Obrolan Ringan Seputar Jodoh


Sore itu, di rumah bu Salma berkumpul teman-teman bu Salma, mereka sedang asyik mengobrol  seputar jodoh “Wah,  kalau ditanya soal jodoh apa ya? Aku saja masih bertanya-tanya apa ini memang jodohku? Kalau aku bilang jodoh kok tiap hari ada perbedaan pendapat dan lain-lain, kalau kubilang bukan jodoh kok kadang-kadang aku selalu mengkhawatirkannya ya,” jawab bu Ari yang sudah lebih dari 10 tahun menjalani rumah tangga saat ditanya soal jodoh. Lain lagi yang dikatakan oleh bu Salma, ibu dari 3 orang anak, “ Kalau bagi saya, jodoh itu ya seseorang yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi suami kita saat ini.”  Arini, seorang gadis manis yang sedang menunggu jodoh pun menyahut, “ Jodoh itu Allah yang menentukan, segigih apa pun perjuangan untuk berjodoh dengan seseorang kalau Allah tidak menghendaki maka akan ada saja halangannya seperti yang pernah saya alami. Kejadian ini sempat  membuat saya marah dan sedih, tapi  akhirnya semua itu saya jadikan sebab untuk lebih mendekat kepada Allah.
Obrolan pun menjadi semakin bertambah asyik dan menarik saat membicarakan soal konsep berpacaran dengan dalih sebagai sarana penjajakan diri terhadap calon jodoh kita. Ibu Allan yang  kenal suaminya sejak masa kuliah ini,  mulai angkat bicara, “Kalau pengalaman saya ya lewat pacaran, tapi saya sarankan jangan deh karena penuh dosa (semoga Allah mengampuni saya yang belum paham saat itu), apalagi sekarang setelah belajar agama menyesal banget.” Arini pun  tersenyum, “ Kalau saya Alhamdulillah bu, tidak pernah pacaran sampai sekarang. Meski pun dulu pernah suka sama teman saya di SMA, dan sebenarnya dia pun suka, tapi kami sama-sama hanya memendam rasa itu, padahal banyak teman saya perempuan yang menyatakan perasaannya kepada laki-laki dengan dalih sudah gak jamannya lagi menunggu, sampai teman-teman mencap saya kuper. Tapi Alhamdulillah, ternyata Allah melindungi saya dengan menjadikan saya dicap kuper oleh teman-teman. Terus terang kenapa saya takut pacaran? karena waktu saya duduk di bangku SMP banyak kejadian-kejadian dari teman-teman yang membuat saya takut pacaran, bahkan salah satu teman wanita saya di SMP hamil akibat pacaran. Dari situlah saya menjaga jarak dengan kaum adam.” Ibu Salma sambil mencomot pisang goreng pun menimpali, “ Kalau saya dari dulu tidak suka dan tidak setuju budaya pacaran. Kalau boleh saya bilang, pacaran itu hanya membangun angan kosong belaka kalau tidak boleh dibilang banyak bohongnya. Apalagi dibilang sebagai sarana penjajakan, jauh deh. Bagaimana tidak, bukankah selama pacaran yang dibilang  dan yang ditunjukkan yang bagus-bagus saja, cenderung menuruti keinginan pacarnya dan menutupi kekurangan-kekurangan yang ada demi mendapatkan simpatinya. Coba kita pikir kalau memang pacaran bisa menjadi sarana mengenal calon kita, mengapa orang yang sudah berpacaran lama masih terkaget-kaget dengan kebiasaan suaminya setelah menikah. Bahkan banyak juga yang bilang, lho kok begini, waktu pacaran dia baik banget kok? Dan yang lebih parah lagi pacaran bertahun-tahun, eh begitu nikah mungkin sebulan cerai, kok bisa, he he?”
Arini semakin tertarik mendengar obrolan ibu-ibu yang duduk bersamanya, “Terus pengalaman ibu-ibu sendiri bagaimana cara mendapatkan jodoh dan yakin bahwa calon suami kita itu orang baik?”  Ibu Amin yang dari tadi sibuk dengan putri kecilnya  menjawab, “Ini pengalaman saya Rin. Terus terang saya menikah di usia yang orang mungkin mengatakan agak terlambat, jadi saat-saat menunggu jodoh merupakan saat yang disoroti banyak orang. Karena tidak mau terlalu disibukkan dengan pertanyaan saudara maupun teman-teman sekolah saya yang rata-rata sudah punya 2-3 orang anak waktu itu, maka saya sempat menghindari pertemuan-pertemuan bersama mereka. Saya selalu berusaha tentunya, bahkan kalau baca koran atau majalah, biro jodoh pasti menjadi favorit bagi saya he..he, selain itu saya selalu menyempatkan diri untuk sholat dhuha setiap hari, berdoa meminta jodoh buat saya. Tapi meskipun boleh dibilang telat,  bukan berarti saya sembarangan dalam usaha ini, sampai suatu hari saya chatting, kenalan dengan seseorang, chatting pun berlanjut, sampai ke hal pernikahan. Dalam hati saya, kalau memang dia serius, maka dia harus berani datang untuk menikah karena bagi saya bukan saatnya main-main lagi seperti ABG. Dan Alhamdulillah, Allah jawab dengan kedatangan dia ke rumah kami, meminta ijin kepada keluarga  untuk menikahi saya. Dan sekarang, ini nih hasilnya si gadis cantik bidadariku.”  "Kalau ibu-ibu yang lain gimana," tanya Arini sambil tersenyum ke bu Salma. Bu Salma pun menata posisi duduknya, “Waktu itu usia saya sekitar 27 tahun, termasuk usia siap nikah banget tentunya kan, tapi saat itu sih saya tidak merasa terganggu dengan masalah pernikahan, karena rata-rata teman-teman saya yang ketemu di perantauan ini masih enjoy, banyak yang belum menikah. Sampai suatu hari, saya duduk di pengajian. Di situ dikatakan bahwa seorang wanita itu tidak boleh bersafar selain dengan mahramnya. Nah dari situ saya mulai berpikir, bagaimana caranya selamat dari hukum ini, benar-benar takut saat itu, tidak tahu kenapa. Mulai saat itu saya rajin sholat tahajud, sholat hajat, apalagi saat ditinggal sendiri karena ditinggal pulang  cuti oleh teman-teman. Doa saya saat itu sebenarnya bukan semata-mata minta jodoh, tapi lebih kepada doa didatangkannya mahrom, dengan dua pilihan, didatangkan salah satu saudara laki-laki saya atau diberi jodoh kepada saya. Itu doa saya siang malam, dan masa-masa itu menjadi semacam masa pemingitan bagi diri saya sendiri, saya mulai membatasi diri keluar rumah hanya untuk sekedar jalan-jalan biasa. Jadi semacam waktu untuk memperbaiki diri, sampai suatu hari ada tawaran dari teman dekat saya untuk ta’aruf dengan teman suaminya. Bagai pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya aku terima tawaran itu dengan keyakinan Allah telah menjawab doa-doaku, dan soal kualitas dia, aku mencerminkan dia dari temannya, karena bukankah kepribadian seseorang bisa dilihat dengan siapa dia berteman. Itu saja, bismillah dengan niat menyelamatkan diri dari dosa, akhirnya kami ta’aruf dan disetujui dari keluarga kami, dalam waktu  yang tidak terlalu lama kami pun menikah. Soal penjajakan, kita melakukannya  setelah menikah, yah meskipun kita sering terkaget-kaget juga tapi yakin tidak ada kebohongan deh.
Pokoknya dalam mencari jodoh itu harus ingat beberapa hal, yang pertama niat, niat untuk ibadah, jangan lupa berdoa atau berhajat kepada Allah, karena Allah yang menentukan jodoh kita, cara yang kita lakukan harus benar, jangan sampai kita mencari jodoh dengan cara yang dilarang agama, pacaran misalnya, sebagai seorang wanita secara syariat dibolehkan mengajukan diri kepada laki-laki untuk menikahi kita, tapi ingat cara yang kita pakai pun harus diatur, lelaki itu hendaknya lelaki yang baik agamanya, kita sampaikan niat kita melalui orang yang bisa dipercaya, menjaga diri dari pergaulan baik dalam pergaulan di dunia nyata maupun pergaulan di dunia maya yang sekarang lagi marak, karena dari sini orang-orang juga akan menilai kepribadian kita, dan senantiasa memperbaiki diri kita karena kita yakin seorang laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, maka kalau kita baik, insya Allah kita akan mendapat laki-laki yang baik pula. Dan jangan lupa, berdoa agar kita ridho atas segala yang ditakdirkan kepada kita, sehingga apabila kita mendapatkan jodoh yang mungkin tidak sesuai dengan kriteria kita,  kita harus senantiasa yakin bahwa inilah jodoh yang ditentukan bagi kita oleh Allah dan ini tentunya berarti bahwa dialah yang terbaik bagi kita menurut Allah. Dan kalaupun sampai terjadi sesuatu, perpisahan dengan jodoh kita misalnya, maka kita pun harus yakin bahwa semua itu adalah bagian rahasia takdir Allah terhadap kehidupan kita, kita hanya bisa berdoa semoga diberi keikhlasan dan diberi pengganti yang lebih baik dari apa yang pernah kita terima,aamiin. Obrolan pun berhenti dengan terdengarnya adzan magrib dari kejauhan. (Ummu Yahya)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com