Mendidik Anak berpuasa Ramadhan sejak dini


“Happy Ramadhan... Ih, seneng deh bisa ketemu lagi sama bulan Ramadhan, soalnya di bulan Ramadhan umi suka memasak makanan yang enak-enak..." . "Lho... kok karena makanannya kak..??”, "Enggak kok mi.., seneng karena Izzah bisa puasa lagi... di Ramadhan kali ini, insyaAllah puasa Izzah gak bolong-bolong lagi".

 
Saya tersenyum mendengar ucapan anak sulung saya yang baru duduk di kelas 3 SD. Ya, bagi kami atau bahkan Anda sebagai seorang muslim, Ramadhan adalah bulan yang paling dinantikan, bulan dimana umat muslim diwajibkan untuk berpuasa. Sudahkah Anda melatih anak-anak Anda untuk ikut berpuasa tahun ini?

Ada baiknya bagi kita para orang tua untuk juga memperkenalkan ibadah puasa pada anak yang sudah cukup mampu untuk melaksanakan ibadah wajib ini. Mendidik anak untuk berpuasa sejak dini agar saatnya nanti ketika anak sudah diharuskan berpuasa, anak tidak merasa kaget, mereka sudah terbiasa dan siap. Tapi karena ibadah puasa lebih melibatkan ke fisik, terkadang para orang tua lalai untuk mendidik dan mengajarkan anak-anaknya berpuasa sejak dini dengan berbagai alasan, mulai dari alasan bahwa anak masih perlu gizi, sampai menyepelekan bahwa puasa adalah amalan bagi mereka yang sudah baligh. Ya.. pernyataan tersebut tidaklah salah, namun segala sesuatunya perlu tahapan, tidak bisa instant, dalam artian anak-anak perlu diberikan "latihan" berpuasa.

 

Nah,. bagi para orang tua, terkadang merasa kesulitan untuk menyiasati dan mengajarkan puasa pada anak-anak sejak dini. Mengajarkan puasa bagi anak yang pertama kali puasa bukanlah hal yang mudah, anak-anak yang tidak tahan lapar biasanya tidak bisa melakukan puasa selama sehari penuh. Maka ada orang tua yang membiarkan dan menunggu hingga anak-anak itu siap dengan sendirinya, dan ada pula orang tua yang bersedia repot-repot melakukan berbagai cara jitu untuk membujuk, namun para orang tua perlu juga memperhatikan kaidah-kaidah melatih anak berpuasa:

 

Latihan puasa tidak mengabaikan fakta bahwa kebutuhan akan gizi dan tidur anak itu tinggi. Dalam hal ini orang tua harus pandai menyiasati menu buka dan sahur untuk anak, jangan sampai ketika latihan puasa asupan gizi anak menjadi terabaikan.

Pahamilah bahwa kegiatan ini adalah pelatihan, pembiasaan dan penyiapan agar anak-anak akrab dengan aktifitas ibadah puasa.

Latihan puasa ini bukan sesuatu yang final, sesuaikan dengan kondisi tubuh anak. Lakukan secara fleksible, sesuai kemampuan dan kondisi anak, jangan terlalu kaku bahwa anak harus bisa puasa seharian, perlu kesabaran dan kelembutan agar anak dalam menjalankan puasanya itu masuk ke hati, karena mereka mengerti akan suatu kewajiban bukan sekedar takut dimarahi ibunya. Prioritaskan kegiatan pelatihan ini dari pada kegiatan yang lainya.

Hal ini penting buat diketahui, para ibu harus mempunyai waktu khusus dengan anak-anaknya,supaya anak merasa dihargai, diperhatikan dan tentunya lebih bersemangat dalam menjalankan puasanya.

 

Tentang kiat-kiat mendidik dan melatih anak berpuasa sejak dini ada beberapa cara:

 

Pertama, siapkan mental dan hatinya dulu

Jelaskan secara sederhana tentang makna Ramadhan, apa itu puasa dan pahalanya bagi yang mengerjakanya, tentu saja menjelaskanya dengan bahasa yang disukai anak-anak. Bisa juga dengan menceritakan kisah-kisah sahabat yang rajin berpuasa atau tentang pintu Ar Rayan, yaitu pintu khusus yang disediakan Allah di surga bagi orang-orang yang berpuasa.

 

Kedua, ajarkan tentang Niat berpuasa

Sebenarnya niat itu letaknya di dalam hati, namun kalau anak kecil dijelaskan semacam ini pastilah bingung, oleh karena itu dalam mengajarkanya, boleh dengan dilafalkan bacaan niatnya.

 

Ketiga, kenalkan anak akan hal-hal rutin di bulan Ramadhan

Hal-hal rutin seperti makan sahur, berbuka dan sholat Tarawih haruslah dikenalkan dan ajak anak-anak terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, bangunkan anak secara lembut pada saat sahur dan ajak anak untuk memilih dan menyiapkan menu saat berbuka. Orang tua juga bisa memberi contoh yang baik untuk anak-anak disaat bulan Ramadhan, dengan tidak mengeluh beratnya berpuasa ketika beraktifitas dan menjalani puasa dengan penuh kesabaran.

 

Keempat, lakukan puasa bertahap bagi anak

Daripada mengatakan "Puasa berarti tidak makan sehari penuh" lebih baik katakan "Puasa hanyalah mempercepat waktu makan pagi dan menunda makan siang". Dengan demikian anak tidak akan merasa berat melakukanya.

Di awal latihan, anak balita yang sarapan sekitar pukul 07.00 dapat berpuasa hingga pukul 10.00 pagi, setelah makan, puasa dilanjutkan kembali hingga siang lalu dibuka untuk yang kedua kali (pada pukul 15.00 misalnya) lantas dilanjutkan lagi hingga maghrib. Ditahun berikutnya puasa dapat dilakukan hingga pukul 12.00 siang dan seterusnya sesuai dengan kemampuan anak.

Untuk anak usia sekolah yang relatif lebih kuat, perhatikan jam biologisnya, tengah hari katakanlah pukul 14.00 perutnya mulai terasa lapar dan mulai mencari-cari makanan, alihkan perhatianya untuk dapat mengabaikan rasa lapar dan hausnya dengan membacakan buku cerita dan berikan mainan kesukaanya.

 

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Ar-Rubaiyyi binti Muawwidz, berkata:

Rasulullah saw mengutus seseorang pada pagi hari Asyura ke perkampungan orang-orang Anshor, katanya; "Siapa yang pagi ini berpuasa maka hendaklah ia berpuasa dan menyempurnakan puasanya. Maka kami pun menyempurnakan puasa pada hari itu dan kami mengajak anak-anak kami berpuasa, mereka kami ajak ke masjid, lalu kami beri mereka mainan dari benang sutera, jika mereka menangis minta makan, kami berikan mainan itu sampai datang waktu berbuka." Hadits di atas mengajarkan kepada kita metode yang tepat dalam melatih anak beribadah yaitu melalui permainan. Bukankah bermain itu adalah dunia anak-anak..? dan sudah pasti mereka menyukainya.

 

Kelima, Berikan semangat dan motivasi pada anak

Memberikan semangat pada anak untuk berpuasa bisa dalam bentuk barang, menu favorit yang akan dia santap saat berbuka nanti, juga bisa berupa kalimat langsung, contohnya "Ayo semangat Adek... kurang satu jam lagi kok". Jika anak tidak kuat lagi dan terlihat lemas maka biarkan dulu mereka makan, lalu disambung lagi.

Berikan reward untuk memotivasi mereka, penghargaan ini tidak harus berbentuk barang, bisa dalam bentuk pujian, ungkapan rasa senang serta kedekatan emosi seperti sentuhan, pelukan atau belaian. Sebaiknya tidak menjanjikan hadiah dalam bentuk makanan saat dia sedang berpuasa karena hanya akan mengganggu konsentrasi puasanya. Hadiah spesial berbentuk barang bisa pula kita janjikan apabila mereka benar-benar lulus menjalani puasa sebulan penuh dan akan menjadi hadiah yang sangat spesial karena akan diberikan menjelang Hari Raya tiba.

 

Keenam, memberikan menu favorit dan bergizi untuk anak

Ketika berpuasa, orang tua sementara harus menyembunyikan makanan-makanan yang dapat menggoda puasa anak, jangan menyimpan makanan favorit mereka ditempat-tempat yang mudah dilihat dan dijangkau oleh mereka, tetapi ketika berbuka puasa maka berusahalah untuk menyajikan makanan favoritnya dan perlu juga diperhatikan kandungan gizinya.

 

Ketujuh, Jangan memarahi Anak

Jika anak tidak bisa berpuasa sesuai target yang sudah direncanakan, jangan sekali-kali memarahinya, karena hal itu akan membuat anak anda berani berbohong demi tidak mendapat marah dari anda.

Menghargai anak jika telah mengerjakan kebaikan, tetapi jangan dicela bila belum berhasil.

 
Akhirnya selamat mencoba tips-tips tersebut diatas tetapi tentu hasilnya sangat tergantung dari kerjasama yang baik antara Ayah, Ibu, anak dan semua anggota keluarga lain yang turut mendukung kegiatan beribadah ini.  Semoga bermanfaat. (ummu Azmi)

1 comments:

Rasidda Norazmi mengatakan...

Assalammualaikum .
Betul tu apa yang dikatakan oleh cik puan punya blog :)Melentur rebung biarlah dari rebungnya.Baca Tips Mudah Untuk Melatih Anak berpuasa Di Bulan Ramadhan. Jom kita jalani kehidupan yang sihat dan miliki tubuh badan yang cergas dan minda yang cerdas .

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com