Apa yang Diceritakan Anak-anak Di belakang Kita adalah Cermin Dari Ketauladanan Orang Tua


Anak-anak adalah tali cinta. Cinta dari sebuah kebahagiaan adalah dengan mengharapkan atau mendapatkan anak yang soleh/solehah . Anak yang sholeh dan solehah adalah impian dari setiap orang , karena mereka nanti adalah aset yang sangat berharga baik di dunia maupun di akherat. Di dunia mereka akan senantiasa patuh pada Allah dan kedua orang tuanya, sedangkan di akherat nanti mereka akan menolong kedua orang tuanya, karena amalan yang tetap mengalir meskipun orang tua telah meninggal. 
  
                                                                                                                                 Tarbiyah (pendidikan) anak yang dilakukan orang tua dengan keteladanan, memiliki dampak yang besar dan pengaruh yang terang dan membekas di hati anak-anaknya. Keteladanan dalam mendidik anak menjadi anak yang soleh/solehah adalah sangat penting , Allah mendidik umatnya melalui suri tauladan para rasul dan nabinya. sebagaimana firmanNya: "Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji " (Al Mumtahanah:6) dan "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat "(Qs. Al-Ahzab [33]: 21))

Begitu juga Rasulullah memerintahkan kita umatnya untuk memberikan contah tauladan dan berbuat baik kepada sesama, apa lagi buat anak dan keluarga, "Barang siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk di dalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya” (HR muslim)

Sungguh hadits ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam memberikan contoh, apalagi sebagai orang tua kita dituntut lebih hati-hati. Sengaja atau tidak, ada efek negatif maupun positif. Kesalahan dalam membentuk karakter anak tanpa sengaja dapat terjadi dengan keteladanan yang buruk. Akibatnya bisa fatal, yaitu membentuk karakter yang rusak.

Nilai keteladanan akan masuk ke dalam hati, jika ia memantul dari hati. Disampaikan dengan hati-hati. Memancar dari kelembutan hati dan cinta. 
Sebaliknya, nilai pengajaran akan membuat anak menjadi kurang berahlak, jika disampaikan dengan kata-kata yang tak sabar, memantul dari wajah yang kasar walau sebaik dan sebenar apapun nasihat itu . Oleh karena itu orang tua harus bisa menjadi figur yang ideal bagi anak-anaknya, harus menjadi panutan yang bisa mereka andalkan dalam mengarungi kehidupan ini. 
Jika kita orang tua menginginkan anak-anak kita mencintai Allah dan RasulNya maka kita sendiri sebagai orang tua harus mencintai Allah dan RasulNya pula, sehingga kecintaan itu akan terlihat oleh anak-anak. Akan sulit untuk melahirkan generasi yang taat pada syariat. jika kedua orang tuanya sering bermaksiat kepada Allah. 

Tidaklah mudah untuk menjadikan anak-anak yang gemar mencari ilmu Allah jika kedua orang tuanya lebih suka melihat televisi daripada membaca dan datang ke ceramah-ceramah, dan akan terasa susah untuk membentuk anak yang mempunyai jiwa pejuang dan rela memberikan segalanya untuk kepentingan Islam, jika bapak ibunya sibuk dengan aktivitas kerja meraih materi dan tidak pernah terlibat dengan kegiatan dakwah. Tarbiyah (pendidikan) anak yang dilakukan orang tua dengan keteladanan, memiliki dampak yang besar dan pengaruh yang terang dan membekas di hati anak-anaknya. 

Berikut ini adalah kisah ketauladanan seorang ayah atau orang tua. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah yang menjadi teladan terhadap anak-anaknya Abdullah bin Ahmad rahimullah dan Shalih bin Ahmad dalam buku Mi'ah kisah min qashashi ash shalihin, Muh bin Hamid Abdul Wahhab
Abdullah bin Ahmad rahimahullah pernah menceritakan perihal ayahnya (Imam Ahmad): "Ayahku terbiasa membaca sepertujuh al Qur'an setiap hari. Ia mengkhatamkan al Qur'an setiap tujuh hari. Dan iapun mengkhatamkan al Qur'an setiap tujuh malam. Ia mengakhirkan shalat Isya', lalu ia tidur beberapa saat. Lalu bangun dan shalat malam hingga menjelang subuh. Selepas shalat subuh, ia berdo'a panjang. Setiap hari ia melaksanakan shalat sunnah sebanyak 300 raka'at. Setelah usianya uzur, dan ia rasakan tubuhnya mulai melemah, maka ia kurangi separuhnya. Di mana ia shalat sunnah sebanyak 150 raka'at sehari."

Itulah profil orang tua yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bukan hanya teladan dalam meriwayatkan hadits dan membekali diri dengan ilmu. Tapi juga teladan bagi anak-anaknya dalam ibadah dan mengukir prestasi ubudiyah di hadapan-Nya.

Dari penuturan putera Imam Ahmad ini, dapat kita petik beberapa buah pelajaran dan manfaat darinya. Imam Ahmad, termasuk salah seorang ulama yang mampu mewariskan keshalihan pribadi, ketauladaan yang baik dan ilmu pengetahuan terhadap anak-anak dan generasi sesudahnya. Dan hal ini yang jarang kita temukan pada ulama di zaman ini. Diminta atau tidak. Kita sukai atau tidak. Sepengetahuan kita atau tidak. Di masa hidup kita atau sepeninggal kita. Pasti anak-anak kita akan menceritakan kepada orang lain tentang siapa kita di matanya. Baik dari sisi positif maupun dari sisi negatifnya.

Imam Ahmad adalah merupakan tipe orang tua yang sangat dicintai dan dibanggakan oleh anak-anaknya. Berbeda dengan kita. Barang kali mereka lebih mengenal kita dari kepribadian tercela; pelit, malas ibadah, tak mampu meredam emosi dan yang senada dengan itu.

Bagaimana pendapat kita sebagai orang tua , apa yang selama ini dan akan dibicarakan anak-anak kita di belakang kita? Apakah mereka menceritakan kebaikan dan keteladanan kita dalam keluarga? Atau justru sebaliknya, menceritakan keburukan dan sisi-sisi gelap kehidupan kita dalam keluarga. 

Wallahu a'lam bishawab. (Abu Abdurahman)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com