BERSAMA RAMADHAN, TAMU ISTIMEWA


Apa yang ada di benak kita mendengar kata Ramadhan?!. Apa yang kita rasakan dua bulan, satu bulan sebelumnya?!. Sudahkah kita persiapkan diri dan hati untuk menyambutnya?!. Kalau kita melihat kondisi para pendahulu kita, mereka berdoa 6 bulan sebelum ramadhan, supaya Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Bayangkan, enam bulan. Mereka berdoa dengan sebenarnya. Kenapa hati-hati mereka sangat terkait dengan bulan ini?!. Ya, tentu karena keistimewaan di dalamnya, karena kemuliaan dan keberkahan yang menyertainya, karena keutamaan-keutamaannya di atas bulan-bulan lain, dan seribu alasan lain yang menyebabkan hati-hati mereka selalu merindukan Ramadhan.
Bagaimana dengan kita?!.. "Allahumma Balllighnaa Ramaadhan", ya Allah pertemukan aku dengan bulan Ramadhan. Kita ulangi doa tersebut dengan penuh keyakinan, hingga Allah mempertemukan kita dengannya. Sambil berdoa, kita persiapkan sepenuhnya untuk bertemu dengannya. Ibarat tamu agung, kita pasti akan menyiapkan semuanya untuk menyambutnya.  Salah satu cara menyambutnya tentu dengan persiapan ilmu, sebagaimana persiapan-persiapan yang lain. Di sini kita akan mencoba menyorot beberapa point terkait persiapan secara ilmu dalam menyambut Ramadhan, sehingga kita dapat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan benar, tidak sekedar rutinitas tahunan atau bahkan hanya sekedar pengguguran kewajiban tanpa pemaknaan yang lebih, bahkan tanpa ada ilmu yang mendasari.

Bulan Ramadhan, ketika terbersit kata ini di benak kita, tentu ibadah puasa yang lebih menonjol dan menguasai dalam bulan ini. Ya, puasa Ramadhan yang kita kenal sebagai rukun Islam yang ke-4, seperti dalam hadits Nabi: "Agama Islam terbangun atas 5 pilar : syahadat bahwa tiada tuhan yang patut disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, Haji ke baitullah". (Muttafaq alaih)

Adalah hukumnya wajib. Bahkan kewajiban puasa Ramadhan tidak dapat diragukan lagi. Semua sepakat kewajibannya. Dalam Al Qur'an, secara jelas Allah berfirman dalam surat Al Baqarah: 183 yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".

Di balik kewajiban ini tentunya membawa kemaslahatan tersendiri bagi kita, baik maslahat dunia ataupun akhirat. Maslahat dunia ditengok dari sisi kesehatan misalnya, sampai saat ini para ilmuwan masih membahas manfaat puasa bagi kesehatan manusia, bahkan banyak buku telah terbit terkait Rahasia puasa ini. Adapun maslahat akhirat ini terkait dengan Keutamaan puasa yang akan diraih oleh orang yang melakukannya, salah satunya yaitu:  "Siapa yang puasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." [HR. As-Syaikhân].

Rukun Puasa :

1. Niat. Harus dilakukan sebelum terbit fajar, dan dilakukan setiap malam selama bulan Ramadhan, menurut pendapat yang rajih. Dari Hafshoh, Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda : "Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, maka tiada ada puasa baginya". (HR. Ahmad). Niat ini sah dilakukan kapan saja, selama di waktu malam hari hingga sebelum fajar. Dan tidak disyaratkan untuk melafalkan niat tersebut. Karena niat merupakan amalan hati, yang hakekatnya berniat melakukan sesuatu karena menunaikan perintah Allah dan mengharap Ridho-Nya.

Maka siapa yang makan sahur di malam hari dengan tujuan untuk berpuasa, maka sudah dianggap ia berniat. Siapa yang pada malam hari bertekad menahan dan menjauhi semua hal-hal yang membatalkan puasa selama hari esoknya, maka sudah dianggap berniat, walaupun tidak makan sahur. Ini berlaku untuk puasa wajib, termasuk didalamnya puasa Ramadhan.

Sedangkan untuk puasa sunnah, maka niat pada siang hari sementara ia dari fajar belum makan apa-apa, maka dibolehkan dan sah puasa sunnahnya. Sesuai hadits Riwayat Aisyah : "Rasulullah datang kepadaku suatu hari, dan beliau berkata : "apakah ada sesuatu (untuk dimakan)?". Kami menjawab : tidak. Beliau bersabda: "jika begitu aku berpuasa". (HR. Muslim).

2. Menahan dari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar, hingga terbenam matahari. Sesuai dengan firman-Nya, Al Baqarah : 187 yang artinya : "… Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai [datang] malam,…".

Yang dimaksud dengan "benang putih dan benang hitam" yaitu te rangnya siang dan gelapnya malam. Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Adiy bin Hatim, ia berkata: ketika turun ayat tersebut di atas, maka aku menyimpan benang hitam dan benang putih, dan aku menaruhnya dibawah bantalku, lalu aku menunggu malam hari, dan benang itu tak jelas dipenglihatanku. Hingga aku datang kepada Rasulu llah -shalallahu alaihi wasalam-, aku ceritakan yang tadi, dan beliau bersabda : "sesungguhnya yang dimaksud yaitu gelapnya malam dan terangnya siang". (HR. Bukhori dan Muslim)

Puasa Ramadhan diwajibkan bagi setiap muslim, baligh, berakal, sehat dan mukim. Bagi wanita, ditambah syarat wajibnya yaitu suci dari haidh dan nifas. Sebaliknya, puasa tidak wajib bagi kafir, anak kecil, orang gila dan musafir, juga tidak wajib bagi wanita yang haid ataupun nifas. Para ulama menyarankan kepada wali untuk memerintahkan kepada anak kecil berpuasa, sebagai latihan, tetapi tidak kewajiban, seperti halnya para sahabat dulu melatih anak-anaknya, jika mereka merasa lapar ingin makan, para sahabat memberikan mainan supaya anak-anak bermain dan lupa akan rasa lapar.

Bagaimana dengan musafir?. Musafir mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa, tetapi berkewajiban untuk mengqodho/membayar puasa di hari-hari lain. Sedangkan wanita haidh dan nifas, justru malah berdosa jika berpuasa. Adapun bagi orang tua renta, dan orang yang sakit parah dan menahun, tidak diharapkan kesembuhannya, mereka diberi keringanan untuk tidak berpuasa tetapi diwajibkan membayar fidyah yaitu dengan memberi makan kepada satu orang miskin, untuk satu hari ia tidak berpuasa.

Adapun bagi wanita hamil dan menyusui, maka para ulama sepakat bahwa mereka diberi rukhsoh untuk berbuka jika tidak kuat untuk puasa. Tetapi mereka berbeda pendapat, wajibkah mengqodho atau hanya membayar fidyah saja, atau bahkan wajib mengqodho dan membayar fidyah ?. Imam Ahmad dan imam Syafii berpendapat :  jika wanita hamil dan menyusui, mengkhawatirkan anaknya, lalu ia berbuka, maka wajib baginya mengqodho dan membayar fidyah. Tetapi jika mereka mengkhawatirkan diri mereka sendiri, atau mengkhawatikan diri dan anaknya, maka wajib baginya hanya mengqodho saja.

Dari pembahasan di atas, kita mengetahui ada sebagian golongan yang wajib mengqodho puasa, juga ada golongan yang diwajibkan untuk membayar fidyah saja. Nah apakah yang dimaksud dengan mengqodho, juga tata caranya?. Berikut sedikit penjelasan tentang point ini.

Mengqodho puasa yaitu berpuasa dihari-hari yang lain setelah ramadhan sebagai ganti hari-hari yang ditinggalkan ketika bulan ramadhan. Batasan mengqodho ini cukup luas waktunya: dari tgl 2 Syawal, hingga hari terakhir bulan Sya'ban pada tahun berikutnya, yakni 11 bulan kecuali pada hari-hari yang tidak dibolehkan berpuasa, seperti hari raya dan hari-hari tasyriq.  Diriwayatkan bahwa Aisyah binti Abu Bakar, mengqodho puasa pada bulan Sya'ban tahun berikutnya, hal ini karena beliau sibuk dengan urusan bersama Nabi. Mengqodho puasa ini juga tidak wajib berturut-turut.

Bagaimana jika mengakhirkan qodho puasa hingga masuk ramadhan tahun berikutnya?. Dalam hal ini, para ulama sepakat ketika masuk Ramadhan tahun berikutnya, maka ia berpuasa ramadhan waktu itu, kemudian setelah selesai Ramadhan ia mengqodho Ramadhan tahun lalu. Jika hal ini terjadi karena udzur, maka ia tidak berdosa –insyaAllah-, dan tidak wajib fidyah. Jika tanpa udzur, maka mereka berbeda pendapat; Apakah wajib membayar fidyah juga disamping mengqodhonya?, menurut jumhur,  dalam hal ini jika keterlambatannya membayar puasa hingga masuk ramadhan berikutnya, dengan tanpa udzur, maka ia wajib membayar fidyah juga disamping mengqodho.  

Salah satu rukun puasa, seperti yang kita sebutkan di atas, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga terbenam matahari, berikut paparan tentang hal ini.

Hal-hal yang membatalkan puasa :

1. Yang membatalkan puasa dan mewajibkan qodho, juga kaffarat: Jima', satu-satunya hal yang mewajibkan qodho dan kaffarat, dan tiada selainnya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata : seorang laki-laki datang kepada Nabi, lalu berkata : binasa aku, ya Rasulullah. Lalu beliau bersabda:  apa yang menyebabkan kamu binasa?,  ia berkata: aku telah mengumpuli istriku di siang hari bulan ramadhan. Lalu beliau bersabda: "Apakah kamu mempunyai budak untuk dimerdekakan?", ia berkata: tidak. Rasul bersabda: "dapatkah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?". Ia berkata: tidak. Rasul bersabda: "dapatkah kamu memberi makan 60 orang miskin?". Ia berkata: tidak. Lalu ia duduk. Kemudian Rasulullah datang kepadanya dengan membawa kurma (15 sha'), dan bersabda: "shadaqahkanlah ini". Lalu ia berkata: apakah kepada orang yang lebih miskin dariku ? sesungguhnya tiada keluarga yang lebih fakir di seluruh kota Madinah ini dari keluargaku.  Lalu Rasul tertawa hingga kelihatan gigi gerahamnya seraya bersabda: "pergilah, berilah makan kepada keluargamu".(Muttafaq alaih).

Dari hadits di atas dipahami bahwa : orang yang berpuasa ramadhan, lalu berjima' dengan sengaja, di siang hari maka ia harus mengqodho juga membayar denda kaffa rat.  Jika  jima' tidak sengaja, dikarenakan lupa, atau jika dipaksa untuknya, atau jika mereka tidak niat berpuasa ramadhan lalu jima' maka tiada denda kaffarah.

Imam Nawawi berkata: "pendapat yang paling shahih yaitu bahwa kaffarah diwajibkan bagi kaum laki-laki saja, dan tiada kewajiban membayar kaffarah bagi si perempuan. Karena kaffarah adalah denda yang bersifat financial yang berhubungan dengan jima', dan hal ini dikhususkan untuk laki-laki saja seperti halnya mahar".

Pendapat ini dikuatkan pula oleh Imam Ahmad dengan berhujjah: bahwa pada hadits di atas, Nabi hanya memerintah suaminya saja, dan tidak memerintahkan kepada istrinya.

Kaffarah ini bersifat berurutan sebagaimana dalam hadits sebagai berikut: pertama memerdekakan budak, jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan sebanyak 60 orang miskin.

2. Yang membatalkan puasa, dan mewajibkan qodho saja :

·        Makan minum dengan sengaja. Termasuk dalam hal ini, suntikan yang bersifat mengganti makanan. 

·        Muntah dengan sengaja.

·        Haidh dan Nifas, walaupun di detik-detik terakhir sebelum matahari terbenam. Keluar air mani, entah itu karena sebab mencium istrinya, atau berpelukan, atau dengan tangan-meski hukum hal ini haram, maka semua ini membatalkan puasa dan wajib qodho saja. Tetapi jika mimpi di siang hari dan mengeluarkan mani, maka hal ini tidak membatalkan.

·        Berniat membatalkan puasa di siang hari, walaupun belum makan ataupun minum.

 

Ramadhan dan Shalat Tarawih

Selain gema puasa yang kita rasakan ketika masuk bulan Ramadhan, gema Tarawih pun tak kalah menariknya hadir di hati-hati kaum muslimin. Karena ia termasuk kesunnahan yang disunnahkan oleh Rasulullah bagi ummat Islam pada bulan suci ini dimana para ulama sepakat, bahwa ia adalah sunnah muakkadah. Ia adalah salah satu syiar islam yang agung. Banyak sekali hadits Nabi yang menganjurkannya, di antaranya yaitu: "Barang siapa yang qiyam Ramadhan (sholat sunnah pada malam hari ramadhan), maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu". (Muttafaq Alaih)

Semasa Rasulullah, beliau sholat tarawih dengan cara berjamaah, tetapi kemudian beliau tinggalkan sholat dengan berjamaah karena rasa khawatir yang timbul dalam dirinya jika sholat tarawih ini akan menjadi wajib bagi ummatnya, hal ini seperti yang disampaikan oleh Ibunda kaum Mukminin, Aisyah Ra. Kemudian kaum muslimin setelah itu mereka sholat tarawih, ada yang sholat secara berjamaah, ada yang sholat secara sendiri-sendiri, hingga datang pada masa Kholifah Umar bin Khottob, beliaulah yang mengembalikan lagi sholat tarawih secara berjamaah dengan satu imam seperti halnya yang pernah terjadi pada masa Rasulullah. Shahabat Ubai bin Ka'ab ditunjuk oleh Khalifah Umar sebagai imam sholat terawih pada masanya, hal ini seperti yang terabadikan pada shahih Bukhori.

Adapun Jumlah Rakaatnya, tiada Rasul menentukannya secara perkaatan. Hanya saja dari perbuatan Rasulullah, terbaca bahwa beliau sholat 11 rakaat sebagaimana yang dinukilkan oleh Aisyah ketika ditanya tentang tata cara sholat rasulullah pada bulan Ramadhan, beliau berkata: "Rasulullah tidak pernah menambah pada Ramadhan atau selain Ramadhan melebihi dari 11 rakaat, beliau sholat empat rakaat, jangan tanya tentang bagusnya dan panjangnya, lalu sholat empat rakaat jangan tanya tentang bagus dan panjangnya, lalu sholat tiga rakaat", (Muttafaq Alaih). Tetapi perbuatan ini tidak menunjukkan bahwa tarawih wajib dengan 11 rakaat, meskipun menjaganya dengan 11 rakaaat panjang dan khusyu' seperti yang dilakukan Rasul lebih afdhol.

Dibolehkan juga melebihi dari 11 rakaat seperti yang dilakukan para ulama' salaf, bahwa mereka melebihi dari 11 rakaat dimana hal ini menunjukkan bahwa jumlah rakaat ini bersifat fleksibel. Ibnu Taimiyah berkata: dibolehkan sholat 20 rakaat, seperti madzhab Ahmad dan Syafi'I, boleh juga sholat 36 rakaat seperti madzhab Maliki, boleh juga sholat dengan 11 rakaat, atau 13 rakaat…. Dan semuanya adalah bagus, karena memang tidak ada aturan baku tentang ini dari Rasulullah. Tetapi jumlah rakaat ini, banyak ataupun sedikit ini  disesuaikan panjang atau pendek sholat tarawih.

Adapun waktu pelaksanaannya dimulai dari setelah sholat isya' hingga sebelum Fajar. Sebagaimana kaum Muslimah juga dibolehkan untuk menghadirinya dengan tetap menjaga adab-adab keluar rumah. Perlu diperhatikan pula, ketika mengerjakannya berjama'ah maka hendaknya untuk tidak meninggalkan sholat hingga imam selesai.

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Terkesan cepat berlalu, memang begitulah yang kita rasakan. Ramadhan dengan 20 hari pertamanya dan kesibukan beribadah begitu kentara terlihat di rumah-rumah kaum muslimin, terlihat di kantor-kantor baik negeri ataupun swasta. Di mana-mana, kaum muslimin terlihat dengan mushafnya sebagai target satu ibadah tersendiri selain berpuasa. Pada hari-hari tersebut pun masjid-masjid masih terlihat penuh dengan para pencinta Allah, melabuhkan rasa cintanya dengan sujud-sujud sholat tarawih. Namun, apa yang kita lihat dalam sepuluh hari terakhir ramadhan?!

Rumah-rumah yang khusyu’ menjadi ramai kembali, bukan ramai karena ibadah, namun lebih ramai karena gaung hari raya yang menominasi. Terasa sedih, karena justru di akhir ini lah ujian bagi para pencinta Allah. “innamal a’maalu bil khowatim”, sesungguhnya amalan-amalan itu dilihat dari ujungnya, begitu dalam tiap momen Baginda Rasul berpesan. Untuk meminimalisi dari kegiatan duniawi dalam rangka persiapan Ramadhan, barang kali bisa di organisir dengan membuat jadwal, atau menyelesaikan semua kebutuhan hari raya sebelum sepuluh hari terakhir ramadhan tiba. Tentu ini akan lebih baik dan terasa bijaksana karena kita dapat bermesraan dengan sepuluh hari terakhir tersebut yang sebentar lagi akan pergi dan tidak kembali lagi membawa amalan-amalan manusia semuanya.

Mengapa sepuluh hari terakhir ini begitu istimewa? Mengapa justru di hari-hari ini lah seharusnya ibadah-ibadah melibihi yang dari hari-hari sebelumnya? Bagaimana Rasul dan para salaf sholeh menyambutnya?

Bunda Aisyah menuturkan tentang hal ini dan berkata tentang Rasulullah : “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya “. (Muttafaq Alaih)

Dalam lafazh yang lain: “Pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya.” (HR. Muslim) 

Para ulama berkata tentang mengencangkan sarung, kata tersebut merupakan kata kiasan yang berarti: fokus untuk menjalankan ibadah dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Sementara Ats Tsaury mengartikannya dengan menjauhi berhubungan dengan istri. Inti ataupun kesimpulannya, bahwa beliau konsentrasi beribadah melebihi dari malam-malam sebelumnya. Sedangkan ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan pada 10 hari ini tidak terbatas pada shalat lail saja, akan tetapi mencakup semua jenis ibadah seperti berdiam diri di masjid yang kita kenal dengan I’tikaf,  membaca Al-Qur`an, berdzikir, berdoa, bersedekah, dan lainnya.

Salah satu sebab yang menjadikan sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan ini yaitu dikarenakan terdapat malam yang lebih mulia daripada 1000 malam. Malam Lailatul Qadar, begitulah yang kita kenal. Suatu malam yang karena kemuliaannya, Allah abadikan sebagai nama Surat Dalam Al Qur’an, yaitu surat Al Qadar.

Rasulullah menuturkan tentang keistimewaan beribadah pada malam ini, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dan siapa yang menegakkan (shalat pada malam) pada lailatul Qadr dengan keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhori Muslim)

Tak luput, beliau ajarkan kepada kita bagaimana cara mencari keutamaan malam ini melalui sabdanya: “Carilah malam lailatul qodar di malam bilangan ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan" .(Muttafaq alaih). Pun, Ibunda Aisyah juga mengajari kita tentang doa yang dianjurkan dibaca pada malam tersebut. Dalam riwayatnya, beliau bertanya:  Ya Rasulullah, jika aku mendapati malam Lailatul qodar, apa yang aku baca ?. Rasul bersabda: "ucapkan : “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fu anni ".  Ya Allah, sesungguhnya Kau Maha Memberi ampun, maka ampuni aku. (HR. Tirmidzi ).

Itulah Bulan Ramadhan yang penuh berkah, penuh kebaikan, penuh keutamaan, hari-harinya yang disifati Allah dalam QS.Al Baqarah: 184 dengan “Ayyaaman ma’duudaat”, hari-hari tertentu yang dapat dihitung, berarti pula hanya sebentar saja, dan akan berjalan dengan sangat cepat.

Semoga Allah bantu kaum muslimin untuk menunaikan hak-hak Ramadhan, khususnya para kaum muslimin dibelahan dunia yang menjalankannya di musim panas tahun ini.

 







0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com