Memahami Ngidam Pada Ibu Hamil



Sebagian besar ibu hamil, jika ditanya apakah pernah merasakan ngidam, pasti jawabannya, iya pasti, atau tentu donk…! Tetapi ada juga yang tidak merasakan ngidam apa-apa, atau malah tidak percaya adanya ngidam terutama para suami, karena takut istrinya akan meminta makanan yang aneh-aneh dan susah didapat.

Ngidam adalah rasa menginginkan sesuatu secara tiba-tiba pada ibu hamil, baik berupa makanan atau hal-hal lain, dan terkadang di waktu yang tidak terduga, sehingga sulit untuk mendapatkannya. Ngidam bukanlah hayalan, juga bukan sekedar sugesti, tetapi ada dan terbukti secara kenyataan. Karena proses ngidam sendiri diakui oleh dunia kedokteran sebagai reaksi dari awal kehamilan. Ibu hamil biasanya merasa ngidam di trimester pertama kehamilannya. Namun ada juga yang merasakan ngidam sampai menjelang melahirkan.

Menurut para peneliti dan ilmuwan, misalnya Janet Pope, PhD, asisten profesor nutrisi dan diet dari Lousiana Tech University, Ruston, Amerika Serikat, menjelaskan ngidam sebenarnya terjadi karena adanya pengaruh hormon. Saat hamil, wanita merasakan hal serupa ketika mereka tengah haid, menginginkan sesuatu yang disebabkan pengaruh hormon.

Naiknya kadar hormon progesterone pada wanita hamil, akan berpengaruh pada fungsi dan metabolisme tubuh, salah satunya pada organ pencernaan dan produksi air liur. Dengan meningkatnya produksi air liur, selain menyebabkan sering meludah, juga akan menimbulkan rasa logam dan tebal dimulut, sehingga sering timbul rasa mual muntah, dan menginginkan makanan yang tajam rasanya seperti asam dan asin.

Selain hormon, ngidam juga sebagai tanda tubuh ibu hamil memerlukan nutrisi tertentu. Beberapa hal yang diidamkan memang apa yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menambahkan kalori selama kehamilan. Misalnya saja kalau ingin buah, berarti tubuh butuh vitamin C, atau ingin makan coklat, berarti tubuh membutuhkan vitamin B. Mengidamkan makan steak dan daging merah lainnya, berarti tubuh memerlukan protein dan zat besi lebih untuk membantu pertumbuhan bayi. Ingin makan makanan manis, berarti tubuh butuh kalori lebih. Kadang juga menginginkan makanan atau minuman dengan rasa asam, karena rasa asam membuat wanita hamil menjalani pola makan yang lebih bervariasi sehingga mereka bisa mendapatkan kalori yang cukup.

Mengaitkan ngidam dengan keinginan bayi di dalam kandungan, atau meyakini adanya dampak yang timbul ketika ngidam tidak dipenuhi, adalah anggapan yang tidak bisa dibenarkan dan perlu dikritisi. Belum lagi kalau permintaannya adalah hal-hal yang membahayakan bagi ibu dan bayinya, misalnya ngidam ingin makan arang atau ingin makan makanan yang haram, yang tentu tidak boleh dikabulkan keinginannya. Tetapi ada juga ngidam dengan hal-hal yang unik dan menarik, bahkan sangat berkaitan dengan beribadah.

Ada artikel menarik tentang ngidam yang pernah saya baca. Ada seorang calon ibu muda yang tengah hamil 5 bulan, sebut saja ibu Lia. Calon ibu muda ini benar-benar merasakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Sesuatu yang tidak bisa dipelajari dari kursus, sekolah, bahkan pengajian sekali pun. Memang, ia pernah mendengar cerita-cerita soal ngidam. Baca buku tentang tema itu juga sudah beberapa kali. Tapi, kenyataan benar-benar jauh dari yang pernah didengar dan dibaca. Sungguh, ngidam buat ibu Lia menjadi sesuatu yang benar-benar unik dan menarik.

Selain emosinya gampang tersinggung dan jadi manja ke suami, ibu Lia selalu ingin shalat di masjid yang menurutnya sangat menarik untuk dikunjungi. Bisa karena arsitekturnya, ukuran, atau hal lain yang unik. Dan ketertarikan itu bisa muncul hanya melalui gambar atau sekadar omongan dari orang lain.

Kalau ketertarikannya muncul, calon ibu yang tinggal di kawasan perkampungan ini pun memohon dengan sangat ke suaminya. Ibu Lia minta supaya diantar ke masjid yang ia inginkan. Dengan cara apa pun, pokoknya, ia harus bisa melihat, masuk, dan shalat dua rakaat di masjid itu. Setelah itu, pulang.

Pada suatu hari, seorang tetangganya baru pulang dari pasar di kota. Tetangga ibu Lia menceritakan bagaimana ramainya pasar itu. Tetapi yang ditanya ibu Lia adalah masjidnya. Meskipun agak bingung karena yang diceritakan pasar, yang ditanya malah masjidnya, tetap dijawab bahwa masjidnya bagus, enak, dan besar. Setelah itu, ibu Lia minta diantar ke masjid agung kota. Padahal, hari sudah menjelang sore. Tapi, karena desakan yang begitu kuat, suami ibu Lia pun terpaksa mengantar isterinya menuju masjid agung di kota.

Setibanya di pintu gerbang masjid, ibu Lia berdiri mematung. Wajahnya begitu tenang seperti memandang taman bunga. Kekagumannya benar-benar melupakan rasa lelahnya yang menempuh perjalanan hingga hitungan jam. Setelah shalat dua rakaat, ia pun minta pulang.

Setelah bebarapa hari vakum, suatu ketika ia menikmati pemandangan adzan maghrib di sebuah stasiun televisi. Beberapa tayangan tentang masjid mengiringi alunan kumandang adzan yang begitu syahdu. Dan, salah satu masjid tiba-tiba jadi bidikannya.

Seperti biasa, ibu Lia pun memohon dengan sangat untuk diantar ke masjid pilihannya itu. Karena desakan yang begitu kuat, sang suami pun menurut. Setelah susah payah, ibu Lia dan suami pun tiba di Masjid Istiqlal Jakarta. Dan seperti biasa juga, usai shalat dua rakaat, ibu Lia dan suami kembali pulang.

Hingga di suatu pagi yang cerah, suami ibu mila mengajak isterinya menjenguk bapak dan ibu Kepala Desa yang baru saja pulang haji. Suara letusan petasan sudah terdengar di sepanjang perjalanan. Setelah bersalaman, ibu Kades pun berujar, ”Waduh Nak Lia, Masjid Haram itu benar-benar indah, lho. Wuih, pokoknya indah sekali!”

Saat itu juga, wajah suami ibu Lia tiba-tiba pucat. Ia tidak bisa membayangkan kalau setiba di rumah nanti, isterinya me maksa minta diantar ke Masjidil Haram di tanah suci Mekah itu, hanya untuk shalat dua rakaat.

Yang penting, hendaknya pihak keluarga, terutama suami memberikan perhatian yang terbaik untuk wanita/ istri yang sedang hamil. Terutama pada masa ngidam.

Sikap cuek, tidak peduli dan tidak perhatian, justru akan menimbulkan masalah baru. Apalagi kalau isteri ngidamnya benci suami, atau benci bau suami, Karena banyak terjadi perceraian di awal kehamilan, sebabnya adalah suami tidak memahami kondisi istrinya yang sedang ngidam atau tidak mampu memberikan penanganan yang sesuai bagi wanita / isteri. Karena itu, hendaknya masing-masing berusaha saling memahami dan mencari solusi terbaik. Isteripun harus belajar untuk mengendalikan diri agar jangan sampai ngidamnya menimbulkan masalah dan menyusahkan suami atau anggota keluarga yang lain. Dengan begitu, kedua calon bapak dan ibu bisa menikmati indahnya masa kehamilan dan bisa mempersiapkan proses kelahiran dengan lancar dan aman. (ummu Fathimah Zahra).

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com