GEMA RAMADHAN



 
Kesibukan dalam menyambut Ramadhan seringkali terjadi pada banyak keluarga muslim, ada yang memulainya dari kebersihan didalam rumah, ada yang mempersiapkan baju dan perangkat shalat yang sesuai syar'i dimana sebelumnya semua tersimpan rapi, ada pula yang mempersiapkan berbagai jenis makanan untuk disimpan karena menghindari kesibukan berbelanja lagi disaat Ramadhan itu tiba. Semua bersiap dan mawas diri berharap dapat menjalaninya dengan penuh khusuk dan sempurna dari sejak gema Ramadhan itu dimulai.

Bulan Ramadhan memang  harus dijalani dengan kesungguhan, semangat yang konstan sehingga akan dapat membuktikan bahwa kekuatan ruhani jauh lebih penting dari kekuatan jasmani. Bila pelaksanaan Ramadhan tidak dihayati sepenuh hati tentu kepergiannya nanti tidak akan meninggalkan perubahan apa apa pada kehidupan kita setelahnya nanti, tidak membekas, sama saja seperti yang sudah sudah, bahwa kepergiannya adalah sebuah kemerdekaan dari terkekangnya rasa lapar dan haus, kemerdekaan dari terbelenggunya hawa nafsu.

Ada sebuah cerita sebut saja terjadi  pada kehidupan Rida,  begitu gema Ramadhan dimulai, penampilannya menjadi berubah, begitu anggun mengenakan baju muslimah karena kariernya sebagai seorang entertaint menuntutnya seperti itu, tutur katanya santun saat berbagai media menanyakan perubahan yang terjadi pada penampilannya, sopan tersorot sampai ke pelosok negeri, lagu yang dibawakan bernuansakan islami, peran yang dimainkan dalam layar kacapun bercerita tentang kehidupan Islami, cantik dan bersahaja, tapi sangat disayangkan semua berlangsung hanya spesial pada edisi ramadhan dan iedul fitri saja, selepas itu penampilan ala kadarnya kembali mewarnai kehidupan asli Rida, bukan lagi sandiwara, ini adalah Rida dulu, kini dan entah apakah kehidupan yang akan datangpun akan sama seperti ini? tapi adakah beban padanya saat menjalani itu semua hanya untuk memberikan image baik bagi pengagumnya??.

Adapula cerita sebuah keluarga, Pak Arif sebut saja demikian, bersama istri dan keempat anaknya terlihat sebagai keluarga yang harmonis, terlebih saat Ramadhan tiba, sang istri dan kedua anak perempuannya tak pernah ketinggalan untuk sholat tarawih dimasjid dekat rumah, sedang sang ayahpun selalu membawa kedua anak laki-lakinya untuk sholat 5 waktu berjamaah di masjid. Selama bulan Ramadhan keluarga ini juga sering mengundang para kerabat dan tetangga untuk mengadakan buka puasa bersama dikediamannya. Menjalin keakraban dan beramah tamah dengan tetangga sekitar rumah, memberi hantaran untuk berbuka puasa, menyantuni orang tak punya, mendatangi dan berbagi dengan anak-anak terlantar dijalanan. Seolah tak ingin tertinggal, sempurna melakukan kebaikan pada saat yang tepat, saat Ramadhan. Namun selepas ramadhan, semua kembali berjalan normal seperti semula, keluarga yang berkecukupan ini terasa jauh dan sulit untuk dihubungi oleh tetangga karena rumah megah yang berdiri kokoh itupun harus dijaga oleh petugas keamanan yang siap siaga menjaga keamanan si pemilik rumah 24 jam setiap harinya. Kembali sepi. Tapi terbebanikah mereka dengan semua keadaan ini??

Satu lagi cerita menarik disekitar kehidupan bekerja kita sebagai staff paramedis,  begitu Ramadhan tiba, beban kerja kita sebagai perawat sepertinya terkurangi dengan pendeknya jam kerja, dimana para dokter akan datang lebih telat dari biasanya dan pulang lebih awal dari waktu yang semestinya, istimewanya lagi mereka tidak banyak memberikan perintah dalam bentuk ungkapan yang bernada tinggi, pesan dan perintah yang disampaikan mampir ditelinga dengan begitu lembutnya, pun teman seprofesi yang sedang sama-sama menjalani ibadah puasa, komunikasi yang terjadi sungguh sangat jauh dari nada-nada tinggi, ya, baik tenaga medis atau paramedis, atau lingkungan tempat kerja yang lainpun rasanya akan sama, semua bisa menahan emosinya pada saat mereka sedang berpuasa, semua terkendali dibulan ramadhan ini, semua ingin melakukan segalanya dalam hitungan mendapatkan pahala berlipat ganda, menjadi low profile, menjadi dermawan, menjadi pemaaf dan baik hati, semua spesial terjadi di edisi ramadahan ini.

Benar adanya Ramadhan punya kekuatan, kekuatan untuk mengendalikan diri dan keadaan, semua kaum muslim berusaha sekuat tenaga menahan nafsunya, mengerem emosinya dan menanggulangi amarahnya.

Tapi betapa sayangnya kalau semua hal yang baik itu hanya bertahan hanya satu bulan?? hanya spesial pada edisi ramadhan, lalu kenapa tidak setiap bulan saja Ramadhan itu datang? hingga semua mahluk Allah dibumi ini menjadi sangat penyayang?.  Inilah Ramadhan yang didalamnya memang mendatangkan banyak kebaikan, yang kepergiannya selalu saja mendatangkan tangis berderai, kekhawatiran tak akan dapat menyambutnya lagi ditahun mendatang, kerinduan akan suasana tenang, terkendali dan damai hingga masih terus ingin berada didalamnya, dan bila mungkin tak ingin rasanya melepas kepergian ramadhan, namun selepasnyapun kebaikan itu mestinya tetap tertinggal, pelatihan selama sebulan dengan aturan dan disiplin yang dijalani tersebut mestinya cukup untuk menjadikan  diri kita kembali bersih lahir dan bathin.

Sama halnya dengan fisik kita yang harus terus dibina dan dilatih untuk mendapatkan kekuatan  prima, pun kekuatan ruhani perlu dilatih dan dilatih agar semakin kuat dari hari kehari. Keimanan pada Allah itulah pondasi awalnya, keimanan ini terkait erat dengan penghayatan, menghayati setiap jengkal kehidupan dan kejadian,  dan penghayatan ini sangat berhubungan dengan pemanfaatan waktu. Jika dalam keseharian kita banyak waktu yang diisi dengan aktivitas yang sia sia dan tak berarti, maka keimanan kitapun akan menurun dan lama-lama akan melemah, tapi coba kita lihat jika waktu yang ada kita isi dengan kegiatan bermanfaat, konsekwen dan sungguh sungguh seperti saat kita berada dihari hari Ramadhan itu maka tidak disangsikan keimanan kita kepada-Nya akan semakin kuat, dan akan bertambah kuat bila kita terus berusaha membinanya. Akhirnya pembaca marilah kita evaluasi lagi kegiatan Ramadhan kita selagi momen ini belum berakhir, masih ada waktu untuk melakukan pembiasaan semua rutinitas yang baik sehingga kita bisa menjalani Ramadhan ini sebagai upaya peningkatan keimanan kita untuk sampai pada derajat taqwa. (Ummu Rafi).

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com