Sebuah Penantian


 
 Kisah dan Renungan
Sebuah  Penantian
 
Aku, Nina, seorang gadis berusia 23 tahun, aku satu-satunya anak perempuan di dalam keluargaku.  Kami tinggal di desa Karangnangka, sebuah desa dimana terdapat banyak pohon nangka. Hampir semua orang mengatakan bahwa aku adalah seorang gadis paling cantik di kampungku. Banyak pemuda yang ingin mendapatkanku, tetapi aku belum punya keinginan untuk menikah saat ini, aku ingin membantu keluargaku yang sejak kematian ayahku, kehidupan kami sangat pas-pasan, hanya bersumber dari penghasilan ibuku yang berjualan kerupuk. Sebenarnya bukan hanya itu alasannya, tetapi aku merasa belum menemukan pemuda yang cocok di hatiku, kebanyakan pemuda yang datang boleh dibilang belum sesuai kriteria yang ingin kudapatkan. Sebagai muslimah yang pernah mondok di pesantren, agama tentulah menjadi kriteriaku yang pertama, aku ingin calon suamiku adalah seorang pemuda lulusan pondok juga. Selain itu aku juga ingin suamiku adalah seorang yang telah mapan sehingga kami bisa membantu keluargaku  setelah kami menikah nanti, dan tentunya merupakan nilai plus yang sangat kuharapkan wajahnya yang tidak mengecewakan. Hmm…..mendekati sempurna, aku tersenyum membayangkannya.

Waktu berjalan, untuk menopang perekonomian keluarga, aku memutuskan untuk merantau ke Surabaya, dengan bekal ijazah yang ada aku melamar pekerjaan di sana. Alhamdulillah setelah melalui berbagai perjuangan, akhirnya aku diterima di salah satu supermarket yang terkenal di sana. Aku tinggal bersama beberapa karyawan wanita lainnya, kami tinggal berempat. Kami mempunyai kebiasaan yang sama, di saat hari libur, kami lebih suka di rumah untuk memasak bersama, hanya sesekali kami jalan bareng, satu hari aku kangen ingin merasakan suasana seperti di kampung, mendengarkan pengajian bersama-sama. “Ra, kamu kan paling lama tinggal di sini, kira-kira ada gak pengajian di sekitar sini,” tanyaku kepada Rara yang sudah tinggal di situ sekitar lima tahun. Rara memandangku, “ Hm…oh ya ada Nin, dulu juga aku suka datang ke sana, tetapi sekarang jarang datang karena kecapekan. Itu Nin, dari sini lurus sekitar setengah kilometer belok kanan, kamu akan menemukan dua rumah, nah rumah kedua yang bercat kuning itu, rumah ustadzah Mariam, di sana biasa buat kajian setiap hari selasa. Nah sekarang kan hari selasa dan kebetulan kamu libur, coba aja ke sana habis ashar nanti, ntar kalau aku pas libur juga mau gabung lagi deh, “ jawab Rara sambil bersiap-siap pergi kerja. “ Insya Allah, nanti aku ke sana, makasih ya Ra,”sahutku

“Assalamualaikum,” aku sudah berdiri di depan pintu rumah ustadzah Mariam, dan benar di sana sudah terlihat beberapa sandal. Seorang wanita setengah baya dengan jilbabnya yang lebar dan wajahnya yang ramah, membuka pintu, “Waalaikumussalam.” Aku pun memperkenalkan diri, “ Maaf ustadzah, saya Nina, baru sebulan tinggal di kompleks ini, insya Allah kalau boleh mau bergabung  untuk mengaji.” Ustadzah Mariam pun mempersilahkan Nina masuk.

Waktu berjalan, pengajian seminggu sekali membuat aku kerasan tinggal di sana, apalagi ustadzah Mariam kenal beberapa ustadzah yang pernah menjadi pengajar aku di pondok, jadi kami semakin akrab. “Nin, kamu belum pingin menikah nih,” tanya beliau suatu hari. “Hm… pingin sebenarnya bu, tapi belum ada yang ngelamar ni, “jawabku dengan setengah bercanda. “Begini Nin, ada seorang  pemuda yang mengaji dengan ustadz di masjid ingin menikah. Dia seorang mualaf, dan saya lihat kamu insya Allah mampu mengajak dia menjadi muslim yang baik, penghasilannya lumayan.”  Setelah berbicara panjang lebar, sambil melangkah pamit pulang, aku cium tangan Ustadzah Mariam, “Insya Allah bu, semoga Allah beri yang terbaik.”

Aku  menarik nafas, ya Allah di saat aku menanti jodoh, Allah datangkan seseorang yang jauh dari harapan. Bukan keputusan yang mudah, satu tawaran dari seseorang yang bisa dipercaya, yang insya Allah bisa dipercaya juga dengan apa yang ditawarkan, tapi….dia seorang mualaf. Jauh dari harapanku, batinku ragu. Tapi tidak ada salahnya Nin, kamu membantu dia belajar Islam, bukannya saat Ummu Sulaim menikah dengan Abu Tholhah, Abu Tholhah masih dalam keadaan mualaf, dan akhirnya beliau bisa menjadi seorang muslim yang baik. Jawab satu sisi hatiku yang lain membela. Tapi aku masih ragu dengan diriku sendiri.

“Begini saja Nin, bagaimana kalau kalian ta’aruf dulu, mungkin dengan ini ada sesuatu yang bisa menarik perhatianmu,”saran Ustadzah Mariam saat aku bercerita. Akhirnya pertemuan itu pun diatur. Dari hasil ta’aruf itu sedikit banyak aku tahu motivasi dan kisah dia bagaimana dia menjadi mualaf. Aku benar-benar bangga dan merasa punya harapan untuk mempunyai keluarga yang islami nantinya melihat bagaimana dia telah gigih memperjuangkan imannya di tengah keluarga yang menentangnya.

Hari minggu aku pulang menengok ibuku, aku ingin membicarakan ini semua. Minggu sore kebetulan kakakku dan istrinya juga datang, aku berpikir ini kesempatan yang baik buat aku meminta pertimbangan mereka, saat aku ingin bicara, tiba-tiba ibuku berkata, “Nin, ini kebetulan kamu datang dan kita berkumpul semua di sini, begini, kemarin ada teman almarhum bapak, pak  Hadi sekeluarga berkunjung ke sini, beliau ini teman bapak saat berdagang di pasar dulu saat kalian masih kecil. Kemudian mereka pindah ke Surabaya dan berhasil di sana. Mereka mempunyai seorang anak laki-laki semata wayang yang sudah siap menikah, dia pernah mondok tapi tidak sampai lulus Nin, tapi setidaknya dia insya Allah tahu tentang agama seperti yang kamu damba selama ini Nin. Dia yang mengurusi usaha orang tuanya, itu artinya kehidupanmu akan lebih baik Nin. Gimana…?” Nina jadi bingung, bibirnya tertahan karena melihat begitu besarnya harapan ibunya. “Iya Nin, terima saja insya Allah baik untuk masa depanmu dan masa depan kita semua,” sahut kakaknya. Nina hanya diam.

Malam itu Nina masuk kamar dengan pikiran yang tidak karuan, Ya Allah, belum aku menyelesaikan masalahku yang satu, eh sekarang malah ditambah lagi. Ya Allah berikanlah petunjukmu. Sepertiga malam terakhir, Nina mengambil wudhu dan membentangkan sajadahnya menghadap kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk yang baik dengan pengetahuanMu. Ya Allah apabila perkara lamaran Irfan yang mualaf itu baik untukku, agamaku, dan masa depanku, maka mudahkanlah ia bagiku dan apabila  tidak baik untukku, agamaku, dan kehidupanku, maka jauhkanlah dia dariku. Berikanlah kepadaku kebaikan di manapun adanya dan jadikanlah aku orang yang ridho dengan pemberianMu itu. Doa Nina dalam sujud yang panjang dalam sholat malamnya. Nina tidak tahu mengapa, di saat satu tawaran lagi muncul justru hati ini merasa mantap dengan Irfan yang telah ditawarkan oleh Ustadzah Mariam. Ya Allah, apa yang harus kulakukan, bagaimana aku harus mengatakannya. Alhamdulillah, aku berharap pagi ini masih bisa berbicara dengan ibu sebelum aku balik ke Surabaya karena aku akan balik  habis dhuhur. “Apa…..Nin, kamu sudah punya pilihan. Nin, mak mohon lupakan dia, pak Hadi benar-benar ingin menjalin kekeluargaan dengan kita dan mak sedikit banyak sudah mengenal mereka. Mereka orang baik Nin, lagian ingat bukannya siapa itu si Irfan orang yang baru masuk Islam, kamu sudah lupa dengan apa keinginanmu dulu punya suami yang tahu agama.” Siang itu akhirnya aku balik ke Surabaya tanpa ada keputusan.
 
Satu bulan terlewati, masuk bulan kedua, masih belum ada keputusan, hati ini lebih condong kepada calon dari Ustadzah Mariam, tapi aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada keluargaku, ibu dan kakakku masih ngotot untuk menjodohkan aku dengan anak pak Hadi, sementara kalau mau jujur hati ini tidak ada kecondongan sama sekali kepadanya, apalagi setelah mendengar kabar dari ibu, dia minta nomer teleponku, agar bisa menghubungi aku sendiri dan bisa mengunjungi aku di kos-kosanku agar kami lebih saling mengenal alasannya. Dari situ aku sedikit merasakan ketidakcocokan dengan caranya yang kurang sesuai dengan syariat. Satu sore, Ustadzah Mariam berbicara kepadaku, “Nin, nanti habis pengajian jangan pulang dulu ya, ada sedikit yang mau saya bicarakan  dengan kamu.” Aku hanya tersenyum mengiyakan. Begitu teman-teman yang lain bubar, aku duduk bersama Ustadzah Mariam di ruang tengah, “Begini Nin, soal masalah khitbah Irfan kepadamu, bagaimana sudah ada keputusan. Kalau tidak salah lebih dari sebulan, bagaimana sholat istikharahnya, sudah bicara dengan keluargamu belum.” Nina menghela nafasnya, “Itulah Ustadzah, saya sendiri minta maaf masalah ini berlarut, Alhamdulillah saya sudah sholat dan hati ini cenderung menerima mas Irfan, tapi masalahnya…” Ustadzah Mariam memandang Nina dengan penasaran, “Masalahnya apa Nin, kamu belum siap?” Nina pun menunduk menatap bunga di atas meja, “Bukan bu, masalahnya ternyata keluarga di rumah mempunyai calon buat saya, tapi saya sendiri merasa belum cocok. Saya mencoba menjelaskan kepada mereka tentang mas Irfan, tapi mereka tidak setuju sampai sekarang.” Ustadzah Mariam menata duduknya, “Yah, memang kadang-kadang banyak sekali hal-hal yang terjadi di luar dugaan kita Nin, seperti masalah ini. Begini Nin, sebenarnya kemarin Irfan mengkhitbah kamu agar dia ada yang mendampingi di daerah baru, karena dia akan pindah kerja di tempat yang agak jauh  di pedalaman di luar Jawa. Begitu melihat kamu, dia merasa cocok, dan sebenarnya sekitar 4 bulan lagi dia pindah, tetapi ternyata kemarin ada surat panggilan dari kantornya bahwa hari ini juga dia harus  berangkat, jadi dia minta pamit dan minta maaf tidak bisa menunggu lebih lama.  Dia bilang untuk sementara waktu ingin menunda dulu masalah ini, sampai dia balik lagi, mungkin sekitar satu atau dua tahun lagi. Dia tidak ingin kamu merasa terbebani dengan apa yang telah terjadi, kalau seandainya kalian berjodoh, semoga dipertemukan dengan keadaan yang lebih baik lagi, sekali lagi dia minta maaf atas semua ini. Nina hanya menundukkan diri dan berdoa,”Ya Allah, ikhlaskanlah aku menerima semuanya dan berilah aku pengganti yang lebih baik. Nina pun minta pamit kepada ustadzah Mariam, begitu sampai di kamarnya, teleponnya bordering, ibunya mengabarkan, “Nin, Alhamdulillah Nin kamu tidak jadi menikah dengan anak pak Hadi, ternyata dia anak yang tidak benar nduk. Nin, sekarang mak sama masmu menyerahkan keputusannya di tanganmu nduk, kamu kan sudah punya calon. Kalau kamu merasa cocok, kami semua merestui kalian.” Nina tidak tahu menjawab apa, Nina hanya bersyukur kepada Allah atas apa yang telah digariskan kepadanya, Nina yakin Allah tahu atas rahasia yang Allah simpan untuk dirinya, termasuk juga dengan siapa dia akan berjodoh nantinya. Ya Allah jadikanlah apa-apa yang terjadi padaku membuat aku semakin dekat denganMu, aamiin. (Ummu Yahya)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com