Xian, kota tua eksotis dan kaya akan sejarah di China



 

 

Islam adalah agama universal, yang bisa diterima oleh semua golongan; suku, bangsa, dan adat istiadat. Karena itu, Islam cepat diterima masyarakat karena prinsip toleran (tasamuh), moderat (tawasuth), berkeadilan, dan seimbang (tawazun).  Hal ini pun terjadi pula pada masyarakat Cina. Negeri yang dikenal dengan sebutan negeri tirai bambu dengan penduduknya kini lebih dari satu miliar ini, menerima Islam dengan sambutan hangat.

 

Negara China saat ini mengakui lima agama selain atheisme, antara lain adalah Islam, Protestan, Katolik, Taoisme, dan Buddhisme. Menurut data resmi, China memiliki 22 juta Muslim, sebagian besar terkonsentrasi di Xinjiang, Ningxia, Gansu, dan Qinghai. Sedangkan menurut data tidak resmi. populasi umat Islam di China berada pada tingkat tertinggi kedua setelah atheis, sekitar 65-100 juta Muslim atau sekitar 7,5 persen dari populasi dibandingkan agama lainnya, seperti dikutip dari Onislam.net

 

Terdapat sebuah kota yang menjadi surganya umat muslim di China, yaitu Xian, ibu kota Provinsi Shaanxi di bagian barat laut China. Kota Xian merupakan  kota tua yang  eksotis dan kaya akan sejarah. Kota yang didirikan pada sekitar 300 tahun sebelum Masehi ini memiliki berbagai cerita dan peninggalan sejarah cikal bakal berdirinya bangsa China yang sangat menarik. Dan meskipun kini Xi’an telah menjadi 1 dari 13 kota megapolitan di China, namun berbagai peninggalan sejarah kota yang pernah menjadi ibu kota kerajaan China kuno tersebut dapat dengan mudah dijumpai karena tetap dilestarikan dan dirawat dengan baik. Di Xi’an, antara lain kita masih bisa melihat benteng kokoh mengelilingi kota yang berdiri sejak jaman Dinasti Ming pada tahun 1370 Masehi seluas 14 km2, lengkap dengan gerbang (gate) yang terdapat di beberapa titik.

Masih di dalam kota, kita pun dapat menjumpai perkampungan Muslim yang sudah ada sejak sekitar 1.400 tahun lalu yang disebut ‘Muslim Quarter’ atau ‘Hui People’s Street, suatu kawasan yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat suku Hui yang beragama Islam.  Bagi para wisatawan muslim yang berkunjung ke Cina memang tidak afdol bila tidak datang  ke kota Xian. Pasalnya, di kota ini lah sejarah muslim tertua tercatat. Konon ceritanya, Kota Xian adalah kota pertama Islam dimulai setelah Arab. Ketika berkunjung kekota Xian para wisatawan biasanya langsung melihat 2000 patung tembikar prajurit beserta kuda perangnya.

 

Untuk berwisata ke kota ini, para pengunjung akan lebih santai bila berjalan kaki, selain dapat melihat-lihat bangunan lama yang masih berdiri, para wisatawan juga dapat membeli souvenir di sana. Ada banyak toko souvenir di Xian, karena banyaknya pengunjung yang datang setiap harinya. Pernak-pernik yang dijual di toko-toko souvenir itu meliputi: barang antik, kaligrafi, lukisan, hingga aneka busana.

 

Bila sudah lelah berjalan, para wisatawan muslim dapat beristirahat di resto-resto di kota Xian. Bila di negara lain wisatawan muslim khawatir untuk menyantap makanan karena ketidakjelasan kehalalan dan haramnya, di kota ini para wisatawan dapat memilih menu makanan sesuka hati mereka karena makanan  yang dijajakkan di sana terjamin halal, itulah mengapa kota Xian juga  bisa disebut sebagai ‘Surganya kuliner Muslim Cina’. Salah satu jenis makanan halal yang paling terkenal di kota ini adalah Roupaomo sejenis bakmi daging kambing yang berisi bihun, daging kambing, dan adonan bakmi yang dipotong kotak-kotak.

 

Selain Roupaomo, di kota ini juga tersedia makanan ala timur tengah seperti Roti Cane ataupun Kare. Soal minuman, sepertinya para penyuka kopi harus berpuasa dulu, karena di kota ini hanya menyediakan minuman khas seperti  teh hijau panas, atau air sirup berwarna cokelat yang rasanya seperti larutan gula merah.  Bukan hanya wisata alam dan  kuliner nya yang menarik, di Xian juga terdapat bangunan bersejarah bagi umat muslim yaitu Masjid Raya Xian.

 

Berkunjung ke kampung Muslim Xi’an tanpa mengunjungi masjidnya tentu tidak terasa lengkap karena disanalah jantung kampung Muslim yang sesungguhnya. Masjid tersebut berada di tengah kawasan, yang mana untuk menuju kesana kita mesti melewati lorong-lorong di antara toko-toko penjual cindera mata dan pakaian.

 

Masjid  Raya Xian merupakan masjid pertama di daratan China, sehinga menjadikannya yang tertua di negeri tirai bambu ini. Di sisi kiri pintu gerbang, terdapat sebuah loket untuk membayar tiket masuk sebesar 25 yuan per orang. Berada di kawasan masjid seluas 6.000 m2 ini dengan berbagai bangunan tua dan antik dengan arsitektur khas China, kita akan merasakan ketenangan dan seolah menemukan oase di tengah hiruk pikuk transaksi dagang di lorong-lorong bagian luar.

 

 

Dari berbagai sumber terpercaya, sebagian menceritakan Masjid ini sudah berusia lebih dari 650 tahun, dan sebagian lagi menyatakan masjid ini sudah berusia lebih dari 1250 tahun. Masjid ini juga termasuk dalam salah satu masjid terindah di Dunia. Pasalnya bangunan dari masjid ini masih mengadopsi bangunan terdahulunya yaitu tempat sembahyang umat Budha atau kuil.

Masjid ini ditemukan oleh Laksamana Cheng Ho, penjelajah China yang merupakan penganut Islam. Selama lebih dari satu milenium, Masjid Raya Xian telah menjadi bagian dari komunitas Muslim China. Masjid ini memiliki arsitektur seperti seperti kuil tradisional China, dengan banyak halaman dan pagoda. Namun semakin ke dalam, akan semakin terasa nuansa islaminya, berupa hiasan kaligrafi Arab dan China. Komplek masjid ini juga mengarah ke Mekah, kiblat  bagi umat Muslim.

 

Masjid Raya Xi’an memiliki lima halaman, yang semuanya menghadap ke ruangan ibadah di sebelah barat. Setiap halaman memiliki paviliun dan gerbang sendiri. Di bagian pertama, terdapat dua bangunan yang digunakan untuk menerima tamu. Di bagian kedua terdapat ruang pembersihan diri (mandi, wudhu dan sebagainya).
Halaman ketiga masjid ini, yaitu Qing Xiu Dian atau tempat meditasi, memiliki menara masjid tertinggi di kompleks ini. Tingginya mencapai 10 meter. Selain itu terdapat dua menara lainnya yang digunakan sebagai tempat instrospeksi yang disebut Xing Xin Ting dan tempat mengunjungi hati atau Sheng Xin Lou. Di dua menara terakhir ini, meski namanya tempat introspeksi dan mengunjungi hati, pada hakekatnya kedua menara ini memiliki dua fungsi, yakni sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan, dan juga  tempat melihat bulan. Menara ini didesain dengan gaya tradisional China, dihiasi dengan keramik biru dan patung kepala naga. Di dalamnya, langit-langit menara diwarnai dengan lukisan bunga teratai.

Di bagian keempat, terdapat sebuah pavilion di tengah halaman yang disebut Feng Hua dan dua bangunan di kiri kanan yang dibangun pada masa Dinasti Qing. Pavilion dan 2 bangunan lain di bagian ini merupakan tempat belajar para santri.

 

Bagian terakhir adalah ruang berdoa atau masjidnya itu sendiri seluas 1.270 meter persegi dengan interior perpaduan kaligrafi China dan Islam serta dinding yang didekorasi ukiran bertuliskan ayat-ayat suci Al Quran. 

 

Keindahan masjid tua yang merupakan kombinasi gaya tradisional Cina dan Arab melambangkan kerukunan umat Muslim yang minoritas di China dengan masyarakat Tionghoa.

Hingga kini penduduk muslim di negeri tirai bambu semakin meningkat, Islam semakin eksis meski ditengah belantara penduduknya yang menganut paham komunis. Di negeri China inilah sejarah mencatat peradaban Islam yang tertua terlahir, setelah dataran Arab, dan kota Xian merupakan bukti sejarah yang telah menjadi pusat pemerintahan bagi banyak dinasti-dinasti Islam yang berpengaruh. Semoga Islam akan mencapai kejayaannya kembali dinegeri yang terkenal karena rakyatnya giat dan gigih sebagai pakar dalam perniagaan dunia ini.

 

3 comments:

Anonim mengatakan...

Suka

Julie Nova mengatakan...

Agen Judi | Agen Bola | Agen Sbobet

Agen Sbobet
Agen Judi
Agen Bola
Agen Judi Online
Agen Casino
Prediksi Bola
Agen Tangkas
Agen Poker
Agen IBCBET
Agen 1sCasino

Santri piss mengatakan...

keren :)
http://santripiss.blogspot.com

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com