Sholat Sunnah Rawatib


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

Sholat Sunnah  Rawatib
Pertanyaan
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
Ustadzah, mau tanya.. Saya pernah dapat materi tentang keutamaan sholat sunnah rawatib yaitu akan mendapatkan istana di syurga. Sebenarnya yang disebut sunnah rawatib itu yang seperti apa?
Kemudian, apa bedanya dengan sunnah muakkadah dan ghoiru muakaddah?   Jazakillah khair atas jawabannya.
Mardiana Ulfa, Jakarta


Jawaban
Waalaikumus Salam Warahmatullah Wabarakatuh
Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulillah, wa ba'du.
Agama Islam yang hanif mensyariatkan syariat kepada ummatnya demi maslahat para hamba. Maslahat di dunia pada umumnya, dan maslahat di akhirat nanti pada khususnya. Salah satu syariat yang diperintahkan yaitu ibadah sholat.

Arti sholat secara bahasa yaitu: Doa, seperti yang ada dalam QS. At Taubah: 103, memakai kata sholat, tetapi maknanya yaitu doa, “.. dan berdoalah untuk mereka”. Sholat menurut istilah, para jumhur ahli Fiqih mengatakan: sholat adalah perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam, dan disertai dengan niat dan syarat-syarat tertentu.

Sholat memiliki urgensi yang sangat penting dalam agama Islam. Diantaranya:
1.     Ia adalah fardhu yang paling kuat setelah syahadatain, sebagaimana sholat adalah rukun Islam yang kedua setelah syahadatain ini. Hal ini termaktub dalam sebuah hadits tentang rukun Islam, ketika Rasul bersabda: “Islam dibangun atas lima hal: syahadat bahwa Allah adalah tuhan yang tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, mengerjakan haji dan puasa Ramadhan” (HR. Bukhori Muslim).
2.     Bahwa orang meninggalkannya disifati oleh Rasulullah seorang yang kafir. “sesungguhnya batas antara seorang laki-laki, dan kesyirikan dan kekufuran yaitu meninggalkan sholat”. (HR. Muslim)
3.     Ia adalah tiang agama Islam. “pemimpin segala perkara yaitu Islam, sedangkan tiangnya adalah sholat”. (HR. Tirmidzi)
4.     Disamping, sholat merupakan amalan pertama yang akan dihisab nanti dihari Qiyamat, barang siapa yang bagus sholatnya, maka ia akan selamat dan beruntung, jika sholatnya rusak, maka ia akan menyesal. Seperti halnya yang diriwayatkan jelaskan oleh Rasul dalam hadits riwayat Tirmidzi dengan makna seperti di atas.
Yang dimaksud sholat dalam hadits-hadits di atas yaitu sholat fardhu dimana diwajibkan pertama kali di Makkah, tetapi kewajiban sholat fardhu dengan jumlah sholat 5 waktu, dan jumlah rakaat yang telah ditentukan pada masing-masing sholat, seperti yang kita lihat sekarang ini, maka kewajiban ini dimulai setelah peristiwa Isra’ Mi’raj.
Kewajiban sholat fardhu lima waktu ini sudah merupakan ijma’ para ulama, dimana banyak sekali ayat Al Qur’an ataupun hadits Rasul secara jelas menunjukkan kewajiban ini.

Secara lebih detail tentang tata cara, rukun, hal-hal yang membatalkan sholat dapat dirujuk di buku-buku fiqih, bab Sholat.
Selain sholat wajib, Allah juga memberikan syariat yang lain, yaitu sholat sunnah, sholat yang dilakukan selain sholat fardhu, dimana sholat sunnah ini akan memberikan kepada yang mengerjakannya pahala lebih. Macam sholat sunnah ini banyak sekali.

Fadhilah mengerjakan sholat sunnah, diantaranya bahwa kesunnahan ini akan menutupi kekurangan yang terjadi pada ibadah wajib. Rasul bersabda:

"Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” (HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426 dan Ahmad 2: 425. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Terkait masalah sholat sunnah, terdapat banyak macam sholat sunnah. Diantaranya yaitu sunnah rawatib. Artinya yaitu: "sholat-sholat sunnah yang dilakukan sebelum sholat fardhu ataupun setelahnya", dimana sholat-sholat tersebut tidak disyariatkan untuk dilakukan sendirian tanpa sholat-sholat fardhu tersebut. intinya yaitu bahwa sholat rawatib ini merupakan pengiring sholat fardhu, baik sebelum sholat fardhu ataupun setelahnya.

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH RAWÂTIB
Terdapat beberapa keutamaan secara khusus bagi mereka yang secara berkesinambungan mengerjakannya, keutamaan tersebut dapat kita lihat dari beberapa hadits Rasulullah;

“Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (Kemudian) Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.” (HR.Muslim)

Dari keutamaan ini, imam Nawawi menempatkan hadits ini sebagai hadits pertama dalam bab: Keutamaan Sholat Sunnah Rawatib dalam kitabnya yang masyhur yaitu kitab "Riyadhus Sholihin".

“Barang siapa yang terus-menerus melakukan shalat dua belas raka'at, maka Allah membangunkan baginya sebuah rumah di surga: 4 rakaat sebelum dhuhur, 2 rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat setelah isya’, dan 2 rakaat sebelum shubuh” (HR.An Nasâi)

Dalam hadits lain dari Aisyah: “Aku hafal dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam sepuluh raka'at: dua raka'at sebelum Zhuhur dan dua raka'at sesudahnya, dua raka'at setelah Maghrib, dua raka'at setelah 'Isya, dan dua raka'at sebelum shalat Subuh.,” (HR.Bukhori)

“Aku mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang menjaga empat raka'at sebelum Zhuhur dan empat raka'at setelahnya maka Allah mengharamkannya dari neraka." (HR.Tirmidzi)

Dari Ibnu 'Umar radhiallahu'anhu , dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat sebelum 'Ashar empat raka'at". (HR.Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud)

JUMLAH RAKAAT SUNNAH RAWATIB
Dikarenakan beberapa hadits yang telah ada berhubungan dengan sholat sunnah rawatib, dengan redaksi yang berbeda-beda, terjadi perbedaan pendapat ulama dalam masalah jumlah rakaatnya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa jumlah rakaat sunnah rawatib yaitu 10 rakaat, seperti pendapat madzhab syafi'iy dan madzhab hambaliy, 10 rakaat ini yaitu: 2 rakaat sebelum dhuhur, 2 rakaat setelah dhuhur, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat setelah isya’, dan 2 rakaat sebelum shubuh. Ini berdasarkan hadits Aisyah di atas.

Sebagian madzhab lain mengatakan bahwa jumlahnya yaitu 12 rakaat, dimana merupakan pendapat madzhab hanafiyyah dan pendapat Ibnu Taimiyyah. 12 rakaat ini adalah: 4 rakaat sebelum dhuhur, 2 rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat setelah isya’, 2 rakaat sebelum shubuh. Sesuai dengan hadits HR. An Nasa’I di atas.
Sebagian yang lain berpendapat bahwa tidak ada jumlah bilangan khusus, bahkan cukup dengan melakukan dua raka'at dalam setiap waktu untuk mendapatkan keutamaan shalat sunnah Rawatib, dan inilah pendapat madzhab Malikiyyah.

Sedangkan Imam Nawawi, salah seorang ulama' dari madzhab syafi'iy berpendapat bahwa sholat sunnah rawatib ini jumlah rakaatnya yaitu 18 rakaat. Inilah jumlah rakaat yang paling sempurna dalam sholat sunnah rawatib, menurut Imam Nawawy. 18 rakaat itu adalah: 2 rakaat sebelum shubuh, 4 sebelum dhuhur, 2 setelahnya, 4 sebelum ashar, 2 setelah maghrib, 4 sebelum isya’, dan 2 setelahnya.

Berkenaan dengan istilah sunnah muakkadah dan sunnah ghoiru muakkadah, definisinya yaitu perbuatan sunnah yang dijaga selalu oleh Rasul, dan tidak pernah ditinggalkan. Sedangkan ghoiru muakkadah yaitu dijaga oleh Rasul, tetapi terkadang ditinggalkan. Sunnah muakkadah dan ghoiru muakkadah ini meliputi ibadah-ibadah yang lain, dalam artian tidak hanya ibadah sholat sunnah aja.

Dalam masalah sholat sunnah rawatib ini, terbagi menjadi rawatib muakkadah juga ada rawatib ghoiru muakkadah. Menurut madzhab hambaly dan syafiiy, sunnah rawatib muakkad ini yaitu jumlahnya 10 rakaat seperti yang telah disebutkan di atas. Dinamakan rawatib,  karena ia dilakukan mengiringi sholat wajib. Sedangkan disebut muakkadah karena rasul menjaganya dan tidak pernah meninggalkannya.

Adapun contoh dari sholat sunnah rawatib ghoiru muakkadah, seperti sholat 4 rakaat sebelum ashar. Dinamakan rawatib, karena dikerjakan mengiringi sholat fardhu, dan karena ia terkadang ditinggalkan dan tidak selalu dijaga oleh Rasul, maka ia dinamakan ghoiru muakkadah.

Perlu diperhatikan dalam masalah sholat sunnah ini, bahwa untuk kaum laki-laki, sholat-sholat sunnah lebih afdhol dilakukan di rumah daripada di masjid. Karena Rasul bersabda: “Sholatnya seseorang di rumahnya lebih afdhol daripada sholatnya di masjidku ini kecuali sholat fardhu”. (HR.Abu Dawud dengan sanad shahih). Kecuali sholat-sholat sunnah yang sunnah dikerjakan dengan jamaah, misal sholat tarawih dan witir setelahnya, bagi kaum laki-laki ini lebih afdhol dilakukan di masjid dari pada di rumah.

Dalam hadits ini juga mengandung pelajaran banyak, diantaranya bagi para orang tua, akan terlihat oleh anak-anaknya sedang ia dalam kondisi sholat sunnah, ditambah rumah juga terisi dengan ibadah.
Wallahu a’lam

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com