Sholat Sunnah Mutlaq


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda
1.     Sholat Sunnah Mutlaq

Assalamualaikum Warahmatullah
Saya ingin bertanya seputar sholat sunnah muthlaq. Apa maksudnya? Dan apakah dasar dari sholat sunnah muthlaq ini? Adakah hadits shahih yang berkaitan langsung dengan sholat sunnah muthlaq ini. Sekian,  Terimakasih.

Wassalamualaikum Warahmatullah
Sigit, Banyumas, Indonesia

Jawaban:

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Bismillah, Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulillah wa ala alihi wa sallam, wa ba'du.

Dalam buletin Al Husna edisi 10, februari  2013 yang telah lalu, telah dibahas definisi sholat sunnah, juga fadhilahnya. Selain disebutkan juga tentang satu jenis dari sholat sunnah, yaitu sholat sunnah rawatib, dimana sholat sunnah rawatib ini adalah sholat yang menyertai sholat fardhu, baik sebelum ataupun setelahnya.

Pembagian sholat sunnah secara lebih jelasnya sebagai berikut, sesuai yang ada dalam kitab Fiqih Manhaji:

1.     Sholat sunnah yang tidak disunnahkan untuk berjamaah:

a.     Sholat sunnah yang menyertai sholat fardhu yang kita kenal dengan sunnah rawatib: rawatib muakkadah dan rawatib ghairu muakkadah.

b.     Sholat sunnah yang tidak mengikuti sholat fardhu, terbagi dua: pertama, sholat sunnah yang mempunyai nama dan pada waktu tertentu misalnya sholat dhuha dan sholat witir, kedua sholat sunnah yang tanpa nama dan waktu, dinamakan sholat sunnah muthlaq.

2.     Sholat sunnah yang disunnahkan berjamaah di dalamnya, misalnya sholat Iedain, sholat tarawih, sholat istisqo, sholat khusuf dan kusuf.

Bahasan kita kali ini yaitu tentang sholat sunnah mutlaq. Apakah artinya? Apa fadhilahnya? Apa dasarnya?

Sholat sunnah muthlaq yaitu sholat sunnah yang dapat dilakukan seorang muslim pada malam dan siang hari dengan tanpa sebab misalnya seorang yang menunggu iqamat sholat setelah ia sholat rawatib sebelumnya, kemudian ia lanjutkan beberapa rakaat lagi hingga iqamat dikumandangkan, nah beberapa rakaat tambahan inilah yang dinamakan sholat sunnah mutlaq.

Sholat sunnat mutlaq ini boleh dilakukan pada waktu kapan saja baik malam atau siang, kecuali pada lima waktu terlarang untuk sholat, yaitu:

1.   Ketika matahari mulai terbit hingga dia agak tinggi.

2.   Ketika matahari tepat berada di tengah langit hingga dia tergelincir.

3.   Ketika matahari mulai tenggelam hingga dia tenggelam sempurna.

4.   Setelah shalat subuh hingga matahari meninggi.

5.   Setelah shalat ashar hingga matahari terbenam.

Sholat sunnah mutlaq dapat dilakukan dua rakaat dua rakaat seperti dalam hadits "sholat malam dan siang  (dilakukan) dua rakaat dua rakaat" (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa'I dan Ibnu Majah, disahihkan Albani).

Sholat sunnah mutlaq ini dianjurkan berdasarkan hadits keutamaan sholat sunnah secara umumnya, sebagaimana Rasul bersabda kepada Abu Dzar: "Sholat adalah sebaik-baik perkara, lakukan dengan banyak atau sedikit" (HR. Ibnu Majah dan Thabrani, dihasankan oleh Albani). Dari Tsauban, Rasulullah berkata: "Perbanyaklah sujud, sesungguhnya engkau tidak bersujud satu kali sujud kepada Allah, kecuali Allah akan angkat untukmu satu derajat". (HR.Muslim), yang dimaksud sujud di sini yaitu sujud dalam sholat, yang berarti memperbanyak sholat sunnah, karena dengan memperbanyak sholat secara otomatis akan dapat memperbanyak sujud. Wallahu A'lam. Wassalamu'alaikum Warahmatullah.

2.Mahram bagi wanita muslimah

Saya mempunyai beberapa pertanyaan seputar mahram bagi wanita muslimah.

1.seorang wanita yang menikah dengan dengan seseorang yang telah mempunyai anak laki-laki, apakah anak laki-laki ini nantinya dapat menjadi mahram baginya, dalam artian bolehkah ia membuka hijab di depan anak laki-laki dari suaminya ini? Bolehkah pula wanita ini berangkat haji dengan anak laki-laki ini menjadi muhrimnya?

2. sebaliknya, jika seorang wanita yang sudah mempunyai anak perempuan, lalu cerai, atau meninggal suaminya, kemudian si wanita menikah dengan seseorang, apakah anak perempuan ini haram bagi suami ibunya, bolehkah anak perempuan ini tidak berhijab di depan ayah tirinya/suami ibunya?. Jazakumullah khoir.

Ummu Amal, Andalus, Kuwait

Jawaban:


Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Bismillah, Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulillah wa ala alihi wa sallam, wa ba'du.

Pertanyaan seputar muhrim, begitu si penanya bertanya, padahal yang dimaksud yaitu mahram. Sebelum lebih jauh kita mengkaji, kita luruskan bahwa yang dimaksud di sini yaitu “mahram” bukan muhrim. Kata muhrim akan mempunyai arti: orang yang sedang ihram, baik ihram untuk haji ataupun umrah ataupun untuk dua-duanya seperti dalam manasik haji Qiran. Dan ini bukan bahasan kita di sini.

Mahram yaitu orang yang haram dinikahi dari kalangan perempuan ataupun laki-laki. Sedangkan mahram dari kalangan wanita yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar bersamanya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.


Di atas adalah mahram dari kalangan perempuan, dalam artian siapa saja yang haram dinikahi bagi seorang laki-laki. Kebalikannya, yaitu mereka yang tidak boleh dinikahi oleh wanita, maka mereka itulah mahram bagi wanita.  

Mahram ini dibagi menjadi tiga bagian: Mahram karena hubungan nasab, mahram karena penyusuan, mahram karena hubungan pernikahan. Adapun kedua pertanyaan di atas berhubungan dengan mahram karena hubungan pernikahan.

Dimana pertanyaan yang pertama tentang anak laki-laki dari suami  atau hubungan anak tiri laki-laki dengan ibu tirinya,  anak tiri itu adalah mahram bagi wanita tersebut karena sebab hubungan pernikahan. Sebagaimana tertulis dalam ayat, ”Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu..” (QS. An Nisa: 22). Dengan sekedar akad pernikahan ini tanpa memperhatikan adanya jima' atau tidak,  maka dengan sendirinya wanita tersebut atau ibu tirinya itu  tidak boleh menikah dengan anak tiri laki lakinya  walaupun wanita itu telah terjadi perceraian atau kematian suaminya.

Sedangkan pertanyaan no.2  bahwa anak perempuan dari istri yang dinikahi oleh seorang laki-laki/ hubungan anak tiri perempuan dengan ayah tirinya. Anak tiri perempuan tersebut  haram dinikahi dan menjadi mahram bagi ayah tirinya  jika telah terjadi jima’antara laki-laki tersebut dengan ibu si anak perempuan itu. Adapun jika sekedar akad nikah, tanpa adanya jima’ kemudian terjadi perceraian ataupun kematian, maka anak perempuan tersebut boleh menikah dengan bekas suami ibunya.

Lebih jauh tentang mahram ini dapat kita lihat dalam surat An Nisa: 23. Dan dalam hadist Bukhori Muslim disebutkan,“Apa yang haram karena nasab maka itupun haram karena penyusuan.”

Untuk lebih jelasnya kita bisa melihat table di bawah ini :

No
Sebab Mahrom
Mahrom
1
Nasab
1.     Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita.
2.     Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita.
3.     Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu.
4.     Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.
5.     Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.
6.     Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita.
7.     Putri saudara laki-laki (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita.
2
Penyusuan
Sama dengan golongan di atas, tetapi sebabnya karena penyusuan. Misalnya pada golongan no.1, yaitu ibu berarti ibu susu, nenek (ibu dari ibu susu atau ibu dari bapak/suami dari istri yang menyusuinya. Pada golongan no.2, yaitu anak maka anak susu adalah mahrom bagi yang menyusui, dan seterusnya.
Menurut pendapat jumhur, masa menyusui yang dapat menjadikan hubungan antara anak dan ibu susu menjadi mahram yaitu ketika anak belum mencapai dua tahun dan dengan batasan lima kali susuan kenyang.
3
Sebab ikatan pernikahan
1.     Ibu mertua, dan yang ke atasnya/nenek istri
2.     Istri dari anak laki-laki, istri cucu dan yang seterusnya ke bawah
3.     Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas
4.     Rabibah, yaitu anak perempuan dari istri yang dinikahinya
Catatan: no.1,2,3 Golongan ini menjadi mahram dengan sekedar adanya akad nikah walaupun belum terjadi jima’  Tetapi golongan no.4, disyaratkan terjadi jima’ hingga dapat menjadi mahram.   


Selain yang disebut di atas, maka bukan mahram. Misalnya saudara perempuan istri, ataupun bibi istri, maka tidak boleh berduaan dengannya, tidak boleh safar dengannya, dst yang berhubungan dengan hukum mahram, tetapi tidak boleh menikahi keduanya jika masih terjadi hubungan pernikahan.Wallahu a’lam.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com