Kisah Para Teladan



   
Ibunda Shafiyyah Binti Huyay r.ha
“Anak seorang nabi (Harun), pamannya seorang nabi (Musa), dan sekarang di bawah perlindungan seorang nabi (Muhammad)”, itulah keistimewaan yang dimiliki Ibunda Shafiyyah binti Huyay sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saat beliau menangis karena perkataan Hafshah yang mengatakan kepadanya dengan sebutan “Perempuan Yahudi”
Ya, memang benar beliau keturunan Yahudi, nama lengkapnya adalah Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa’yah bin Amir bin Ubaid bin Kaab bin al-Khazraj bin Habib bin Nadhir bin al-Kham bin Yakhum dari keturunan Harun bin Imran. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Ayahnya adalah seorang pemimpin besar Yahudi dari Bani Nadhir.
Ibunda Shafiyyah adalah seorang wanita cantik dan cerdas, kecantikannya telah  mampu membuat istri-istri Rasulullah yang lain cemburu sejak awal kedatangannya.  Dan kecemburuan ini sampai menyebabkan Ibunda Hafshah dan  Ibunda Zainab binti Jahsy ditegur oleh Rasulullah SAW karena perkataan-perkataan mereka terhadap Ibunda Shafiyyah. Kecerdasannya tampak dengan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari sejarah serta kepercayaan bangsanya sejak kecil, dan Ibnu Al-Atsir dan An-Nawawi rahimahumallah, memujinya seperti berikut, “Shafiyyah adalah seorang wanita yang sangat cerdas.”     Dari kitab suci Taurat dia membaca bahwa akan datang seorang nabi dari jazirah Arab yang akan menjadi penutup semua nabi. Pikirannya tercurah pada masalah kenabian tersebut, terutama setelah Muhammad muncul di Mekkah. Dia pun sangat heran ketika kaumnya tidak mempercayai berita besar tersebut, padahal sudah jelas tertulis di dalam kitab mereka.
Beliau dinikahi Rasulullah setelah terjadinya perang Khaibar, peperangan besar antara kaum muslimin dengan Yahudi,  diakhiri dengan kekalahan kaum Yahudi dan hancurnya benteng terkuat mereka yaitu Khaibar.  Dengan kekalahan ini banyak kaum wanita mereka yang menjadi tawanan perang, termasuk di dalamnya adalah putri pemimpin mereka, yaitu Shafiyyah binti Huyay. Kesedihan yang beliau rasakan terhadap kondisi diri dan kekalahan kaumnya tidak sampai mengikis keyakinannya yang tinggi terhadap berita besar yang tertulis di kitab Taurat akan datangnya seorang Nabi dari jazirah Arab. Lihatlah dari apa yang telah  beliau pilih saat Rasulullah menawarinya masuk Islam kemudian akan menikahinya atau membebaskan dia dan kembali ke kaumnya, pilihan yang pertama yang telah dipilihnya. Sehingga menikahlah beliau dengan Rasulullah SAW, dan  kebebasannya sebagai mas kawin pernikahan. Keimanan dan kerinduannya terhadap Islam ternyata bukan muncul begitu saja, tetapi telah beliau rasakan jauh hari sebelum masuk Islam,  hal ini terbukti dari kisah beliau yang diceritakan kepada Rasulullah saat menanyakan bekas yang ada di wajah Ibunda Shafiyyah, “Ya Rasulullah, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku menceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, “Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”
Ibunda Shafiyyah telah merawikan 10 hadist. Beliau telah menghabiskan waktunya untuk beribadah demi mengejar ketertinggalan beliau dalam Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, berkata, “Shafiyyah adalah seorang wanita yang sangat menonjol dalam ibadah, kewara’an, kezuhudan, kebaikan, dan shadaqah.”
Ibunda Shafiyyah sangat mencintai Rasulullah, menjelang wafatnya Rasulullah, Ibunda Shafiyyah berkata sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalarn Thabaqta “Demi Allah, ya Nabi, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.” Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal yang demikian, beliau berkata, “Berkumurlah!” Dengan terkejut mereka bertanya, “Dari apa?” Beliau menjawab, “Dari isyarat mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.”
Meskipun setelah wafatnya Rasulullah, Ibunda Shafiyyah merasa terasingkan di tengah kaum muslimin, karena mereka selalu menganggapnya sebagai Yahudiah, tetapi hal ini tidak membuat keislaman beliau berkurang sampai beliau wafat. Beliau wafat pada masa pemerintahan Muawiyyah di sekitar  usia beliau yang ke-50. Itulah Ibunda Shafiyyah, seorang wanita Yahudi yang sangat cantik dan mulia karena keislamannya, keislaman yang kuat karena berlandaskan ilmu dan keimanan yang kuat akan kebenaran Islam. (Ummu Yahya)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com