Kisah dan Renungan


Awas....Bahaya Menggosip!!!!! العنوان 

 
"Abi, tadi pagi waktu belanja di warung, umi ketemu sama bu Ali, katanya keluarga pak Ahmad, tetangga baru di kompleks kita ini, orangnya sombong deh, apalagi istrinya sok bergaya," kata bu Mahbub kepada suaminya. Pak Mahbub sambil minum teh, mengerutkan dahinya sambil memandang istrinya, dia pun berkata, " Maksud umi?". Bu Mahbub pun kelihatan bertambah semangat meneruskan ceritanya, " Iya," kata bu Ali, "Kemarin dia kan berpapasan dengan mereka, eh bukannya menyapa malahan mobilnya dikebut. Masa katanya mereka kan orang beragama, harusnya tahu dong....." Belum sempat bu Mahbub meneruskan ceritanya, pak Mahbub memotong pembicaraannya, " Tidak boleh begitu mi, gak bagus membicarakan orang." Bu Mahbub yang sedang semangat bercerita, terlihat sedikit kecewa dengan perkataan suaminya, " Bukan membicarakan kok,.umi kan cuma cerita apa yang dikatakan bu Ali, tapi kupikir-pikir ada benarnya juga lho bi, karena pernah waktu umi ketemu di warung, kita lagi ngobrol-ngobrol tentang bu Arif yang sedang terlilit hutang, bu Ahmad datang hanya mengucap salam dan setelah selesai belanja langsung pulang, apa itu gak sombong namanya." Pak Mahbub kembali memandang istrinya dengan isyarat tidak suka, " Umi....kok malah ngelantur. Jangan suka bersu'udzon sama orang lain, gak bagus. Apalagi membicarakan orang lain, ghibah namanya mi, dosa." Sambil masuk ke kamar, bu Mahbub pun menggerutu, "Ah, abi ini tidak peduli sama tetangga." Pak mahbub geleng-geleng kepala keheranan memandang istrinya.

Minggu pagi, selesai jalan-jalan pak Mahbub dan bu Mahbub mampir belanja di warung langganan "Assalamualaikum,, wah habis jalan-jalan ya." sapa bu Ali. Bu Mahbub sambil menjawab salam berkata, " Iya bu, mumpung libur keliling kampung sekalian bisa ketemu tetangga, habisnya kalau sudah hari kerja gak ada waktu lagi ketemu orang rasanya." Bu Ali pun seperti mendapat angin itu, "Iya betul bu, kita sesekali memang harus begitu, jangan seperti tetangga baru kita, masa sudah hampir sebulan gak pernah kumpul-kumpul sama kita, pernah saya tawari ikut pengajian, eh gak mau." Bu Mahbub pun bertanya penasaran, "Masa sih, bu Ali, emang kenapa, dia tidak kerja, kan." Bu Ali pun menjawab, " Gak tahu, kalau saya pikir mungkin dia gak mau bergaul sama kita, uh dasar sok kaya." Sebelum sempat menjawab, pak Mahbub cepat-cepat menyela, " Mungkin belum sempat aja bu Ali, mungkin mereka masih banyak urusan." Sambil memilih sayur bu Ali menyahut, " Emang urusan apa sih pak,." Pak Mahbub mulai kurang nyaman apalagi melihat bu Mahbub yang kelihatan antusias, "Ayo, bu kalau sudah selesai belanjanya kita cepat pulang ya, kasihan anak-anak di rumah menunggu." Setelah membayar belanjaannya, mereka pun berpamitan.

"Aduh, abi ini kenapa sih, gak enak,kan bu Ali lagi bercerita." gerutu bu Mahbub. Sambil berjalan, pak Mahbub mulai bicara, "Umi, hati-hati kalau kita berbicara, apalagi menyangkut orang lain, kan sudah abi bilang itu semua jatuhnya ghibah. Ini sangat berbahaya, umi ingat tidak apa yang diceritakan oleh Rasulullah saat peristiwa Isra Mi'raj, dari Anas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Ketika Tuhanku Azza wa Jalla menaikkanku, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku yang terbuat dari tembaga, mereka mencakar-cakar wajah dan dadanya. Lalu aku bertanya: siapakah mereka wahai Jibril? Ia menjawab: mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menjatuhkan kehormatan mereka (HR. Abu Dawud). Itu adalah gambaran orang-orang yang suka mengghibah mi..Dan coba bayangkan bagaimana perasaan bu Ahmad dan keluarga kalau mendengar semua ini." Bu Mahbub pun hanya diam dan menjawab, "Ah, abi ini, umi kan hanya mendengarkan saja tidak bilang apa-apa." 

Setelah sholat ashar, bu Mahbub siap-siap pergi ke pengajian ibu-ibu, "Bi, umi pergi pengajian dulu bi." Pak Mahbub mengangguk sambil berkata, "Hati-hati, jaga bicara mi hindari atau cegah ngegosip ya." Sambil membenahi kerudungnya, bu Mahbub berkata, "Insya Allah bi, jangan khawatir."

"Assalamualaikum, ibu-ibu gimana sudah kumpul semua? " sapa bu Mahbub sambil bersalaman dengan ibu-ibu yang sudah datang duluan. "Belum bu Mahbub, biasalah bu Andi selalu telat," sahut bu Ali yang duduk di pojok masjid. Ibu Arifin, sambil tersenyum pun menyahut, ",Mungkin bu Andi sibuk mengurus anak-anaknya yang masih kecil." Hampir saja bu Mahbub keceplosan untuk bicara, untung ingat pesan pak Mahbub tadi. Belum selesai pembicaraan mereka, tampak dari luar Bu Ahmad dan Bu Andi sedang berjalan menuju ke masjid, bersama mereka tampak juga ustadzah Fatimah. 

Melihat itu pun, bu Ali mulai  lagi, "Ah, dasar memang orang suka pamer, yang satu suka telat dan yang satunya baru saja datang sekali, gayanya sudah sok akrab dengan bu ustadzah. Ibu-ibu yang duduk dekat bu Ali pun mulai tertarik ikut berbicara,"Iya…ya ada apa kok tumben-tumbennya bu Ahmad datang," sahut bu Intan yang cantik. Bu Rani pun gak mau ketinggalan, "Iya..yah padahal berkali-kali saya tawari, ada saja alasannya, yang belum ada waktu, ada urusan penting, dan pokoknya banyak lagi deh." Bu Mahbub terlalu lelah menahan lidahnya untuk tidak bicara, tapi dia juga ingat pesan pak Mahbub, "Udahlah ibu-ibu, gak enak ntar kedengaran mereka." Ibu-ibu pun berhenti setelah ibu Ustadzah dan keduanya masuk dan mengucapkan salam. Dan akhirnya pengajian sore itu ditutup dengan undangan  tasyakuran keluarga bu Ahmad atas kesembuhan anaknya yang telah di rumah sakit selama sebulan.

 "Bagaimana mi, pengajiannya?" tanya pak Mahbub. "Alhamdulillah bi, ramai, banyak yang datang," jawab bu Mahbub yang diteruskan dengan cerita panjang lebar tentang semua pembicaraan ibu-ibu. Pak Mahbub tersenyum geli mendengarnya, "Lho ibu ini bagaimana sih,.kok lancar banget ceritanya." Bu Mahbub pun tidak mau kalah, "Ah, abi emang kenapa,." Pak Mahbub pun menggeser duduknya dekat bu Mahbub, "Umi sayang, yang namanya mengingkari itu bukan sekedar bilang diam dan tidak ikut nimbrung, tapi masih mendengarkan dengan seksama setiap pembicaraan mereka. Tapi mengingkari bisa dilakukan dengan meninggalkan majelis tersebut, atau kalau bisa mengingatkan perbuatan mereka itu lebih baik. Umi juga bisa mengalihkan pembicaraan mereka, dan kalau semua.itu belum bisa dilakukan, yah umi mengingkari dalam hati, beristighfar dan berdzikir agar pikiran kita tidak terfokus atau terganggu pada gosip itu. Jadi bukan diam tapi lancar bercerita setelahnya, itu namanya sama saja, apalagi kalau sampai kita bilang berhenti nggosipnya tapi dalam hati kita mengharapkan cerita itu artinya sedikit banyak di hati kita ada sifat munafik yang tidak bisa menghindarkan kita dari dosa. Bu Mahbub pun hanya mengerutkan dahi dan bersuara panjang, "Ooo....ooooooo, tapi gimana ya......susah juga karena setiap kumpul-kumpul mau gak mau pasti ada yang ngegosip." Pak Mahbub hanya bisa geleng-geleng kepala sambil bergumam, "Kebiasaan berbahaya yang sudah melekat, semoga mereka selalu ingat bahayanya agar lidah dan hati mereka lebih terjaga."(Um Yahya)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com