di bawah aqidah islamiyah, tumbuh rasa cinta, darinya tumbuh rasa saling membantu, merasa sakit di kala ada yang sakit, merasakan penderitaan orang-orang yang seaqidah di kala penderitaan menyapa mereka. Ikut merasakan kebahagian dan kesuksesan jika sebagian mereka mendapatkan kenikmatan itu.

Saling mencintai karena Allah, juga berpahala mendapatkan naungan dari Allah pada hari qiyamat nanti. Selain ia merupakan salah satu sebab jaminan surga. “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya. Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Tidak sempurna iman kalian, jika kalian tidak saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu cara jika kalian kerjakan kalian akan menjadi saling mencintai ?. Sebarkan salam di antara kalian”. (HR. Muslim)

5. Cinta Kepada Keluarga, Anak-anak, dan Harta
Cinta jenis ini pun merupakan fitrah manusia,  Allah pun tidak memarahinya. Tapi jika cinta kepada mereka menjadikan penghalang cinta kepada Allah dan RasulNya, atau lebih didahulukan daripada jenis cinta pertama, maka inilah yang dilarang dan termasuk dalam ancaman, surat At Taubah : 24. ( telah disebutkan di atas).

Tersebutkan pula dalam surat Ali Imran : 14, dibawah ini :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ (14)

Dijadikan indah pada [pandangan] manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik [surga]. (Ali Imran : 14)

Yang diharapkan dari cinta jenis ini, yaitu supaya menjadikan Allah, Rasulnya juga syariat Islam menjadi rambu-rambu dalam mencintai mereka. Mendidik hati-hati ini dalam rasa cinta kepada keluarga dan harta supaya selalu dalam batasan koridor Islam, bahkan semampunya menjadikan mereka sebagai fasilitas pendekatan diri kepada Allah.

Termaktub dalam shohih Bukhori Muslim, bahwa Abu Thalhah merupakan salah seorang yang paling kaya dari kaum Anshor. Ia mempunyai kebun yang banyak. Salah satu kebunnya yaitu kebun Bairuha, salah satu kebun yang paling dicintainya. Kebun tersebut berhadapan dengan masjid Nabawi, Rasulullah jika masuk di dalamnya, beliau akan minum dari kebun tersebut. Hingga turun ayat 92 dari surat Ali Imran, yang artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…”

Setelah turun ayat tersebut, Abu Thalhah datang kepada Rasulullah dan berkata : “Ya Rasulullah, sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah bairuha, dan sesungguhnya ia merupakan shodaqah yang aku harapkan pahalanya di sisi Allah. Gunakan ia sesuai apa yang Allah perintahkan kepadamu, wahai Rasulullah”. Lalu Rasulullah pun bersabda: “Sungguh beruntung Abu Thalhah", beliau berkata seperti itu tiga kali”.

Cinta kepada harta ini merupakan hal yang fitrah, namun Islam mengajak ummatnya supaya cintanya kepada harta agar tidak membinasakannya, tetapi mengarahkan cinta tersebut untuk dapat mendapatkan akhirat nan abadi.

6.Cinta Tanah Air
Pun merupakan hal yang disukai, dan dibolehkan dalam Islam. Seseorang yang cinta kepada tempat di mana ia tumbuh kembang, tempat ia menghabiskan masa kecil, tempat yang penuh kenangan, walaupun bagaimanapun kondisinya.

Seseorang yang hijrah karena suatu sebab ke suatu tempat atau negara lain, pasti akan tumbuh dalam dirinya rasa rindu, rasa kangen kepada tanah air. Merindukan bau tanahnya, udaranya, bahkan makanan dan semua yang mengingatkannya kepada masa kecil. Ia rindu semua itu. Cinta jenis inipun juga dibolehkan, bahkan Rasulullah tercinta ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau berujar dengan penuh kesedihan: "Sesungguhnya kau (Makkah) adalah negeri yang paling aku cintai, seandainya saja kaummu tidak mengusirku niscaya aku tidak akan keluar darimu". (HR. Tirmidzi)

Itulah beberapa jenis cinta yang Allah titipkan untuk manusia, dengannya manusia dapat saling memberi demi yang dicintai. Dengan menjadikan cinta kepada Allah dan RasulNya menjadi pijakan cinta yang pertama, dan energi cinta-cinta lain.

Nah, Bagaimana dengan cinta sesama lawan jenis yang bukan mahram, bukan karena tali persaudaraan, bukan pula antara cinta antara suami istri. Cinta yang digembor-gemborkan oleh budaya barat, yang pada akhirnya banyak pemuda muslim, sadar ataupun tak sadar ikut arus cinta tak bertanggung jawab tersebut. Cinta yang membolehkan apa saja dengan polesan alasan "karena cinta milik semua", cinta yang berujung pada gaya hidup bebas pergaulan, yang semuanya akan berakhir pada satu titik, yaitu titik kebinasaan.
Kalau kita mencoba tengok, asal dari cinta kepada lawan jenis, entah itu karena sebab dengan melihat langsung tumbuh cinta di hati, atau karena sering bertemu sehingga tertarik dan timbul rasa cinta karena perilakunya, bisa juga karena satu sekolah, atau satu tempat kerja, semua rasa cinta yang tumbuh pada dua hati manusia lawan jenis, merupakan suatu fitrah manusia juga. Tetapi bagaimana kita mengatur fitrah ini ?.  Akankah ia mengikuti hawa nafsu bisikan syetan untuk melanggar batas yang dilarang ? ataukah kita didik fitrah tersebut, sehingga tidak menjadi liar, tidak menjadi pandangan dan gerakan yang terlarang, kecuali hanya bagi mereka yang sudah menikah.

Sebelum tumbuh rasa cinta, setidaknya ada sebab yang mempengaruhi. Dan sebab-sebab yang bisa menimbulkan cinta jenis ini,  Islam sudah meletakkan adab-adabnya. Dimulai dengan ajakan untuk "Ghadhdhul Bashar" atau menundukkan pandangan kepada laki-laki/wanita asing.
“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur : 30 )

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur : 31).
Lalu Islampun memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup auratnya, berhijab yang syar'iy, serta memerintahkan kepada ummatnya baik wanita atau laki-laki untuk menjaga etika berinteraksi dengan lawan jenis,

Dalam rangka menutup pintu-pintu syetan, Islam pun melarang berkholwah atau berdua-duaan dengan wanita/laki-laki asing. “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi).
Jika semua sudah diupayakan, dan diusahakan, tetapi rasa cinta di hati kepada si dia, masih terus membayangi, masih terus di hati dan menyibukkan diri, tentu solusi dan jalan yang paling selamat yaitu dengan cara menikah. Rasulullah dalam sebuah haditsnya, menyatakan hal ini : “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.

“Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan tameng penjaga” (HR. Bukhari dan Muslim).
Lewat sabdanya ini, Rasulullah juga berpesan kepada para pemuda,  juga dalam rangka menutup pintu-pintu syetan.

Bagaimana jika ternyata dua orang tersebut atau salah satunya tidak siap/tidak bisa menikah karena satu dan lain sebab, sedangkan rasa cinta masih dengan manja mengisi ruang dan lubuk hatinya ?.
Ketika rasa cinta hanya sekedar cinta, tanpa adanya kelakuan atau tingkah laku yang bertentangan dengan Islam, ia masih sering dan terus berupaya untuk menundukkan pandangan, menjaga hatinya dengan tidak kontak baik via sms/telp, bahkan ia selalu berdoa semoga Allah menyelamatkan dari akibat cinta tersebut, juga ia mencoba untuk berpuasa sebagai salah satu upaya menahan syahwat. Jika semua sudah diupayakan, dan cinta hanya sebatas rasa di hati saja, rasa takut kepada Allah dan rasa taqwa lebih ia dahulukan, maka insyaAllah hal ini tidak berdosa. Dan justru akan berpahala karena ia berusaha untuk menjaga dirinya.
Berbeda dengan seorang yang cinta kepada lawan jenis, cinta tersebut tidak hanya sekedar rasa cinta yang hanya menempati hatinya, tapi menembus kepada tingkah laku yang keluar dari adab Islam, pandangan ia biarkan, interaksi berlebihan berani ia lakukan atas nama cinta, atau dalam istilah kita "pacaran", maka hal inilah yang dilarang, dan dapat membawa dosa.  Berhati-hatilah dan sadarlah bahwa cinta yang hakiki akan menjaga kemuliaan dan kehormatan, tidak akan pernah menyakiti, dan tidak akan pernah mengkhianati orang yang dicintainya.

Itulah cinta, apapun bentuknya haruslah kita sandarkan kepada Allah, sang pemilik cinta yang sesungguhnya, dan kita hendaknya belajar dari NabiNya bagaimana menambatkan cinta di hati kita, agar cinta yang kita miliki tidak menjadikan kita menjadi buta, tetapi bisa menghantarkan kita menuju surga.
Ya Allah, Kami memohon kepadaMu cintaMu, cinta kepada orang-orang yang mencintaiMu, dan cinta kepada semua amalan yang mendekatkan kepada cintaMu.

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com