sedekah


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

 
1.Sedekah Kepada Keluarga dan Non Muslim
 
Assalamualaikum Dear Team Redaksi Buletin Al Husna Kuwait...
Mau nanya nih sehubungan dengan sedekah...
1.Bukankah kita harus bersedekah sama orang dekat kita (keluarga) terlebih dahulu baru kemudian orang lain.
2.Selain bersedekah ke sesama muslim, apakah boleh bersedekah ke non muslim dan apa hukumnya?
Terima kasih atas penjelasannya,semoga Allah SWT selalu menyertai kita...Aamiin. Wassalamualaikum Warahmatullah wabarakatuh
Mimi Tsan Makasar
 
Jawaban:
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh                                                  Bismillah, Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulilllah wa ba'du. Agama Islam adalah agama yang mengajak ummatnya kepada berbuat Al birr/kebajikan, kepada siapa saja; kaum muslimin dan non muslimin.
 
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil." (QS al-Mumtahanah: 8) 
 
Bersedekah merupakan salah satu dari Al birr/perbuatan kebajikan yang dianjurkan oleh Islam. Bersedekah di sini ada jenisnya juga, bersedekah wajib, yang biasa diistilahkan dengan zakat wajib. Jenis yang kedua yaitu bersedekah sunnah, yang biasa diistilahkan dengan shodaqah yang kemudian dalam bahasa Indonesia disebut dengan sedekah.
 
Jenis yang pertama, shodaqah wajib atau yang kemudian yang diistilahkan dengan zakat wajib, maka jenis zakat ini menurut jumhur Ulama, tidak boleh diberikan kepada fakir miskin dari golongan non Muslim atau kafir, karena zakat wajib ini mempunyai peraturan tertentu dalam pembagiannya juga syarat-syaratnya. Allah berfirman: "Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk [memerdekakan] budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (At Taubah: 60)
 
Adapun zakat untuk golongan para muallaf yang dibujuk hatinya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud muallaf disini yaitu:
1.Orang Islam yang diharapkan agar Islamnya membaik dan memperteguh keislamannya.                                                                                           
2.Orang kafir yang diharapkan keislamannya                                               
3.Seorang pembesar kafir yang diharapkan dengan memberinya, maka pengikutnya akan menjadi muslim.
4.Orang kafir yang diharapkan menahan kejahatannya terhadap kaum muslimin 
 
Syeikh DR.Yusuf al-Qaradhawi dalam kitabnya Fiqh al-Zakat hal. 594-598 menjelaskan secara rinci definisi dan klasifikasi muallaf. Muallaf adalah mereka yang diberikan harta zakat dalam rangka mendorong mereka untuk masuk Islam, atau mengokohkan keislaman mereka, atau agar condong dan berpihak kepada Islam, atau untuk menolak keburukan mereka terhadap kaum muslimin, atau mengharapkan manfaat dan bantuan mereka dalam membela kaum muslimin, atau agar mereka dapat menolong kaum muslimin dari musuh mereka, atau yang semisalnya. Oleh karena itu kata beliau, pemberian zakatnya merupakan tugas dan perhatian pemimpin negara atau pembuat kebijakan dan keputusan dalam negara (Ahl al-Hill wa al-Aqd), disesuaikan dengan kemaslahatan dan kebutuhan kaum muslimin. 
Menurut jumhur ulama', diantaranya Bin Baz –rahimahullah-, syekh Yusuf Qaradhawi maka zakat boleh diberikan kepada golongan muallaf, golongan yang dibujuk hatinya, walaupun mereka kafir. Sebagian ulama' menyaratkan bahwa golongan ini boleh diberikan zakat tetapi pemberiannya tidak boleh dari perseorangan, tetapi merupakan tugas para ulul amri/pemimpin Negara seperti yang dijelaskan oleh syekh Yusuf Qaradhawi.
 
Adapun shodaqah dalam jenis yang kedua yaitu jenis shodaqah sunnah, yang tidak ada aturan khususnya, maka dibolehkan diberikan kepada orang kafir selama mereka tidak memerangi kaum muslim, atau mereka tidak mengusir kaum muslim dari tanah airnya. Memberi sedekah kepada non muslim termasuk dalam keumuman ayat ke-8 dari QS. Al Mumtahanah yang telah disebut  di atas. Tetapi tentunya memberikan sedekah kepada seorang muslim lebih afdhol dan lebih disukai, dan kita sudah tentu akan menemukan seorang muslim yang kondisinya sama atau kurang dari kondisi orang kafir yang ingin kita beri. Tetapi hal ini tidak berarti tidak dibolehkan bersedekah; sedekah sunnah kepada non muslim.
 
Adapun masalah bersedekah kepada keluarga dekat yang membutuhkan maka hal ini lebih diutamakan daripada bersedekah kepada orang jauh yang
membutuhkan. Bukhori meriwayatkan, dari Anas Ra, bahwa Abu Thalhah Ra ingin menyedekahkan kebunnya yang merupakan harta yang paling ia cintainya, dan menyerahkan urusan sedekah ini kepada Rasulullah, lalu Rasulullah bersabda: "Aku berpendapat supaya kebun ini engkau berikan kepada keluarga terdekat". Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda: "Bersedekah kepada seorang miskin adalah sedekah (pahala sedekah), dan kepada keluarga adalah sedekah dan silah (pahala sedekah dan pahala silaturrahim). (HR. Ahmad dan dihasankan oleh Tirmidzi)
Adapun terkait dengan sedekah wajib, maka ketika kita berzakat kepada keluarga dekat, maka para ulama mensyaratkan bahwa orang yang kita beri zakat karena sifat fakir dan miskinnya sementara mereka bukan dalam golongan orang-orang yang wajib kita nafkahi, misalnya: anak-anak kita, bapak ibu kita, suami kepada istrinya misalnya. Jika mereka termasuk orang-orang yang wajib kita beri nafkah maka, misal; anak, cucu, ataupun orang tua, maka hal ini tidak dibolehkan, Wallahu A'lam
Wassalamu Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh  
 
2.Sedekah Jariyah: Anak Sholeh
Assalamu alaikum wr. wb.
Team Redaksi Al Husna yang dirahmati Allah SWT.
Berikut pertanyaan yang ingin kami ajukan;
1.  Setelah kita wafat, salah satu pahala yang bisa sampai kepada kita adalah doa dari anak yang shaleh.  Sehubungan dengan hal tersebut, yang dimaksud anak yang shaleh hitungannya adalah anak kita langsung atau termasuk juga di dalamnya doa dari cucu dan keturunan ke bawahnya. (Ratu Hanun)
 2.  Bagaimana ketetapannya bagi pasangan suami istri yang tidak dikaruniai anak, apakah artinya mereka tidak mempunyai kesempatan mendapatkan pahala yang demikian - maksudnya pahala berupa doa dari anak yang shaleh.  (Firsty Husbany)
Demikian pertanyaan yang ingin kami sampaikan.  Mudah-mudahan bisa didapatkan jawaban yang bermanfaat, menambah ilmu saya dan seluruh pembaca buletin Al Husna.  Terimakasih.
Wassalamu alaikum wr. wb.
 
Jawaban:
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Jika seorang manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
 
Termasuk rahmat dan karunia Allah kepada manusia, Dia berkenan menjadikan sebab-sebab yang dengannya seorang manusia masih senantiasa akan mendapatkan pahala walaupun ia telah meninggal dunia. Di antara sebab-sebab tersebut yaitu tiga hal yang disebutkan dalam hadits. Yaitu pertama: sedekah jariyah, dinamakan jariyah karena manfaatnya yang selalu mengalir, selain juga pahala yang senantiasa akan didapatkan oleh si mayyit, contoh dari sedekah jariyah misalnya wakaf tanah untuk membangun masjid, atau membangun sekolah. Kedua: ilmu yang bermanfaat yaitu seperti seorang yang mengajar sebuah ilmu untuk kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang yang diajarinya, ataupun seorang yang menulis buku, sehingga para pembaca mendapatkan manfaatnya. Ketiga: anak sholih yang akan mendoakannya. Al Mundhiri berkata, bahwa maksud dari sholih di sini yaitu seorang anak yang muslim, karena doa selain muslim tidak akan sampai pada si mayyit.
 
Tiga hal tersebut akan selalu mengalir pahalanya buat manusia meskipun ia telah meninggal, karena tiga hal tersebut merupakan hal yang ia usahakan selama hidupnya. Dalam hadits di atas terdapat anjuran untuk bersedekah jariyah, karena manfaatnya akan selalu mengalir, juga terdapat anjuran untuk selalu belajar untuk kemudian mewariskan ilmu dengan mengajar ataupun dengan menuliskannya lewat tulisan, juga anjuran untuk menikah hingga mendapatkan anak yang akan mendoakannya setelah ia wafat nanti. Terkait dengan konteks “anak” disini, Bin Baz mengakatan bahwa yang dimaksud di sini yaitu keturunannya, dimulai dari anak dari sulbinya sendiri, atau anak dari anaknya “cucu”, ataupun anak dari cucunya, dan hingga ke bawah. Ketika mereka semua berdoa untuk kita, insyaAllah doa tersebut akan sampai kepada kita sebagai orang tua mereka. Karena mereka termasuk dari hasil usaha kita. Sabda Rasul “..dan anak shalih yang mendoakannya” tidaklah dipahami bahwa do’a yang bermanfaat hanya dari anak saja. Bahkan do’a kebaikan orang lain untuk si mayyit tersebut tetap bermanfaat insyaAllah. Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan untuk mendoakan kaum mukminin yang lain, entah itu ayahnya atau tidak, juga disyariatkan melakukan shalat jenazah terhadap mayit lalu mendo’akan mayit tersebut walaupun mayit itu bukan ayahnya.
 
Bagi suami istri yang telah berusaha, tetapi Allah dengan hikmahNya- masih belum berkenan memberikan rizki kepada mereka keturunan, maka hal ini adalah ketetapan Allah buat mereka, seyogyanya diterima dengan lapang dada, penuh keikhlasan, mengembalikan semua kepada Allah.
"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan [kepada siapa yang dikehendaki-Nya], dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS. Asy Syura: 48-49)
Hal ini tidak boleh menjadikan seseorang bersedih, dan menganggap bahwa pahala yang mengalir untuknya setelah meninggal telah ditutup oleh Allah karena ia tidak mempunyai keturunan. Tidak. 
 
Ketika Allah menutup satu pintu, di sana masih banyak pintu lain yang terbuka lebar bagi siapa yang mau mengetuknya, untuk kemudian menjadikan pintu tersebut menjadi ladang pahala yang selalu mengalir baginya walaupun ia telah meninggal.
"Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun. (HR. Muslim)
Selain itu pintu-pintu yang lain, seperti bersedekah jariyah, entah itu membangun masjid, wakaf, membuat sumur di pedesaan buat orang-orang desa yang kesulitan air, atau selalu belajar untuk kemudian mewariskan ilmunya kepada orang lain, atau mengajak sebuah kebaikan lalu kebaikan ini diikuti oleh lain, maka ini pun merupakan alternatif bagi kita supaya kita tetap selalu mendapatkan pahala darinya walaupun kita telah meninggal.
Wallahu a’lam bis showab.
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

·          

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com