Menggapai Cahaya Hidayah


Banyak orang yang mempunyai kesalahan anggapan tentang hidayah, mereka mengatakan bahwa hidayah itu Allah berikan kepada orang yang di kehendaki, dan aku belum bisa menjadi orang baik karena Allah tidak menghendakiku untuk menjadi baik, biarlah aku seperti ini menjadi orang yang tidak baik, karena memang Allah menjadikanku seperti ini.

Bagaimanakah sebenarnya Islam memandang sebuah hidayah, akankah ia datang dengan sendirinya dengan dalih bahwa Allah memberikan hidayah kepada yang Dia kehendaki untuk kemudian pasrah dan menyalahkan sebuah kejelekan yang keluar dari diri kita dengan alasan karena kita belum diberi hidayah oleh Allah?!. Untuk melihat lebih jauh tentang ini, kita dapat membaca pendapat As Sa’di dalam menafsirkan firman Allah dalam surat Al Balad, ayat 10: “dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”, ia berkata: “Kami menunjukkan kepadanya dua jalan yaitu jalan kebaikan dan jalan kejelekan serta Kami jelaskan antara petunjuk dan kesesatan serta antara kebenaran dan penyimpangan. Nikmat yang besar ini menuntut agar setiap hamba melaksanakan hak-hak Allah  dan mensyukuri nikmat-Nya serta tidak mempergunakannya dalam bermaksiat kepada Allah, namun manusia tidak mau melaksanakannya”.

Dalam kesempatan lain ketika menafsirkan firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insan: 3), beliau berkata:  “Kemudian Allah  mengutus kepada manusia para rasul dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab dan Allah  memberikan hidayah kepada jalan yang akan menyampaikan kepada-Nya, menjelaskannya dan menganjurkan dengannya, dan Dia telah menerangkan apa yang akan didapatkan bila telah sampai kepada-Nya. Kemudian Allah  menjelaskan jalan kebinasaan dan memperingatkan darinya, serta memberitakan apa yang didapatkan bila dia menempuh jalan kebinasaan dan malapetaka tersebut. Manusia pun terbagi. Ada yang mensyukuri nikmat Allah dan melaksanakan segala apa yang merupakan hak-hak Allah. Ada pula yang kufur terhadap nikmat Allah. Allah telah menganugerahinya nikmat agama dan dunia, namun dia menolaknya dan kufur kepada Rabb-nya. Dia justru menempuh jalan menuju kebinasaan”.

Uraian As Sa’di di atas dapat membuka cakrawala kita lebih jauh, bahwa ketika Allah memberikan petunjuk kepada yang Dia kehendaki, tentu Allah tidak membiarkan begitu saja, Allah turunkan bersama hidayah itu sebuah penjelasan, guide line, penjelasan tentang kebaikan-kebaikan, dan akibat dari kebaikan-kebaikan itu jika ia melakukannya hingga manusia dapat meraih hidayah tersebut, tidak hanya berpangku tangan dengan berdalih bahwa “Allah memberi hidayah pada yang Ia kehendaki dan menyesatkan pada siapa yang ia kehendaki”, sebuah kalimat haq, murni 100% kebenarannya, tetapi ditafsirkan dan digunakan pada tempat yang salah.

Janji Allah bahwa Allah akan memberi petunjuk bagi yang bersungguh-sungguh mencoba meraihnya, seperti yang termaktub dalam surat Al Ankabut: 96 “Dan orang-orang yang bersungguh berupaya di jalanKu, niscaya Aku tunjuki jalannya”, ini tentu bukan sebuah janji belaka. Namun, kebanyakan orang menutup mata dan telinga akan janji ini, entah karena kebodohan yang menyelimuti mereka, dan merekapun enggan untuk belajar, untuk berusaha dan mencari ilmu, mereka tidak tahu bahwa mereka itu sebenarnya bodoh, tentu ini sebuah musibah di atas musibah. Atau karena memang mereka tidak berniat untuk mendapatkan hidayah, tiada terbersit di hati sebuah keinginan ataupun niat untuk mendapatkannya, belum lagi kelalaian yang menyebabkannya, ditambah kesombongan diri dan kepuasan terhadap semua yang ia miliki. Inilah diantara sebab  yang membuat hidayah jauh dari jangkauan, bahkan hidayah tiada pernah menghampirinya karena tiada kesungguhan diri untuk meraihnya. Tak lupa pula, syetan yang dari kalangan jin ataupun manusia yang selalu mencari pendukung untuk menjadi penghuni neraka, hingga akhirnya dapat memoles kebatilan, mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan yang mengakibatkan ketidakjelasan sebuah terangnya kebenaran dari kebatilan, yang berujung pada jauhnya sebuah hidayah.

 

Al Haq/kebenaran itulah sebuah”An Nuur”  yang artinya cahaya, dan Al Batil/kebatilan itulah “Adh Dhulumaat” yang artinya kegelepan. Dalam berbagai tempat dalam Al Qur’an, Allah berbicara tentang An Nuur dan tentang Adh Dhulumat ini dengan memakai kata mufrad/single pada kata An Nuur, sementara Allah menggunakan kata jama’/plural pada pemakaian kata “Adh Dhulumat”, yang berarti banyak kegelapan. Hal ini dapat ditengok pada beberapa ayat semisal Al Baqarah: 257, Al Maidah: 16, Al An’am:1, Ibrahim: 1&5, Al Hadid: 9. Pemakaian kata cahaya dengan menggunakan kata tunggal yaitu “An Nuur” sementara pemakaian kata kegelapan dengan memakai kata jama’ yaitu “Adh Dhulumat”. Tentu dibalik ini ada sebuah I’jaz Ilmiy, adanya sebuah rahasia dibalik ini. Karena cahaya itu satu, yaitu hidayah Islam walaupun dengan berbagai cara untuk menggapainya sedangkan kegelapan atau Adh Dhulumat itu banyak macamnya, banyak godaannya, dan lebih banyak pengikutnya. Demikianlah kesimpulan para ulama’ tentang rahasia pemakaian An Nur dengan kata tunggal dan Adh Dhulumat dengan kata Jama’.

Hakekat Hidayah dan Macamnya (Subtitle)

Hidayah berasal dari kata “Al Hadyu” yang berarti jalan, pembimbing hidup, ataupun perilaku. Misal ketika Allah menyifati Al Qur’an bahwa ia adalah petunjuk atau pembimbing hidup, dalam surat Al Baqarah: 2, “Kitab (Al Qur’an)  ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim tersebut; “Sesungguhnya sebaik-baik bimbingan adalah bimbingan Rasulullah”. Juga tersebut dalam riwayat Abu Dawud: “Bimbingan yang baik dan perilaku yang baik serta berlaku lurus adalah satu bagian dari 25 bagian kenabian.”
Dalam Bukunya, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah menyebutkan, bahwa Hidayah ada empat macam. (In this side there are 4 point which written by numbering and bold letters)
 1. Hidayah umum yang Allah berikan kepada semua makhluk, seperti yang ada dalam surat Taha: 50, "Tuhan kami ialah(Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk”. Maksudnya yaitu bahwa Allah memberikan kepada makhluqnya bentuknya dan sifatnya, hingga tidak tertukar dengan lainnya, lalu Allah berikan petunjuk untuk bekerja untuk mendapatkan yang dibutuhkannya. Misalnya pada manusia, ketika ia mengalami lapar maka Allah beri hidayah untuk makan dan mencari sesuatu yang menjadikannya dia makan. Ketika ia sakit, Allah beri petunjuk untuk berobat, dsb. Begitu juga dengan hewan, Allah yang memberi mereka petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang bermanfaat dan menolak/menghindari apa-apa yang membahayakan. Bagaimana si landak dengan duri yang kasar, ternyata dengannya ia jadikan pertahanan diri dari serangan yang membahayakan. Begitu pula kita mengenal cumi-cumi yang dengan tintanya ia semburkan ke arah musuhnya sebagai upaya penyelamatan diri. Lebah, Allah berikan petunjuk untuk menjadikan gunung dan pohon sebagai rumahnya, dll. Siapakah yang memberi petunjuk semua itu?!

2. Hidayah Ad dalalah, yaitu sebagai petunjuk kepada dua jalan; baik dan buruk, dua jalan; keselamatan dan kehancuran. Demikian Allah sifati RasulNya, Muhammad, bahwa beliau mempunyai hidayah dari jenis ini, seperti yang tertera dalam surat Asy Syura: 52: “…Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. Seperti halnya kisah kaum terdahulu dimana Allah berikan petunjuk yaitu para Rasul, tetapi mereka malah tidak mau mengikutinya, “Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Fushshilat: 17)
3. Hidayah At Taufiq, yaitu hidayah yang hanya Allah miliki. Di mana merupakan mutlak milik Allah, karena kebijaksaanNya dalam memberikan hidayah. Hidayah inilah yang sering terulang dalam Al Qur’an, yang tersimpulkan bahwa Allah memberikan hidayah pada yang Dia kehendaki, dan menyesatkan pada yang Dia kehendaki. “…sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS. Fatir: 8), Allah menafikan hidayah jenis ini dari Rasulullah, dalam firmanNya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qasash:56).

4. Hidayah kepada tempat Akhir, yaitu kepada surga ataupun neraka. Inilah tujuan dari semua hidayah. Ketika penduduk dari keduanya di giring menuju tempatnya masing. Ahli surga diberi hidayah untuk memasukinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka (kepada surga) karena keimanannya,  di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh keni’matan..” (QS. Yunus: 9). "…Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada [surga] ini…” (QS. Al A’raf: 43).
Pun Ahli neraka, mereka ditunjuki kepada neraka, seperti yang tersifati dalam surat As shaffat: 22-23, “.(kepada malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka..”
Ketika kita berkehendak untuk mengikuti hidayah jenis no.2, karena Allah telah menurunkan para Rasul dan kitab, yang memberikan penerangan kepada kita tentang rambu-rambu yang jelas, membedakan antara jalan yang baik dan menerangkan hasil dari kebaikan tersebut, juga antara jalan yang buruk dan menerangkan pula akibat dari kejelekan tersebut. Lalu kita mengikuti rambu-rambuNya, mengikuti petunjuk menuju kebaikan, niscaya Allah akan memberikan kepada kita hidayah jenis no.3, yakni Allah akan memberikan kepada kita hidayah taufiq kepada jalan yang terang benderang sejelas cahaya. Seperti yang sudah disebutkan dalam surat Al Ankabut pada point sebelumnya. Untuk kemudian, semoga Allah berikan kepada kita hidayah kepada surgaNya.

Meraih Hidayah Di Tiap Waktu (Subtitle)

Bulan Istimewa Ramadhan telah berlalu membawa sejumlah kebaikan dan pahala bagi para pelakunya, dimana mereka para peraih hidayah selalu menggunakan tiap detik kesempatan di bulan Ramadhan dengan baik, pun bulan Syawal juga telah berlalu membawa kemenangan dan “kembali ke fitrah” bagi mereka yang bersungguh-sungguh mengejarnya. Puasa Ramadhan dan puasa 6 hari syawal, sebagai ajang sarana mendapatkan hidayah telah dilalui mereka, para pencari hidayah. Nah, bagaimana setelah ini?
Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala sungguh tak terbilang. Ia jadikan waktu dan musim yang penuh fadhilah, penuh hidayah, penuh rahmat bagi siapa yang mau mencarinya. Waktu dan musim tersebut selalu berulang-ulang dalam bilangan hari, minggu, bulan ataupun tahun. Dalam tiap hari, Allah tundukkan malam dan siang, Ia jadikan waktu dan musim yang berharga setiap harinya sebagai kesempatan beramal sholih, kesempatan untuk berdoa dan bertaubat, khususnya pada waktu-waktu yang Allah lebihkan atas waktu yang lain. Antara waktu sholat dengan sholat lainnya merupakan kesempatan penghapusan dosa, begitulah tiap harinya, sepertiga malam terakhir merupakan puncaknya. Dalam bilangan minggu, Allah jadikan hari Jum’at sebagai hari yang mulia, terkhususnya ada satu saat dimana doa tidak tertolak pada hari tersebut. Dalam bilangan bulan dan tahun, Allah jadikan satu bulan yang fadhilahnya tiada ditemui pada bulan yang lain. Begitulah pada tiap tahunnya.

“…Wahai hamba-hambaKu, kalian semua tersesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah itu kepada-Ku, niscaya kuberikan hidayah itu kepadamu…” , potongan hadits Qudsy riwayat Muslim ini mengajak kita untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allah. Ia mengingatkan kepada kita tentang sebuah hakikat manusia, bahwa manusia hakekatnya yaitu tersesat kecuali siapa yang Allah kehendaki. “..mintalah hidayah itu kepada-Ku, niscaya kuberikan hidayah itu kepadamu..”. Undangan sekaligus ajakan dari Allah kepada hamba-hambaNya untuk meminta hidayah kepada Allah. Ia berarti perkara yang agung. Dalam sholat-sholat kita kita sering berdoa memohon dimudahkan dalam perkara duniawi, sering memohon kekayaan dunia yang dapat kita lihat atau kita raba, tetapi ternyata kita sering lupa memohon hidayah kepadaNya yang sebenarnya harus kita jadikan awal yang kita minta.
Setelah berlalunya bulan istimewa, juga berlalunya bulan syawal sebagai kesempatan puasa sunnah 6 hari, di mana pada dua moment tersebut kita menempa diri dalam rangka peraihan kepada hidayah, kita masih selalu dituntut untuk merawat selalu hidayah tersebut, dalam artian keistiqomahan diri di jalan Allah merupakan slogan seorang mukmin. Istiqamah, ya sebuah kata yang terlihat enteng, tetapi membutuhkan perjuangan. Islam mengharapkan kepada diri-diri ini menjadi pribadi yang Istiqomah. “dan Sembahlah Tuhanmu, hingga kematian datang menjemputmu”, begitulah seruanNya dalam surat Al Hijr: 99. Dalam surat Maryam: 31, Dia pun berpesan kepada Nabi Isa, yang juga merupakan pesan bagi kita semua, “Dia mewasiatkan kepadaku untuk mendirikan sholat dan membayar zakat sepanjang hidupku”, kedua seruan tersebut pertanda seruan untuk beristiqomah, berusaha berpegang teguh dalam menjaga agama Islam

Berdoa dan memohon hidayah dan keteguhan selalu kepada Allah mutlak diperlukan. Betapa Mahal Sebuah Hidayah. Bagaimana ia tidak mahal, ia hanya akan datang pada orang-orang yang Allah kehendaki karena hikmahNya bahwa memang orang tersebut benar-benar menginginkannya hingga semua usaha telah ia coba, usaha untuk mendapatkan sebuah hidayah yang teramat mahal. Tetapi bagi mereka yang tiada mencoba meraihnya, tentu termasuk dalam golongan “dan Allah menyesatkan bagi siapa saja yang Dia kehendaki”.
Bagaimana ia tidak mahal, jika Salman Al Farisi, sahabat Nabi nan mulia ini mengarungi sebuah perjalanan penuh rintangan dan duri, berpindah dari satu agama ke agama yang lain, bermula dari agama Majusi, hingga berpindah dari satu Rahib ke Rahib yang lain, merasakan susahnya kehidupan menjadi seorang budak sahaya, dari asal sebuah keluarga kaya raya, terpandang dan terhormat. Demi sebuah hidayah, ia rela dan ikhlas melakukannya hingga cahaya datang kepadanya, dengan akhir dari segala perjuangan mencari hidayah dengan bertemunya ia kepada Rasul pembawa risalah kebenaran yang selama ini cari-cari, tentunya semua berakhir dengan ujung yang begitu indah setelah perjalanan nan panjang dan melelahkan. Ketika ia diberi kabar tentang tanda-tanda Rasul penghulu para Rasul yang tanda-tandanya telah jelas ada di kitab terdahulu, semua tanda ia lihat, semua tanda yang ia tahu ia coba dan ia uji  sendiri di hadapan Rasul hingga tak lagi ada celah kecuali mengucapkan syahadat. Sungguh benar Firman Allah dalam surat Al Ankabut: 69, “Dan orang-orang yang bersungguh berupaya di jalanKu, niscaya Aku tunjuki jalannya”.

Kita, yang mayoritas lahir dalam keadaan muslim, barangkali tidak merasakan semua jerih payah dan perjuangan yang mereka rasakan dalam mencari dan meraih sebuah kenikmatan hidayah. Tapi mereka, di luar kita sangat banyak yang merasakannya. Tapi apakah tanggung jawab kita terhadap hidayah ini?! Akankah kita jaga selalu dan menyiraminya dengan doa dan amalan sholih sebagaimana Rasul yang selalu mengajari kita untuk berdoa memohon hidayah kepada Allah, bukankah dalam tiap sholat fardhu dengan jumlah 17 rakaat setiap hari setiap malam kita mengucapkan: “Ihdinas shiraatal Mustaqiim”, ialah sebuah doa dan permohonan yang berarti “Tunjuki kami ke jalan yang lurus”, doa yang diucapkan oleh seorang muslim sebanyak 17 kali minimal dalam tiap harinya, belum lagi jika ditambah rakaat sunnah yang lain, tentunya akan menjadi lebih dari 17 kali kita memohon sebuah hidayah dalam kehidupan kita. “Ihdinas shiratal mustaqim”, yakni tunjuki kami kepada kebaikan, teguhkanlah kami padanya, yaitu pada jalan yang lurus, ialah agama Allah, ialah Al Qur’an dan As sunnah, ia lah Islam, Iman dan ketakwaan.
Doa yang termaktub dalam surat Ali Imran: 8, juga tak kalah pentingnya untuk selalu di baca. Ialah :
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Kau condongkan hati kami setelah Kau beri hidayahan, dan karuniakan rahmat kepada kami dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi”.
Rasul pun mengajari kita dengan doa yang lain; Allahumma innii as’alukal hudaa wat tuqaa wal afaafa wal ghina, ya Allah aku memohonMu hidayah, ketaqwaan,  kemuliaan dan berkecukupan.  Dalam kesempatan lain beliau mengajarkan doa yang indah penuh makna, doa permohonan sebuah hidayah: “Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta dan pemelihara Langit, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkau menghakimi antara hamba-hambaMu yang berselisih, Tunjuki aku kepada yang Benar dari apa-apa yang mereka perselihkan, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk bagi yang Kau kehendaki”.

Begitulah Rasul yang telah dijamin surga oleh Allah, orang yang paling bertakwa ini selalu mengucapkan doa tersebut, hingga nyata bagi kita untuk mentauladaninya.

Berteman dengan orang-orang yang shalih yang selalu saling mengingatkan dalam kebenaran dan ketakwaan juga kesabaran merupakan salah satu cara beristiqomah. Diri manusia yang berkarakter asli lemah ini akan menjadi kuat dengan dengan orang-orang sholih di sekelilingnya, bukankah Allah menegaskan bahwa manusia itu semuanya merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan orang-orang yang saling berwasiat kepada yang lain untuk menetapi kepada kebenaran dan kesabaran, seperti yang terabadikan dalam surat Al Ashr.  Dan tentu di sana banyak faidahnya, selain faidah di dunia secara umumnya dan faidah di akhirat secara khususnya.
Menghadiri majelis ilmu, pun merupakan sarana beristiqamah. Selain ia akan menambah keimanan, juga dapat menjauhkan rasa “futur” atau lemah dan merasa iman menurun. Iman dapat bertambah dan dapat berkurang, dengan majelis ilmu, sedikit banyak masalah ini akan dapat terpecahkan. Keistiqomahan hati dapat juga di dapat dengan membaca kisah-kisah para salaf sholih dari generasi shahabat dan setelahnya, mengambil ibrah dari setiap kisah hingga hati menjadi lembut dan dapat meniru mereka. Menjalankan kewajiban dan hal fardhu pun tak kalah pentingnya bagi keberlangsungan istiqomah dan hidayah, ia lah sebaik-baik amal. Setelahnya dapat dilanjutkan dengan hal-hal yang bersifat sunnah, menjaganya walaupun sedikit, tapi berkesinambungan, karena sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah ialah yang berkesinambungan walau sedikit. Penting bagi kita semua untuk menjadikan ucapan seorang salaf sholih: “Sejelek-jelek kaum, mereka yang tidak tahu Allah kecuali hanya bulan Ramadhan”.  

Hidayah, semoga kita semua dapat meraihnya dan menjaganya hingga ajal menjemput. Wallahu a’lam bis shawab.

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com