Menjadi Ayah Juara



“Anyone can be a father, but it takes a real man to be a daddy“.
Cukup sulit untuk mendapatkan definisi yang tepat dari pribahasa tersebut terutama arti kata father dan daddy dalam bahasa Indonesia. Daddy adalah panggilan akrab dari seorang anak kepada ayahnya yang melambangkan kemesraan hubungan serta keakraban komunikasi antara ayah dan anaknya. Sedangkan kata father adalah status resmi seorang laki-laki yang mempunyai anak. Biasanya kata ini sering kita dapatkan ketika mengisi form isian dari sekolah atau form isian resmi. Kata father akan terdengar kaku dan hampir mustahil dipakai sebagai kata panggilan oleh anak-anaknya. Father adalah status alami bagi seorang laki-laki yang mempunyai anak. Ketika anaknya lahir maka ia akan memperoleh status tersebut, akan tetapi belum tentu ia akan mendapatkan status sebagai daddy bagi anak-anaknya. Apakah status daddy ini sangat penting?
Banyak sekali Allah swt. menampilkan komunikasi yang diperankan oleh sang ayah kepada anaknya. Misalnya komunikasi antara Luqman dan anaknya yang diabadikan dalam surah Luqman:

“dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya, Ya Bunayya (wahai anakku), janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memepersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.“ (Luqman:13)

Panggilan ya bunayya adalah panggilan yang mesra antara ayah dan anaknya.

Ketika seorang pria menyadari bahwa dirinya sekarang adalah seorang ayah dari bayinya yang baru saja dilahirkan oleh sang istri maka pada saat itu secara naluriah akan muncul beberapa pertanyaan kepada dirinya. Salah satunya adalah bagaimana untuk menjadi seorang ayah yang baik bagi anak-anaknya. Dalam sebuah hadits, Jabir bin Samurah pernah berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“seseorang yang mengajari anaknya tentang kebaikan adalah lebih baik baginya daripada ia bersedekah sebanyak satu sha’. (HR. Tirmidzi)

Kesalehan masyarakat harus dibentuk untuk mendapatkan keberuntungan dalam kehidupan dunia dan akhirat`. Kesalehan masyarakat tidak akan tercipta tanpa dilaksanakannya kewajiban yang telah digariskan Allah kepada umat Islam itu sendiri. Sedangkan kesalehan masyarakat dibentuk dari keluarga yang saleh. Dan keluarga yang saleh dibentuk dari ayah, ibu serta anak-anak yang saleh. Jadi tugas seorang ayah adalah tugas yang sangat penting yang akan menentukan arah kesalehan masyarakat itu sendiri.

Menurut Teori Perkembangan Psikososial, Erik Erikson, masa remaja adalah masa dalam tahap the sense of identity, tahap mencari identitas. Termasuk meniru dan mengikuti perilaku model yang menjadi idolanya. Ayah adalah seorang sosok idola yang paling dekat bagi anak-anaknya yang akan mempengaruhi kepribadian mereka. George Herbert mengatakan bahwa one father is more than a hundred schoolmasters. Seorang ayah mempunyai pengaruh yang besar pada perkembangan anak-anaknya.

Perilaku ayah yang kuat dan memiliki nilai positif akan membekas ke lubuk hati seorang anak. Terkadang cita-cita ketika besar nanti terbentuk karena melihat apa yang dilakukan oleh sang ayah. Ketika melihat ayahnya seorang guru yang baik, menjadi teladan masyarakatnya, dan bermanfaat bagi orang lain maka seorang anak akan mempunyai cita-cita untuk menjadi guru seperti ayahnya. Begitu pula pengaruh pengaruh negative yang kuat dari ayah akan sangat mudah menurun kepada anak-anaknya. Seorang ayah yang perokok akan lebih mudah mendapatkan anak-anaknya kelak ketika dewasa menjadi perokok. Dihadapan anak-anaknya, seorang ayah adalah penanam saham penentu kesalehan mereka.

Ibnu Syihab mengatakan bahwa Abu Hurairah ra pernah memberitahukan sabda Rasulullah saw. kepadanya yang artinya :

“Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orangtuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau pun Majusi... (HR.Bukhari)

Sosok ayah adalah seseorang dengan tanggung jawab yang tidak ringan. Kepemimpinan seorang ayah juga akan diminta pertanggungjawabnnya kelak di akhirat. Karena kepemimpinan adalah tugas utama manusia di bumi ini, sedangkan untuk memimpin kita perlu bekal ilmu, maka seorang ayah perlu sekali mempelajari ilmu kepemimpinan.

Rasulullah saw pun menguatkan dengan melalui sabdanya:

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya“ (HR.Bukhari & Muslim)

Ayah adalah inspirator dan motivator yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Seorang anak terkadang belajar dengan semangat yang menyala-nyala dan gairah hidup yang tinggi, namun tidak bisa dipungkiri suatu saat ia akan mengalami masa-masa yang sulit, tidak berdaya, lemah dan putus asa. Dalam kondisi seperti ini kehadiran sosok ayah sangat diperlukan. Seorang anak perlu dibantu untuk mengembalikan semangatnya. Bisa jadi kekalutan yang dialami oleh seorang anak hanya karena memang pengalaman hidupnya yang belum panjang, kurang referensi atau terlalu cepat mengambil keputusan. Untuk itu tidak dipungkiri bahwa seorang anak membutuhkan panutan dalam hidupnya.

Menghadirkan cerita-cerita orang yang sukses, kisah-kisah keteguhan dan keuletan para rasul, nabi dan sahabat mulia, serta pejuang-pejuang umat perlu ditanamkan sebagi sumber kekuatan bagi si anak. Bagaimana orang yang buta seperti Ibnu Ummi Maktum masih tetap semangat mendukung perjuangan Rasulullah sampai titik darah penghabisan adalah salah satu cerita inspirasi yang perlu diketahui oleh ayah.

Mempelajari kehidupan orang-orang sukses seprti Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali merupakan salah satu bekal yang tepat untuk memperkaya wawasan seorang ayah agar mampu memberikan solusi bagi masalah anak-anaknya. Kegigihan perjuangan hidup mereka menjadikan inspirasi semangat, hingga tidak ada lagi lemah dan tak berdaya.

Allah swt berfirman:

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Hud:120)

Jadi, seorang ayah harus dapat berperan sebagai pembawa solusi pemecahan berbagai masalah. Ia mempunyai perhatian yang besar pada tanggung jawab yang diembannya. Ia mengawal terus jalannya sebuah proses persoalan yang dimiliki oleh anaknya, sehingga mendapatkan penyelesaian yang tepat dan akurat.
Begitu besar tanggung jawab seorang ayah, sehingga membuatnya selalu takut kepada Allah, dan menjadikannya sebagai motivasi yang luar biasa untuk memenuhi tanggung jawab tersebut dengan serius.(Mochamad Arif Santoso) Dikutip dari Sumber : Ayah Juara - 7 Hari Menjadi Ayah Qur'ani, oleh: Dr. Muhammad Yusuf Efendi))

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com