Tanya Jawab Edisi Ramadhan


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

1.     Qodho Puasa dan Sholat

Assalamualaikum ustadzah, Saya seorang mu'alaf sejak 2004, dan menikah, di tahun 2005 saya melahirkan pada pertengahan  Romadhon tapi saya tidak membayar fidyah, dan di awal saya jadi mu'alaf saya puasa tapi tidak sholat karena belum bisa doanya, setelah anak usia 6 bulan mulai membayar utang puasa.  Pertanyaannya : 1.Apakah puasa saya sah tanpa sholat? 2. Apakah berdosa karena di bulan romadhon tidak puasa dan tidak membayar fidyah? Mohon jawabanya ustadzah & sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih, Wassalamualaikum Warahmatullah.

Hamba Allah


Jawaban:

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulillah wa ba’du.

Pertama-pertama, kami ucapkan selamat buat ananda yang telah memilih agama Islam, sebuah agama yang haq, satu-satunya agama yang diridhoi Allah. Selamat, karena ananda telah memilih hidayah yang Allah tawarkan kepada ananda. Puji Syukur kepadaNya atas pilihan ini. Semoga dengan pilihan ini ananda tergolong dalam barisan kaum muslimin yang selamat dunia dan akhirat. Aamin. Kami doakan pula semoga ananda senantiasa bersemangat dalam mencari ilmu khususnya yang terkait dengan ibadah harian,semisal tentang Tauhid, Rukun Islam, Rukun Iman, Belajar tentang Sholat Wajib dari rukun hingga sunnah-sunnahnya, Puasa dan hukum-hukumnya, Haji dan hukum-hukumnya, belajar tentang hal-hal yang diharamkan dalam mu’amalat/kehidupan harian, dan apa yang dibolehkan sehingga ananda dapat menjalankan Islam secara kaaffah dan keseluruhan, juga selalu berhubungan dengan islamic center misalnya untuk bertanya-tanya tentang hal-hal yang belum diketahuinya. Semoga selalu diberi istiqomah untuk memeluk agama Islam ini hingga ajal menjemput. Selamat!

Puasa dan Sholat dua ibadah yang sangat penting dalam Islam. Terkhusus puasa wajib dan sholat fardhu, keduanya adalah termasuk dari bagian Rukun Islam/Asas Islam. Puasa Wajib di sini yang sifatnya hanya satu bulan dalam setahun yaitu pada bulan Ramadhan, sementera sholat wajib yaitu sholat fardhu 5 waktu dalam sehari semalam.

 

Dimensi Ibadah dalam Islam, sangat membentuk kepribadian seseorang. Sholat misalnya, ia akan mencegah seseorang dari perbuatan yang tidak dibolehkan. Puasa, juga seharusnya menjadikan seseorang menjadi pribadi yang bertakwa. Puasa, tidak seharusnya mengganggu ibadah-ibadah yang lain, semisal sholat. Justru orang yang berpuasa, seharusnya terbentuk ketakwaan yang akan membawanya untuk senantiasa beribadah dengan ibadah yang lainnya yaitu sholat.

 

Seorang muslim yang baru saja masuk Islam, jika tidak mengerjakan sholat karena ketidak tahuannya hukum sholat bahwa sholat itu wajib, dia tidak mengerjakan karena kejahilan dalam hal ini, maka para ulama terjadi perbedaan yang sangat panjang, pendapat yang lebih kuat yaitu bahwa hal ini termasuk hal yang dimaafkan dan ia tidak diperintah untuk mengqodho sholat yang ia tinggalkan karena ketidak tahuan hukumnya, bahwa sholat itu wajib. Bagi orang-orang muslim disekelilingnya diwajibkan untuk memberi tahu dan mengajarinya. Tetapi jika kasusnya lain, misalnya ia tinggalkan sholat, dalam keadaan dia tahu hukum wajibnya, hanya saja dia tidak tau bacaan yang wajibnya, maka kasus kedua ini berbeda dengan yang pertama, ketidak tahuan bacaan dalam sholat ini tidak menggugurkan sholat yang ia tinggalkan. Sholat yang ia tinggalkan semenjak ia menjadi muslim, dan ia tahu bahwa sholat itu hukumnya wajib, maka  wajib baginya untuk mengqodho sholat yang ia tinggalkan semampunya. Sebagian yang lain berpendapat, bahwa hal ini gugur dengan taubat  yang sebenar-benarnya, karena taubat menghapus yang lalu. Tetapi mengqodho sholat yang ditinggalkan dengan semampunya, hal ini lebih dekat kepada kehati-hatian.

Adapun terkait dengan puasa yang ia tinggalkan karena melahirkan, lalu kemudian ia telah bayar walaupun setelah ia tinggalkan, maka hal ini insyaAllah sudah mencukupinya, dan tidak diwajibkan membayar fidyah. Dalam hal ini terjadi perbedaan tentang membayar fidyah ini, Imam Ahmad dan imam Syafii berpendapat:  jika wanita hamil dan menyusui, mengkhawatirkan anaknya, lalu ia berbuka, maka wajib baginya mengqodho dan membayar fidyah. Tetapi jika mereka mengkhawatirkan diri mereka sendiri, atau mengkhawatikan diri dan anaknya, maka wajib baginya hanya mengqodho saja. Keduanya sepakat sama-sama untuk mengqodho/ membayar puasa, tetapi untuk masalah fidyah, tergantung sebab yang membersamainya waktu itu.

 

 

1.     Tradisi Bermaaf-maafan Menjelang Ramadhan

Assalamualaikum Warahmatullah

Di daerah saya, mungkin juga umumnya warga Indonesia menjelang Ramadhan saling mengucapkan selamat Ramadhan dan maaf-maafan. Bagaimana tinjauan syariat dalam hal ini? Adakah dalilnya. Wassalamualaikum Warahmatullah

Ummu Malaika

 

Jawaban:

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulillah, wa ba’du.

Semoga Allah menyampaikan kepada anda dan kita semua untuk kepada bulan Ramadhan, untuk dapat beribadah dan menggunakan kesempatan emas dalam mendulang pahala di bulan yang mulia, bulan Ramadhan. Aamiin.

 

Sering kita menjumpai entah dalam sms, ataupun dunia jejaring sebuah perkataan yang konon kabarnya disebut hadits dari Rasul, yang bunyinya sebagai berikut:

 

Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril itu adalah:

“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

 

Kalau ditelusuri lebih lanjut, ternyata hadits ini tiada satupun yang merawikannya dengan redaksi seperti ini. Tetapi memang ada hadits yang sekilas mirip, tapi jika diteliti lebih jauh sungguh jauh redaksinya dari yang sudah tersebut di atas. Ialah:

 

Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”. Hadits ini disahihkan oleh Albani, Adz Dzahabi, dan sejumlah ahli hadits yang lain.

 

Mungkin jelas di sini, bahwa hadits yang pertama tidak sama dengan dengan yang kedua. Dan yang pertama, tidak bisa dijadikan sandaran ataupun hujjah dalam melakukan sesuatu. Jadi, jika bermaaf-maafan bersandar pada hadits yang pertama, maka hal ini tidak dibenarkan dalam Islam, karena termasuk dalam kategori berbohong atas nama Rasulullah.

 

Adapun tentang tradisi bermaafan sebelum ramadhan yang terjadi di Negara kita, sepanjang yang kami cari dan telusuri, secara redaksional memang kami belum pernah menemukan hadits yang dapat dijadikan sandaran dalam masalah ini, belum menemukan nash yang mengatakan bahwa Rasul melakukannya, ataupun mencontohkan dan menyuruh kita untuk melakukannya.

 

Tetapi dilhat dari ajaran Islam secara Umum, yang namanya bermaaf-maafan adalah sesuatu yang dianjurkan, tidak hanya pada bulan Ramadhan. Hal ini sudah tidak diragukan lagi. Betapa banyak ayat Al Qur’an yang menganjurkan maaf memaafkan ini, diantaranya  dapat dilihat pada Surat Al Baqarah: 109, Ali Imran: 132-133, An Nur: 22.

 

Pun dalam hadits, terdapat perintah untuk meminta maaf bagi orang yang bersalah, Rasulullah bersabda: “Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari)

 

Dari teks yang ada, disimpulkan bahwa bermaaf-maafan adalah sesuatu yang dianjurkan kapan saja, tidak hanya pada bulan Ramadhan. Lantas mengapa timbul tradisi semacam itu menjelang Ramadhan?. Salah satu analisanya yaitu karena bulan Ramadhan adalah bulan pengampunan dan bulan maghfirah, seperti yang terdapat dalam sebuah hadits: “Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim).

 

Allah menjamin pengampunan dosa-dosa selama dosa tersebut merupakan kaitannya dosa dengan Allah, adapun kesalahan terhadap manusia maka hal ini membutuhkan upaya yang lain yaitu permintaan maaf supaya dosa dalam kaitan hablum minan nas ini terhapuskan juga.

 

Bermaafan menjelang atau pada bulan Ramadhan memang tidak ada anjurannya dalam hadits, tetapi juga tiada larangannya sehingga kitapun juga tidak dapat menyalahkan orang yang melakukannya.  Idealnya memang bersegera dalam meminta maaf jika bersalah, dan tidak menunggu hingga bulan Ramadhan. Lebih bagus lagi tentunya jika bermaaf-maafan tersebut tidak hanya basa-basi semata tanpa penghayatan, tetapi juga diteruskan dengan upaya riil, misalnya jika masih mempunyai hutang maka segera usahakan untuk melunasi, ataupun hal lainnya, sehingga ketika kita memasuki Ramadhan, hati kita bersih dan dapat berkonsentrasi penuh untuk menjalankan ibadah di dalamnya.

 

Kesimpulannya, bahwa bermaaf-maafan dapat dilakukan kapan saja, di bulan Ramadhan ataupun selain bulan Ramadhan, tentu tanpa memandang bahwa bermaafan di bulan Ramadhan adalah sebuah syarat sah puasa, jika ini diyakini maka akan menjadi lain hukumnya, yaitu tidak boleh. Tetapi melakukannya hanya sekedar tradisi, dan menggunakan moment Ramadhan hingga lebih berarti, maka insyaAllah dibolehkan,  Walaupun tiada dalil yang menganjurkannya, pun juga tiada dalil yang melarangnya, karena hal ini bukanlah perkara ibadah mahdhah yang sudah ditentukan, sehingga tidak boleh ditambahi ataupun dikurangi.

Wallahu a’lam bis shawab

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com