Aku Ajari Kamu Ilmu Said



Said bin Musaib, penghulu para tabi'in, menantu dari sahabat Rasulullah yang terkenal  sebagai perawi hadits terbanyak yaitu Abu Hurairah, menolak  pinangan Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan untuk menikahkan putrinya dengan Al Walid putra sang khalifah, dan akhirnya Said menikahkan putrinya dengan muridnya yang baru saja kehilangan istrinya, yaitu  Abu Wada'ah dengan mahar cuma dua atau tiga dirham.
Abu Wada'ah mendapati istrinya ternyata seorang wanita yang paling cantik di Madinah, paling hafal Kitabullah dan paling mengerti soal-soal hadits Rasulullah, juga paling paham akan hak-hak suami.
Suatu pagi setelah menikah, Abu Wada'ah bersiap-siap untuk pergi, maka istrinya bertanya:
"Mau pergi kemana?"
"Mau ke majelis ilmu ayahmu" jawab Abu Wada'ah.
"Tidak usah pergi, aku yang akan mengajarimu ilmu Said"
***
Itu adalah penggalan kisah tentang keluarga Abu Wada’ah. Dari situ kita bisa melihat betapa sungguh beruntung keluarga Abu Wada'ah, pasangan suami istri yang berilmu dan mempunyai semangat untuk menuntut ilmu. Tidak semua suami seberuntung Abu Wada'ah dan tidak semua istri bisa mendapatkan suami seperti Abu Wada'ah, yang tidak perlu kemana-mana untuk menambah ilmu, cukup di rumah saja.
Buku-buku fiqih, dalam bab perkawinan, para fuqaha biasanya menyatakan bahwa seorang suami mempunyai kewajiban untuk mengajari istrinya, terutama ilmu-ilmu agama, tetapi  dalam praktek kehidupan kita sehari-hari, banyak para suami-suami yang ilmu agamanya kurang atau pas-pasan, sehingga istrinya belajar kepada ustadz dan ustadzah yang yang ilmunya lebih banyak. Keadaan ini lebih baik dibanding dengan keadaan yang satunya lagi, yaitu  suami sendiri tidak mampu  mengajari istrinya karena keterbatasan ilmu, dan juga  melarang istrinya untuk hadir majelis-majelis ilmu dengan berbagai alasan yang dibuat.
Seorang istri lazimnya, memang harus meminta ijin dari suami bila ingin keluar dari rumahnya, tetapi seorang suami yang baik, juga akan memberi ijin apalagi  bila kewajiban-kewajiban kerumah tanggaan istri terutama yang menyangkut anak-anak dan suami sudah ditunaikan. Apalagi jika meminta ijin untuk menuntut ilmu agama yang bisa jadi merupakan kewajiban,  sedangkan mereka biasanya pasti mengijinkan istrinya keluar rumah untuk hal-hal yang mubah seperti keluar bekerja, belanja dan yang lainnya.
Kalau kita melihat sejarah, istri-istri para sahabat Rasulullah  merasa kurang hanya mendapatkan ilmu dari suami-suaminya, sehingga meminta waktu khusus untuk mengaji dari Rasulullah langsung. Suatu hari,  datang seorang wanita kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “ Wahai Rasulullah, orang-orang lelaki pergi (mendengarkan) pelajaranmu, maka buatlah untuk kami satu hari dimana kami dapat mendatangimu, mengajarkan kami apa yang Allah ajarkan kepadamu. Rasulullah SAW menjawab, ”Berkumpullah pada suatu hari tertentu”  maka Rasulullah pun bertemu dengan wanita-wanita (shahabat) dan mengajarkan mereka” (HR. Bukhari Muslim).
Sebuah rumah tangga akan samara bila dibangun di atas landasan keimanan dan kecintaan pada Allah dan RasulNya, buahnya bisa dirasakan dari sikap suami istri yang saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dengan saling bermusyawarah untuk menentukan jenis kegiatan dan aktifitas keluarga tanpa tangan besi dari salah satu fihak, pilihan prioritas akan disusun berdasarkan urut-urutan hukum, wajib, sunah, mubah dengan fleksibilitas yang sesuai dengan situasi dan kondisi suami istri. Seorang istri sholihah akan meminta ijin suaminya dengan kelembutan ketika keluar rumah termasuk keluar untuk menghadiri majelis ilmu, dan akan mentaatinya bisa suatu saat dilarang keluar rumah untuk keperluannya. Dan seorang suami bisa menjadi sholih diantaranya dengan mengajarkan istrinya agama nabiNya, atau mengijinkannya keluar rumah untuk menuntut ilmu  dan apabila melarangnya pun bukan semata-mata berdasarkan hawa nafsunya tanpa ada  rasa ingin untuk bertadzhiyah (berkorban), memberikan sedikit waktu bersenang-senangnya untuk keperluan yang lebih luas, yaitu dakwah dan sabilillah .
Alangkah bahagianya seorang suami, bila istrinya seperti istri Abu Wada'ah, yang tahu Kitabullah, sunnah Rasulullah, juga paling paham akan hak-hak suami. Suatu hal yang mustahil didapat, kecuali melalui kajian dan majelis-majelis ilmu. Wallahu'a'lamu bisshowab.  @noorahasana

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com