Duduk Iftirasy dan Tawaruk dalam Sholat


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

Duduk Iftirasy dan Tawarruk dalam Sholat

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Saya ingin bertanya tentang waktu disunnahkannya iftirasy dan kapan disunnahkan duduk tawarruk dalam sholat. Jazakumullah khoir. Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,   Winni Sary, Salmiyah-Kuwait
 
 Jawaban

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulillah, wa ba’du.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang duduk iftirasy dan tawarruk dalam sholat, akan diterangkan lebih dahulu makna dari keduanya.

Dalam kitab-kitab fiqih, para ulama mendefinisikan, bahwa duduk iftirasy adalah: “Duduk iftirosy adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan membentangkan kaki kiri kemudian menduduki kaki kiri tersebut”.

 
Kapankah disunnahkan duduk Iftirasy, dan kapankah disunnahkan duduk tawarruk dalam sholat?

Mayoritas berpendapat bahwa duduk iftirasy disunnahkan pada tiap kali duduk di antara dua sujud, duduk pada tahiyyat awal pada sholat tiga rakaat dan empat rakaat, seperti sholat Maghrib, Dhuhur, Ashar, dan Isya’. Sedangkan duduk tawarruk dilakukan pada tiap tahiyyat akhir pada sholat tiga dan empat rakaat, sholat Maghrib, Dhuhur, Ashar, dan Isya’. Sedangkan untuk tahiyyat pada sholat dua rakaat, seperti sholat subuh, dan sholat-sholat sunnah, misalnya sholat rawatib, sholat dhuha dll, maka di sini terjadi perbedaan pendapat antara apakah disunnahkan iftirasy ataukah disunnahkan tawarruk?.

 
Hal ini dikarenakan perbedaan pemahaman dalam sebuah hadits yang terkait masalah ini, yaitu hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika duduk pada dua raka’at, beliau duduk iftirosy dengan membentangkan kaki yang kiri, dan menegakkan kaki kanannya. (HR. Ibnu Hibban 5/270. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad riwayat ini qowi (kuat).

Dari Hadits ini, menurut pendapat Hambali, bahwa jika sholat yang tasyahudnya dua kali seperti sholat maghrib, isya’, dhuhur dan ashar, maka duduknya adalah tawarruk di raka’at terakhir. Namun jika tasyahudnya cuma sekali, seperti sholat maghrib dan dhuha, maka duduknya di raka’at terakhir adalah duduk iftirosy.

Sedangkan Madzhab syafii berpendapat, bahwa tiap kali duduk tasyahud akhir adalah dengan cara tawarruk, walaupun tasyahud tersebut pada sholat yang dua rakaat, seperti sholat shubuh, sholat dhuha, dll. Mereka berpendapat bahwa selain hadits di atas, yaitu terdapat hadits lain, bahwa “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk pada shalat dua raka’at yang diakhiri dengan salam, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan beliau duduk tawarruk di sisi kiri.(HR. Nasai). Inilah yang dikuatkan madzhab syafii dan seperti yang kita lihat pada mayoritas kaum muslimin Indonesia. Dan masih banyak lagi secara kaidah ushul fiqih yang menguatkan pendapat madzhab Syafii ini, yang belum bisa kami papar di sini secara lebih detail. Wallahu A’lam.

 
Tata Cara Menggunting Kuku
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Saya pernah memdengar bahwa ada adab-adab menggunting kuku, maksudnya bahwa disunnahkan memulai menggunting kuku secara tertib dimulai dengan jari-jari tertentu, misalnya dimulai dengan jari telunjuk tangan kanan, lalu diakhiri hingga jari jempol. Apakah memang demikian sunnahnya?. Jazakumullah khoir.  Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,  Sri Ariyani, Reggae-Kuwait

Jawaban:

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulillah, wa ba’du.

Pembahasan tentang memotong kuku masuk dalam bab Sunnah Fitrah, dimana kita yakini bahwa Agama Islam merupakan agama yang telah sempurna, dimana termasuk salah satu syariatnya yaitu bahwa disyariatkannya sunnah-sunnah fitrah yang telah menjadi sebuah fitrah/kebiasaan orang-orang terdahulu, dan manusia pun tabiatnya cenderung kepada sunnah-sunnah tersebut, sehingga menjadikan sunnah tersebut sebagi suatu hal yang indah. Jika tidak dilakukan, maka berarti ia bertolak belakang dengan fitrahnya sebagai manusia.

 

Pengertian sunnah fitrah seperti yang didefinisikan oleh para ulama yaitu: Suatu tradisi yang apabila dilakukan akan menjadikan pelakunya sesuai dengan tabi’at yang telah Allah tetapkan bagi para hambanya, yang telah dihimpun bagi mereka, Allah menimbulkan rasa cinta (mahabbah) terhadap hal-hal tadi di antara mereka,  dan jika hal-hal tersebut dipenuhi akan menjadikan mereka memiliki sifat yang sempurna dan penampilan yang bagus”.

 

Sunnah fitrah akan mendatangkan faedah duniawi dan akhirah seperti yang ditegaskan oleh Ibnu Hajar dalam kitab taisirul ‘alam, ketika beliau berkata: “Bahwa sunnah fitrah ini akan mendatangkan faedah diniyyah dan duniawiyyah, di antaranya, akan memperindah penampilan, membersihkan badan, menjaga kesucian, menyelisihi simbol orang kafir, dan melaksanakan perintah syari’at.”

 

Sunnah fitrah ini dalam beberapa hadits, banyak jumlahnya. Di antaranya yaitu hadits-hadits dibawah ini: ““Ada lima macam fitrah , yaitu : khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (Muttafaq Alaih)

 

Ada sepuluh macam fitrah, yaitu memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” Zakaria berkata bahwa Mu’shob berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, aku merasa yang kesepuluh adalah berkumur.” (HR. Muslim)

 

Tetapi bukan berarti sunnah fitrah ini hanya ada 5 atau 10 saja, dimana hadits di atas tidak menunjukkan suatu bilangan tertentu. Perlu ditekankan pula, bukan berarti sunnah fitrah ini hukumnya sunnah, sekedar di saja, tetapi beberapa sunnah fitrah hukumnya di antaranya ada wajib.

 

Salah satu sunnah fitrah seperti yang disebut dalam hadits di atas yaitu memotong kuku, yaitu memotong kuku dan tidak membiarkan kuku menjadi panjang. Termasuk dalam sunnah ini yaitu membersihkan kotoran yang ada di dalam kuku, hal ini akan menjadikan lebih indah, bersih, dan menjauhi menyerupai binatang buas yang kukunya rata-rata panjang.

 

Rasulullah membatasi tentang sunnah fitrah ini, untuk tidak membiarkannya lebih dari 40 hari. Dan lebih disunnahkan lagi jika melakukannya pada hari jum’at, karena ia adalah hari raya pekanan bagi kaum muslimin, dimana mereka akan bertemu pada sholat jumat, tetapi memotong kuku ini tidak disunnahkan saja pada hari jum’at, tetapi lebih ditekankan pada hari tersebut.

 

Terkait dengan adab memotong kuku secara tertib, dengan dimulai dari kuku jari telunjuk kanan, kemudian berakhir di jempol kanan, lalu dari telunjuk tangan kiri dan berakhir dengan jempol kiri seperti pertanyaan di atas, bahwa tiada dalil secara khusus baik dari Al Qur'an’ ataupun Al Hadits. Tetapi yang perlu kita ketahui bahwa Rasulullah menyukai “attayammun” dalam tiap perkaranya, seperti yang terekam oleh ibunda Aisyah bahwa beliau berkata bahwasanya Rasulullah menyukai “attayammun” dalam bersucinya, memakai sandal, menyisir rambut, dan tiap perkaranya. Begitu riwayat bunda Aisyah yang terabadikan dalam Shohih Muslim.

 

Attayammun yaitu di ambil dari kata “yamiin” atau sebelah kanan, itu dilihat dari sisi bahasa. Sedangkan secara istilah yaitu memulai sesuatu dari sebelah kanan. Jika kita tengok sirah Nabi tentang tayammun ini berdasarkan hadits, bahwa beliau dalam perkara berhias dan perkara yang di dalamnya ada pemuliaan maka beliau memulai dari sebelah kanan. Di antaranya yaitu ketika ghusul/mandi ataupun wudhu, beliau menganjurkan untuk memulai dari membasuh anggota sebelah kanan dahulu, baru kemudian dilanjutkan dengan sebelah kiri. Memakai sandal, menyisir rambut/jenggot beliaupun memulai dari sebelah kanan dahulu. Ketika masuk masjid, memakai baju pun dimulai dengan kanan. Ibnu Daqiq Al Ied berkata: “Hadist tentang tayammun ini di satu sisi umum, yakni tiap perkara. Di sisi lain sifatnya khusus” maksudnya yaitu karena dalam beberapa hal tidak disunnahkan dimulai dengan kanan, misalnya keluar masjid, masuk toilet, maka disunnahkan dimulai dengan kaki kiri”.

 

Dari sini bisa kita ketahui bahwa sunnahnya dalam motong kuku yaitu dimulai dengan yang sebelah kanan, dengan tanpa ketentuan ketertiban antara jari satu dengan jari yang lain. Wallahu a’lam.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

 

4 comments:

jadipintar.com mengatakan...

Semoga Allah berkenan membari anda kekuatan dan istiqamah agar terus mendakwahkan Islam dengan tulisan di dunia Internet, Baarakallaahu fiikum.

fazri deka oktariansyah mengatakan...

Assalmu'alaikum wr. Wb.
saya ingin bertanya:
pada saat duduk tawarruk jari kelingking saya tidak menyentuh tanah. Apakah sholatnya sah?
Terima kasih. Assalmu'alaikum wr. Wb

fans jokowi mengatakan...

saya sering melihat orang duduk iftirasynya tidak bertumpu pada kaki kiri, melainkan seperti duduk simpuh dan telapak kaki kanan ditumpangkan pada telapak kaki kiri. apakah itu benar?

Grayax Cyber mengatakan...

I Love Your Website, I Would Appreciate It For A Good Read This!!!

VIMAX
VIMAX ASLI
VIMAX CANADA
OBAT PEMBESAR PENIS
VIMAX IZON
VIMAX ORIGINAL
VIMAX HERBAL
OBAT VIMAX
VIMAX ASLI CANADA
VIMAX ORIGINAL
PIL BIRU
VIAGRA
OBAT KUAT VIAGRA
VIAGRA ORIGINAL
SEMENAX
PENYUBUR SPERMA
OBAT PENYUBUR SPERMA
OBAT MANDUL
OBAT PENYUBUR KANDUNGAN

VIMAX
VIMAX ASLI
VIMAX CANADA
OBAT PEMBESAR PENIS
VIMAX IZON
VIMAX ORIGINAL
VIMAX HERBAL
OBAT VIMAX
VIMAX ASLI CANADA
VIMAX
PIL BIRU
VIAGRA
OBAT KUAT VIAGRA
SEMENAX
PENYUBUR SPERMA
OBAT PENYUBUR SPERMA
OBAT MANDUL
OBAT PENYUBUR KANDUNGAN

VIMAX
VIMAX ASLI
VIMAX CANADA
OBAT PEMBESAR PENIS
VIMAX IZON
VIMAX ORIGINAL
OBAT VIMAX
VIMAX
VIMAX
VIMAX

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com