Buah Hati Yang Dinanti




Oleh : Ustadzah Latifah Munawaroh, MA
"Allahu Akbar… Alhamdulillah". Luapan kesyukuran kepada Allah, pujian kepadaNya membasahi kedua bibir sepasang suami istri. Serta merta keduanya tersungkur bersujud syukur lama nan khusyu' penuh kebahagiaan dan kegembiraan, bersyukur kepada Sang Maha Pencipta.
"Positif", sang istri kembali mengulangi kegembiraannya. Dua strip terlihat sangat jelas pada test pack yang dipegang oleh sang istri, menunjukkan bahwa sebentar lagi akan ada tangisan seorang bayi yang ikut memeriahkan dalam kehidupan rumah tangganya. Senang bukan main, bahagia tak kepalang, tak dapat diekspresikan oleh bahasa lisan, tetapi terasa oleh mereka yang pernah mengalaminya. Bagaimana tidak, sudah lebih dari beberapa tahun sejak pernikahan mereka, yang ditunggu-tunggu oleh pasutri tidak kunjung datang. Si merah yang diharapkan  absen beberapa bulan pertama pernikahan selalu  rajin mendatanginya. Berbagai usaha dan ikhtiyar, entah nasehat dari keluarga, buku ataupun internet, cek up kesehatan, treatment dari dokter pun sudah mereka lakukan, tapi apa daya manusia. Memberi kehamilan adalah hak mutlak Sang Pencipta.
Bukankah Allah berfirman dalam kitabNya: Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan [kepada siapa yang dikehendaki-Nya], dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Asy Syura: 48-49)
Sebagai mukmin,  haruslah beriman dengan keimanan yang penuh tentang ayat ini. Menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, tentunya dengan disertai usaha ataupun ikhtiyar yang nyata. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun dan seterusnya merupakan bilangan penungguan penuh kesabaran, tiada bosan berusaha dan berdoa demi kehadiran seorang anak penyejuk mata. Nabi Zakariya, seorang Nabiyullah ternyata juga mendapatkan ujian ini, menanti-nanti keturunan yang dapat meneruskan dakwahnya, khawatir jika ia tidak mempunyai keturunan dakwahnya akan terputus tidak ada yang meneruskannya. Umurnya yang sudah semakin senja, juga sang istrinya yang sudah tua, tidak menyebabkannya surut dalam berdoa, merintih dan meminta kepada Sang Kholiq: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik". (QS. Al Anbiya: 89). Dalam mihrabnya, ia meminta: "Ya Tuhanku berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Doa". (QS. Ali Imran: 38). Kekuatan doa sungguh dahsyat. Allah Maha Mendengar rintihan hambaNya, Maha Mengabulkan doanya. Istrinya pun hamil. Seketika ia terkejut, kaget, bertanya-tanya "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua, dan istriku pun seorang yang mandul?". Namun Allah berfirman: "Demikianlah Allah berbuat apa yang dikehendakiNya". (QS. Ali Imran: 40).
Sejak di Sulbi Sang Ayah
Sulbi adalah salah satu organ tubuh yang disebut dalam al Qur’an maupun hadist baik secara langsung dan tersamar, sebagai contohnya seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori tentang doa Rasulullah SAW saat  menghadapi penolakan penduduk Thaif, "Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang mau menyembah Allah semata dan tidak mempersetukannya dengan sesuatupun".
Secara ilmiah sulbi ini dinamakan coccyx atau tailbone, atau secara umum dinamakan tulang ekor. Sulbi ini tempat tetap bagi manusia dan dari sulbi pulalah diri manusia dikeluarkan dan bersaksi. Jadi sulbi ini merupakan tempat yang sangat penting. Dan pada kenyataan ilmiah, ternyata pembentukan tubuh manusia dimulai dari tulang sulbi ini.
Dan Islam memberikan bimbingan kepada ummatnya agar menghasilkan kemashlahatan bagi anak-anak di masa depan, di mana hal ini sudah dapat di mulai sejak dalam sulbi calon ayah, sebelum kehamilan yang di nanti datang, bahkan sebelum perkawinan. Selain berusaha menjadi pribadi yang sholeh, hendaknya para lelaki juga mencari pasangan hidup yang sholehah. Dan setelah pernikahan terjadi, harus diperhatikan oleh calon ayah ibu tentang adab-adab  dalam masa-masa usaha untuk mendapatkan kehamilan. Rasulullah bersabda: "Manakala seseorang di antara kalian sebelum menggauli istrinya terlebih dahulu mengucapkan: (Bismillah, Allahumma Jannibnasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa, Dengan nama Allah, ya Allah hindarkanlah kami dari gangguan setan dan hindarkan pula anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami dari gangguan setan), kemudian dilahirkanlah dari keduanya seorang anak, niscaya selamanya setan tidak akan dapat mengganggunya" (Muttafaq Alaih).
Ini mengandung ajakan bahwa sebaiknya permulaan yang kita lakukan dalam hal ini bersifat rabbani. Ketika permulaan hubungan pasutri ini dimulai dengan membaca bismillah, dengan ijin Allah jika mereka diberi karunia kehamilan, anaknya kelak tidak akan diganggu syetan. Menunjukkan pula bahwa hubungan ini berlandaskan ketaatan kepada Allah.
Ketika Kehamilan Datang
Suka cita? Tentu. Bahagia? Pasti. Bersyukur? Sudah seharusnya. Beragam kebahagiaan membuncah penuh rasa bagi mereka, pasutri yang menunggunya.
Kehamilan memang salah satu tujuan dalam sebuah pernikahan. Karena kehamilan bagi pasutri muslim berarti memperbanyak jundi Islam yang muwahhid,  mengesakan Allah dalam penyembahan dan peribadatan, yang akan menambah pengikut Nabi Muhammad, inilah niat yang seharuskan dimiliki oleh seorang muslimah ketika hamil. Seorang wanita yang subur merupakan salah satu kriteria yang diharapkan ketika seorang menikah. Ma'qal bin Yasar Ra datang kepada Rasulullah dan berkata: "Aku menyukai seorang wanita cantik rupa dan bangsawan, tetapi ia seorang wanita mandul, apakah boleh aku nikahi?". Rasulullah menjawab: "Jangan kau nikahinya". Lalu dia datang kepada Rasulullah kedua kalinya, beliau  pun mengulangi jawabannya; "Jangan". Hingga ketiga kalinya ia datang, Rasulullah bersabda: "…Nikahilah wanita-wanita yang penyayang lagi subur, karena sesungguhnya saya berbangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat”.(HR. Abu Dawud dan Nasa'i).
Kehamilan adalah keunikan, ia adalah sebuah keajaiban. Di sana terdapat banyak tanda-tanda kekuasaan Allah bagi yang mau berfikir. Bagaimana tidak?!. Prosesnya yang begitu unik membuat kita takjub dengan sebuah kehamilan ini. Tiada yang bisa seorang katakan kecuali hanya ucapan tasbih pujian kepada Allah: "Subhanallah, Maha Suci Allah Maha Pencipta".
Al Qur'an bercerita tentang proses ini: “Dan sesungguhya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S Al Mu’minun 12-14).
Lebih detail lagi Rasulullah menjelaskan tentang ayat ini dengan sabdanya: "Sesungguhnya setiap orang dari kalian dikumpulan penciptaannya di dalam perut (rahim) ibunya selama 40 hari; air mani, kemudian air mani itu menjadi ‘alaqah (darah kental) selama (40hari) seperti itu juga. Kemudain ‘alaqah itu menjadi segumpal daging (mudhghah) selama (40 hari), seperti itu juga. Kemudian kepadanya diutus Malaikat, lalu ia meniupkan roh kedalamnya serta diperintahkan untuk (menetapkan empat ketentuan: yakni: (1)ditulis rizqinya; (2)ditulis ajalnya; (3)ditulis amalnya; (4)ditulis (apakah ia bakal menjadi) orang celaka, atau orang yang bahagia.” (HR. Bukhari Muslim).
Lalu bagaimanakah seharusnya seorang muslimah menyikapi moment besar ini?. Kehamilan bagi seorang muslimah berarti tanda bahwa ia akan memasuki dunia sebagai seorang ibu, sedangkan bagi suami, berarti ia akan memasuki dunia baru sebagai seorang ayah. Seorang perempuan yang hamil, akan dapat merasakan bagaimana pengorbanan kedua orang tuanya dahulu. Sehingga hal ini dapat membuatnya lebih dalam berbirrul walidain kepada orang tuanya.
Masa-masa kehamilan bagi pasutri merupakan masa yang tidak sebentar, 9 bulan kehamilan merupakan masa-masa normalnya seorang wanita hamil. Pada masa-masa itu tentu akan ada perubahan di beberapa sisi bagi wanita. Perubahan hormon, perubahan berat badan, dll merupakan fase tersendiri yang akan dialami oleh wanita yang hamil. Berikut ini beberapa hal-hal yang harus diperhatikan bagi pasutri, khususnya bagi sang istri dalam menghadapi masa-masa kehamilan:
1.   Persiapan secara psikis dan keilmuan yang diperlukan untuk menjadi orang tua. Persiapan ini merupakan persiapan yang penting hingga mereka berdua siap untuk menjadi orang tua, bersiap untuk menerima amanah seorang anak, berikut amanah untuk mendidiknya hingga menjadi seorang anak yang sholih, yang nantinya akan menjadi "pahala jariyah", pahala yang tidak terputus walaupun keduanya telah meninggal. Dengan anak sholih tersebut, keduanya akan mendapat pahala yang sangat agung, tiada diketahui kecuali oleh Allah. Pendidikan anak merupakan hal yang kompleks, sehingga membutuhkan persiapan. Memperbanyak membaca buku, atau belajar kepada orang-orang disekitar yang sudah berpengalaman, bisa menjadi salah satu alternatif  bagi calon ayah dan ibu.
2.   Seorang wanita yang sedang hamil, tentu akan mengalami kepayahan-kepayahan dalam kehamilannya, dimulai dari rasa mual dan muntah-muntah, atau apa yang disebut dengan morning sickness di tiga bulan pertama merupakan kewajaran, berat badan yang tentunya akan meningkat perbulannya, kelelahan ketika hamil, ataupun semua rasa payah biasa terjadi bagi seorang wanita hamil, apa yang dialami semua itu merupakan bentuk perjuangan tersendiri, dan keistimewaan seorang perempuan, sehingga jika diniati karena Allah, dan ia sabar atas segala kepayahan itu, maka semuanya akan menjadi pahala baginya di akhirat ini. Jika saja sebuah duri yang menyakiti seorang muslim dapat menjadi pahala kebaikan, maka dapat dibayangkan bagaimana dengan semua rasa payah yang dialami oleh seorang wanita hamil?. Simak baik-baik bagaimana Allah menyifati kepayahan ini:
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ
"..Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang lemah yang bertambah-tambah.." (QS. Luqman: 14)
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا
"..Ibunya yang mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula…" (QS. Al Ahqaf: 15)
Kepayahan-kepayahan akan berbuah pahala jika seorang wanita menghadapi dengan penuh kesabaran dan ihtisab ajr –mengharap pahala- dari Allah. Rasulullah  bersabda, “Tiada suatu pun yang menimpa seorang Muslim, melainkan dengannya Allah hapuskan (dosa-dosa kecil) darinya sampai-sampai sebatang duri pun yang menusuknya.”(HR.Bukhori dan Muslim).
Hadits di atas hendaklah menjadi asupan harian bagi seorang wanita hamil dalam menjalani hari-harinya selama masa hamilnya, bahkan hingga masa melahirkan tiba.
3.   Bahkan jika ia ditaqdirkan meninggal dalam masa melahirkannya maka ia meninggal dalam kondisi syahid, insyaAllah. Tidak sedikit kita mendengar cerita seorang wanita muslimah yang berjuang melahirkan lalu ia meninggal. Ubadah bin Shamit ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bertanya, "Siapa yang kalian anggap sebagai syahid?" Mereka menjawab, "Yang berperang hingga terbunuh di jalan Allah Swt." Mendengar jawaban tersebut beliau bersabda, "Kalau begitu orang yang syahid di antara umatku sedikit. Namun, orang yang terbunuh di jalan Allah, syahid, orang yang mati karena penyakit di perut, syahid, orang yang kena wabah penyakit, syahid, wanita yang meninggal dunia sementara dalam perutnya terdapat janin juga syahid (entah sebelum atau sesudah melahirkan)."(HR Imam Ahmad, Ibn Majah, dan Ibn Hibban).
Para ulama mengatakan bahwa wanita yang meninggal karena melahirkan ini adalah dihukumi syahid, tetapi syahidnya yaitu syahid akhirat, pahala yang ia dapatkan seperti halnya pahala seorang yang syahid, tetapi ia diperlakukan di dunia seperti halnya orang yang mati pada umumnya: dimandikan, dikafani, dishalati, dan dikuburkan. Kondisi syahid ini tidak didapat kecuali dengan syarat yaitu bersabar dan mengharap ganjaran Allah atas penderitaan yang dialami. Tentu sebuah kemuliaan tersendiri bagi wanita dengan gelar syahid ini, karena seorang syahid memiliki keistimewaan seperti yang ditegaskan oleh baginda bahwa orang yang mati syahid akan mendapatkan ampunan, akan melihat tempatnya di sorga, terlindung dari siksa kubur, aman dari huru-hara kiamat, diberi mahkota permata yang lebih baik dari dunia dan seisinya, dinikahkan dengan 72 bidadari, bisa memberi syafaat kepada 70 keluarga dekatnya.
Amalan-amalan Bagi Wanita Hamil
Seringkali kita menemukan buku atau artikel tentang anjuran amalan-amalan khusus bagi wanita hamil, baik itu membaca ayat atau surat tertentu, atau mengerjakan amalan tertentu selain membaca. Misalnya jika ingin anaknya tampan maka membaca surat Yusuf, atau jika ingin anaknya cantik maka membaca surat Maryam.
Kalau kita kaji lebih jauh, tidak ada amalan atau bacaan khusus yang diajarkan oleh Allah ataupun RasulNya yang dikhususkan bagi wanita hamil. Amalan atau bacaan khusus yang kita dapati dalam buku-buku itu biasanya merupakan pandangan ulama ataupun merupakan kebiasaan setempat, yang bisa saja sesuai dengan ajaran Islam, atau bisa saja menyimpang dari ajaran Islam. Di sini dibutuhkan kecermatan dan kehati-hatian dalam melihatnya sehingga tidak jatuh kepada amal yang tidak disyariatkan atau menyimpang.
Amalan-amalan secara umumnya dalam amalan harian seorang muslim, merupakan amalan-amalan yang tetap dianjurkan bagi mereka ibu-ibu hamil. Bagi suami istri dalam masa hamil, hendaklah menjaga ibadah khususnya ibadah wajib seperti sholat lima waktu, selain itu berdoa kebaikan bagi janin yang dikandung, semoga menjadi anak yang sholih. Senantiasa menjaga dzikir ma'tsur, baik dzikir sore ataupun petang, dzikir setelah sholat, merupakan amalan-amalan yang sudah seharusnya dijaga bagi seorang muslim, khususnya buat ibu hamil. Kondisi psikis ibu hamil yang sering tak stabil, dikarenakan hormon kehamilan membutuhkan untuk selalu dalam kondisi tenang. Dzikir-dzikir inilah merupakan salah satu sumber ketenangan, bukankah Allah telah berfirman, yang artinya: “Orang-orang yang beriman, dan hati mereka tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Dibawah ini beberapa doa yang diambil dari Al Qur'an agar Allah menjadikan anak yang dikandungnya menjadi seorang anak sholih.
1.     رَبِّ هَبْ لى‏ مِنْ لَدُنْكَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً اِنَّكَ سَميعُ الدُّعاء
Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa. (QS. Ali Imran: 38)
2.     رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan Kami perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim: 40)

 

3.     الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqan: 74)

4.     رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.(QS. As Shaffat: 100)

 

5.     رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri] (QS. Al Ahqof: 15)

 

Mitos Surat Yusuf dan Surat Maryam
 
Sering kali para orang tua atau mungkin para ulama' tradisional memberikan nasehat untuk memperbanyak membaca surat Yusuf dan surat Maryam, mereka berdalih bahwa kedua surat tersebut akan menjadikan si bayi nanti akan menjadi seorang yang tampan jika ia laki-laki, dan akan menjadi seorang yang cantik jika perempuan. Sejauh mana mitos ini berpengaruh? Bagaimana dengan kandungan surat Yusuf dan surat Maryam itu sendiri? Adakah dalil dalil dari hadits yang mengkhususkan hal ini?
Surat Yusuf, merupakan surat Makkiyah yang terdiri dari 111 ayat ini keseluruhan berisi tentang perjalanan seorang Nabi yang bernama Yusuf, sehingga surat ini dinamakan surat Yusuf. Kisah beliau bersama saudara-saudaranya merupakan kisah yang paling menonjol dalam surat ini, di situ tidak terdapat permohonan  ketampanan fisik secara tekstual. Adapun surat Maryam dengan jumlah 98 ayatnya bercerita tentang kisah Maryam ketika melahirkan Nabi Isa dengan tanpa adanya suami, juga kisah tentang Nabi Zakariya. Di dalamnya pun tidak ada permohonan kecantikan fisik bagi yang membacanya. Disamping tiada dalil dalam syariat Islam yang menguatkannya. Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendakiNya. Tak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (QS. Ali Imram: 6)
Imam Qurthubi menafsirkan bahwa Allah yang menjadikan seorang manusia menjadi tampan atau sebaliknya, berkulit putih atau sebaliknya, seorang yang lahir dalam kondisi normal sehat, atau sebaliknya.
Islampun mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah memohon kesempurnaan/kecantikan fisik, tetapi yang terpenting yaitu kecantikan dan kesholihan pribadi seorang anak hingga nantinya menjadi seorang yang sholih dan cahaya mata serta dapat menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.
Tetapi hal ini tidak menjadikan penghalang bagi seorang wanita yang hamil untuk membiasakan bahkan memperbanyak untuk membaca Al Qur'an pada umumnya, karena mendengarkan Al Qur'an juga memperdengarkannya buat janin di dalam kandungan merupakan aktifitas yang disukai. Suara Al Qur'an akan mendatangkan rahmat bagi yang mendengarkan, bagi ibu ataupun bagi janin. “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.”
Membaca Al Qur'an dengan sambil mengelus-ngelus kandungan merupakan salah satu cara pendidikan sejak dini, sejak dalam kandungan, karena penelitian mengatakan bahwa otak dan indra pendengaran anak sudah mulai berkembang, mereka dapat merasakan apa yang terjadi di luar kehidupan mereka, sementara yang mempengaruhi otak dan indera pendengaran bayi di dalam kandungan.
Jika terdapat penelitian bahwa musik berpengaruh terhadap perkembangan otak bayi, maka niscaya tentunya sebagai seorang muslim kita harus lebih percaya bahwa bacaan Al Qur'an lebih membawa pengaruh yang lebih baik, entah pengaruh di dunia atau di akhirat.
Itulah kehamilan, sesuatu yang sangat diharapkan semua pasangan yang telah berumah tangga, bukan hanya sebagai pembuktian diri atas kesempurnaan diri. Tetapi lebih kepada  tercetaknya penerus keturunan dalam keluarga. Dan bagi kaum muslimin hendaknya menjadikan kehamilan sebagai awal persiapan generasi-generasi Rabbani yang nantinya mampu membela Islam dan mengembangkan dakwah sampai akhir  zaman. Sehingga sudah seharusnya mempersiapkannya dengan penuh kehati-hatian  dalam  hal fisik maupun kerohanian sang calon penerus semenjak dalam sulbi-sulbi para kaum lelaki. Dan berlanjut saat mereka tumbuh di rahim-rahim para wanita sampai mereka terlahir ke dunia.

 

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com