Dalam Naungan Isra’ Mi’raj


Tanggal 27 Rajab merupakan momen yang dikenang oleh ummat Islam sedunia. Ialah momen Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad alaihis sholatu was salam. Mayoritas di penjuru dunia Islam, termasuk negeri tercinta Indonesia, tanggal tersebut merupakan hari libur nasional dalam rangka memperingati hari besar Isra’ Mi’raj. Benarkah kaum muslimin pada hari itu libur untuk memperingatinya? Apakah momen seperti itu digunakan untuk mengkaji kembali peristiwa Isra’ dan Mi’raj untuk kemudian mengambil banyak ibrahnya yang tentu akan sangat bermanfaat bagi keimanan kaum muslimin. Apakah hanya sekedar hari libur untuk santai, terlupakan dengan kesenangan dunia, tanpa ada lintasan hati dan pikiran mengapa hari itu merupakan hari libur, kenapa ada Isra’ dan Mi’raj dalam perjalanan sirah Rasulullah yang mulia, apa makna di balik Isra’ Mi’raj ini?!
Dilihat dari sudut pandang sejarah, kalau kita berkenan membuka buku rujukan ummat Islam dalam kaca mata sirah Nabi, sebenarnya penentuan tanggal terjadinya Isra’ Mi’raj terjadi perbedaan di antara ahli sejarah. Tidak hanya tanggalnya saja yang berbeda, bulan bahkan tahun terjadinya pun tiada kesepakatan dalam hal ini. Hanya yang dipakai oleh kaum muslimin di seantreo penjuru dunia, mereka menggunakan tanggal 27 Rajab sebagai momen ini, ini berdasarkan pendapat Ibnu Hazm yang berpendapat bhwa Isra Mi’raj terjadi pada malam Senin, 27 Rajab, satu tahun sebelum Hijrah. Bagaimana dengan pendapat ahli sejarah lain?.

Az Zuhri berpendapat bahwa Isra’ terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, sementara As Saddy berkata bahwa ia terjadi pada bulan Dzul Qaidah. Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Isra’ jatuh pada bulan Rajab, dan An Nawawi pun menguatkannya. Lain halnya dengan Al Waqidy, ia berpendapat bahwa Isra’ terjadi pada bulan Syawal. Jika mereka berbeda pendapat dalam bulan, pun mereka berbeda pula dalam hal tahun terjadinya. Sebagian berpendapat bahwa ia terjadi enam bulan sebelum Hijrah Nabawi, sebagian yang lain berpendapat sembilan bulan, ada yang berpendapat satu tahun, bahkan ada yang berpendapat satu tahun setengah sebelum peristiwa Hijrah Nabawi. Dari sini kita ketahui bahwa tiada kata sepakat tentang sejarah kapan terjadi peristiwa besar dalam hidup Rasulullah ini. Tetapi yang pasti bahwa peristiwa besar ini terjadi setelah Bi’tsah/diangkatnya Muhammad menjadi seorang Rasul, juga peristiwa ini terjadi sebelum Hijrah Nabawi. Juga terjadi pada tahun meninggalnya dua orang terkasih yang selalu membela dakwah Rasul, merekalah Abu Thalib, paman Nabi, dan sang istri tercinta, Khadijah Al Kubra rha, sehingga tahun ini pun di namakan dengan ‘Aamul Huzni atau tahun Kesedihan. Demikian pula hampir terjadi kesepakatan bahwa peristiwa besar ini terjadi setelah tibanya Rasulullah dari Thaif untuk berdakwah di sana, tetapi yang ia dapatkan hanyalah cacian dan lemparan batu dari penduduk Thaif.

Tanda-Tanda Kebesaran Allah

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al Isra’: 1)

Perjalanan Isra’ ini bertujuan salah satunya seperti yang difirmankan dalam ayat di atas, bahwa supaya Allah perlihatkan kepada Nabi Muhammad sebagian dari tanda kebesaranNya. Dalam perjalanan Isra’ kemudian Mi’raj yang terjadi hanya satu malam saja ini, Rasulullah banyak melihat tanda-tanda kebesaran itu, pemandangan surga dan neraka di antaranya, adalah termasuk dari sekian tanda kebesaran dan kekuasaanya. Bahwa Allah yang berkuasa memperjalankan hambaNya dari satu tempat menuju tempat lain, untuk kemudian mengembalikannya ke tempat semula merupakan tanda kebesaranNya yang lain dimana merupakan hal mustahil bagi akal manusia pada waktu itu. KebesaranNya dalam penciptaan langit, juga angkasa luar dimana Rasul diajak Jibril untuk berwisata ruhani mengelilingi semuanya. Inipun merupakan tanda kebesaran yang tak kalah dahsyatnya. Semua tanda kebesaran ini tidak akan sampai pada ilmu manusia, seberapapun dia berilmu. Tepatlah bahwa Allah berfirman: “…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al Isra’: 85)

Hakikat Isra’ dan Mi’raj, dengan ruh dan jasadkah?!

Perjalanan Isra’ dan Mi’raj mengundang sejumlah pertanyaan: apakah dengan ruh saja, apakah hanya dengan jasad? Apakah dengan keduanya? Lalu apakah ia terjadi ketika Rasulullah tidur, ataukah dalam keadaan sadar?

Mayoritas ulama’ berpendapat bahwa perjalanan ini dilakukan oleh Rasulullah dalam keadaan sadar, dan terjadi dengan jasad dan ruhnya. Tentu hal ini berdasarkan dalil-dalil yang jelas sekali, diantaranya bahwa jikalau Isra’ dan Mi’raj ini terjadi dalam kondisi tidur atau tidak sadar, maka tentu para penduduk Makkah waktu itu tidak geger ataupun heboh dalam menyikapi kejadian ini, karena bisa jadi ini terjadi dalam mimpi. Tetapi tidak demikian adanya. Kejadian ini menggoncang penduduk Makkah waktu itu, mereka banyak yang tidak mempercayainya, bahkan mengajukan tantangan kepada Rasulu untuk memberikan gambaran yang detail dengan Masjid Al Aqsha. Diantara bukti lain yang menguatkan ini yaitu bahwa ayat pertama dari surat Al Isra’ dimulai dengan tasbih/penyucian dan pengagungan bagi Allah atas kekuasaannya dalam menjalankan hambaNya, dan tiada kata “mimpi” di dalam ayat tersebut, seperti halnya kata “mimpi” yang ada pada kisah Ibrahim ketika Allah bercerita bahwa Ibrahim bermimpi dalam tidurnya bahwa ia menyembelih anaknya, Ismail. Di sisi lain, bahwa perjalanan ini hakikatnya yaitu dengan jasad dan ruh, hingga satu surat penuh itu bernama surat Al Isra’ yang menandakan kebesaran dan keagungan perjalanan tersebut. Ditambah bahwa Allah lah yang berkuasa memperjalankan makhluqNya sesuai kehendakNya seperti halnya angin yang diperjalankan sebagai mukjizat Nabi Sulaiman seperti yang termaktub dalam QS.Al Anbiya: 81 bahwa “Dan [telah Kami tundukkan] untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Bersama Kesabaran dan Doa, Ada Kemenangan

Kilas balik Isra’ Mi’raj ini terjadi pada waktu gencar-gencarnya kaum kafir Makkah menindas Rasulullah dan pengikutnya yang sedikit. Kaum kafir Makkah yang menerima dakwah dengan cacian, hinaan bahkan penindasan membuat Rasulullah untuk pergi berdakwah ke Thaif dengan harapan di sana ada yang mau menerima dakwahnya, ada yang mau menjadi penolongnya, tetapi harapan pun tinggal harapan. Penduduk Thaif tidak kalah kejamnya dengan penduduk Makkah, mereka tidak mau menerimanya sebagai tamu sekalipun, sangat berbeda dengan adat masyarakat arab yang bertabiat dermawan dalam menerima dan menjamu tamu. Rasulullah hanya dapat berdoa di depan ini semua, berkeluh tentang kelemahannya dalam berdakwah: ”Ya Allah, kepada Engkaulah aku mengadukan kelemahanku, dan kurangnya daya upayaku, dan kehinaanku dihadapan manusia, wahai Tuhan yang Mahapengasih Maha penyayang, engkau adalah tuhan orang-orang yang tertindas, engkaulah tuhanku, kepada siapakah aku diserahkan? Kepada orang jauhkah yang akan menjumpaiku dengan wajah masam, atau kepada musuh yang engkau jadikan dia berkuasa terhadapku.?. Selama engkau tidak marah kepadaku, maka aku tidak perduli apa yang terjadi, namun ampunan-Mu lebih luas untukku. Aku berlindung dengan nur wajah-Mu yang denganya cerahlah segala kegelapan dan baiklah segala urusan dunia dan akhirat, aku mohon dijauhkan dari kemurkaan-Mu serta dijauhkan dari kemarahan-Mu. Engkaulah yang dicari keridhoan-Nya sampai engkau ridha, tak ada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu”. Demikian doa yang dikekalkan oleh buku-buku sirah Nabi.

Karena penolakan yang dahsyat tersebut, Rasulullah pun  pulang ke Makkah lagi, tapi apakah beliau dapat masuk kembali ke tanah airnya dengan bebas?!. Tentu tidak. Dibawah perlindungan Muth’am bin Ady, Rasulullah dapat kembali ke Makkah.

Setelah rentetan dan cobaan yang bertubi-tubi serta hinaan, Allah memberikan sebuah hadiah besar berupa kemenangan dan hiburan, ialah hadiah Isra’ Mi’raj yang salah satunya sebagai pelipur lara bagi kegundahan Nabi dalam perjuangan dakwahnya. Hadiah kemenangan tidak hanya Isra’ Mi’raj saja, tetapi inilah hadiah yang terbesar pada waktu itu. Selain itu Allah berikan kepada Rasulullah berupa kemenangan lain, yaitu islamnya seorang budak milik penduduk Thaif, Uthbah dan Rabiah, budak itu bernama Addas. Ia masuk Islam dan beriman kepada risalah yang dibawa Rasul pada waktu Rasul beristirahat di salah satu perkebunan Thaif, dan Addas datang kepada Rasulullah dengan membawa anggur atas perintah sang empunya. Keislaman satu orang ini, di tengah-tengah penolakan semua penduduk Thaif, tentu membawa kebahagiaan tersendiri bagi Rasulullah, menandakan bahwa dalam tiap perjuangan, doa dan kesabaran, pasti ada kemenangan walau terlihat sedikit tapi terasa sangat berlipat.

Bersifat Lemah Lembut Kepada Objek Dakwah

Beberapa hari yang Rasulullah lalui di Thaif merupakan hari-hari yang terberat dalam rangkaian dakwah Rasul. Hingga malaikat Penjaga Gunung datang diutus oleh Allah untuk menawarkan bahwa ia bersedia untuk menimpakan dua bukit Makkah kepada mereka, di mana penduduk Thaif menolak seruan Nabi, mencaci maki  dan melemparinya dengan batu. Tetapi Rasulullah yang penyayang menolaknya dan berdoa “Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang mau menyembah Allah semata dan tidak mempersetukannya dengan sesuatupun", seperti yang teriwayatkan dalam shohih Bukhori.

Sebuah pelajaran yang cukup berharga bagi para duat, yang terintisarikan dari kejadian-kejadian yang mendahului Isra’ dan Mi’raj. Kelemah lembutan yang hampir dirasa hilang di kalangan para duat kini, berpijak pada keteladanan Rasulullah bahwa lemah lembut mutlak diperlukan dalam berdakwah. Kalau Rasulullah mau, beliau dapat menjawab dengan satu kata “ya” untuk menghancurkan mereka karena sikap penolakan mereka yang keterlaluan, tetapi demikianlah, si pemilik hati penuh kasih sayang dan kelembutan, ia tidak membalas kejelekan dengan kejelekan yang sama tetapi pada hati yang putih itu tersimpan lautan doa dan kasih sayang bagi mereka yang belum dibuka hatinya oleh Allah untuk menerima dakwah Islam. Dan begitulah terbukti doa Rasulullah di atas, dari sulbi kaum musyrikin lahir generasi dakwah Islam yang tangguh, generasi para pejuang yang membela Islam dengan jiwa raganya. Kita dapat melihat, Ikrimah bin Abi Jahl, anak pembesar Kaum Musyrikin, tetapi ia seorang shahabat yang mau menerima dakwah Nabi. Begitu pula Kholid bin Walid, pembesar nan ditakuti kaum quraisy, akhirnya pun menerima Islam dan selalu berada di barisan pertama dalam genderang jihad bersama Rasul.

Urgensi Sholat Dalam Kehidupan Muslim

Tidak seperti syariat yang lain, sholat merupakan sebuah ibadah yang unik dalam pensyariatannya. Tentu kita semua tahu bahwa hasil dari wisata ruhani yang bernama Isra’ Mi’raj ini adalah pensyariatan sholat langsung dari Langit kepada Rasulullah yang waktu itu berada di langit pula. Sholat yang awalnya hanya diwajibkan dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan petang, setelah peristiwa Isra’ Mi’raj ini menjadi lima kali sehari, pada waktu yang telah ditentukan. Kisahnya pun semua masih pada hafal dan terpatri di pikiran, bahwa awalnya ia diwajibkan lima puluh kali dalam sehari, hingga akhirnya berkurang menjadi lima saja dalam sehari dengan pahala yang sama seperti halnya lima puluh kali. Pensyariatan yang unik ini menandakan betapa sholat adalah system of life seorang Muslim, sholat adalah manhajul hayat, sebuah system dalam kehidupan seorang muslim, dimana sholat ini menjadi barometer seorang muslim dan penanda apakah ia seorang muslim atau tidak. Jika sholat ini adalah hasil mi’raj Rasulullah kepada kaum muslimin, maka sudah seharusnya sholat inipun kita jadikan sebagai mi’raj harian kita kepada Allah, dalam artian bahwa mi’raj adalah perjalanan kita menuju kepada Allah, bukankah termaktub bahwa “Kondisi hamba yang paling dekat dengan Allah yaitu ketika ia dalam kondisi sujud”, menandakan bahwa sholat adalah memang sarana kita berhubungan dengan Allah.

Al Aqsha Tanggung Jawab Kita Semua

Dalam kesempatan pembicaraan tentang Isra' Mi'raj ini, merupakan sebuah kewajiban kita untuk mengingatkan umat tentang sejarahnya, jangan sampai dihilangkan atau dikaburkan, terutama sejarah kota Quds, dan Masjidil Aqsha yang menjadi kiblat pertama kaum muslimin, ditengah gencarnya upaya musuh-musuh Islam untuk mengaburkan sejarahnya sehingga menjustifikasi pencaplokan dan pendudukan zionis Israel atasnya. Juga segala upaya mereka untuk menyempitkan permasalahan kota Quds, dari masalah utama kaum muslimin sedunia menjadi masalah bangsa arab saja, dan bahkan hanya menjadi masalah masyarakat Palestina saja. Hal itu terbukti dengan semakin acuhnya kaum muslimin dengan isu ini. Bahkan ketika beramai-ramai sebagian masyarakat berusaha mengumpulkan sumbangan atau mengadakan acara solidaritas untuk saudara-saudaranya di Palestina, beramai-ramai juga yang menanyakan kepentingan acara itu dan menyatakan keheranannya dengan keperdulian itu, padahal mereka yang bertanya dan keheranan adalah muslim juga.

Secara jelas dan gamblang Allah dan RasulNya memberikan isyarat-isyarat dalam Al Qur'an dan hadits-hadits tentang urgensi dan betapa pentingnya Masjidil Aqsha dalam kehidupan seorang muslim, sehingga ia menjadi kiblat pertama kaum muslimin, dan termasuk salah satu dari tiga tempat yang dianjurkan untuk mengkhususkan perjalanan kepadanya, dan bahkan Allah melipatgandakan pahala sholat di Masjid Al Aqsha sama dengan 500 shalat di masjid lainya.

Dalam ayat yang berbicara tentang Israa Mi'raj Allah berfirman: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa" (QS. Al Isra': 1)

Dalam ayat ini Allah menggunakan kata Masjid untuk dua tempat yang menjadi permulaan dan akhir dari perjalanan isra' Rasulullah, Masjidil Haram sebagai tempat start dan Masjidil Aqsha sebagai tempat finish perjalanan Isra'. Padahal kita semua tahu bahwa kedua tempat tersebut pada saat itu masih belum ada dalam kekuasaan kaum muslimin dan belum berdiri masjid sebagaimana masjid yang kita fahami sekarang. Masjdil Haram masih dalam kekuasaan kaum kafir Quraisy, dan Masjidil Aqsha dalam kekuasaan Romawi, ini adalah sebuah petunjuk yang jelas, bahwa kedua tempat tersebuat akan menjadi milik dan kekuasaan Nabi Muhammad dan umat islam sesudahnya, dan sesungguhnya Rasulullah telah diberitahukan kepada beliau semua belahan bumi yang akan menjadi kekuasaan kamu muslimin, sebagaimana riwayat sahabat Tsauban, “Sesungguhnya Allah telah membentangkan bumi kepadaku lalu aku lihat timurnya dan baratnya, dan sesungguhnya umatku akan sampai kekuasaannya kepada apa yang telah dibentangkan kepadaku”.

Kemudian petunjuk selanjutnya, dari penggunaan kata Masjid dalam ayat di atas, yang menjadi penetapan bahwa masjdil Aqsha adalah milik umat islam dan tanggung jawabnya, bahwa masjid dalam syariat Islam adalah sesuatu yang suci dan harus dijaga, maka masjid tidak boleh dijual, ditelantarkan, dilepaskan kepemilikannya, dihancurkan dan dilarang seseorang untuk beribadah di dalamnya, Allah berfirman dalam Al Qur'an : "Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya?". (QS. Al Baqarah: 114)

Hari ini masjidil Aqsha terbelenggu, oleh tangan-tangan najis kaum penjajah zionis Israel yang setiap hari berupaya untuk menghancurkannya, baik secara terang-terangan dengan penghancuran bangunan-bangunannya, atau dengan penggalian terowongan-terowongan dibawahnya sebagai upaya penghancurannya, dan setiap hari juga pemblokiran dilakukan mereka untuk melarang kaum muslimin melakukan sholat didalamnya, sungguh sesuai dengan firman Allah tadi, tidak ada manusia yang lebih aniaya daripada orang yang melarang dan menghalangi beribadah di dalam masjid.

Siapa yang akan mengembalikan kesucian Masjidil Aqsha, siapa yang akan mengembalikan kemuliaannya, siapa yang akan membebaskan belenggunya? Dengan mengetahui dan memahami eksistensi Masjidil Aqsha dan urgensinya bagi kaum muslimin, serta fadilah-fadilah yang disebutkan Rasulullah, dengan mengetahui hal itu, akan menjadi dorongan akidah yang membuat kita merasa terpanggil, kita semua kaum muslimin dimanapun berada di muka bumi ini, untuk bertanggung jawab mengembalikan kemulian, kesucian dan kewibawaan Masjidil Aqsha, dan moment peringatan Isra Mi'raj ini kita jadikan sebagai titik tolak rasa tanggung jawab itu. Semoga Allah membebaskan Al Aqsha dan memberikan rizki bagi kita untuk sholat di dalamnya. Amiiin.

 

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com