Tanda-Tanda Baligh & Sujud Tilawah


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda


Tanda-Tanda Baligh

Assalamualaikum Warahmatullah,                                                               
Saya ingin bertanya seputar tanda-tanda balighnya anak-anak, dimana hukum baligh ini menandakan seorang anak sudah mempunyai kewajiban seperti sholat, puasa ramadhandan kewajiban lainnya. Jika anak perempuan tanda balighnya dengan dengan datangnya haidh, bagaimana dengan anak laki-laki? Bagaimana pula dengan anak laki-laki yang telah dikhitan semenjak usia bayinya.
Jazakumullah khoir. Wassalamualaikum Warahmatullah
Eka, Jawa Timur

Jawaban:

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Bismillah, Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulillah wa ba’du.                                                                                                                  
Salah satu bab dalam fikih yaitu bab tanda-tanda baligh bagi seorang anak baik laki-laki ataupun perempuan. Bab ini sangat penting bagi para orang tua, dimana ini merupakan tanggung jawab para orang tua terhadap putra-putrinya dalam menghadapi perpindahan fase, dari fase anak-anak menjadi fase baligh. Karena dalam fase ini  seseorang yang telah baligh, dalam keadaan berakal dan mengetahui  akan terkena kewajiban,  misalnya sholat, puasa ramadhan, kewajiban untuk mandi besar jika mereka mengalami hal-hal yang mewajibkan untuk ini, dll.

Seseorang yang gila, walau telah baligh, akan gugur padanya kewajiban syariat. Jadi dalam syariat Islam kita kenal dengan istilah aqil baligh, yaitu orang berakal dan yang telah baligh.

Adapun tanda-tanda baligh, yaitu :

1.    Ihtilam, atau yang kita kenal dengan mimpi basah yaitu keluarnya air mani yang terjadi baik dalam kondisi sadar ataupun tidur. “Dan jika anak-anakmu telah “ihtilam” (sampai umur baligh) maka hendaklah mereka meminta izin..” (QS. An Nuur: 59). Tanda ini berlaku buat laki-laki ataupun perempuan.

2.    Tumbuhnya rambut disekitar kemaluan. dari ‘Athiyyah r.a: ”Kami dihadapkan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pada hari Quraizhah (yaitu peristiwa pengkhianatan Bani Quraizhah), di situ orang yang telah tumbuh bulu kemaluannya dibunuh, sedang orang yang belum tumbuh dibiarkan. Aku adalah orang yang belum tumbuh, maka aku dibiarkan.”(HR. Dawud dan Tirmidzi, hadits hasan shahih). Hadits ini menunjukkan bahwa tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan merupakan tanda balighnya seseorang. Dari hadits ini, Ibnu Qayyim menyimpulkan suatu hukum pula bahwa dibolehkan untuk melihat aurat untuk melihat balighnya seseorang, atau untuk kebutuhan darurat lainnya. Tanda no 2 ini berlaku juga untuk laki-laki dan perempuan.

3.    Datangnya  haidh pada anak perempuan.

4.    Jika salah satu dari tiga tanda di atas tidak terjadi pada anak-anak, maka untuk menghukumi balighnya mereka yaitu dengan ketentuan usia 15 tahun menurut perhitungan kalender hijriyyah. Sesuai dengan hadits Ibnu Umar: “Bahwa saya menawarkan diri untuk ikut berperang pada hari perang uhud, sedangkan waktu itu usiaku 14 tahun, dan beliau menolakku, beliau belum memandang aku telah baligh waktu itu. Lalu pada perang Khandaq, waktu itu usiaku telah sampai pada 15 tahun dan beliau membolehkanku dan melihatku telah baligh”. (HR.Bukhori)

Tanda-tanda tersebut sangat perlu untuk diajarkan kepada anak-anak sehingga mereka tahu kewajiban yang berhubungan dengan masa baligh, misalnya ada kewaijaban mandi besar dalam beberapa kasus, dan kewajiban yang lainnya.  

Adapun tentang khitan, Islam mewajibkan khitan bagi kaum laki-laki, dan menjadikan “makrumah” atau kemulian bagi wanita. Khitan ini tidak ada kaitannya dengan hukum baligh. Khitan pun bukan merupakan tanda-tanda baligh. Waktu khitan bagi laki-laki yaitu cukup luas waktunya, dari usia tujuh hari hingga masa-masa sebelum baligh. Kewajiban ini berlaku pada walinya sehingga bagi para wali/orang tua hendaklah memperhatikan hal ini. Wallahu a’lam. Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

 

Sujud Tilawah عنوان السؤال الثاني

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Jika kita sedang menghafal surat/ayat al qur’an sementara ayat yang kita hafal ini selalu kita baca guna untuk mengulang dan menghafal, dan ayat tersebut adalah ayat sajdah, haruskah saya mengulangi sujud tilawah juga?. Cukupkah sekali sujud dalam tiap bacaan ayat sajdah ini?. Jazakumullah khoir.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Ummu Hafidz, Reggae, Kuwait

 
Jawaban:

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Bismillah, Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulillah wa ba’du.

Sujud Tilawah yaitu sujud yang dilakukan karena membaca ayat- sajdah. Sujud ini disyariatkan, menurut jumhur ulama.  Sujud tilawah hukumnya sunnah. Rasulullah bersabda: “Jika seorang anak Adam membaca ayat sajdah lalu ia bersujud, maka syetan akan menjauh dan menangis. Lalu berkata: Sungguh telah celaka aku, anak Adam diperintah sujud lalu ia bersujud, baginya surga. Sedang aku diperintah untuk sujud namun aku enggan, atasku neraka”. (HR.muslim)

Untuk mengetahui tanda sujud tilawah dapat dilihat di mushaf Al Qur’an terdapat garis atas pada kalimat sajdah, dan diakhir ayat terdapat tanda gambar mihrab.


 

Sujud tilawah dapat terjadi di dalam sholat atau di luar sholat. Untuk  syarat sujud tilawah,  mayoritas ulama’ berpendapat: bahwa disyaratkan thaharah dari hadats dan najis, karena sujud tilawah seperti sholat, sehingga disyaratkan thaharah, menutup aurat, menghadap qiblat. Sedangkan sebagian berpendapat, sujud tilawah bukanlah shalat, maka tidak disyari’atkan untuk menghadap kiblat. Akan tetapi, yang lebih utama adalah tetap dalam keadaan menghadap kiblat dan tidak boleh seseorang meninggalkan hal ini kecuali jika ada udzur.

 Sujud tilawah dilakukan satu kali sujud dengan bertakbir ketika ingin sujud dan bertakbir ketika bangun dari sujud. Sedangkan perlukah salam setelah sujud tilawah di luar sholat?. Sebagian berpendapat sunnah, sebagian berpendapat tidak disunnahkan. Bacaan yang dibaca pada sujud tilawah ini yaitu tasbih seperti yang dibaca pada saat sujud sholat, dapat juga membaca doa seperti di bawah ini:

اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Ya Allah, sesungguhnya aku sujud kepada -Mu, dengan -Mu aku beriman, bagi -Mu aku berserah diri dan kepada -Mu aku bertawakkal. Wajahku sujud kepada (Allah) Yang menciptakannya, membentuk rupanya, membelah pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan -Nya, Maha Besar Allah sebaik-baik yang menciptakan.

 

Dalam kasus seperti pertanyaan di atas, haruskah kita mengulangi sujud tilawah karena kita mengulang ayat yang sama?. Para ulama berpendapat bahwa dalam hal ini terdapat keluasan. Jika diulang sujud tilawah lebih bagus, dan akan mendapatkan fadhilah yang berlipat, jika bersujud tilawah sekali pada bacaan yang pertama kalipun tidak mengapa dan sudah mencukupi, karena pada hakikatnya ia membaca ayat yang sama, demikian juga karena kembali pada hukum awal bahwa sujud tilawah ini hukumnya sunnah menurut pendapat jumhur. Wallahu A’lam.

Wassalamualaikum Warahmatulah Wabarakatuh.

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com