Berkarya dari Rumah? Kenapa Tidak?







“Anda memiliki waktu seumur hidup untuk bekerja, namun anak-anak Anda hanya memiliki masa kecil sekali”. (Anonim)







Berbincang tentang peranan perempuan, tidak akan pernah ada habisnya. Selalu menarik. Selalu ada pro dan kontra. Apakah sebaiknya perempuan di rumah saja, menjadi ibu rumah tangga? Tidak bolehkah perempuan keluar rumah untuk mengaktualisasikan diri? Tidak pernah ada jawaban yang benar dan pasti untuk pertanyaan-pertanyaan seperti itu karena tergantung dari sudut pandang mana kita melihat permasalahannya.


Saya pribadi, tidak antipati dengan wanita karier. Bukan karena dulu saya juga termasuk salah satu dari para wanita pekerja. Tapi ada beberapa sektor publik yang memang menuntut keterlibatan perempuan. Saya tidak membayangkan bagaimana jadinya kalau dokter kandungan itu tidak ada yang perempuan. Diperiksa oleh dokter kandungan yang perempuan saja kadang risih apalagi sama dokter kandungan laki-laki ya, hehee… Dan rasanya saya juga lebih nyaman dirawat oleh perawat yang perempuan dibanding laki-laki.

Selain itu, sebagian besar motif para perempuan bekerja di luar rumah adalah motif ekonomi. Para perempuan ini adalah pahlawan bagi keluarganya, ketika sang kepala rumah tangga ‘lumpuh’.  Para perempuan perkasa ini terjun bebas mencari biaya hidup keluarga, tak segan menjadi buruh cuci, buruh pabrik, penarik becak, kuli bangunan, supir bus/angkot, pemulung, bahkan menjadi asisten rumah tangga di negeri antah berantah yang belum pernah mereka kunjungi, yang bahasanya saja banyak yang tidak mereka pahami. Tak peduli bahwa pekerjaan itu menyalahi kodrat mereka, tak peduli bahwa keselamatan nyawa mereka terancam. Yang ada dalam benak mereka adalah bagaimana agar anak-anak mereka bisa makan dan sekolah. Bagaimana agar bisa membahagiakan orang tua mereka. Bagaimana agar adik-adik mereka bisa hidup layak.

Pelik sekali kan masalahnya kalau begini? Karena ketika melarang seharusnya ada solusi yang ditawarkan. Melarang menjadi TKW, tapi tidak ada lapangan pekerjaan yang tersedia di tanah air? Melarang perempuan berkarier di luar rumah, emang kamu yang mau ngasih makan anak-anakku? Bayar cicilan-cicilan utangku? Bayar kebutuhan rumah tanggaku? Karena itulah tulisan saya kali ini tidak akan mengupas tentang permasalahan ini, tapi lebih ke berbagi pengalaman bagaimana dari yang tadinya seorang pekerja, naik pangkat menjadi ibu RT yang tidak bergaji.

Alasan dulu saya bekerja di luar rumah karena ya sebelum menikah saya sudah bekerja. Jadi tidak terpikir untuk berhenti kerja, pun ketika anak pertama lahir. Dan suami pun tidak melarang. Walau untuk biaya hidup keluarga kecil kami, gaji suami saat itu mencukupi. Tapi kan manusia mana sih yang akan merasa cukup? Rasanya sebesar apapun penghasilannya pasti akan selalu merasa tidak cukup. Saat itu beberapa tetangga juga mempertanyakan kenapa saya masih kerja kantoran? Saya jawab selama suami saya tidak melarang, saya akan tetap bekerja. Karena bekerja itu adalah bentuk aktualisasi diri saya.

Ya, aktualisasi diri, itulah yang menjadi alasan sebagian besar wanita berkarier di luar rumah. Dalam  Teori Kebutuhan Maslow, aktualisasi diri (self actualization needs) ini menempati puncak piramida kebutuhan setelah kebutuhan fisik, rasa aman, kepemilikan, dan harga diri. Para perempuan yang bekerja di luar rumah, rata-rata ekonomi mereka mencukupi bahkan mungkin di atas rata-rata. Yang mereka butuhkan adalah aktualisasi diri. Sehingga ada anggapan, masa sih sudah sekolah tinggi-tinggi, kok kantornya di dapur? Sayang dong ilmunya kalau nggak dipakai.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kalau diam di rumah, tidak bisa mengaktualisasikan diri? Tidak bisa berkarya? . Saya ingin cerita dulu ketika akhirnya saya berhenti kerja dan sepenuhnya menjadi ibu RT. Saya berhenti kerja bukan pilihan saya sendiri tapi karena “terpaksa” ikut suami yang pindah kerja ke Kuwait.

Shock, itulah yang saya rasakan ketika harus 24 jam berada di rumah bersama anak (waktu itu anak saya baru satu). Saya mati gaya, tidak tahu harus melakukan apa. Manajeman waktu pun berantakan karena saya berpikir waktu saya banyak,  24 jam di rumah. Akibatnya pekerjaan rumah keteteran, rumah pun berantakan. Masak pun butuh waktu berjam-jam, karena tidak terbiasa masak sebelumnya. Apalagi ketika anak bertambah. Makin pusing. Rasanya lebih enak ketika kerja dulu, bisa haha hihi sama teman, liputan ke tempat-tempat menarik, bertemu orang baru, dan ketika pulang ke rumah, rumah sudah rapi, makan malam sudah tersedia, anak pun biasanya sudah wangi dan siap-siap untuk tidur.

Shock yang kedua adalah ketika tidak ‘gajian”. Rasanya merana sekali,  lah kan dikasih uang juga dari suami? Tetap sensasinya lain ya, karena ketika menerima gaji kantoran, kita merasa itu adalah uang kita sendiri, hasil kita kerja, sehingga ketika membelanjakan untuk kesenangan pribadi, kita tidak terlalu merasa bersalah. Nah, sekarang pertanyaannya menjadi bertambah. Bisakah di rumah kita mengaktualisasikan diri dan menghasilkan uang? Karena menurut opini saya, alasan masih banyak wanita yang enggan menghentikan kariernya di luar rumah adalah pekerjaan rumah tangga lebih melelahkan dari pekerjaan kantor, tidak ada selesainya, dan tidak menghasilkan uang.

Dari pengalaman pribadi dan mengamati teman-teman yang ‘senasib’ maka saya ingin berbagi tips bagaimana bisa berkarya dari rumah:

1.     Mendelegasikan Pekerjaan
Pekerjaan rumah tangga itu berat, menguras energi dan waktu. Tidak ada kata selesainya. Karena itu penting sekali untuk mendelegasikan beberapa pekerjaan bila kita memang tidak bisa mengerjakannya sendiri. Misal beres-beres rumah atau setrika baju. Karena kita bukan super woman yang bisa mengerjakan semuanya sendiri. Bisa sih mengerjakan semuanya sendiri tapi akhirnya waktu kita akan habis untuk pekerjaan rumah. Kita tidak punya waktu untuk bercengkerama atau mengajari anak-anak, tidak punya waktu diri sendiri. Dan ujungnya tidak punya waktu untuk mengeksplorasi atau mengaktualisasikan diri kita.

2.     Temukan Passion
Orang tua jaman dulu mendidik putri-putrinya untuk mahir masak, menjahit, membuat aneka prakarya dan segala keterampilan kewanitaan. Ternyata bukan tanpa alasan. Karena keterampilan seperti itulah yang bisa kita kembangkan dari rumah. Yang pandai memasak bisa buka katering. Yang pintar menjahit bisa terima pesanan jahit, bahkan kalau serius menekuni bisa jadi desainer atau pemilik butik. Yang jago musik bisa mengajar privat. Tidak punya keterampilan sama sekali? Ayolah sekarang era internet, semua ilmu atau keterampilan itu bisa kita dapat secara cuma-cuma di internet. Tinggal kita ada kemauan buat belajar atau tidak. Malas ah belajar, lebih suka bernarsis ria buat di upload di socmed? Kenapa nggak, bagikan ke semua orang di dunia maya apa sih kelebihan dan hobi kita. Banyak yang sudah membuktikan, awalnya hanya foto-foto masakannya tiba-tiba banyak pesanan datang. Mulanya hanya foto keseharian, eh banyak yang tertarik dengan fashion style kita, jadi deh buka butik online. Tadinya hanya nulis curhatan di blog, tahu-tahu ada penerbit yang tertarik dan nawarin buat dibikin buku. Berbagi ilmu yang dikuasai di blog, misal tentang kesehatan, pernikahan, agama, jangan kaget tiba-tiba nanti dinobatkan sebagai pakar di bidang itu dan dicari media sebagai narasumber, hehehee…

Orang tua jaman dulu mendidik putri-putrinya untuk mahir masak, menjahit, membuat aneka prakarya dan segala keterampilan kewanitaan. Ternyata bukan tanpa alasan. Karena keterampilan seperti itulah yang bisa kita kembangkan dari rumah

3.     Disipin dan Konsisten
Bila ingin passion/ hobi kita menghasilkan materi, disiplin dan konsisten adalah kuncinya. Karena segala hal itu perlu proses, tidak ada yang tiba-tiba atau instan. Mungkin setelah nulis bertahun-tahun, baru kemudian ada penerbit yang tertarik dengan tulisan kita. Setelah praktek masak berkali-kali, baru kita menemukan resep yang maknyus.  Setelah bertahun-tahun jualan online baru akhirnya punya toko sendiri. Intinya materi akan mengikuti apa yang kita kerjakan dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh.

Jadi, masih bisakah kita berkarya dari rumah dan menghasilkan uang? Sangat-sangat bisa! Karena itu selagi anak-anak masih kecil dan sangat membutuhkan kehadiran dan bimbingan kita, berkarya dari rumah lebih baik. Bila memang tidak ada keharusan yang darurat bagi kita untuk bekerja di luar rumah. Bila suami kita mampu untuk mencukupi kebutuhan kita. Bersabar sampai anak-anak mandiri dan menghabiskan waktu mereka di sekolah, mungkin berkarya di luar rumah bisa kita lakukan, karena bagaimanapun peranan perempuan tidak hanya sebagai istri dan ibu saja, tapi juga sebagai muslimah yang harus berkontribusi dan bermanfaat untuk umat. (irfach)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com