BERSAMA DI JALAN DAKWAH


 
Membayangkan status seorang ibu yang bekerja dengan 5 orang putra/putri,  pasti seorang ibu yang sibuk membagi waktu antara kerja dan pekerjaan di rumah. Tetapi tidak demikian  dengan Syarifah.  Syarifah adalah seorang guru TK Islam dengan lima orang anak yang masih kecil-kecil. Dalam kesehariannya yang begitu sibuk Syarifah tidak pernah mengeluh, kalau diperhatikan sebagai seorang istri dia adalah istri yang ideal, sebagai ibu juga berhasil, buktinya prestasi anak-anaknya di sekolah lumayan. Sebagai seorang guru, Syarifah terkenal  sebagai   guru yang baik, mendidik murid-murid dengan penuh kasih sayang dan kesabaran yang luar biasa. Setiap pagi, kami selalu melihat Syarifah sibuk dari pekerjaan rumah sampai mengantar anak-anaknya ke sekolah sebelum berangkat kerja. Aku benar-benar heran bagaimana Syarifah mengatur waktunya, apalagi kalau melihat kegiatan dia yang lain. Sekali dalam seminggu bersama ibu-ibu,  dia mengadakan kajian  Islam secara rutin di rumahnya. Pernah aku bertanya kepada Syarifah, bagaimana cara dia membagi waktu dengan baik, sambil tersenyum dia menjawab Allah lah yang selalu memberi dia kekuatan untuk selalu berada di jalanNya, mengharap pahala akhirat,. Bagi Syarifah, semua yang dia kerjakan diniatkan sebagai ibadah. Melayani suami adalah ibadah, membesarkan dan mendidik anak-anak juga ibadah, bekerja juga merupakan ibadah, menuntut ilmu juga ibadah, berkata baik, tersenyum, meringankan kesulitan orang lain …semua yang dia kerjakan adalah ibadah yang hanya mengharapkan balasan dari Allah bukan mengharap pujian atau hadiah dari orang lain.  Subhanallah.
Kadang-kadang aku berpikir dan  membandingkan diriku dengan Syarifah. Kalau Syarifah hampir seluruh waktunya sangat bermanfaat, sedangkan waktuku habis di rumah dengan pekerjaan yang tidak pernah  selesai. Pernah  seorang teman lama yang belum menikah berkunjung dan mengkritikku bahwa aku hilang dari peredaran setelah menikah, aku pun menjawab bahwa nanti dia akan mengetahui mengapa ini terjadi. Memang sebelum menikah  aku selalu disibukkan dengan kegiatan-kegiatan sosial, cukup aktif, tetapi setelah menikah, aku mulai memfokuskan diri pada keluarga, berusaha menjadi istri yang baik, menyelesaikan semua pekerjaan rumah selain  bekerja di sebuah instansi pemerintah. Kesibukanku di rumah semakin bertambah dengan hadirnya buah hati kami. Hampir tidak ada waktu lagi untuk orang lain. Pekerjaan di rumah tidak kunjung selesai, bahkan selalu bertambah karena aku ingin semuanya sempurna, Rumah harus selalu bersih, masakan harus lezat dan harus kumasak sendiri padahal aku bukan termasuk orang yang pandai memasak. Seringkali waktuku habis di dapur dengan hasil yang kurang memuaskan.
Itu semua kujalani hampir 3 tahun lamanya saat kami masih tinggal  di kota sebelumnya,  hingga akhirnya aku pindah rumah dan bertetangga dengan Syarifah karena tempat kerja suamiku yang dipindah. Awal mengenal keluarga Syarifah, aku heran dengan kesibukan mereka.  Karena selain Syarifah, kami juga melihat Pak Jalal suami Syarifah yang  seorang da’i  lulusan luar negeri  dan  memegang sekolah madrasah setingkat SMP khusus untuk laki laki, mempunyai semangat yang tinggi untuk mendidik generasi bangsa menjadi generasi yang qurani, pandai di sekolah tetapi juga punya bekal ilmu agama yang cukup. Selain itu Ustadz Jalal mempunyai kesibukan berdakwah di masjid-masjid, pengajian keliling dan mengisi ceramah agama di sebuah radio swasta. Jika kita berkunjung ke sana akan terlihat suasana yang menyenangkan dan penuh kegiatan, anak anak mengaji bersama, sholat dhuha dan membaca al Qur'an meskipun sedang berpuasa sunnah.
Mungkin terbawa kebiasaan–kebiasaan yang kujalani selama 3 tahun terakhir ini, menyebabkan aku malas mengikuti kajian rutin di rumahnya meskipun rumah kami dekat, hanya berjarak sekitar 6 rumah.  Aku masih selalu merasa tidak ada waktu padahal aku baru mempunyai 1 anak. Terakhir karena terpaksa dan sudah 3 kali menolak,  aku hadir juga di kajian itu.Setelah beberapa kali mengikuti kajian baru kusadari ada yang istimewa di sini. Aku banyak belajar di sini , belajar bagaimana bisa mengatur waktu dengan baik, juga mengerjakan suatu pekerjaan sesuai prioritas yang dibutuhkan. Ini semua membuat aku sadar bahwa aku masih harus banyak belajar dari Syarifah,  karena kelihatan sekali bagaimana Syarifah sangat dekat dengan anak-anaknya dan sangat memperhatikan kebutuhan mereka, mempunyai kesabaran yang begitu tinggi di dalam keluarga walaupun badan telah penat dan capek setelah seharian beraktifitas dan satu lagi,bagaimana suaminya bisa ridho Syarifah menjalankan setumpuk aktifitas di luar rumah.  Selain itu, aku juga melihat bagaimana perlunya  kesamaan pandangan antara suami dan istri, sejalan dan seide dalam dakwah. Saling membantu meringankan beban, bersama menyelesaikan tugas di rumah dan berdua membimbing anak-anak, bersama pula berjuang di jalan Allah. Segalanya terasa ringan jika beban ditanggung berdua dan akan terasa mudah jika niat ikhlas menyertai. Beratnya tugas bisa meringankan langkah, pahitnya tantangan dapat memaniskan pengorbanan dan getirnya ujian justru melezatkan beban tatkala iman menuntunnya untuk berkata sami’naa wa atho’na, kami dengar dan kami taat, dihadapan Allah dan Rosulnya. Ini semua aku pelajari dari kehidupan rumah tangga Syarifah dan Ustadz  Jalal, suaminya.
Selain itu semua masih banyak lagi yang aku rasakan dan aku dapatkan setelah bergabung dengan pengajian rutin bersama Syarifah dan ibu-ibu tetangga kami. Aku merasakan perasaan sebagai saudara seiman dan seislam, saling membantu dalam kebajikan watawa shoubil haqqi watawa shoubil shobri.  Selain itu, aku merasakan muncul semangat yang telah lama terkubur oleh kesibukan rumah tangga, di sini kami  bukan hanya sekedar mencari ilmu dan menambah  wawasan, tetapi juga berbenah diri, mengembangkan kapasitas pribadi dan keluarga, kemudian bergerak bersama di masyarakat sekitar. Meskipun tetap saja kadang bersemangat kadang bermalas-malasan. Tetapi biasanya kami tidak membiarkan semuanya berlarut,kami akan saling menyemangati satu sama lain.  Di sini kita juga belajar mengatasi masalah dengan bermusyawarah dengan dibimbing oleh Syarifah..  Begitulah kedekatanku dengan Syarifah membuatku  berubah.
.“ Dan kehidupan di dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, tidaklah kamu mengerti? “  (QS Al An’am 32)
(Ummu Ridho)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com